Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 17. Itu Adalah Sifat Naluriah Bayiku


__ADS_3

Lucas perlahan membuka mata, spontan menoleh kearah Arya yang masih terlelap disampingnya.


Karena merasa cemas, sang bayi seketika merangkak ke atas tubuh Arya, lalu meraba wajah pria itu dengan kedua tangan mungilnya. "Pwapwaaa ...." himbau sang bayi dengan pelan.


Tiba-tiba, Arya sontak terbangun dan reflek terduduk, namun tetap memegang lengan Lucas dengan erat. "Ahh ... kamu ngagetin papah aja," gumamnya, sesekali berkedip-kedip mengusir rasa kantuk.


...[Selamat pagi, host]...


Sapaan itu, membuat Arya lansung beringsut menuju sisi ranjang, terduduk sambil menapakkan kaki ke atas lantai. "Ya. Selamat Paaa ...." Ia pun spontan menguap lalu menggeliatkan badan. "Gii sistem ...." lanjut Arya.


Mengawali pagi yang sangat cerah, Arya segera memulai kegiatannya seperti biasa.


Memandikan, memakaikan pakaian, memberikan asupan, serta memberikan sebotol susu hangat untuk Lucas, semua itu Arya lakukan dengan tekun.


"Abis ini kita nonton kartun yah Lucas," ajak Arya sembari berlutut menghadap Lucas.


Sang bayi nampak terduduk di sisi ranjang, mengenyot-enyot karet dot botol susu yang tergenggam oleh kedua tangan mungilnya itu.


...[Host, mandilah. Biar aku yang mengawasi Lucas]...


Lucas spontan tersenyum riang. Sepertinya bayi tersebut telat merespon maksud perkataan Arya, karena terlalu asyik menyedot susu formulanya.


"Oke." Arya pun perlahan bangkit, membuat sang bayi seketika mendongak karena terus menatap wajahnya. "Papah mandi dulu yah Lucas. Diem aja disini jangan banyak gerak, oke!" perintahnya, lalu beranjak menuju kamar mandi.


Selepas menanggalkan seluruh pakaian, Arya nampak termenung, meski sekujur tubuhnya tengah diguyur semburan air shower. "Semalem, Alexa gak jadi dateng. Ada masalah apa yah?" batin Arya.


Sekejap pikiran tentang Alexa pun dilupakan Arya, untuk kemudian bergegas membersihkan seluruh tubuh.


Sesaat kemudian, Arya menyudahi kegiatan mandinya, dan segera mengenakan setelan pakaian santai yang ia pilah dari dalam lemari. Hanya kaus biru polos serta celana bokser putih yang menjadi pilihan utama pria tersebut.


"Pwapwaa!" Lucas tiba-tiba memanggil dengan tangan yang menjulur ke arah Arya.


"Iyaa iyaa, ini papah udah selesai kok mandinya," balas Arya, lalu berjalan menghampiri Lucas.


...[Host, ada seseorang yang sedang berdiri di depan kamarmu]...


Arya spontan melirik ke arah botol susu yang telah kosong, tergeletak begitu saja di samping Lucas. "Kamu cepet amat minumnya. Haus yah Lucas?" tanya Arya, sebelum akhirnya meletakkan botol susu tersebut ke dalam kamar mandi.


"Pwapwaaa!" himbau kembali Lucas dengan riang, menyaksikan bagaimana Arya berjalan menghampirinya.


"Lucaass!" Arya sontak meraih ketiak Lucas, sempat mengangkat tubuh sang bayi tinggi-tinggi lalu menggendongnya dengan hangat. "Tadi situ ngomong apa sistem?" tanyanya.


...[Ada kehadiran seseorang yang sedari tadi berdiri cemas di depan kamar]...


"Haa? Siapa?" Arya pun spontan berjalan menuju pintu kamar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah hampir setengah jam Reina terlihat berdiri di depan kamar Arya, namun belum jua memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar. "Udah bangun belum yah, udah bangun belum yah, udah bangun belum yah ...." Perkataan itu terus-menerus terucap dalam pikiran Reina, ia sepertinya sangat gelisah bertemu dengan Arya untuk yang kedua kalinya.


Terlihat sekantung belanjaan yang Reina genggam, mungkin berisi sesuatu yang akan ia berikan untuk Arya.


Kedua matanya mengerling-ngerling, nampak menunduk cemas sambil menggigit bibir bawah. "Duhh ... kok aku jadi down gini sih ...." Sekejap terlintas dalam benak Reina untuk menunda pertemuan dengan Arya. "Kalau pergi sekarang, sayang kuenya," batin sang gadis yang mengenakan bando putih di kepala, celana jeans biru panjang nan ketat, serta kaus putih yang sedikit menonjolkan bentuk tubuhnya itu.

__ADS_1


Rasa pesimis Reina pun akhirnya membesar, membuat ia berniat menyingkir dari kamar Arya. "Lain kali aja deh ...." batinnya.


Akan tetapi, belum sekali Reina melangkah, pintu kamar tiba-tiba terbuka.


"Loh ... Reina?" himbau Arya, sambil menggendong Lucas.


Rona merah lansung menjalar di pipi Reina. "A—A—Aryaa ...." balasnya dengan terbata-bata.


"Ngapain berdiri disana, sini masuk. Lucas mau main nih," undang Arya.


...[Host, gadis ini sering kali muncul di depan kamarmu setiap malam. Sepertinya ia sangat-sangat menyukaimu]...


Lucas sedari tadi nampak terdiam, mencoba mengingat siapa sosok wanita tersebut, lalu tiba-tiba menoleh pada wajah Arya.


Arya pun turut membalas tatapan Lucas, mengerti bila bayi itu sedang bertanya sesuatu padanya. "Tante Reina. Kamu kan sebelumnya takut ngeliat dia," jawab Arya.


"Halo dede ... pasti dah lupa yah sama Tante?" tanya Reina yang kembali mendapatkan kepercayaan diri, demi berusaha menarik perhatian Lucas.


Lucas spontan membalikkan wajah sambil merangkul leher Arya. Sang bayi benar-benar belum terbiasa dengan kehadiran Reina, yang mencoba bersikap baik padanya.


"Loohh ... kok masih takut? Tante Reina gak galak kok," tegur Arya, merasa heran dengan tingkah laku sang bayi.


Reina pun tersenyum-senyum dibuatnya. "Kayaknya si dede belum terbiasa sama aku Mas," duga gadis tersebut.


Arya mendengus seraya menggeleng-geleng. "Jangan di luar aja, gak enak sama orang-orang yang lewat. Yuk masuk," ucapnya, lalu menyingkir untuk memberikan jalan.


Reina pun mengangguk, tetap tersenyum sambil melangkah masuk ke dalam kamar Arya.


Dalam sekejap Reina terkagum saat melirik-lirik setiap sudut kamar. "Waahh ... kamarnya rapih banget," sanjungnya, terus berputar-putar melihat ke setiap benda yang ada dalam kamar tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini Lucas dari tadi nempel mulu, gak mau dilepasin," keluh Arya dalam hati, mendapati Lucas sedari tadi termenung, menyembunyikan wajah dengan terus merangkul erat leher sang ayah.


Arya nampak terduduk sila di atas lantai, bersama Reina yang turut terduduk di depannya.


"Ehm ... ini aku bawain kue buat kamu Mas Arya," ucap Reina, menyodorkan sebuah kotak berisi kue yang ia keluarkan dari dalam kantung belanjaan.


"Wahh ... terimakasih Reina. Kamu baik bener, setiap dateng kesini selalu bawain sesuatu. Aku jadi gaenak merasa ngerepotin kamu terus," sanjung Arya, menoleh pada sekotak kue yang ia raih dari Reina.


Reina pun tersenyum manis. "Tenang aja Mas, kue itu aku bikin sendiri kok, hehehe," balasnya.


"Serius?" Arya yang merasa penasaran, ingin melihat seperti apa bentuk kue tersebut. Akan tetapi, ia sadar bila sebelah tangannya sedang menahan tubuh Lucas. "Bisa tolong bukain kotaknya Rein, soalnya Lucas gak mau dilepas. Maaf yah," pintanya.


"Owhh, oke oke." Reina pun akhirnya memahami kesulitan Arya, dengan mencoba membuka kotak kue secara perlahan. "Maaf. Aku cuma bisa kasih ini," ungkap Reina, terlihat cemas sambil menutup mata.


Tiba-tiba, Arya menganga kagum. "Wahh ... keliatannya enak, diliat dari penampilan dan aromanya," puji Arya, menghirup nikmatnya aroma kue tersebut.


Kue buatan Reina rupanya kue tart putih, dihiasi dengan dekorasi beberapa kue cookies, batang astor cokelat, serta beberapa buah strawberry diatasnya.


Tak hanya Arya, Lucas pun kedapatan menoleh dan sedikit menganga saat menyaksikan bentuk kue tersebut. Sang bayi tak dapat berbohong, sepertinya merasa tertarik dengan kue tart buatan Reina itu.


"Dede sukaaa yah?" tanya Reina, mendapati ketertarikan dari raut wajah lugu Lucas.

__ADS_1


"Tuh, Lucas mau kan? Yuk kenalan dulu sama Tante Reina," bujuk Arya.


Lucas spontan menunjuk ke arah kue tart, menandakan bila bayi tersebut sudah tak sabar ingin melahapnya.


"Namanya Lucas yah?" tanya Reina.


"Iya. Lucas Hikaru Pratama," jawab Arya dengan detail.


"Wahh ... namanya bagus banget," puji Reina, semakin merasa gemas dengan sang bayi.


"Lucas mau makan kuenya?" tanya Arya, menunduk miring menatap Lucas.


Lucas perlahan mengangguk, tiba-tiba air liur keluar dari mulut bayi tersebut.


"Tenang aja Mas, kuenya lembut kok, aman untuk dimakan bayi seusia Lucas," jelas Reina.


Arya lansung tersenyum. "Yaudah." Ia seketika bangkit dan berdiri, namun mendapati Reina turut melakukan hal yang sama. "Loh, kamu mau kemana Reina?" tanya Arya.


"Mas Arya duduk aja. Biar aku yang nyediain piring, pisau, garpu, sama sendoknya," aju Reina.


"Serius nih?" tanya Arya meyakinkan.


"Iya Mas. Aku tinggal kesana kan?" Reina menunjuk ke arah meja dapur.


"Iya. Semuanya ada dalam lemari dapur itu. Maaf nih jadi ngerepotin," jawab Arya, lalu kembali terduduk.


Reina pun spontan berjalan menuju meja dapur, meraih beberapa peralatan yang akan digunakan untuk menyantap kue tart bersama-sama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesaat kemudian, Reina nampak tersenyum bahagia, terduduk memangku Lucas yang tengah asik melahap sepotong kue.


"Ada-ada aja Lucas. Harus disogok dulu pakai kue baru mau deket sama Reina," batin Arya, turut terduduk menatap sang bayi.


...[Itulah situasi yang harus segera dimanfaatkan dengan baik. Gadis itu telah membawakan sesuatu yang membuat Lucas tertarik, dalam waktu singkat Lucas akan terbiasa dengan kehadirannya]...


"Bisa gitu yah." Arya terheran-heran, meski mulutnya turut mengunyah-ngunyah sepotong kue tart yang dipersiapkan Reina.


...[Tentu saja]...


Lucas tiba-tiba menoleh ke arah belakang, menyodorkan sepotong kue yang ia genggam pada mulut Reina.


"Lihat tuh, sekarang malah coba-coba nyuapin Reina," batin Arya sambil menahan tawa.


...[Apanya yang lucu, host? Itu adalah sifat naluriah bayimu, membalas kebaikan seseorang]...


Senyuman Reina semakin melebar, saat mengetahui Lucas berkeinginan menyuapinya sepotong kue. "Wahh ... gini rasanya yah punya anak bayi. Gemesiinn ...." batinnya, sempat mengangguk sebelum akhirnya menggigit secuil kue milik Lucas.


Suasana kebahagiaan pun terus berlangsung mengiringi hangatnya kebersamaan dalam kamar tersebut. Arya nampak tersenyum-senyum, menyaksikan betapa lugunya tingkah laku Lucas dihadapan Reina.


Sementara Reina semakin menumbuhkan ketertarikannya terhadap Lucas, sejenak melupakan tujuan utamanya untuk memperdekat hubungan dengan Arya.


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2