Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 46. Untuk Yang Kesekian Kalinya


__ADS_3

Siang yang menantang, Alexa tengah mengendarai mobil menuju gerbang komplek, juga nampak termenung memikirkan suatu hal.


"Akhir-akhir ini aku semakin sibuk, jadi gak sempet mampir ke rumah Arya ... mampir sekarang aja deh, lama-lama jadi kangen sama Lucas," pikir Alexa.


Entah apa yang dirasakan Alexa, ia selalu teringat akan sosok Arya, juga Lucas. Meski sempat disibukkan dengan kegiatan syuting, kini ia menyempatkan waktu senggang untuk berkunjung ke rumah ayah dan anak itu.


Selepas menepikan kendaraan di depan gerbang rumah Arya, Alexa segera mematikan mesin mobil, lalu beranjak turun secara perlahan.


Terlihat sekantung tas belanjaan yang di bawa Alexa menuju gerbang, sepertinya akan diberikan sebagai hadiah untuk Arya dan Lucas.


"Aku udah janji mau ngasih sesuatu ke Lucas, kali ini juga ada sesuatu buat Arya. Semoga mereka seneng," batin Alexa, menekan tombol bel.


Gabriel yang berada di dalam pun telah menyadari kedatangan gadis itu. "Nona ini sepertinya pernah berkunjung kemarin," duganya dalam hati, seakan memiliki kemampuan menebak seseorang tanpa melihat wajahnya sama sekali.


Lucas nampak gembira selagi terduduk di atas punggung Gabriel, dimana pria itu sedang berpura-pura menjadi seekor kuda.


"Tuan Muda, mari kita sambut kedatangan tamu," ucap Gabriel, perlahan berduduk simpuh, menahan tubuh sang bayi agar kaki mungilnya dapat menapak di atas lantai.


Lucas yang telah menapak spontan berjalan menuju pintu rumah, seketika melompat-lompat menjangkau gagang pintu yang tak dapat ia raih. "Uuuu! Uuuuu!!" kata sang bayi dengan tegas.


"Ahaha ... sabarlah Tuan Muda. Sepertinya Anda sudah mengenali Nona itu." Gabriel lantas membuka pintu, sekejap mendapati Lucas berlari melewatinya. "Tuan Muda hati-hatii!" tegurnya.


"Mamaaa!!" Lucas berlarian penuh riang, melihat kedatangan Alexa yang berdiri dari balik luar gerbang. "Mamaaa!" himbau sang bayi.


Alexa mengumbar senyum. "Haloo dedek emesh ... kangen yah sama Tanteee?" tanyanya, berjongkok menghadap Lucas dengan celah pagar gerbang yang menjadi pemisah mereka.


"Selamat siang Nona." Gabriel segera berjalan menghampiri Lucas, membukakan pintu gerbang untuk Alexa. "Silahkan masuk, Nona," ucapnya.


"Terimakasiihh." Dalam hitungan detik Alexa spontan meraih ketiak Lucas, selepas berjalan melewati Gabriel. "Papah ada di dalam?" tanyanya pada sang bayi, menggendong tubuh bayi tersebut erat-erat.


Lucas menggeleng pelan, mustahil bagi bayi seusianya memahami pertanyaan Alexa.


"Maaf Nona. Saudaraku sedang bekerja," sambung Gabriel.


"Haa?" Alexa menoleh penuh heran ke arah Gabriel. "Sejak kapan Arya kerja? Kok gak bilang-bilang?" tanyanya tak menyangka.


"Sejak kemarin beliau sudah melamar pekerjaannya, kini ia sedang menghadiri acara tandatangan kontrak karyawan baru," jawab Gabriel.


Alexa sedikit terbelalak, kembali menolehkan pandangannya pada Lucas. "Wahh hebat dong papah kamu, baru melamar sehari udah dapet tandatangan kontrak. Yuk, kita rayain keberhasilan papah Arya!" seru Alexa, sekejap melenggang bersama Lucas menuju pintu rumah.


Gabriel turut berjalan mengikuti Alexa, mendapati gadis itu tak terlalu memperhatikan keberadaannya. "Nona, biar saya buatkan minuman. Anda mau minum apa?" tanyanya.


Alexa yang telah terduduk pun menjawab, "Gak usah deh. Aku gak mau ngerepotin kamu."

__ADS_1


"Ahhh tidak apa-apa Nona. Saya telah diamanatkan oleh Arya untuk selalu menyambut tamu dengan baik," balas Gabriel tersenyum-senyum.


Alexa sempat terdiam, tiba-tiba senyuman pria itu sedikit membuatnya terpukau. "Kalo ada jus, boleh gak minta jus jeruk?" pintanya.


"Boleh Nona. Tunggu sebentar," sahut Gabriel, lalu berjalan menuju ruang dapur.


Selagi menanti Gabriel, Alexa terlihat bercengkrama dengan Lucas yang berada dalam pangkuan. "Liat niih Tante bawa apaan ...." Dikeluarkannya sebuah mainan berbentuk miniatur pahlawan superhero khas barat. "Suvermaaan! Wuuu!" soraknya dengan heboh.


Lucas nampak tergiur dengan mainan tersebut, ia spontan menoleh tak percaya pada Alexa. "Uuuu?" tanya sang bayi.


Alexa sempat terdiam, tak mengerti dengan perkataan Lucas. Tetapi gadis itu tak ingin mengabaikan perhatian sang bayi terlalu lama, hingga akhirnya berkata. "Iyaaa sayaaang ini buat kamu. Tuh, ada lagi loh. Ada Betmen, Walverin, Tor, Spyderman, Helk yang ijo ini."


Satu persatu mainan dari karakter superhero ternama pun dikeluarkan Alexa dari dalam tas belanjaan, menunjukkan seluruh mainan tersebut pada Lucas.


Lucas terbelalak kagum, tak sengaja meneteskan liur karena terlalu antusias dengan hadiah yang ditunjukkan Alexa.


"Uchh kamu jadi ngiler kan." Alexa spontan meraih saputangan dari dalam saku celana, segera mengusap-usap mulut sang bayi dari air liur. "Kalo papah Arya tau pasti ketawa dia," ucap Alexa.


Begitu menggemaskan reaksi Lucas terhadap mainan-mainan tersebut, Alexa segera berinisiatif mengajak sang bayi bermain bersamanya.


Gabriel kemudian kembali seraya membawakan segelas jus segar. "Ini Nona, jus jeruknya." Selepas meletakkan jus tersebut, ia pun berkata, "Emm ... kebetulan saya ada tugas yang harus diselesaikan, tolong jaga Lucas baik-baik Nona."


"Ohh iyaa, makasih yah Gabriel. Tenang aja, Lucas aman kok sama aku," balas Alexa tersenyum.


(Zwuuff*)


Gabriel sontak menghilang sekejap mata, setibanya ia di lantai dua. "Daripada menjadi patung bernyawa, lebih baik aku memantau apa yang sedang dilakukan Tuan Arya," batinnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arya membawa dirinya terduduk dalam sebuah ruangan Aula yang sangat besar, menyaksikan seorang pembicara ulung melakukan seminar terhadap seluruh karyawan baru.


"Keluarga saya dulu miskin, tapi kami tak pantang menyerah. Beruntung orangtua saya lansung pindah ke Amerika, menyekolahkan saya sampai lulus sarjana ...." kata sang pembicara.


"Ada-ada aja ... ngakunya orang miskin, tapi sanggup pindah ke luar negeri ... hadehh ... motivasi sih motivasi, tapi gak gitu juga Pak," gumam Arya dalam hati.


"Tuan, ini aku," sambung Gabriel, bertelepati juga sepertinya memantau Arya dalam wujud tak kasat mata.


"Ahh iya Gabriel. Gimana Lucas? Dia baik-baik aja kan?" tanya Arya dalam hati.


"Tuan Muda baik-baik saja Tuan. Kini ia sedang bercengkrama dengan seorang gadis yang pernah berkunjung waktu itu," jawab Gabriel.


Arya spontan terbelalak. "Haa? Siapa? Reinaa?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Bukan Tuan, tapi Nona yang satunya lagi," terang Gabriel.


Mendengar pengakuan Gabriel, Arya pun mendengus. "Ohhh, Alexa. Tumben dia dateng, lagi libur?" tanya kembali Arya, kini penasaran dengan kegiatan Alexa.


"Sepertinya iya Tuan. Maaf telah meninggalkan Lucas bersamanya, sebab hamba tak mencurigai apapun pada Nona itu," ungkap Gabriel.


"Iyaudah gapapa. Alexa baik kok. Tapi lu juga jangan lama-lama mantau gua, takutnya dia mau pergi," tegur Arya.


"Dimengerti Tuan. Hamba hanya ingin menyampaikan sebuah misi level B saja," balas Gabriel.


"Misi apa?" tanya Arya.


"Misi level B kali ini adalah membuat relasi dengan satu rekan kerja. Usahakan Anda mendapatkan nomor kontaknya," jawab Gabriel.


"Ohh ... yaudah. Abis acara seminar ini gua lansung beraksi," balas Arya.


"Baik Tuan. Hamba pamit dulu."


"Iyaaa ...."


Selepas kepergian Gabriel, Arya kembali melanjutkan kegiatan seminar, menyaksikan betapa bersemangatnya sang pembicara bersorak-sorai penuh motivasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Oke, sekian pidato dari saya. Selamat bekerja semuanya, semoga kalian betah di perusahaan ini!" seru sang pembicara, menyudahi kegiatan pidatonya.


Lantas seluruh hadirin bertepuk tangan memberikan apresiasi terhadap pembicara tersebut. Tak terkecuali Arya.


Sang pembicara pun turun panggung, digantikan oleh seorang wanita pembawa acara.


"Baik. Sebelum mengakhiri kegiatan acara seminar kali ini, saya minta untuk kalian semua tertib saat keluar dari ruangan ini. Jangan sampai meninggalkan sampah apapun. Dan, selamat siang," ucapnya, lalu turun dari atas panggung.


Seluruh karyawan baru yang menghadiri acara itu spontan beranjak dari kursi masing-masing, berjalan berbondong-bondong menuju pintu aula.


"Akhirnya ... bisa pulang cepet juga," batin Arya, nampak berjalan di tengah kerumunan.


"Permisi!" Tiba-tiba, Jessica spontan berjalan mendahului Arya, untuk yang kesekian kalinya.


Arya spontan berhenti, menyadari siapa gadis yang telah berjalan melewatinya dengan tergesa-gesa itu. "Waahh, itu cewek bener-bener bikin kesel." Ia pun menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskannya secara perlahan. "Gua kejar dah, sekalian coba minta nomornya, kan kemarin kita udah kenalan," batin Arya, berjalan tergesa-gesa menuju pintu Aula.


Setibanya di luar gedung, Arya spontan melirik kiri kanan, berhasil menemukan keberadaan Jessica yang tengah menunggu di depan gerbang kantor.


Diperlakukan tidak sopan secara berulang-ulang justru membuat Arya semakin penasaran, selalu bertanya-tanya mengapa Jessica kerap menjauhinya pada setiap kesempatan.

__ADS_1


~Tbc


__ADS_2