
{{Kondisi tubuh author sedang tidak baik, tapi author usahakan untuk tetap update bab. Mohon doanya yah semua untuk kesembuhan author}}
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aryaaaaaaa!"
(Bugh*)
Jessica berlari terlalu cepat dalam mengejar, sampai pada saat Arya berbalik pun gadis itu tak sengaja menabraknya hingga mereka tersungkur secara bersamaan.
"J—Jessica?! Lu kenapa sih?!" tanya Arya geram, tak kuasa mendapati tubuhnya tertindih.
Jessica yang menindih pun berkata dengan terbata-bata, "M-m-maaaf!"
Meski telah menjadi pusat perhatian seluruh karyawan di luar gedung, Jessica tetap berusaha bangkit dari tubuh Arya.
Arya pun demikian, dengan nafas yang menggebu-gebu ia bangkit lalu mengibas-ibaskan seragam kerjanya.
"Maaf yah." Jessica turut berinsiatif mengibas-ibas lengan seragam Arya. "Gue tuh gak sengaja, sumpah!" ucapnya penuh rasa bersalah.
"Kemaren Angela, sekarang Jessica. Terus siapa lagi mau nerkam gua dari belakang?! Ada-ada ini cewek," gumam Arya dalam hati, sekejap berbalik meninggalkan Jessica.
"A—Arya! Tungguu!" Jessica berjalan tergesa-gesa menjulurkan sebelah tangan ke arah Arya, praktis menanggung malu atas kejadian yang dibuatnya barusan. "Aryaaa ...." himbaunya, terus melangkah dibelakang Arya.
Beruntung Arya menggiring Jessica berjalan menuju luar gerbang, sedikit demi sedikit hal itu bisa menurunkan rasa malunya.
Para petugas keamanan gerbang yang sempat menyaksikan pun lantas menggeleng-geleng dibuat mereka. "Itu orang kantor lagi berantem apa gimana yak?" tanya salah seorang petugas.
"Kurang tau. Kayaknya sih iya," sambung salah seorang petugas lainnya, melihat Jessica berjalan membuntuti Arya melewati gerbang.
"Aryaa ... tunggu bentar," himbau kembali Jessica, spontan membuat Arya berhenti tepat di bawah pohon rindang.
Tanpa berbalik, Arya berkata, "Lain kali jangan begitu yah. Gua kan udah nolongin lu tadi, jadi jangan bikin gua malu lagi di depan banyak orang," tegurnya dengan ramah.
Mendengar perkataan itu, Jessica menggigit bibir bawah dengan cemas. Apa yang diucapkan Arya benar-benar meledakkan benteng rasa bersalah dalam hati gadis tersebut.
Perlahan namun pasti, Jessica berhasil meluncurkan air matanya. "Gue cuman mau minta maaf doang!!" ungkapnya bernada tinggi, lalu melenggang pergi begitu saja.
Sentimentil, gadis itu benar-benar tak dapat mengontrol keseimbangan emosinya, selalu mudah berubah tanpa terduga oleh siapapun.
Arya menengok ke belakang. "Loh kok marah? Kok pergi?" tanyanya heran.
"Ehm. Tuan, sebaiknya segera perbaiki hubungan Anda dengannya. Karena itu adalah misi level C untuk Anda hari ini," tegur Gabriel bertelepati.
"Hmm ...." Dengan tangan yang terkepal erat, Arya perlahan berjalan memasuki gerbang kantor. "Apa mesti gua kasih aja nomor kontak gua ke dia? Siapa tau dia bisa tenang," tanyanya dalam hati.
"Itu adalah cara yang baik, Tuan. Lakukanlah apa yang menurut Anda itu baik untuk dilakukan, demi menyelesaikan misi kali ini," balas Gabriel.
"Oke." Arya melangkah seraya menoleh ke arah petugas keamanan. "Maaf yah Pak. Biasa, cuma salah paham antar teman. Hehehe," ujarnya.
"Ahh iya gapapa bang. Saya kira cewek tadi istrinya Abang," balas sang petugas, namun terlanjur mendapati Arya semakin menjauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai menyempatkan diri pergi mengunjungi kantin, kini Arya telah kembali ke ruangan kerja. Ditengoknya Jessica tengah terduduk, menutupi wajah yang tengah bertumpu di atas meja.
__ADS_1
"Jess ... masih marah?" tanya Arya.
Jessica menggeleng pelan, sepertinya enggan menampakkan wajah murungnya.
"Tuan, sentuh pundaknya. Katakanlah apa yang sempat ingin Anda lakukan padanya barusan," anjur Gabriel bertelepati.
Arya mendengus dalam. "Iyeee ...." Perlahan ia mencoba menjangkau sebelah bahu Jessica, akan tetapi hal itu tertunda saat Amanda tiba-tiba datang memasuki ruangan.
"Oke semuanya, kali ini kalian gak harus kerja sesuai jobdesk. Cukup santai-santai aja ... boleh browsing-browsing tapi jangan buat keributan. Mengerti?" ucap Amanda seraya berjalan dari ujung ke ujung ruangan.
Amanda pun berhenti tepat di dekat meja Arya, yang letaknya tak jauh di sudut ruangan bersama Jessica. Ia lalu berdiri seraya mengamati wajah Jessica dan Arya bergantian, merasa inilah waktu baginya untuk mengurus salah seorang di antara mereka.
"Jessica. Kamu baik-baik aja?" tanya Amanda.
"B—baik Bu ...." sahut Jessica, terduduk menunduk lengkap dengan wajah super murung.
Perhatian Amanda seketika tertuju pada Arya. "Oh iyaaa ...." Wanita yang usianya mungkin sebaya dengan Arya itu, berjalan menuju pintu ruangan. "Arya, berdiri kamu," perintah Amanda.
Arya lantas berdiri. "Siap, Bu," sahutnya.
"Wow. Tinggi bangeet! Gak salah sih Sarah tergila-gila sama dia ... hmmm enaknya diapain yah nanti? Atau sekarang aja deh aku suruh ke ruangan aku? Bener juga!" Tanpa sekalipun berkedip, Amanda termenung memperhatikan betapa gagahnya Arya saat berdiri.
"Iya gua tau gua lagi diliatin. Tapi lu jangan ngomong gitu lah Gabriel!" batin Arya bertelepati.
"Benar Tuan, hamba tidak berbohong ... ini gawat! Jika dia menyuruh Anda datang ke ruangannya sekarang, tetaplah jaga nafsu bir*hi Anda. Sebab nafsu b*rahi wanita itu kini sedang memuncak terhadap Anda," jelas Gabriel panjang lebar mengkhawatirkan.
"Arya!" himbau Amanda.
"Mampus dah gua!" Usai menelan ludah, Arya pun berkata, "Iya Bu?" sahutnya, menoleh ke arah Amanda.
"Baik, Bu." Tanpa menunda-nunda, Arya segera bangkit dari kursi, kemudian berjalan sambil terus melirik ke arah Jessica. "Jess ... tolongin gua," pintanya.
Jessica nampak melongo, terkejut dengan apa yang akan menimpa Arya nantinya. "Enggaak! Jangaaan! Arya punya satu orang baby yang harus dia tangguung! Gimana niihh?!" batin Jessica, bingung bercampur pasrah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Masuk."
Usai membuka pintu ruangannya, Amanda memerintahkan Arya untuk masuk terlebih dahulu.
Secara perlahan Arya berjalan melewati pintu, juga tiba-tiba mendapati Amanda mengunci pintunya rapat-rapat.
"Kamu tau kan kenapa saya panggil kesini?" tanya Amanda, seketika berjalan menuju meja kerjanya.
"Iya Bu, saya paham," jawab Arya, tetap berdiri penuh percaya diri, menyaksikan Amanda terduduk di balik meja kerja.
"Duduk," perintah Amanda.
"Baik Bu." Arya segera terduduk di seberang Amanda, ketenangan hatinya perlahan memudar ketika mendapat gadis itu spontan menyungging senyum. "Briel, lu pasti bakal bantu gua kan?" tanyanya penuh harap.
"Hmm ... maaf Tuan. Sepertinya hamba harus mengurus Tuan Muda terlebih dahulu. Hamba akan segera kembali, dan ingatlah saran yang hamba berikan sebelumnya," balas Gabriel.
"Ahh sial lu." Menghilangnya suara Gabriel dalam pikiran, lantas membuat Arya spontan kebingungan.
"Arya. Kamu udah nikah?" tanya Amanda.
__ADS_1
"Sudah Bu. Saya udah punya satu orang anak, dan istri saya udah meninggal sejak melahirkan," jawab Arya percaya diri.
"Ohh ... bener kata Sarah."
"S—Saraah?!" pikir Arya, usai Amanda menyebutkan nama wanita yang ia kenali.
"Sekarang hubungan kamu sama Sarah gimana?" tanya kembali Amanda penasaran.
"Kita baik-baik aja Bu, gak ada masalah," jawab Arya.
"Hmm ...." Amanda meliuk-liukkan ujung poni rambut hitam panjangnya yang membelah kening. "Kalian gak pacaran kan?" tanyanya lebih dalam.
Mendapat pertanyaan itu, Arya seketika menyadari apa maksud dari wanita tersebut. "Kita udah saling komitmen Bu," jawab Arya terus terang.
(Dugh*)
"Hah?!" Amanda spontan menggebrak meja, terkejut dengan jawaban Arya. "Komitmen? Bisa kamu jelasin komitmen yang bagaimana?" tanyanya kembali penuh penekanan.
Arya semakin tertekan dengan pertanyaan Amanda, akan tetapi ia tetap berusaha untuk berkata apa adanya. "Saya udah janji ngelamar dia lima tahun kedep—"
"Berdiri kamu!" potong Amanda, kepalang naik pitam dengan penjelasan itu.
"B—baik Bu." Arya spontan bangkit dari kursinya.
"Terus jalan mundur sampai mentok ke pintu," perintah Amanda, pandangan matanya menatap sangat tajam.
Dengan melipat tangan di balik punggung, Arya perlahan melangkah mundur. Ia melakukan itu hingga terhenti setelah punggungnya menempel pada pintu ruangan.
Melihat Arya telah terpojokkan, Amanda sekejap bangkit dari kursi. "Aku gak mau kalah sama kamu, Sarah! Lihat aja! Sekarang Arya udah tunduk sama aku," pikirnya.
Amanda berjalan mendekat, tanpa pikir panjang wanita itu perlahan menanggalkan kancing kemeja, lantas menunjukkan bel*ahan d*danya begitu saja di hadapan Arya.
Arya sontak membuang muka, juga kedapatan menelan ludah karena tak sengaja menyorot ke arah d*da Amanda.
"Arya ...." Segera memanfaatkan kesempatan, Amanda lansung menempel pada tubuh Arya, sedikit mendongak menatap wajah pria itu dari dekat. "Kamu harus tau, aku jauh lebih baik dari Sarah," ucapnya, dengan aroma mulut yang terhirup wangi.
"M—maaf Bu. Saya gak mau nyakitin perasaan Sarah," balas Arya menolak.
Perkataan itu justru semakin membuat pikiran Amanda tak terkontrol, seketika merangkul dua pundak Arya lalu berkata, "Cium aku."
Arya yang tetap membuang muka lantas menggeleng pelan, sebisa mungkin ia menjaga sikapnya di hadapan Amanda.
Amanda semakin menjadi-jadi. "Aku cinta sama kamu sejak pandangan pertama, Arya. Jangan sia-siain perasaan aku. Cium aku sekarang, aku butuh jawaban dari kamu," pintanya.
"Maaf Bu, saya menolak. Niat saya disini cuma kerja cari uang untuk anak saya. Kalau soal perasaan, saya udah cinta sama Sarah, itu gak bisa diganggu gugat lagi," tolak Arya tegas.
"Ohh ... jadi kamu lebih milih dipecat, ketimbang milih aku? Kalau kamu pilih aku, aku bakal kasih apa yang kamu mau. Tubuh aku? Uang aku? Semua aku kasih. Nikah sama kamu pun aku rela aku yang keluar modal ... aku punya banyak harta, Arya. Gak sembarangan cowok bisa dapetin aku ... kenapa kamu lebih keras kepala milih Sarah daripada aku? Apa karena aku gak cantik? Atau Sarah jauh lebih cantik dari aku?"
Dengan panjang lebar Amanda berusaha membujuk Arya, memberikan segala benefit alih-alih tipu daya yang akan wanita itu berikan padanya.
"Aku tau kamu itu cowok yang baik dan setia. Keliatan dari cara kamu bicara, juga dari cara kamu membela Jessica di hadapan aku tadi pagi ... kamu itu tampan, good attitude, tinggi, senyummu manis, gagah, bisa diandalkan. Cewek mana yang gak bakal tergila-gila sama kamu? Aku yakin gak cuma aku aja yang ngerasain kaya gini di perusahaan ini. Apa kamu pikir aku bakal diam gitu aja, tahu kamu tiba-tiba berhubungan sama Sarah? Nggak bakal Arya! Nggak bakal!"
Amanda benar-benar sudah tak tertolong lagi. Wanita blasteran berparas cantik, berkulit putih dan mulus itu, berhasil membuat Arya terus mematung hingga dibasahi keringat dingin.
~Tbc
__ADS_1