
"Kamu kenapa pindah gak bilang-bilang!! Aku jadi kepikiran yang enggak-enggak tau!!"
Setelah Arya menjawab panggilan ponsel, Alexa lansung menyergah dengan nada tinggi.
"Iyaa maaf. Soalnya kartu aku terlanjur gak aktif, jadi gak sempet kabarin kamu," ucap Arya tenang, selagi membuatkan susu formula untuk Lucas.
"Hmm! Yaudah, share lokasi kamu sekarang, nanti aku kesana," balas Alexa.
"Oh, oke. Aku kirim sekarang nih."
Panggilan ponsel tiba-tiba terputus, Alexa sepertinya benar-benar merasa geram dengan Arya.
"Alexa sampe segitunya ... kangen sama gua apa Lucas yah dia?" renung Arya, memasukkan ponsel kedalam saku celana.
Usai menyajikan sebotol susu hangat, Arya lansung bergegas menapaki anak tangga. Tak ada sedikitpun kecurigaan yang ia rasakan, selagi tergesa-gesa berjalan menuju pintu kamar.
Sedangkan Aulia si penyusup handal, kini nampak terbaring diatas ranjang, mendekap Lucas yang tertidur nyenyak disampingnya.
"Loh." Arya menjadi heran, mendapati pintu kamarnya terkunci dari dalam. "Perasaan gak gua kunci ... kenapa bisa kekunci dari dalam?!" gumamnya dalam hati.
Arya Pratama, tak menyadari bila penyusup telah menguasai kamarnya sendiri. Dengan penuh kekhawatiran ia mengguncang gagang pintu, namun tiba-tiba mendapati seseorang menyentuh pundaknya.
"Tu—"
(Bugh!)
Arya spontan berbalik, seraya meluncurkan sekali pukulan pada perut orang tersebut.
Rupanya, Gabriel.
Menerima hantaman keras diperutnya, Gabriel sempat terpental kearah belakang, imbas dari kesigapan Arya melawan rasa was-was.
Arya lantas terbelalak menyaksikan Gabriel meringkuk kesakitan. "Lah elu, gua kira siapa," ucapnya.
Dalam sekejap Gabriel menghilangkan rasa nyeri diperut, perlahan bangkit lalu berdiri dihadapan Arya. "Maaf Tuan. Hamba ada sedikit hambatan di tempat sebelumnya," ujar Gabriel.
"Yaa seenggaknya kasih tau kalau udah dateng. Gua jadi reflek kan," balas Arya, sedikit menahan kesal.
"Tuan." Gabriel seketika melirik kearah pintu kamar. "Sepertinya ada penyusup dalam rumah ini," duganya.
"Haa? Dimana?" tanya Arya penuh curiga.
Demi melindungi keamanan Arya, Gabriel lantas berjalan melewatinya. "Maaf Tuan, biarkan hamba yang menanganinya," pinta Gabriel, sambil meraih gagang pintu.
"Gak bisa. Pintunya dikun—" Arya sontak melongo, mendapati Gabriel dengan mudahnya mendorong pintu kamar. "Laaah! Perasaan tadi gak bisa dibuka," pikirnya heran.
"Tuan, tunggulah disini." Gabriel perlahan berjalan memasuki kamar, sebab ia lebih mengetahui dimana keberadaan Aulia. "Biar aku yang menangkap penyusup itu," tambahnya.
Perhatian Arya lansung terpusat kearah ranjang, mendapati Lucas tertidur pulas bersama seseorang. "Lucaas!" himbaunya, sekejap berlari menghampiri sang bayi.
Dengan tenangnya Gabriel meraih tubuh Aulia, sedangkan Arya penuh kekhawatiran meraih ketiak Lucas, menggendong sang bayi lalu bergegas menyalakan lampu kamar.
(*Klik)
"Astagaaa ...." Arya terheran-heran, penyusup yang dimaksudkan Gabriel rupanya Aulia. "Bisa-bisanya dia nekat masuk kerumah orang. Apa urat sopan santunnya udah putus?" gumamnya, melihat penuh ketidakpercayaan pada Aulia yang tengah dibopong Gabriel.
__ADS_1
"Tuan. Dia adalah wanita. Apa perlu diberi hukuman?" tanya Gabriel.
"Sebentar. Tunggu dia bangun dulu, seenggaknya minta penjelasan kenapa dia bisa senekat ini," jawab Arya.
Gabriel menggeleng cepat, dan berkata, "Tidak Tuan, hamba sudah mengunci alam bawah sadarnya. Sebelum Tuan memberikan hukuman, dia takkan bangun."
Arya sampai melongo, mendengar penjelasan Gabriel. "Yaudah. Bangunin dia sekarang," perintahnya.
"B—baik Tuan," balas Gabriel.
Gabriel kembali meletakkan tubuh Aulia keatas ranjang, lalu berjalan menyingkir menuju pintu kamar.
Tak lama berselang, Aulia perlahan membuka mata. Ia pun sontak terbangun dan terkejut mendapati Lucas telah berpindah tangan.
"Jangaaann!" Aulia beranjak turun dari ranjang, berjalan tergesa-gesa menghampiri Arya. "Siniin gak!" gertaknya.
Tetapi, Gabriel spontan menangkap tubuh Aulia, sebelum gadis itu berhasil menyentuh Lucas.
"Jangan macam-macam dengan Tuanku," bisik Gabriel, berdiri membelenggu leher Aulia.
Arya justru merasa iba, tak tega melihat Aulia diperlakukan kasar. "Heh jangan digituin, kasian dia. Lepasin," perintahnya.
Aulia lantas menggigit tangan Gabriel, berusaha melepaskan diri dari belenggu pria tersebut.
"Aaarggh!" Gabriel mengerang kesakitan, menjadi lengah hingga membuat Aulia berhasil terlepas.
Arya hanya menggeleng-geleng dengan kejadian itu, seketika menyaksikan Aulia berjalan menghampirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aulia dengan gemasnya mencubit pipi Lucas, memangku sang bayi yang nampak tenang saat menyedot sebotol susu.
"Tuan. Apa tidak masalah membiarkannya begitu saja?" tanya Gabriel, tetap menyimpan curiga terhadap Aulia.
Arya mendengus. "Udaaah, biarin aja. Dia gak ada niat jahat kecuali cuma pengen ketemu Lucas," balas Arya.
Kedua pria itu nampak berdiri didekat pintu, menyaksikan betapa senangnya Aulia dengan kehadiran Lucas.
"Kok kamu imut banget sihhh! Imut banget! Baangeeeetttt!!!" Lembutnya pipi sang bayi, membuat Aulia menjadi kerasukan gemas tak tertolong. "Uuccchhh. Taayaangg," ucapnya dengan tersenyum-senyum.
Senyuman itu, lantas membuat Arya termenung. "Baru kali ini ... baru kali ini gua ngelihat dia tersenyum. Mungkin kehadiran Lucas bisa mengurangi tingkat depresinya," pikir Arya.
"Tuan. Kalau memang dirasa aman, hamba izin pamit," ucap Gabriel.
"Mau kemana?" tanya Arya penasaran.
"Kembali melapor ke sistem pusat, Tuan," jawab Gabriel.
"Ohh yaudah. Titip salam buat sistem gua," pinta Arya.
Gabriel perlahan membungkuk. "Baik, Tuan." Ia kemudian menghilang dalam sekejap mata.
(Zwoofff)
Apa yang dilakukan Gabriel justru mengejutkan Arya. "Kayak tuyul aja. Seenggaknya menjauh dulu kalo mau menghilang," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
(Zwoofff)
Gabriel kembali muncul.
"Maaf Tuan. Selamat malam," ungkapnya, lalu menghilang begitu saja.
(Zwoofff)
Arya lantas mendengus, menjadi geram lalu berkata, "Ada-ada aja tuh orang. Besok mesti gua tegur biar gak ngilang sembarangan."
"Woiii." Aulia seketika menghimbau.
"Iya?" sahut Arya.
Raut wajah Aulia mendadak berubah, menjadi masam saat menoleh kearah Arya. "Sini," perintahnya.
Arya sempat terdiam, sebelum akhirnya berjalan menghampiri Aulia. Sejenak ingatan masa lalu terlintas dalam benaknya, ketika berdiri menatap lebih dekat wajah gadis itu.
"Inilah Aulia Sofia, mantan pacar gua yang dulunya sangat perhatian penuh kasih sayang. Dengan bodohnya gua menyia-nyiakan kasih sayang itu, lalu mati dalam keadaan konyol." Arya termenung akan kesalahannya di masa lalu, sekejap kedua tangannya mengepal erat mengingat-ingat hal itu.
"Bukannya hidup bahagia, Aulia justru depresi karena kematian gua, sampai-sampai dia hilang ingatan. Mentalnya pasti terganggu," batin Arya.
"Woii, jangan bengong!" tegur Aulia, mendapati Arya melamun, dengan pandangan yang menatap tajam kearahnya.
Arya perlahan mendengus, seolah dengusan itu mengawali perasaannya terhadap Aulia. "Maaf. Kalau boleh tau, kamu masih kenal gak sama Arya Pamungkas?" tanyanya menguji.
Aulia spontan terbelalak, seketika giginya menggertak-gertak, mendidihkan darah dalam otaknya setelah mendengar pertanyaan itu.
Sosok yang dipertanyakan Arya, justru membuat Aulia menyeringai tajam, seakan-akan gadis itu sangat membenci sosok tersebut.
"M—maaf! Aku gak bermaksud menyinggung perasaan kamu," ucap Arya, berusaha menenangkan Aulia.
"Jaangan pernah lo sebutin nama itu lagi! Dia udah jahat! Tiba-tiba pergi ninggalin gue seorang diri!" Aulia naik pitam, pandangannya menatap penuh kebencian.
Arya sontak bertekuk lutut, seketika memegang kedua pundak Aulia. "Udah udaah, gua minta maaf," ungkapnya, namun tetap tak mampu membuat Aulia melunak.
Tubuh Aulia bergetar-getar, detak jantungnya pun berdegup kencang tak karuan. Perlahan hatinya menjadi sakit saat mengingat sosok wajah seseorang, yang sebenarnya sedang berdiri dihadapannya itu.
Lucas pun menjadi saksi diantara mereka, sang bayi nampaknya tenang selagi terduduk dipangkuan Aulia, menyedot habis sebotol susu formula yang digenggam tangan mungilnya.
"Jangan-jangan, lo temennya Arya!" Aulia spontan menunjuk wajah Arya, imbas dari tekanan rasa benci dalam hatinya. "Denger yah, kalo dia gak mati, gue rencananya mau kabur dari rumah saat itu. Tapi kena—"
Aulia sontak membungkam, sebab mulutnya tiba-tiba tersumpal oleh tangan mungil Lucas.
"Uuuuu!" ucap sang bayi, sepertinya tak terima Aulia memarahi sang ayah.
Api amarah yang terbakar-bakar dalam hati Aulia, seketika padam saat menatap wajah imut Lucas.
Sang bayi pun dengan lugunya berbalik, lalu perlahan memeluk perut Aulia. Hal itu lantas membuat gadis tersebut menjadi luluh, tak berani menampakkan amarahnya lagi dihadapan Lucas.
"Yes! Bagus Lucas, kamu memang penenang yang baik. Aulia kayaknya terpukul, bener-bener gak terima dengan kematian gua," batin Arya dengan keringat dingin.
Arya yang mengalihkan pandangannya kearah Lucas, seketika mendengar suara isakkan. Ia pun lantas melirik, mendapati Aulia tiba-tiba menangis sesenggukan.
Tak dapat lagi membohongi perasaan, Aulia benar-benar tak berdaya dibuatnya. Kini, suasana dalam hatinya mendadak berubah, menjadi duka yang penuh lara mengingat-ingat kematian Arya.
__ADS_1
~Tbc