Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 33. Penyusup


__ADS_3

"Tuan. Aku ingin menyampaikan reward yang tak sempat disebutkan sistem Anda."


Gabriel berkata, selagi berjalan dibelakang Arya.


"Yaudah, kasih tau sekarang aja," pinta Arya.


Mereka sudah tiba didalam mall, dimana Arya bergegas menghampiri meja kasir, berusaha mencari keberadaan Reina.


Kali ini, Arya menggendong Lucas secara manual tanpa alat bantu gendongan, membuat bayi tersebut terus menatap serius kearah Gabriel yang berjalan dibelakang sang ayah.


"Rewardnya adalah satu unit robot android pembersih ruangan, satu unit robot android pemotong rumput, satu unit robot android pengelola tanaman, serta uang senilai dua juta rupiah. Terimakasih atas pencapaian misi sebelumnya Tuan," jelas Gabriel.


"Ohh. Jadi gua gak perlu repot-repot bersihin rumah gitu," balas Arya, seketika langkahnya terhenti memandang jauh kearah meja kasir.


"Betul Tuan," ucap Gabriel, turut berhenti melangkahkan kaki.


Arya termenung, melirik satu persatu wajah karyawan yang bertugas menjaga setiap meja kasir. "Kalo Reina gak ada disini, berarti di lantai dua," pikirnya.


"Tuan, sepertinya Anda sedang mencari seseorang. Ingin hamba bantu?" kata Gabriel.


"Gak usah." Arya kembali berjalan, kali ini langkahnya diarahkan menuju pintu lift. "Mending lu pikirin keadaan lu sekarang. Semua orang jadi pada ngeliatin lu," balas Arya sinis.


Apa yang dikatakan Arya, memang benar adanya. Gabriel berhasil menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung, disetiap kali ia melangkah, gadis yang dilewati pun akan terpesona dengan ketampanannya.


Bukan tentang promosi pruduk yang menjadi penyebab keriuhan para pengunjung, melainkan kehadiran Gabriel. Hal itu lantas membuat sekumpulan para gadis remaja berjalan mengikutinya, menimbulkan penasaran dalam hati mereka tentang siapa sosok pria yang sedang berjalan dibelakang Arya tersebut.


Lucas nampak menoleh kearah belakang, menatap penuh serius pada wajah Gabriel. Sepertinya, sang bayi pun turut merasa penasaran dengan kehadiran pria itu.


Gabriel terus berjalan, pandangannya tetap terfokus kearah punggung Arya, tanpa menyadari bila ia sedang dibuntuti oleh kerumunan para gadis remaja.


"Mending lu tunggu diluar aja. Kalo nggak, lama-lama bisa bikin kekacauan nantinya," saran Arya dalam hati.


"Tidak Tuan. Aku akan tetap mengikuti An—"


"Ngomongnya dalam hati aja! Ntar lu dikira stress ngomong sendiri," tegur Arya.


Gabriel lantas mengepalkan tangan. "Baik Tuan. Aku akan tetap mengikuti kemanapun Anda pergi," balasnya dalam hati.


Arya berhenti didepan pintu lift, lansung menekan tombol untuk menaiki lift tersebut. "Yaudah. Kalo sampai ada keributan, gua gak mau tanggungjawab yah," gertaknya, lalu berjalan memasuki lift.


"Siap Tuan." Gabriel pun turut masuk kedalam lift.


Setibanya dilantai dua mall, Arya segera berjalan menuju meja kasir. Sekilas rasa rindu mencuat dalam hatinya, sebab sudah lama tak berjumpa dengan Reina.

__ADS_1


Rasa bersalah pun turut bercampur dalam hati Arya, seketika ia terhenti untuk kembali melirik-lirik pada setiap meja kasir.


"Tuan. Mungkin orang yang Anda cari tidak ada disini. Bisa sebutkan nama serta ciri-cirinya? Aku akan membantu Anda mencari keberadaannya sebisa mungkin," ucap Gabriel dalam hati, turut terhenti tepat dibelakang Arya.


Dalam sekali dengusan, Arya menyadari bahwa perkataan batin Gabriel memang benar adanya. Sebab, ia tak jua menemukan keberadaan Reina pada setiap meja kasir, kecuali karyawan-karyawan lain.


"Namanya Reina. Ciri-cirinya rambut hitam pendek, wajah manis, kulit putih, biasanya kerja jadi kasir di mall ini," papar Arya dalam hati, menanggapi bantuan Gabriel.


"Baik Tuan. Mohon tunggu sebentar, aku akan me—


Tiba-tiba, seorang gadis remaja memeluk Gabriel dari belakang, juga disusul oleh beberapa gadis remaja lainnya yang sudah tak dapat menahan kekaguman mereka.


"Aaaaa! Mas ganteng bangeet! Dari Korea yah?!" tanya salah seorang gadis yang memeluk Gabriel dengan hebohnya.


"Maas! Minta nomor teleponnya dong! Barangkali mau nge-date sama aku!" sambung salah seorang gadis lainnya, yang turut memeluk Gabriel penuh heboh.


Arya spontan menoleh kearah belakang, dilihatnya kerumunan gadis-gadis remaja itu sudah mengepung Gabriel. "Nah lu! Gua bilang juga apa!" omelnya dalam hati.


"Apa-apaan ini! Tolong lepaskan saya!" Gabriel mencoba melawan dari upaya para gadis tersebut, akan tetapi ia seketika mendapati Arya melenggang pergi begitu saja meninggalkannya. "T—Tuaan! Tunggu hambaa!" soraknya.


"Uuuu! Uuuu!!" Lucas menjulurkan tangannya kearah Gabriel, seperti memiliki maksud pada pria itu. "Uuuuuu!" ucap sang bayi.


"Yuk Lucas, kita pulang. Cari Tante Reinanya lain kali aja yah ... nanti malam papah coba telepon dia," ucap Arya pada sang bayi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gabriel ngakunya sistem humanoid ... huumaanoooiid ... berarti sistem yang menjelma jadi manusia." Arya memikirkan sesuatu yang mengganjal dalam hati perihal keberadaan sistem, juga perkataan Gabriel yang mengaku sebagai pengganti sistem sementara.


"Apa jangan-jangan, sistem gua juga bisa kayak dia? Kalaupun bisa, pasti wujudnya perempuan ... habis suaranya kayak cewek," pikir Arya panjang lebar.


Disepanjang perjalanan, Arya terus memikirkan hal itu. Sementara Lucas nampak serius melihat kaca jendela mobil, menatap setiap kendaraan yang lalu lalang.


"Lucas," himbau Arya.


Dengan lugunya Lucas menoleh pada sang ayah. "Ummm?" sahut sang bayi.


Arya tersenyum meringis, tak menyangka bila sang bayi dapat mengerti dengan himbaunya. "Lucas kayaknya kurang bersemangat. Apa jangan-jangan kesepian yah gak ada teman main?" pikirnya.


Lampu lalulintas menyala merah, membuat Arya perlahan menghentikan laju mobil. Selagi menanti, ia tiba-tiba mendapati seorang gadis mencoba berjalan menyebrangi garis zebra cross.


Gelapnya langit sore justru membuat wajah gadis itu tersorot oleh cahaya lampu mobil, Arya pun spontan terbelalak melihat jelas bagaimana sosok wajahnya.


"Kayak Reina ...." Dengan mata yang memicing tajam, Arya terus memperhatikan wajah gadis tersebut. "Beneran Reina!" duganya, lalu mencoba turun dari mobil.

__ADS_1


Namun, lampu lalulintas menyala hijau. Arya segera kembali memasuki mobil setelah mendapati begitu banyaknya kendaraan yang berhenti dibelakang.


"Ahh! Gua jadi gak sempat ngejar dia," keluh Arya dalam hati..


(*Tit tit tiiit*)


Selagi Aryaa memasang sabuk pengaman, serentetan klakson kendaraan sudah menyerang. "Iyaaa sabaar." Ia akhirnya tancap gas, sekejap berkutat dengan apa yang telah disaksikannya barusan. "Kalo emang beneran Reina, ngapain dia jalan kaki sendirian, jauh dari mess-nya pula," pikir Arya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selepas membuka pintu gerbang, Arya kembali memasuki mobil, lalu melaju menuju garasi yang tengah terbuka.


"Tunggu sini dulu yah Lucas, papah mau tutup pintu gerbang," pinta Arya pada sang bayi.


Belum sempat Arya keluar dari garasi, tiba-tiba ia melihat sebuah robot android mencoba menutup pintu gerbang. "Wahh ... beneran ada robotnya," batin Arya sedikit melongo, sekilas terkagum dengan bentuk serta pergerakan robot tersebut.


Arya pun memutuskan membawa Lucas berjalan menuju pintu rumah. "Jangan-jangan, didalam ada robotnya juga," batinnya.


Hal yang mengejutkan pun terjadi. Pintu rumah seketika bergerak dengan sendirinya, Arya kembali melongo saat menyaksikan sebuah robot android telah membukakan pintu untuknya.


Robot tersebut memberikan jalan, lalu membungkuk dihadapan Arya, menanti sang Tuan rumah berjalan melewatinya.


"Sekarang tahun berapa yah? Kok udah ada aja robot yang semutakhir ini." Arya lansung berjalan menuju tangga rumah, mencoba membiasakan diri dengan kehadiran robot itu. "Jadi keinget film Sci-fi," pikirnya.


Lucas nampak mengantuk, Arya pun menyadari bila sang bayi telah kehabisan tenaga. Dengan tergesa-gesa ia berjalan menapaki anak tangga, lalu bergegas memasuki kamar sambil menggendong sang bayi.


Tanpa sempat menyalakan lampu kamar, Arya terburu-buru meletakkan tubuh Lucas kedalam ranjang khusus bayi. "Kasian Lucas. Pasti dia kesepian gak punya teman," renung Arya.


Gagal menemui Reina, Arya spontan berjalan menuju pintu kamar, seraya meraih ponsel dari dalam saku celana. "Gua harus telpon Reina. Kalo dia gak bisa ditemui, gak mungkin juga gua mampir ke mess-nya. Seenggaknya, dia harus tau kalo gua udah pindah," batin Arya.


Selepas menutup pintu kamar, Arya kembali berjalan menuruni anak tangga. Ponsel lantas berdering, sebelum ia sempat menghubungi Reina.


"Loh, Alexa?" Arya mendapati Alexa mencoba menghubunginya lewat panggilan ponsel. "Pasti Bella yang kasih tau," duganya.


Sementara didalam kamar, nampak seseorang mencoba bangkit dari ranjang Arya. Rupanya, orang tersebut telah menyelinap masuk kedalam rumah, dengan kamar Arya yang menjadi tempat persembunyiannya.


Arya yang sebelumnya tak sempat menyadari, tak merasakan keanehan dalam kamar tersebut. Padahal, sebelum ia berangkat meninggalkan rumah, lampu kamar masih menyala terang.


"Hihihi ...." Terdengar suara tawa dari penyusup tersebut, yang mencoba berjalan menuju pintu kamar. "Sekarang tinggal kita berdua. Aku bakal tidur nyenyak sama makhluk imut itu," katanya.


Ah, ternyata Aulia, gadis itu benar-benar jahil. Dengan entengnya Aulia mengunci pintu kamar rapat-rapat, sebelum akhirnya berjalan menghampiri Lucas.


"Utututu ... tidur yuk sama mamah," ucap Aulia, sambil meraih tubuh Lucas.

__ADS_1


Entah bagaimana caranya Aulia dapat menyelinap masuk kedalam rumah, padahal sebelumnya Arya telah mengunci pintu serta jendela rumah rapat-rapat.


~Tbc


__ADS_2