Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 48. Rindu Yang Berlarut-Larut


__ADS_3

Hari pertama bekerja, Arya telah membawa dirinya tiba di depan lobby kantor, datang lebih awal dari jam masuk yang ditentukan perusahaan.


"Kamu karyawan baru yah?" tanya salah seorang gadis, bekerja di balik meja resepsionis.


"Iya Kak," jawab Arya, tersenyum sungkan pada gadis tersebut.


"Hmm ... udah dikasih tau tempat kerjanya belum?" tanya kembali sang gadis.


"B—belum kak," jawab Arya menahan senyum.


"Yaudah." Sang gadis spontan berdiri dari kursi. "Ikutin saya aja, biar saya anter kamu ke ruangan kerja," pintanya.


Arya tak lagi berkata, melainkan segera mengikuti gadis itu berjalan menuju sebuah lift.


Sesampainya di dalam lift, terlihat jelas lirikan sang gadis nampak menatap tajam pada wajah Arya, meski tengah berdiri disampingnya.


Arya menyadari hal itu, namun tetap meluruskan pandangannya ke depan, mencoba bersikap tenang.


Tiba-tiba sang gadis menjulurkan jabatan tangan. "Aku Marsha, petugas resepsionis shift pagi. Salam kenal," ucap gadis berambut panjang yang terikat kebelakang, berwajah cantik serta aroma tubuhnya yang sangat wangi.


Aroma itu selalu berseliweran di kedua lubang hidung Arya. "Ini cewek wangi banget ...." Ia pun segera membalas jabatan tangan sang gadis, tetap bersikap tenang meski sebenarnya ingin sekali memuji gadis itu. "Arya, 25 tahun, duda anak satu, karyawan baru. Salam kenal, kak Marsha," balasnya tersenyum.


Marsha, justru tak bergeming. Gadis itu tak sedikitpun berkedip, pandangan matanya terus melekat menatap wajah Arya.


"Duda? Kenapa bisa jadi Duda? Kalau seganteng ini sih, biarpun duda juga gak jadi masalah," batin Marsha.


"Kak Marshaa?" tegur Arya, menjentikkan ibu jari di hadapan Marsha.


Marsha spontan berkedip-kedip, sekejap membuang muka lalu menunduk penuh malu. "Ehh, maaf ... aku kira kamu masih bujangan," duganya.


Arya pun tersenyum. "Ehehe, gapapa kok Kak. Gak masalah kan kalo aku duda?" tanyanya.


Dengan tegas Marsha berkata, "Gapapa!" Kini wajah gadis itu nampak memerah, nafas dalam dadanya pun perlahan menggebu-gebu. "Gapapa kok ... itu kan cuma status. Aku gak sebodoh itu mandang pertemanan dari status," tambahnya.


Meski tengah tersenyum, Arya sedikit tersentuh dengan pengakuan Marsha. Akan tetapi pintu lift terlanjur terbuka, dengan segera Marsha berjalan keluar lalu diikuti oleh Arya.


Tak ada perbicangan apapun, sampai Marsha tiba di depan pintu sebuah ruangan. "Ini tempatnya, kamu boleh masuk duluan," terangnya.


"Ohh iyaa, makasih Kak Marsha," ungkap Arya.


"Jangan panggil kak! Panggil nama aja." Marsha spontan menyingkir dengan tergesa-gesa. "Semangat yaah! Nanti kita ketemu lagiii!" ucapnya bernada keras, melambai-lambai menoleh penuh senang ke arah Arya.

__ADS_1


Arya turut melambai-lambai. "Pagi-pagi udah ketemu orang baik. Semoga dia sehat-sehat selalu," pikirnya, menyaksikan gadis itu berjalan menuju pintu lift.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ahh ... ternyata jobdesk-nya rumit juga. Ini udah yang kesekian kalinya gua nelpon calon nasabah. Kalau ada yang tertarik sama program asuransi perusahaan, data-datanya di input dalam komputer ini," batin Arya, terlihat fokus mengetik di hadapan layar komputer.


Ruangan kerja yang terasa sejuk, nyaman, dan tentram. Tersedia dispenser minuman yang dikhususkan untuk karyawan, Arya pun terlebih dahulu memanfaatkan benefit itu dengan menyajikan kopinya sendiri.


Terlihat deretan beberapa komputer yang terpisah dengan sekat-sekat, hingga tak ada satupun karyawan yang tidak hadir dalam ruangan tersebut.


Arya kembali menyeruput kopi untuk kesekian kalinya. "Ahhh ...." ucap Arya meresap nikmat, hal itu justru memancing perhatian Jessica yang tengah terduduk disampingnya.


"Lah, dia ada di sebelah gue ternyata! Kirain kemana nih orang, dari awal gue dateng dia gak keliatan." Jessica nampak termenung selagi mengintip dari balik sekat meja, tak menyangka dengan kehadiran Arya. "Liat aja! Jam istirahat nanti gue harus dapetin nomor lo! Biar bisa minta maaf ke lo secara personal," batinnya.


Arya spontan menoleh, hal itu membuat Jessica spontan menarik wajah, kembali terfokus pada layar monitor.


"Dari penerawangan Gabriel, nih cewek sebenarnya pengen minta maaf karena udah bersikap gak sopan kemarin. Tapi dia malu untuk bilang lansung, pengen dapet nomor gua dulu, baru dia bisa leluasa minta maaf lewat telepon ...." batin Arya.


Kembali menatap layar monitor, kini Arya fokus untuk tetap konsentrasi dalam bekerja.


Sesaat kemudian, tibalah seorang pria yang masuk ke dalam ruangan, bersama seorang gadis sesama rekan kerja.


"Maaf mengganggu. Sesuai dengan yang saya bilang sebelumnya, saya datang bersama supervisor baru kalian." Sang pria mempersilahkan gadis rekannya untuk maju memperkenalkan diri. " Silahkan Bu Amanda," ucapnya.


Arya pun spontan berdiri, hal itu membuat para karyawan lainnya termasuk Jessica pun turut berdiri dari kursi masing-masing.


"Supervisornya cewek ternyata. Gua harus sebaik mungkin jaga sikap nih," batin Arya, melirik serius ke arah sang gadis.


"Okey semuanya. Saya Amanda, supervisor baru kalian di ruangan ini. Semoga kita semua bisa saling bekerjasama dengan baik. Ayo, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian," ucap Amanda, bertugas sebagai pengawas, menilai kinerja karyawan di ruangan itu.


"Yes! Supervisor-nya cewek! Gue bisa dong cari muka dikit sama dia," pikir Jessica.


Seluruh karyawan kembali terduduk, kini dengan Arya yang duduk paling akhir, sekejap memusatkan pandangan pada layar monitor.


Tiba-tiba Amanda berjalan menghampiri meja Arya. "Boleh saya liat kerjaan kamu?" pintanya.


Arya pun spontan memundurkan kursi, memberikan ruang bagi Amanda memperhatikan layar monitornya.


"Maaf, Bu. Kalau ada yang salah, saya mohon koreksinya," pinta Arya.


"Hmm ...." Amanda mengamati dengan serius layar monitor Arya, sebelum akhirnya berkata, "Gak ada yang salah kok. Kerjaan kamu udah sesuai standar perusahaan."

__ADS_1


Arya mendengus lega. "Terimakasih, Bu Amanda," ungkapnya penuh segan.


Meski tengah membungkuk menatap layar monitor, Amanda spontan menoleh pada wajah Arya. "Nama kamu Arya Pratama kan?" tanyanya penasaran.


"Betul Bu, dengan saya sendiri," jawab Arya tersenyum.


"Okeey ...." Amanda perlahan menyingkir dari meja Arya, berjalan dengan elegan untuk kemudian berdiri mengawasi dekat pintu ruangan. "Tuh kan, bener dugaanku. Hahaha ... mampus kamu Sarah! Sekarang Arya udah jadi milik aku. Tinggal cari cara supaya Arya mau jalan sama aku, terus kita bisa manas-manasin kamu deh!" pikir Amanda, tersenyum-senyum melirik Arya dari kejauhan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Haaachim!"


Sarah mendadak bersin, merasa bila seseorang tengah memikirkan hal buruk tentangnya.


Dalam ruangan kerja pribadi, gadis itu sedari tadi nampak termenung, memutar-mutar sebuah pulpen yang berada dalam genggaman. "Gimana caranya supaya aku bisa ngeyakinin mereka, kalau aku tuh udah punya pacar ... arrgghh! Zaman udah modern masih ada aja yang namanya perjodohan!" gumam Sarah seraya mendecih.


"Permisi Buu ...." Salah seorang gadis membuka pintu ruangan, perlahan berjalan menghampiri Sarah. "Maaf Bu Sarah, boleh minta sarannya?" pinta sang gadis, menyodorkan selembar kertas.


Sarah spontan meraih kertas tersebut. "Hmm ...." Ia menatap penuh seksama pada selembar kertas, yang berisi rincian proyek kerja dari gadis itu. "Hmmmm ... kalau menurut kamu, perjodohan itu bagus gak?" tanyanya mendadak.


"Haa? M—maksudnya Bu?" Sang gadis menjadi terheran-heran.


"Ehem." Sarah mendeham, sempat termenung untuk memikirkan suatu hal, lalu berkata, "Ini semua udah bagus. Sekarang saya yang minta saran dari kamu. Menurut kamu, perjodohan itu bagus gak? Apakah kita bisa menentang perjodohan itu?"


"Ooohhh ...." Sang gadis akhirnya memahami maksud pertanyaan Sarah. "Wahh ... jangan-jangan Bu Sarah lagi gelisah karena udah dijodohin sama orangtuanya," batin sang gadis.


"Gimana?" tegur Sarah.


"M—maaf Bu. Kalau menurut saya, perjodohan itu sah-sah aja, asalkan ada kesepakatan dari dua orang yang dijodohkan. Misal kek mereka emang udah saling suka, saling cinta, dan udah saling komitmen git—"


Sarah sontak berdiri. "Nah!" Ia lantas menunjuk ke arah sang gadis bawahannya itu. "Betul! Itu jawaban yang saya cari selama ini! Bulan depan gaji kamu naik sepuluh persen! Bugdet awal buat proyek kalian juga saya tambah sepuluh persen," balasnya.


"Wahhh!" Sang gadis menjadi gembira, juga sekejap berdiri untuk menghormati sang atasan. "Terimakasih Bu, terimakasih! Saya seneng bangeeet! Saya permisi dulu," ungkapnya, lalu melenggang tergesa-gesa menuju pintu ruangan, tak sabar menyiarkan kabar gembira itu untuk seluruh rekan kerjanya.


Sarah segera terduduk, juga kembali merenungkan suatu hal. "Aku harus gunain jawaban Icha tadi, aku pakai sebagai alasan penolakan dari perjodohan itu!" pikirnya serius.


Hawa sejuk seketika berhembus, rupanya bersumber dari angin hujan yang menembus celah jendela ruangan.


Sarah segera bangkit untuk menutup jendela, tiba-tiba ia merenung menatap indahnya rintik-rintik hujan. "Arya ... kamu dimana sekarang ... aku kangen," batinnya, tak sengaja meneteskan air mata.


Sarah semakin terlarut dalam rasa rindu, seluruh rasa itu pun tulus ia tujukan untuk Arya.

__ADS_1


~Tbc


__ADS_2