
Hari demi hari pun berlalu seperti biasa.
Lucas kini terlihat asyik memainkan mini robot gandam, selagi terduduk di tengah-tengah ranjang.
"Uuuuu ... ooo? Pwapwaaa!" Lucas seketika menunjukkan mainan robot yang digenggamnya ke arah Arya. "O'ooo!" ucap sang bayi.
"Robot Lucas. R, o, b, o, t, ro ... bot," ujar Arya, yang turut terduduk menemani sang bayi.
"O'ooo!" balas Lucas dengan raut wajah serius, sepertinya belum sempurna meniru ejaan Arya.
...[Tenanglah host. Maklumi saja, Lucas masih setengah tahun. Sedikit demi sedikit bayimu akan mampu mengucapkannya dengan sempurna]...
Arya tersenyum meringis. "Hehe ... iya juga yah," katanya.
...[Hmm ... host, ada seseorang yang berdiri di depan kamar]...
(*Tuk tuk tuk*)
"Siapa lagi nih? Gak mungkin Alexa atau Reina." Arya lansung beranjak turun dari ranjang. "Alexa pasti sibuk syuting. Apalagi Reina, pasti sibuk kerja siang-siang begini," duganya.
Dengan perlahan Arya berjalan menuju pintu, lalu segera membuka pintu kamar. Dilihatnya seorang gadis berpakaian kantor, setelan jas hitam lengkap dengan rok ketat, nampak mengenakan kacamata, juga rambut hitam panjangnya yang terikat ke belakang.
"Selamat siang. Boleh saya berkunjung ke dalam?" pinta sang gadis.
Arya memicing tajam, merasa seperti mengenali sosok wajah gadis tersebut. "Wah gawat ...." batinnya.
...[Host, apa kau mengenalinya?]...
"Ya. Dia adalah Angela Nindya, sekertaris merangkap asisten produser film, juga wanita yang dulu sok ngatur-ngatur kehidupan gua, selain bibi Aleanna," jawab Arya dalam hati.
"Mas Arya? Haloo ...." Angela Nindya, gadis yang dimaksudkan itu spontan melambai-lambai di depan wajah Arya.
"Oh iya ... maaf. Keperluannya ada apa yah?" tanya Arya.
Angela seketika mengulurkan jabatan tangan. "Saya Angela, asisten produser film, juga bekerja sebagai sekertaris di perusahaan Bulan Purnama manajemen. Anda pasti belum mengenali si—"
Tiba-tiba Arya lansung menjabat tangan Angela, memotong perkataan gadis itu. "Aku Arya Pratama. Kamu sudah tau nama saya pasti dari acara lomba di mall waktu itu." Arya merasakan betapa lembut serta dinginnya tangan mulus Angela. "Dan kamu pasti menduga saya mirip dengan Arya Pamungkas. Tolong jangan manfaatkan kesamaan kami. Aku dan Arya yang kamu maksudkan itu gak sama," tegasnya.
"Pwapwaa!" Lucas menghimbau, mendapati sang ayah berbincang-bincang dengan seseorang.
"Iyaa iyaa. Tunggu yah nak. Papa lagi kedatangan tamu," ucap Arya seraya menoleh ke arah sang bayi.
"Mas Arya. Boleh aku masuk ke dalem?" pinta kembali Angela, merasa curiga dengan suara seorang bayi yang terdengar dari dalam kamar.
"Boleh boleh. Silahkan masuk." Arya lansung menyingkir, memberikan jalan pada Angela masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu kamar rapat-rapat.
__ADS_1
...[Host. Sepertinya wanita ini ingin mengajakmu kembali menjadi seorang aktor]...
"Iya. Gua udah tau. Seenggaknya kasih kesempatan dia untuk bertamu," balas Arya dalam hati.
Lucas sempat tercengang mendapati kehadiran Angela, tetapi ia sepertinya tak merasa terganggu, dan kembali memainkan robot mini.
Angela pun spontan kebingungan, tak mendapati apapun yang bisa ia gunakan untuk duduk, meski sempat melihat seorang bayi terduduk ditengah-tengah ranjang.
"Sini." Arya berjalan menuju kursi di dekat jendela. "Duduk disini aja. Maap kalo kamarnya terlalu sempit," ungkapnya, sambil mengusap-usap kursi.
"Okey." Selepas menyaksikan Arya selesai mengusap-usap kursi, Angela lansung berjalan dan terduduk di atas kursi tersebut. "Arya yang kukenal dulu, kamarnya gak sesempit ini," sindirnya.
Sindiran itu, sontak membuat dahi Arya mengernyit. "Namanya juga kamar apartemen sederhana, wajar cuma sepetak. Lagian sudah kubilang aku dan Arya yang kamu maksud itu gak ada sangkut pautnya," tegas Arya sambil bersedekap tangan, berdiri dibelakang Angela yang telah terduduk.
Dengan pembawaan sifat dingin, Angela mengacuhkan perkataan Arya, dan kini nampak merogoh isi tas lengan, mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas tersebut.
...[Host. Bagaimana caramu menolak, jika wanita ini benar-benar memaksamu untuk kembali terjun ke dunia perfilman?]...
"Diem dulu. Itu bisa diatur. Ini cewek bener-bener ngeselin. Tapi gua mesti sabar menghadapinya," balas Arya dalam hati, mencoba menahan kesal.
...[Oh. Baiklah. Sebaiknya kau menolak, aku sangat-sangat menyarankan itu]...
Arya mendengus. "Iya." Ia spontan berjalan menuju lemari dapur. "Mau minum apa?" tanyanya pada Angela.
"Halo ... iyaa ... aku udah sampai ... iya bos ... hmm ... iyaa ...." Namun Angela kembali mengacuhkan, dengan sibuk menelpon seseorang.
"Sorry, tadi ngomong apa?" tanya Angela sambil menjauhkan ponsel, sepertinya sempat mendengar gumaman Arya barusan.
Arya sontak membuang muka. "Tuh kan. Baru aja di omongin, lansung ditunjukkin sifat aslinya," batin Arya.
Melihat tindakan Arya, Angela kembali melanjutkan perbincangan dalam ponsel. "Iya bos, aku usahakan hari ini ... baik ... baik bos ... emm ... siap bos."
Lucas nampak menoleh serius ke arah Angela, dimana gadis itu enggan menatap wajahnya.
Tiba-tiba bayi tersebut beranjak turun, menggelantung di sisi ranjang hingga berhasil menapakkan kaki mungilnya ke atas lantai. Sepertinya, ia sudah terlatih untuk melakukan hal itu.
Sambil menggenggam mini robot, Lucas sontak berlari menuju Angela, lalu berhenti tepat dihadapannya. "Uuuuu! Uuuuu!" ucap sang bayi dengan raut wajah sinis.
Dalam sekejap Angela memutuskan panggilan ponsel, seiring mendapati perlakuan yang ia terima dari Lucas. "Ini ... anakmu Mas?" tanya Angela.
"Ya." Arya terlihat mengaduk-aduk segelas teh yang ia seduh. "Kenapa emangnya?" tanya Arya, kembali melemparkan pertanyaan.
"Uuuu!" Tiba-tiba, Lucas menyerang wajah Angela dengan robot gandamnya.
"Kok!" Angela berkali-kali menghindar dari serangan robot mini Lucas, yang terus-menerus dilayangkan sang bayi ke arah wajahnya. "Anakmu ini kenapa?! Kok gak sopan sekali!" keluhnya.
__ADS_1
Arya spontan menoleh, menyaksikan betapa lucunya tingkah laku Lucas. "Kamu dianggep musuh sama robot gandamnya Lucas tuuh," jawabnya, lalu berjalan meletakkan segelas teh hangat, ke atas meja di dekat Angela.
Merasa tak terima, Angela pun sontak meraih dan menahan tangan mungil Lucas. "Diem. Diem gak?!" gertaknya, dengan raut wajah geram.
Hal itu lantas membuat Lucas lansung merengek. "P—Pwapwaaaa ...." Dalam sekejap sang bayi menangis tak karuan.
Arya sempat mendengus, menggeleng-geleng, lalu berjalan menghampiri Lucas. "Lepasin Lucas," ucapnya, meminta Angela melepaskan cengkraman pada tangan mungil sang bayi.
Lucas menangis sejadi-jadinya, meski telah berada dalam gendongan Arya.
...[Kurang hajar. Wanita ini tak sepantasnya bertindak kasar terhadap Lucas! Aku aka menghuk—]...
"Biarin aja." Arya sontak memotong perkataan sistem. "Biarin aja wanita ini bertindak semaunya. Kalau emang dia gak suka sama Lucas, habis cerita," balas Arya dalam hati, seraya menelan emosi sedalam-dalamnya.
*Sistem mendengus*
...[Baiklah. Aku mengerti apa maksudmu, host]...
Angela terus menatap kesal ke arah Lucas, yang sedang tergendong dalam pelukan Arya. Tak ada sedikitpun rasa bersalah yang semestinya ia ungkapkan, atas perlakuan kasarnya terhadap Lucas barusan.
"Cup cup cup ... anak papah janganlah cengeng. Malu dong sama cewek," bujuk Arya.
Bujukan itu, mampu membuat Lucas perlahan melunak, meski Angela sontak membuang muka saat mendengarnya.
...[Host, cepat buat wanita ini menyingkir dari kamarmu, sebelum kesabaranku benar-benar habis]...
"Iyaa ... santai dong." Arya lansung menatap serius wajah Angela. "Jadi, maksud kedatangan kamu kesini untuk apa?" tanyanya penuh serius.
Angela mendengus. "Aku kesini cuma mau nguji kemampuan akting kamu, sekaligus mengisi formulir kelayakan," jawabnya.
Mendengar jawaban itu, Arya spontan menyungging senyum. "Bakat akting? Saya gak punya bakat itu. Jangan terlalu berharap saya bisa akting di depan kamera. Ketemu orang-orang banyak aja saya gugup," balasnya.
Namun, Angela sejenak terdiam, menatap heran pada wajah Arya. "Belum di coba, udah mau menyerah. Itu bukanlah sifat seorang pria sejati." sindir Angela.
"Ha?" Arya pun merasa sedikit tersinggung dengan sindiran itu.
"Apa salahnya mencoba dulu, setidaknya hargai aku yang udah dateng jauh-jauh kesini." Angela spontan berdiri dari kursi. "Kayaknya aku udah salah berharap sama kamu. Mas Arya yang aku kenal itu dulunya ceria dan optimis, gak pesimis dan lesu kayak kamu," ungkapnya, lalu bergegas menuju pintu kamar.
"Tehnya gak dihabisi dulu?" tanya Arya.
"Gak usah! Terimakasih!"
Dengan membawa kekesalan dalam hati, Angela melangkahkan kakinya keluar dari kamar Arya dengan tergesa-gesa. Gadis tersebut merasa usahanya telah gagal, tanpa menyadari bila ia sendirilah penyebab dari kegagalan itu.
Arya lansung berjalan menuju pintu kamar, menutup dan menguncinya rapat-rapat. "Ada-ada aja Angela, dari dulu sifatnya gak pernah berubah," ucapnya, lalu membawa Lucas terduduk di sisi ranjang.
__ADS_1
Mungkinkah Arya Pratama, berkeinginan untuk kembali menggunakan bakat aktingnya didunia perfilman seperti dulu, meski kini tengah disibukkan mengurus dan merawat seorang balita?
~Tbc