
Pagi menjelang, burung-burung pun nampak saling beradu dalam kicauan. Arya terlihat masih tertidur pulas diatas ranjang, tak menyadari bila sang bayi tengah merangkak ke atas tubuhnya.
...[Host, bangunlah]...
Mendengar perintah sistem, kedua mata yang terpejam itu perlahan membuka, mengembalikan seluruh kesadaran Arya yang terlepas dari alam mimpi.
Arya pun perlahan mengedip, lalu mendapati sang bayi telah berada diatas perutnya. "Kamu udah bangun boy?" tanyanya.
Sang bayi hanya membalas dengan tertawa riang, sepertinya merasa senang saat menatap wajah lesu Arya.
...[Host, ayo bangkit. Mandikan bayimu lalu dirimu. Dan keluarlah mencari angin segar bersamanya]...
Arya seketika menggeliat seraya menguap. "Iyoooo ...." Ia kemudian bangkit secara perlahan, meraih ketiak sang bayi dan membawanya bergegas masuk ke dalam kamar mandi. "Ahh ... sabunnya lupa," ucapnya.
Sekilas Arya keluar mengambil sebotol cairan sabun khusus balita. Ia lalu menanggalkan seluruh pakaian sang bayi, dan mencoba menjulurkan tangannya pada tuas keran berwarna biru.
...[Tunggu host!]...
Belum sempat tuas itu Arya sentuh, ia mendadak termenung. "Iya yah ... kan masih bayi, mana kuat mandi dengan air biasa," batinnya.
...[Betul! Mandikan dengan air hangat, tidak terlalu panas juga tidak terlalu dingin. Putar tuas berwarna merah, itu akan mengeluarkan air bersuhu hangat]...
"Oh ... okee ...." Arya akhirnya memutar tuas keran berwarna merah, mengeluarkan semburan air yang terasa hangat dari lubang kerannya.
Sebelumnya sebuah bak khusus balita telah Arya persiapkan di dalam kamar mandi. Benda itu ia pergunakan untuk menampung air hangat, dan segera meletakkan tubuh sang bayi dengan lembut kedalam bak tersebut.
"Diem yah boy, papa mandiin biar bersih," ucap Arya. Ucapan itu lansung dibalas sang bayi dengan tertawa riang.
...[Host, pelan-pelan. Bersihkan seluruh tubuhnya secara lembut. Buat ia merasa nyaman dengan perhatianmu]...
"Iyaaa baweel ...."
Arya membilas, melumuri sabun cair, mengusap-usap dengan lembut, lalu membilas kembali seluruh tubuh sang bayi sampai bersih. Semua itu ia lakukan secara detail, termasuk bagian-bagian tubuh yang mudah terabaikan seperti daun telinga, hingga sela-sela jari kaki sang bayi.
"Wiihh kinclong lu boy," puji Arya seraya mengangkat tubuh sang bayi tinggi-tinggi, meski ia melakukannya dalam posisi berjongkok.
...[Cepat usapkan tubuhnya dengan handuk host]...
Sehelai handuk kecil yang menggantung di leher Arya pun ia raih. Handuk kecil itu ia gunakan untuk mengusap-usap tubuh sang bayi sampai kering dan bersih.
"Abis pakai baju, makan yah boy," kata Arya, menggendong tubuh sang bayi menuju ke atas ranjang.
...[Host, pakaikan setelan pakaian yang cocok untuk cuaca hari ini pada bayimu]...
"Hmm ...." Selagi sang bayi nampak tenang terbaring di atas ranjang, Arya terlihat kebingungan saat memilih setelan pakaian yang akan dikenakan oleh sang bayi. "Kenapa pakaiannya warna biru semua yahh?" tanyanya.
...[Bukankah kau sendiri yang memilih? Sudah cepat pakaikan bayimu setelan baju yang mana saja! Lihatlah, ia nampak kedinginan!]...
"Oke oke!" Arya akhirnya meraih setelan busana khusus balita secara acak, dan segera mengenakannya pada tubuh sang bayi.
__ADS_1
...[Jangan terlalu dipaksakan, host. Lakukan secara lembut. Aku yakin kau tidak salah pilih ukuran]...
"Iyaa ...." Arya dengan konsisten menuruti perintah sistem, mengenakan satu persatu pakaian pada tubuh sang bayi secara perlahan. "Wihh udah ganteng kamu boy," pujinya, menyaksikan bagaimana sang bayi terbaring sambil tertawa riang, lengkap dengan setelan busana khusus balita yang sudah dikenakan bayi tersebut.
...[Host, giliranmu untuk mandi]...
"Oke." Arya kemudian bergegas menuju kamar mandi, akan tetapi wajahnya sempat menoleh dari balik pintu. "Boy, jangan kemana-mana yah. Diem aja disana, sampai papa selesai mandi, oke?" ucapnya, lalu mengambil giliran untuk membersihkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi cerah masih menyapa, enggan berlalu meninggalkan Arya yang tengah terduduk bersama sang bayi. Taman disekitar lingkungan apartemen pun menjadi pilihannya untuk mencari angin segar, menikmati suasana tentram dan damai, berteman pepohonan rindang yang menjulang tinggi, hingga hembusan angin nampak menerpa seluruh dedaunan.
"Huufft ...." Arya menghela nafasnya, selagi memegang perut sang bayi yang terduduk diatas pangkuan.
...[Host, daripada tak ada kerjaan, alangkah baiknya mengajari bayimu berjalan]...
Arya lansung menoleh pada kepala sang bayi. "Kan umurnya masih enam bulan, mana kuat diajarin berjalan," keluhnya.
...[Hmm ... kau sebelumnya telah memberikan susu untuk bayimu bukan? Susu itu akan membantu proses penguatan struktur tulangnya. Akan lebih baik lagi jika kau membantu mempercepat pertumbuhan bayimu dengan cara mengajar—]...
"Iyaa iyaa ...." Arya tiba-tiba meraih ketiak sang bayi, lalu bangkit dari bangku taman. Ia kemudian berjongkok, menurunkan tubuh sang bayi secara perlahan, hingga kaki bayi tersebut nampak menapak pada setapak jalan taman yang membelah area rerumputan.
Seketika muncul seorang wanita berpakaian serba ketat tengah berlari melewati Arya. Wanita itu lalu menoleh kearah belakang, menyaksikan bagaimana Arya mencoba menuntun sang bayi berjalan pelan.
"Kayak pernah liat mukanya .... tapii ... dimana yah?" duga wanita tersebut, lalu kembali melakukan kegiatan olahraganya.
...[Host, jangan terlalu cepat. Semua butuh waktu, bayimu akan cepat kelelahan jika kau memaksanya berlari]...
Semakin Arya berjalan mundur menuntun bayinya berjalan, ia seketika menyentuh sesuatu dari balik punggungnya.
Saat menoleh kearah belakang, rupanya Arya mendapati kehadiran seorang wanita berwajah cantik, mengenakan topi dengan rambut hitam panjang yang terikat kebelakang, juga merupakan seseorang yang tadi sempat berlari melewatinya.
"Ini anak kamu mas?" tanya wanita tersebut, sambil membungkuk mencondongkan tubuhnya kearah sang bayi.
"I—iyaa ...." Arya sempat terpukau, menyaksikan aura kecantikan seorang bidadari yang meliputi wajah wanita itu dari dekat.
"Ganteng yah, seperti papahnya. Boleh ku gendong mas?" pinta sang wanita.
Arya lansung berdiri. "B—boleeh," balasnya dengan tersenyum.
Sang wanita meraih ketiak sang bayi. "Hooop aah ...." Pandangan matanya nampak berbinar-binar, seperti diselimuti rasa gemas saat menatap wajah bayi tersebut. "Umur berapa mas?" tanya sang wanita.
"Enam bulan," jawab Arya.
"Enam buulaan? Really? Kok udah sebesar ini?"
"Hehe ... yaa memang begitulah," balas Arya. Ia hampir salah tingkah saat berkomunikasi dengan wanita tersebut.
Tiba-tiba raut wajah sang bayi mendadak murung. Karena merasa tidak nyaman, sang bayi lansung menangis sambil menjulurkan kedua tangannya kearah Arya.
__ADS_1
"Lohh ... kok nangis? Tante gak jahat kok. Cup cup cup," ucap sang wanita, bermaksud meredam tangisan sang bayi.
Akan tetapi sang bayi semakin mengerang, menangis sejadi-jadinya saat mendapati tubuhnya berada dalam kuasa orang lain.
Arya pun akhirnya meraih tubuh sang bayi. "Booyy ... ngapa jadi cengeng sih. Kan tante ini baik, cantik pula," katanya, meski diakhiri dengan perkataan yang bermaksud memuji sang wanita.
"Mas bisa aja," sambung sang wanita sambil tersenyum.
"Udah boy udah ...." Arya mengusap-usap punggung sang bayi, dalam sekejap tangisan bayi tersebut mereda karena merasa nyaman berada dalam gendongannya. "Jangan gitu dong boy. Bagaimana kamu mau punya mamah baru kalau begitu," ucap Arya.
Sang wanita tertegun. "Ha? M—mamah baru? Memangnya mas ini duda kah?" tanyanya dengan penasaran.
"Waduuh ...." Arya merasa dirinya telah keceplosan. "Gua salah nyebut lagi astaga," batinnya.
...[Jawab saja iya]...
"I—iya mbak. Istri saya udah tiada selepas melahirkan," jawab Arya.
Pengakuan itu, membuat sang wanita merapatkan kedua telapak tangannya. "M—maaf yah. Aku turut berduka cita atas kepergian istri mas." Ia seketika mengulurkan jabatan tangannya pada Arya. "Aku mau kenalan boleh mas?" pinta wanita tersebut.
Arya lansung menoleh pada uluran tangan sang wanita yang nampak sangat putih serta mulus, dan mungkin akan terasa lembut saat ia sentuh. "Boleh kok," ucapnya, sambil membalas jabatan tangan sang wanita.
"Alexa Widiyanti. Aku tinggal disini. Kalau mas?" tanya sang wanita.
"Arya ... Aryaa ...."
...[Arya Pratama. Mulai hari ini kau harus menggunakan nama itu, untuk bersosialisasi dengan orang-orang yang kau temui]...
"Arya Pratama. Aku juga tinggal disini," jawab Arya.
"Really? Di tower mana mas?" tanya kembali sang wanita dengan raut wajah penasaran.
"Toweerr ...."
...[Tower Camelia, kamar 102]...
"Tower Camelia kamar 102," jawab Arya spontan, mengikuti instruksi sistem.
Jawaban Arya malah membuat sang wanita sontak terbelalak, membungkam mulutnya yang sedang menganga dan terkejut dengan jawaban itu.
"Alexaaa?" Arya spontan melambai-lambai di depan wajah sang wanita, yang nampak termenung selepas mendengar jawabannya.
"M—maaaaf!" Alexa, sontak berlari sejauh mungkin meninggalkan Arya.
"Loooh?! Alexaa?!" himbau Arya.
Sang bayi tiba-tiba tertawa riang, sepertinya merasa lucu saat menyaksikan tingkah laku sang wanita barusan.
...[Host, matahari hampir meninggi. Ayo pulang]...
__ADS_1
Arya mendengus dalam. "Yaudah deh. Yuk kita pulang Boy," ucapnya, lalu melenggang pergi meninggalkan tempat tersebut, seraya menggendong tubuh sang bayi.
~Tbc