Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 21. Menyelesaikan Masalah Dengan Baik


__ADS_3

Angela menghela nafas, mencoba memikirkan cara bagaimana membuka pintu kamar Arya. "Berdasarkan informasi yang aku baca di internet, alat-alat ini udah cukup," batinnya, sambil menoleh pada kotak peralatan yang ia genggam.


Seraya menoleh kiri kanan, memastikan tak ada seorangpun yang lalu lalang, Angela meletakkan kotak peralatan ke atas lantai. "Demi pekerjaan, totalitas itu perlu. Walau berpakaian seperti badut sekalipun, aku bakalan tetap profesional," pikir Angela, mengeluarkan beberapa peralatan untuk membobol pintu kamar Arya.


Sementara di dalam kamar, Arya justru terjebak di bawah kolong ranjang. Sekujur tubuhnya terasa kaku, seakan tak mampu untuk digerakkan. "Kenapa gua mesti ngumpet di bawah sini?!" keluhnya dalam hati.


...[Kau tenang saja host, biar aku yang mengatasi penjahat ini]...


"Gak bisa! Lucas anak gua! Biar gua sendiri yang ngurus penjahat itu!" balas Arya, selagi mencoba menggerakkan seluruh tubuh sekuat tenaga.


...[Host, ada alasan tertentu mengapa aku tak membiarkanmu turun tangan untuk saat ini. Aku khawatir kau akan menggunakan kekerasan lagi]...


"Ha?! Kekerasan itu wajar buat mereka yang berniat jahat! Supaya mereka kapok!" tegas Arya dalam hati.


...[Tidak. Kau belum mengerti apa maksudku]...


Selama Arya berdebat dengan sistem, Angela nampak mencolok lubang kunci pintu dengan sebuah kawat, mencoba mencari celah agar pintu itu terbuka.


"Pelan pelaaan ... semoga Mas Arya tidur pulas, aku jadi bisa leluasa menculik anaknya," batin Angela.


Tiba-tiba, Angela mendapati pintu kamar sedikit terbuka dengan sendirinya. "Loh? Segampang ini kah?" Gadis itu sempat termenung, merasa usahanya telah berhasil. "Nggak nggak nggak nggak! Aku gak mau menganggap diriku seperti maling profesional! Tujuanku hanya satu, menculik anak bayi," pikir Angela.


Angela sempat mencoba menengok kiri kanan, lalu mendapati suasana disekitar lorong masih sepi.


Sedangkan Arya, urat-urat diwajahnya nampak menebak, karena mencoba melepaskan tubuhnya dari kendali sistem. "Lepaasiin! Lucas itu anak gua! Gua itu papahnya Lucas! Gua gak akan membiarkan siapapun berani menyentuh Lucas dengan niat jahat! Aaaargghh!" batinnya dengan gigi yang menggertak-gertak.


Arya tak pantang menyerah, dengan sekuat tenaga ia memberontak melepaskan diri, menjangkau celah ranjang untuk segera keluar.


Sumbu amarah dalam hati pria tersebut pun akhirnya terbakar, saat mendapati seseorang membuka pintu kamar.


"Sistem, aku mohon. Aku adalah ayah Lucas. Apalah gunanya kehadiranku dalam hidupnya, jikalau aku tak mampu melindunginya," batin Arya penuh dramatis, memohon layaknya berakting di depan kamera.


Arya lalu menyaksikan kehadiran dua telapak kaki yang mendarat tepat disisi ranjang, membuat mata pria itu semakin terbelalak lebar, seluruh tubuh pun bergetar-getar.


*Sistem mendengus*


...[Baiklah, aku akan melepaskanmu. Tapi jangan berbuat kekerasan, sebab pelakunya adalah wanita]...


"Ha?!" Dalam sekejap Arya merasakan tubuhnya terasa enteng, terlepas dari belenggu kendali sistem. "Cewek?! Siapa?!" tanyanya penuh curiga.


...[Wanita yang sempat berkunjung ke kamarmu tadi]...


"Loh. Mas Arya kemana?" Angela tengah berdiri disamping ranjang, merasa heran saat tak mendapati kehadiran Arya. "Kesempatan! Mungkin dia lagi keluar beli sesuatu. Aku harus cepat bergerak," batin Angela, lalu mencoba meraih tubuh Lucas yang sedang tertidur menyamping.


Akan tetapi, belum sempat Angela menyentuh tubuh Lucas, Arya terlebih dahulu menangkap kedua kaki gadis tersebut.


"Kena kau!" sergah Arya.


Angela pun spontan menjerit, terkejut mendapati kedua kakinya dicengkeram oleh tangan seseorang dari bawah kolong ranjang.


(Brugh*)


Mencoba melepaskan diri, gadis itu malah terjungkal kebelakang, lalu merintih kesakitan sambil memegang pinggang.


Arya segera memanfaatkan situasi itu, bergegas merangkak keluar hingga membuat Angela terkejut untuk yang kedua kalinya.


"Tolo—"


Angela sempat berteriak, akan tetapi Arya dengan sigap membungkam mulutnya.


"Penjahat kok minta tolong," sindir Arya.


Dalam sekejap Angela mengenali wajah Arya. "Aaaa gawaaat! Aku kepergok!" batinnya penuh panik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku minta maaf Mas."

__ADS_1


Angela nampak bersujud, bersungguh-sungguh memohon pengampunan atas tindakan yang sempat ia lakukan barusan.


...[Host, jangan diampuni. Setidaknya beri pelajaran]...


"Dipukul? Ya janganlah! Gua mana berani mukul cewek," batin Arya, nampak berdiri bersedekap tangan dihadapan Angela.


...[Aku tak menyuruhmu melakukan kekerasan. Bilang saja kau sangat membencinya. Tegaskan padanya untuk melupakanmu, atau tak mengunjungimu lagi]...


Arya mendengus dalam, merasa tak sependapat dengan anjuran sistem. "Angela. Siapa yang nyuruh kamu?" tanyanya.


"B—bos ... Rudi," jawab Angela terpaksa.


"Udah gua duga. Kenapa lu masih mau kerja sama orang kayak gitu? Sampai-sampai lu rela disuruh melakukan tindak kejahatan," tanya kembali Arya dengan alis yang mengkerut.


Angela seketika mendongakkan wajahnya. Nampak raut kesedihan yang terpancar jelas di wajah gadis itu. "Aku ... minta maaf mas Arya, tapi pekerjaanku cuma itu satu-satunya. Mas ... boleh laporin aku ke polisi!" jawabnya dengan menunduk tegas, meski air mata terlanjur menetes.


...[Host, maafkan dia]...


"Iyaa .... situ juga tau kan kalau Angela sebenarnya gak mau ngelakuin ini? Pasti ada dalangnya," balas Arya dalam hati.


Angela menangis sesenggukan menyesali perbuatannya. "Tapi aku mohon Mas! Jangan pernah benci sama aku! Aku suka sama kamu! Aku masih mau ketemu sama kamu lagi! Aku tuh merasa kamu itu Arya Pamungkas!" pintanya bersungguh-sungguh.


Arya sempat terdiam, sebelum akhirnya menjadi tersentuh dengan pengakuan Angela. Ia pun seketika duduk bersimpuh, membangkitkan kedua pundak gadis itu untuk segera menatapnya.


"Jadi, kamu mau dilaporin ke polisi?" tanya Arya, menatap serius wajah sembab Angela.


Angela, spontan menggeleng pelan, menandakan bahwa ia tak ingin Arya melakukan itu.


"Ngelupain aku juga gak mau?" tanya kembali Arya, nampaknya sedang menguji.


Kali ini Angela mengangguk cepat sambil menggigit bibir bawah, reaksi penolakan dari pertanyaan tersebut.


"Keluar dari perusahaan itu mau gak?" tanya lagi Arya dengan niat membujuk.


Angela pun termenung, pandangan matanya melirik kosong kearah bawah.


Arya mendengus, selagi ia menggenggam lengan Angela. "Cari pekerjaan lain mau gak? Kamu lulusan sarjana kan?" bujuknya, sekaligus menanyakan sesuatu.


Angela sempat mengangguk, lalu berkata, "Iya Mas. Tapi kayaknya nyari kerjaan jaman sekarang tuh susah Mas," jawab gadis tersebut.


"Mau aku bantu cari kerjaan?" Arya mencoba meyakinkan Angela untuk segera mengundurkan diri dari pekerjaannya sekarang. "Sistem. Bisa bantu gua kan? Tolong cari kerjaan yang layak buat Angela nanti, yang kemungkinan diterimanya seratus persen," pintanya pada sistem.


...[Oh, tentu saja. Itu hal yang mudah]...


Arya spontan menyungging senyum. "Gimana? Mau gak aku cariin kerjaan? Kamu masih bisa ketemu aku, dan aku udah pasti maafin kamu," bujuknya sekali lagi.


Perkataan Arya sekejap dibalas tatapan bahagia dari wajah Angela. "Mau Mas," jawab gadis itu, mengangguk penuh senyuman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini Angela terlihat tengah berdiri di depan pintu kamar, menghadap Arya yang tengah berdiri sambil menggendong Lucas. "Sekali lagi aku minta maaf Mas. Aku janji gak akan berbuat jahat lagi sama Lucas," ungkapnya, menunduk penuh sesal.


"Gimana Lucas, kamu mau gak maafin Tante Angela?" tanya Arya, menoleh wajah sang bayi.


Lucas spontan menjulurkan tangannya ke arah Angela, sepertinya ingin menyentuh wajah gadis itu.


Angela spontan mendongak, mendapati wajahnya diraba-raba oleh tangan mungil Lucas. "Maaf Mas, aku mau nanya sesuatu boleh?" pintanya.


"Boleh. Tapi kayaknya Lucas mau digendong sama kamu nih," balas Arya, menyadari keinginan sang bayi yang terus mencondongkan tubuhnya ke arah Angela.


"Boleh." Angela pun akhirnya meraih tubuh Lucas, menggendong bayi tersebut dengan penuh kehangatan. "Dede Lucaas ... maafin Tante yah ...." ungkapnya, menatap wajah sang bayi.


Tiba-tiba, Lucas mencubit kedua pipi Angela. "Uuu ... uuuu!" ucap sang bayi, tak jelas mengatakan apa.


"Loh, Dede Lucas kenapa Mas? Kok pipi aku dicubit?" tanya Angela, merasa heran dengan tingkah laku Lucas.


"Tapi gak sakit kan? Itu tandanya dia lagi kesel sama kamu. Biarin aja, lama-lama dia baik sendiri," jawab Arya, menahan tawa melihat kelakuan Lucas pada Angela.

__ADS_1


...[Host, tahu darimana kau?]...


"Asal nebak aja sih," ucap Arya dalam hati, membalas pertanyaan sistem.


...[Ya. Tapi apa yang kau katakan itu memang benar adanya. Meski kau menganggapnya lucu, Lucas sebenarnya mulai menyukai gadis itu]...


"Mas Aryaa ... aku sampai lupa tadi mau nanya sesuatu," tegur Angela.


"Ahh iyaa. Mau nanya apa?" tanya Arya.


"Istri Mas ... kemana?"


"Udah meninggal sejak melahirkan Lucas," jawab Arya spontan, namun memahami Angela memiliki maksud lain dibalik pertanyaan itu.


Angela pun sekejap termenung, meski Lucas kini nampak terdiam menatap wajahnya.


"Kalau aku bisa dapetin perhatian Lucas, kemungkinan aku juga bisa dapetin perasaan Mas Arya. Ini kesemp—"


"Angelaa ... bisa kembaliin Lucas? Soalnya udah malem, Lucas harus tidur lagi," pinta Arya memotong perkataan Angela, mendapati gadis itu termenung.


"Ehh iyaa Mas. Maaf ...." Angela kembali menyerahkan Lucas kedalam gendongan Arya.


"Bilang dadah sama Tante yuk." Arya mencoba melambai-lambaikan tangan sang bayi. "Dadah Tante. Jangan nakal lagi yah," ucapnya.


Lucas menjadi riang. "Mwamwaaa!" balas sang bayi, tersenyum riang hingga nampak gigi-gigi mungilnya.


Angela pun turut membalas lambaian Lucas. "Dadah Lucaas. Sampai ketemu lagi yah," ucapnya, melambai-lambai penuh senyuman, lalu pergi meninggalkan kamar Arya.


Akhirnya, Arya dapat mengatasi masalah yang sempat terjadi sebelumnya, juga memaafkan kesalahan yang dilakukan gadis itu.


"Yuk kita lanjut bobo, Lucas." Selepas menutup pintu kamar, Arya segera berjalan menuju ranjang. Ia kemudian berbaring sambil mendekap tubuh sang bayi. "Besok tinggal mikirin kerjaan apa yang cocok buat Angela ... kalau dia beneran dipecat," ucapnya, sebelum memejamkan kedua mata.


...[Biarkan aku yang mengurusnya besok. Selamat tidur dan selamat malam, host]...


"Ya. Selamat tidur."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Angela telah menduduki kursi mobil, seketika teringat akan suatu hal. "Perasaan tadi Lucas ngomong apa yaah?" pikirnya dalam hati.


Mesin mobil lantas menyala, membuat Angela berniat untuk sejenak memanaskannya terlebih dahulu. "Duuhh ... kenapa aku jadi lupa sih Lucas tadi ngomong apaa! Kayaknya penting banget!" gumam Angela dalam hati.


Setelah bergeming beberapa saat, Angela mulai memasukkan gigi persneling, lalu bergegas melaju keluar dari lantai basemen apartemen.


Akan tetapi, belum sempat mobilnya menjangkau palang pos petugas parkir, Angela spontan menghentikan laju mobil.


"M—m—mamaaaaa?!!!"


Teringat kembali apa yang sempat diucapkan Lucas, membuat detak jantungnya berdegup kencang.


(Tiiit*)


Terdengar suara klakson dari mobil yang berada dibelakang, merasa kesal karena Angela berhenti mendadak.


Sosok imut nan mungil dari wajah sang bayi pun lantas terbayang-bayang dalam benak Angela. "Aku dibilang mamaaa! Aaaaa!" Gadis itu menjadi heboh, senang bukan kepalang sambil membungkam mulutnya yang menganga lebar.


(Tiitt tiitt tiitt*)


Sang pengemudi mobil yang berada dibelakang mulai merasa dongkol, karena Angela belum jua melajukan mobilnya.


"Woyy! Cepet jalaan! Malah bengong!" tegur pengemudi tersebut dari balik kaca mobil.


"Ini kesempatan! Lampu hijau udah menyala! Aku bakalan kejar kamu terus Mas Arya!" kata Angela penuh semangat, berbicara sendiri di dalam mobilnya.


Angela pun akhirnya melaju menuju palang pos petugas parkir, dengan membawa secerca harapan yang ia terima dari Lucas.


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2