
Reina spontan memeluk Arya, tak berani menoleh pada Gabriel yang muncul tiba-tiba di kursi jok tengah mobil.
Arya merasakan tubuh Reina bergetar-getar sangat hebat. "Tenang, tenang. Dia Gabriel kok, bukan orang jahat," bujuknya.
"Aku ... t-t-takuuut Mas ...." kata Reina, terbata-bata.
Dalam sekejap Arya melirik tajam kearah Gabriel. "Lu ngapain sih?! Tiba-tiba muncul kayak tuyul aja!" omelnya dalam hati.
"Eee hehehe ...." Gabriel tersenyum meringis, mengusap-usap rambut belakang. "Maaf Tuan. Sepertinya kemunculan hamba sudah mengganggu kalian," balasnya terkekeh-kekeh.
Arya mendengus. "Udah Reina, jangan takut. Orang yang di belakang itu Gabriel, dari tadi tidur disitu. Makanya tadi aku nyuruh kamu duduk di depan," jelasnya meyakinkan.
Perkataan itu perlahan membuat Reina menjadi tenang, sekejap melepaskan pelukannya lalu menoleh ke arah belakang. "Loh, Mas Gabriel toh?? Aku kira siapa tadi. Hampir aja aku mati jantungan," ucapnya.
"Eeehehehe ... maaf Nona, hamba tidak bermaksud menakut-nakuti Anda," balas Gabriel menahan senyum.
"N—Nonaa?" Reina lantas memalingkan pandangan ke arah Arya, dimana Arya justru membuang muka kesalnya ke arah Gabriel.
"Jangan terlalu kaku ngomongnya! Ini tahun modern, bukan jaman kerajaan," tegur Arya dalam hati.
"Sekali lagi, hamba minta maaf Tuan. Ini sudah menjadi kebiasaan hamba." Gabriel terus menerus meminta maaf, merasa bersalah telah memalukan Arya dihadapan Reina. "Emm ... Maaf Reina. Saya tidak pernah bermaksud menakut-nakuti Anda," ulangnya.
Reina sekilas menoleh ke arah lampu lalulintas, mendapati sinar lampu tersebut menyala hijau dan berkata, "Mas, lampunya udah hijau. Mendingan kita cepet jalan, daripada nanti kena omel."
"Ohh iyaaa ...." Arya lansung tancap gas, melewati persimpangan jalan layang besar ditengah-tengah ibukota. "Kamu udah gak takut lagi kan? Soalnya Gabriel suka tidur sembarangan," sindirnya.
"Engga kok. Tapi lebih baik dikurangi kebiasaan Mas Gabriel itu, soalnya bisa ngagetin orang tiba-tiba," balas Reina, nampak menatap kosong pada kaca jendela mobil.
"Tuan. Aku akan menghilang," batin Gabriel.
"Jangan! Jangan disini! Tunggu sampai gua berhenti di tempat restoran. Kalo mau ngilang tuh jangan sembarangan, bisa-bisa orang jadi curiga," larang Arya, sesekali menahan gondok atas kelakukan Gabriel.
Gabriel lantas menunduk. "B—baik Tuan. Hamba hanya merasa tidak enak atas perlakuan hamba tadi. Nona Reina nampaknya sangat terganggu dengan hal itu," balasnya, mengepalkan kedua tangan.
Semenjak perbincangan telepati itu berakhir, rasa canggung kembali bertamu dalam hati setiap penumpang dalam mobil tersebut.
Tak terkecuali Reina dan Arya. Mereka nampak membungkam satu sama lain, menunjukkan kekakuan dalam diri masing-masing, padahal sebelumnya dua insan itu hampir saja berciuman.
"Gak. Aku gak boleh kayak gitu lagi. Bisa-bisanya aku hampir mencium mas Arya ... untung aja ada Mas Gabriel," batin Reina.
"Reina lagi mikirin apa?" tanya Arya dalam hati, berpura-pura fokus mengendarai mobil, padahal ia sendiri menyadari Reina sedang berkutat dengan suatu hal.
"Tidak. Aku tak boleh bertindak seperti itu lagi. Dengan mudahnya aku hampir menciumi Mas Arya ... beruntung ada Mas Gabriel," jawab Gabriel, meniru perkataan batin Reina.
"Cuma itu aja?" tanya kembali Arya memastikan.
"Betul Tuan."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pangeran kecil mulai bergerak, lansung menoleh ke Arya selepas perlahan membuka mata. "Paapaah ...." himbau Lucas dengan suara pelan.
"Iyaa Lucaas. Sabar yah nak, nih kita hampir sampai," sahut Arya, mengarahkan laju mobil masuk ke dalam restoran keluarga.
"Ehhh jagoan udah banguuun ...." Reina menjadi senang, rasa canggungnya sekejap hilang saat melihat wajah mungil sang bayi. "Kamu sama Tante aja yah, soalnya Tante suka kesepian kalo gak ada kamu," ucap Reina, seperti mengisyaratkan hal itu untuk Arya.
Arya lansung memahami maksud perkataan gadis tersebut. "Udah sampaii ... yuk kita turun," sambungnya, melepaskan sabuk pengaman.
Reina, Arya, bahkan Gabriel pun turut beranjak turun dari mobil, melihat dari kaca restoran betapa ramainya para pengunjung yang berada di dalam sana.
"Ehh ... maaf. Saya permisi dulu," pamit Gabriel, perlahan berbalik untuk segera menyingkir sesuai instruksi Arya.
"Loh, Mas Gabriel mau kemana?" tanya Reina menatap heran.
"Udaaah." Arya spontan menarik tangan Reina, membawa gadis itu berjalan menuju pintu restoran. "Biarin aja dia mau kemana. Memang orangnya suka pergi-pergi gak jelas," tegasnya meyakinkan.
"Tapi nanti dia pulangnya gimanaaa?" tanya Reina, menjadi khawatir dengan kondisi Gabriel.
Usai membuka pintu, Arya lansung menuntun Reina ke arah meja yang nampak kosong. "Dia udah gede kok. Kamu kenapa jadi mikirin dia?" Arya merasa kesal dengan sikap kepedulian yang sangat berlebihan itu.
"B—bukannya gitu Mas. Aku jadi heran aja dengan tingkah lakunya Mas Gabriel," jawab Reina terus terang.
Arya kemudian terdiam, seketika menggeser sebuah kursi yang akan diduduki Reina. "Silahkan duduk," ucapnya, mendadak tersenyum.
Senyuman itu lantas membuat Reina sontak berpaling, lalu menduduki kursi yang disediakan Arya.
Arya mengacungkan tangan, membuat seorang pelayan segera berjalan menghampiri mejanya.
"Selamat datang kakak. Silahkan dipilih menunya," ucap sang pelayan restoran, menyerahkan daftar menu makanan ke atas meja.
"Reina, kamu mau makan apa?" tanya Arya.
"Gak usah Mas. Aku air putih aja," jawab Reina, tetap memalingkan wajahnya meski tengah memangku Lucas.
"Ha?" Arya sedikit terkejut dengan jawaban itu, perlahan mendengus dibuat Reina. "Kamu marah sama aku?" tanyanya kembali.
Reina nampak mengacuhkan pertanyaan Arya, mencoba bercengkrama dengan Lucas demi menghindari pertanyaan tersebut.
"Kamu ngompol yah Lucas?" Reina spontan berdiri, merasakan sesuatu yang hangat dari b*kong sang bayi. "Bentar yah Mas Arya," ucapnya, lalu melenggang begitu saja membawa Lucas menuju ruang toilet.
Arya sontak menutup buku daftar menu yang digenggamnya, terseret-seret arus kekesalan setelah sempat diacuhkan Reina.
"Maaf kakak. Jadi pesan makanan?" tanya sang pelayan restoran.
Kekesalan itu pun menjadi candu, membuat Arya spontan berkata. "Keluarin semua makanan dan minuman yang ada, sampai meja ini penuh," pintanya, menyerahkan kembali buku menu pada sang pelayan.
__ADS_1
"B—baik, kak."
Meski tidak percaya, sang pelayan tetap memenuhi permintaan Arya, yang sangat-sangat jarang terdengar di restoran itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekembalinya dari toilet, Reina segera bergegas membawa Lucas menuju meja Arya. "Duuhh ... aku harus cepet-cepet nih. Mas Arya pasti marah karena sikap aku tadi," batinnya.
Langkah kaki Reina pun mendadak terhenti, tepat dibalik Arya yang sedang terduduk. Dilihatnya penuh heran, betapa banyaknya jenis makanan yang telah disajikan, hingga memenuhi meja yang akan didudukinya tersebut.
"Papaaah!" Lucas menghimbau, membuat Arya spontan menoleh ke arah belakang.
"Loh, kamu kenapa diem aja disitu? Sini duduk," tegur Arya, mendapati Reina mematung.
Reina lantas berkedip-kedip. "Iyaa Mas." Gadis itu segera menduduki kursi, sekejap merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi pada Arya. "Mas. Ini gak salah?" tanyanya terheran-heran.
"Apanya?" Arya melempar balik pertanyaan Reina.
"Kamu pesen makanan sebanyak ini?? Emangnya kamu laper banget yah?" jawab Reina, memberikan sindiran.
"Iya, aku jadi laper gara-gara tadi kamu cuekin. Sekarang kamu pilih mana makanan yang kamu suka, jangan sampai bikin aku beneran marah," balas Arya, pandangan wajahnya menatap serius.
Reina tersenyum meringis dibuatnya. "Mas kalo lagi marah lucu yah," ungkap Reina.
Bahkan Lucas pun turut tertawa riang dibuat Arya, menatap penuh gembira wajah serius sang ayah.
"Tuan. Jangan diambil hati. Gadis itu sebenarnya ingin menghindari pertengkaran denganmu. Dia sebenarnya sangat-sangat menghargai perasaan Anda," tegur Gabriel dalam hati.
"Ahhh ... iyaaa. Gua emang kalo lagi laper suka begini. Lagian kan semua gara-gara lu Gabriel," balas Arya.
"M—maaf Tuan. Hamba berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi," ungkap Gabriel.
Suasana yang sebelumnya tegang, akhirnya kembali tenang. Arya mulai menampakkan senyuman, membalas senyum kebahagiaan Reina serta Lucas terhadapnya.
Namun, karena turut merasa bersalah, Reina mau tidak mau membantu Arya menghabiskan seluruh makanan yang telah memenuhi meja mereka.
"Mas, pelan-pelan makannyaaa," tegur Reina, mendapati Arya begitu lahapnya menyantap sepiring makanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak disangka-sangka, Arya mampu menghabiskan seluruh makanan, meski sempat mendapatkan sedikit bantuan dari Reina yang menyerah dipertengahan.
"Ahhh kenyaaangg ...." kata Arya, bersandar pada kursi seraya mengelus-elus perutnya.
Lucas sampai melompat-lompat diatas paha Reina, menunjuk-nunjuk penuh riang dengan tingkah laku Arya.
"Dedeee ... jangan gerak-gerak, kamu tuh lagi makan. Yuk habisin buburnya," tegur Reina dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Reina berusaha memegang tubuh Lucas, menjaga keseimbangan sang bayi yang melompat-lompat penuh kegirangan, membuat gadis itu sedikit kesulitan saat menyuapkan semangkuk bubur khusus balita pada bayi tersebut.
~Tbc