
"Baru kepikiran sekarang. Reina ternyata mau juga ngurusin Lucas yang tadi sempet ngompol dicelana." Arya yang tengah mengendarai mobil, perlahan melirik wajah tidur Reina. "Dia bener-bener calon mamah ideal untuk Lucas," pikirnya.
Reina nampak tertidur selagi terduduk memangku Lucas, terjangkiti rasa penat setelah Arya membawanya makan bersama di restoran keluarga.
Langit nampak kelam, disusul gerimis yang kemudian sekejap berubah menjadi hujan besar. Selama menanti lampu lalulintas menyala hijau, Arya menikmati betapa menawannya wajah tidur Reina, seketika tersenyum mendapati Lucas pun turut tertidur bersama gadis itu.
"Kalau dipikir-pikir, mereka memang mirip. Dugaan Bu RT ternyata gak salah, mungkin karena gua aja yang gak sempat merhatiin," batin Arya tersenyum-senyum.
"Tuan. Aku kembali." Gabriel memulai telepati dengan Arya.
"Iya, gua denger kok," balas Arya dalam hati.
"Hmm ... sepertinya Anda mulai tertarik dengan gadis itu Tuan," duga Gabriel.
Arya spontan mendengus, tak menyadari bila lampu lalulintas menyala hijau, beruntung tak ada kendaraan yang turut berhenti dibelakang.
"Kalau boleh jujur, gua emang suka sama Reina. Tapi, kita lihat dulu, apakah dia mau sabar nungguin Lucas sampai umur enam tahun," ucap Arya dalam hati.
"Tuan. Lampunya sudah menyala," terang Gabriel.
"Ha? Maksudnya?" tanya Arya tak mengerti.
"Coba lihat ke depan Tuan, lampunya sudah berubah menjadi hijau," jawab Gabriel.
Arya sontak menoleh ke arah depan, melirik pada lampu lalulintas. "Astaga!" Dengan segera ia memasukkan gigi persneling, tetapi semuanya terlambat karena lampu lalulintas kembali menyala merah. "Ahh! Kenapa gak bilang dari tadi sih?!" gumam Arya kesal.
"Maaf Tuan, jika ingin menyalahkan, salahkan gadis itu yang telah mengendalikan pikiran Anda," jelas Gabriel.
Arya hanya mendecih, seketika menyadari Reina terbangun seraya menggeliat.
"Ada apa Mas?" tanya Reina.
"Hmm ... gapapa kok," jawab Arya, menatap fokus ke arah depan.
Reina sempat berkedip-kedip, turut menatap ke arah depan lalu bertanya, "Udah sampai mana Mas? Masih jauh yah?"
__ADS_1
"Kalau ke tempat kamu udah deket. Kalau ke rumah aku masih jauh," jawab Arya.
"Hmm ... kalau begitu, aku pulang aja deh Mas," ucap Reina.
Arya lantas menoleh pada Reina. "Loh, gak mau ke rumah aku dulu?" tanyanya.
"G—gak usah deh. Soalnya hujan, takut kemaleman Mas. Kan gak enak nanti sama tetangga," jawab Reina tersenyum sungkan.
Lampu lalulintas akhirnya menyala hijau, beruntung Arya dapat melihatnya lalu segera tancap gas. "Yaudah. Kita sekarang ke tempat kamu yah," katanya.
Reina menahan senyum dan berkata. "I—iyaa Mas."
Sesaat kemudian, tak ada sepatah kata yang diungkapkan Reina, kecuali hanya mengucapkan terimakasih karena Arya telah membawanya tiba di lantai basemen parkiran apartemen.
Arya pun tak merasa heran dengan hal itu, ia tetap beranjak keluar dari basemen lalu bergegas melajukan mobilnya menuju rumah.
Reina sempat menoleh ke arah mobil Arya. "Maaf Mas Arya ... bukannya aku sombong. Tapi aku bingung harus ngomong apa lagi," batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tuan, besok ada misi penting yang akan Anda jalani. Segeralah beristirahat," anjur Gabriel.
Selangkah demi selangkah, Arya lansung membanting punggungnya ke atas ranjang. "Iyaa, ini mau tidur. Denger perkataan lu tadi, gua jadi keinget sistem. Kira-kira dia lagi apa yah dia sekarang?" tanyanya dalam hati.
*Gabriel mendengus*
"Beliau sedang menikmati liburannya Tuan," jawab Gabriel.
Arya spontan terbelalak. "Haa? Kok liburan? Bukannya dia kena hukuman?" tanyanya kembali penuh heran.
"Tuan. Sistem Anda telah menerima hukuman, diliburkan dari tugasnya dalam memandu Anda selama seminggu. Dengan begitu beliau bisa bersenang-senang menikmati masa liburannya," jelas Gabriel.
Arya mendengus. "Enak yah, kayak karyawan yang dapet cuti selama seminggu," ungkapnya.
"Memang seperti itu Tuan, karena misi yang akan Anda jalani besok adalah mencari pekerjaan," tambah Gabriel.
__ADS_1
"Haa?" Arya sontak bangkit dan terduduk ditengah-tengah ranjang. "Gua nyari kerjaan? Terus yang jagain Lucas siapaa?" keluhnya.
"Jangan khawatir Tuan, ada hamba yang bisa mengawasi Lucas," sambung Gabriel.
"Laahh ... lu kan cuma sampai seminggu disini. Kalau gua udah kerja untuk waktu yang lama, yang bisa gantiin lu siapa?" Arya menjadi heran dengan misi yang dijelaskan Gabriel.
*Gabriel kembali mendengus*
"Tuan. Jika Anda sudah diterima bekerja, dalam enam hari ke depan hamba yang akan menjaga Lucas. Selebihnya, jika masa waktu hamba telah habis, sistem Andalah yang akan menggantikan tugas hamba menjaga Lucas," terang Gabriel panjang lebar.
Arya sekejap memahami apa yang diterangkan Gabriel, juga sekilas teringat pada sistem. "Wahh ... berarti sistem gua punya wujud juga dong??" duganya.
"Tentu saja Tuan. Karena sistem Anda adalah sistem dengan pangkat yang jauh lebih tinggi di atas pangkat hamba. Sebelumnya beliau hanyalah sebatas sistem humanoid seperti hamba sekarang, hingga akhirnya meraih banyak prestasi dan diberikan banyak penghargaan oleh sistem pusat," jelas Gabriel.
Arya hanya melongo. Semakin lama, apa yang dikatakan Gabriel justru membuatnya semakin tak mengerti. "Lu kan tadi bilang kalau sistem humanoid adalah pangkat terendah ... jadi sistem gua tuh pangkatnya sekarang apa? " tanyanya penasaran.
Gabriel sempat terdiam, lalu tiba-tiba memunculkan wujudnya tepat dihadapan Arya.
(Zwuushh*)
Selagi bertekuk sebelah lutut, Gabriel berkata, "Maaf Tuan, hamba tak diizinkan memberitahukannya. Sebab hamba hanyalah sebatas sistem humanoid. Bukanlah kewenangan hamba mengungkapkan identitas sistem yang jauh lebih tinggi tingkatannya di atas hamba," tolaknya dengan hormat.
"Ohh yaudah. Nanti biar gua tanya langsung aja sama sistem," balas Arya, lalu spontan membaringkan tubuhnya.
"Terimakasih kasih Tuan," ungkap Gabriel, kini nampak berdiri mematung menghadap ranjang Arya.
Arya lantas melirik ke arah Gabriel. "Lu ngapain disitu? Gua mau tidur," tegurnya.
"Maaf Tuan."
(Zwuushh*)
Gabriel spontan menghilangkan wujudnya. "Hamba akan segera kembali esok pagi. Selamat malam, dan selamat tidur," pamitnya dalam hati.
"Iyaaa ...." balas Arya, perlahan memejamkan mata.
__ADS_1
~Tbc