
"Lucas, papah pergi dulu yah nak."
Arya mengawali pagi itu dengan berpamitan pada Lucas, menggendong erat tubuh sang bayi lalu mengecup keningnya penuh kasih sayang.
Setelah mengambil alih Lucas, Gabriel berkata, "Tuan, hati-hati di jalan. Hari ini tidak ada misi, jadi Anda tak perlu lagi memikirkan hal lain selain bekerja."
"Siap." Arya bergegas masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin untuk memanaskan kendaraan roda empat tersebut. "Tolong jaga Lucas baik-baik," pintanya.
"Baik Tuan. Semua akan aman dalam pengawasan hamba," balas Gabriel, berdiri di samping mobil Arya.
"Papaaah! Baay!" sahut Lucas melambai-lambai ceria.
Arya lantas tersenyum. "Bayy Lucaas ...." ucapnya, turut melambai ke arah Lucas.
Mobil pun akhirnya melaju, Arya segera bergegas tancap gas menuju gedung kantornya.
Selama di perjalanan, tak ada satu hal pun yang dipikirkan Arya kecuali Sarah dan Sarah. "Semenjak kejadian semalem, Sarah jadi bertingkah aneh, selalu ngirim foto selfie-nya sendiri ... tapi, gua seneng liat foto dia yang lagi tersenyum, padahal dulu muka-nya selalu keliatan judes," batin Arya.
Tiba-tiba ponsel berdering, Arya lansung meraih ponsel tersebut dari atas dashboard mobil. "Iya haloo?" ucapnya, menerima panggilan ponsel dari seseorang.
"Arya kamu udah berangkat?" tanya seorang wanita bersuara lembut, wanita yang sedari tadi terbayang dalam pikiran Arya.
"Udah. Ini lagi dijalan," jawab Arya.
"Ohh syukur deh. Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut! Kalau udah sampai kabarin aku," kata Sarah, menunjukkan bentuk perhatiannya pada Arya.
Arya pun berkata, "Iyaa, nanti aku kabarin lewat chat."
"Okey, byee lovely ... mmuaachh."
Panggilan ponsel sekejap terputus, Sarah mengakhirinya dengan menunjukkan perhatian berlebih.
Sementara Arya kembali termenung, selepas meletakkan ponsel ke atas dashboard mobil. "Tuh, baru aja dipikirin orangnya lansung nelpon. Sarah emang bener-bener tulus, tapi kayaknya terlalu berlebihan. Sedangkan Reina ...."
Arya spontan meraih ponsel, membuka aplikasi sosmed yang ia gunakan untuk saling berbalas pesan dengan seseorang. "Reina aja udah dua hari gak pernah ngabarin gua lagi. Apa gua yang mesti ngabarin dia duluan? ... ahhh, barangkali orangnya lagi sibuk," pikirnya serius.
Setelah melintasi rute yang biasa dilalui, kini Arya melajukan mobilnya masuk ke dalam basemen parkiran gedung perusahaan. Dengan santai ia mematikan mesin, terlebih dahulu menghela nafas sebelum beranjak turun dari mobil.
"Masih jam enam lewat dua puluh. Kayaknya gua kecepetan," batin Arya, melirik pada jam tangannya.
Seketika Arya menyaksikan sebuah mobil melaju dari arah pintu masuk basemen, lalu perlahan melaju lambat melewatinya. Ia tak terlalu memperhatikan mobil tersebut, akan tetapi sang pengendara dari mobil itu justru terkejut saat melirik ke arah wajahnya.
"Aryaaa?!" ucap Angela, dari dalam ruang kemudi.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Angela lantas bergegas turun dari mobilnya.
"Angel kamu mau kemana?!" tanya salah seorang gadis rekan kerja Angela, yang turut pergi bersamanya.
__ADS_1
Angela tak menghiraukan himbauan sang rekan, dengan tergesa-gesa ia berlari mengejar Arya yang tengah berjalan menuju pintu akses. "Aryaaaa!" himbaunya lantang.
Arya lantas berhenti, spontan menoleh ke arah belakang. "Loh, Angela?" sahutnya, sedikit terbelalak atas kehadiran gadis itu.
Tanpa pikir panjang, tak ada angin tak ada hujan, dengan sengaja Angela menabrak Arya sambil memeluk tubuhnya seerat mungkin. "Aryaaaaaa!" ucapnya penuh kehebohan, mengejutkan rekan kerja yang sedang berdiri di samping mobil.
"Angel ketemu sama siapa tuh? Kok tiba-tiba orang itu dipeluk?!" tanya sang rekan terheran-heran.
"Angela, lepasin. Malu nanti di liat orang," tegur Arya.
"Gak mau! Aku kangen tau!" tolak Angela.
Merasa malu atas ulah Angela, sang rekan segera bergegas menghampirinya. "Angel! Lihat-lihat situasi dulu kalau mau meluk orang tuh!" omelnya, mencoba menarik tubuh Angela.
Dengan sekuat tenaga sang rekan berusaha melepaskan Arya dari pelukan Angela, khawatir bila mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang akan berlalu-lalang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Maaaaf ... Aku tuh cuma kaget aja ketemu Mas ganteng tadi ...." ungkap Angela, nampak terduduk murung dalam suatu ruangan.
"Hmm. Cuma kaget yah? Kaget sampai-sampai reflek meluk tuh cowok? Kamu tuh kebiasaan kalo ketemu cogan, suka gak terkontrol nafsunya!" tegur sang rekan, turut terduduk di hadapan Angela.
Angela spontan mendongak. "Yaudah maaf siih! Dia tuh emang bener-bener kenalan aku, bukan orang laen! Lagian siapa juga yang mau meluk orang sembarangan di tempat umum?! Kurang kerjaan!" balasnya kesal.
"Nah itu kamu sadar. Yaudah jangan begitu lagi. Mau kenal atau enggak, kita harus menjaga attitude selama jam kerja. Apalagi sekarang kita lagi ditugasin dateng kesini untuk ngambil proposal kerja sama. Jangan sampai bikin malu nama perusahaan kita, ngerti?" omel sang rekan.
(Tok,tok,tok*)
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, sang rekan lansung berjalan menuju pintu tersebut.
"Eh, Mas yang tadi yah?" tanya sang rekan usai membuka pintu, mendapati kehadiran Arya yang tengah berdiri seraya memegang berkas-berkas perusahaan.
Arya spontan tersenyum. "Betul. Bisa dimulai sekarang?" pintanya.
"Oh bisa bisa, sahkan masuk mas. Kok kesannya aku jadi kayak tuan rumah yah, ehehe," balas sang rekan.
Sempat melirik ke arah Angela, Arya segera berjalan masuk ke dalam ruangan, terduduk tepat di hadapan meja yang berseberangan dengan gadis itu.
"Angela, kamu gapapa?" tanya Arya.
Angela hanya menggeleng-geleng, tetap terlihat murung tanpa memberanikan diri menoleh ke arah Arya.
Sang rekan lansung mengisi kursi di sebelah Angela. "Gausah dipikirin Mas. Rekan saya yang satu ini baik-baik aja kok, ehehe," sambungnya, merangkul serta mengelus-elus pundak Angela.
Arya mendengus dalam. "Yaudah. Saya kebetulan dipercaya mewakili perusahaan ini untuk memulai kerja sama dengan perusahaan kalian. Ini berkas-berkas proposal-nya," kata Arya, nampak tenang menyerahkan berkas-berkas pada sang rekan.
"Mas ini to the point banget yah." Sang rekan nampak enggan meraih berkas-berkas itu, ia justru mengulurkan jabatan tangannya ke arah Arya. "Alangkah lebih baiknya kita kenalan dulu. Aku Winda Anastasya, assisten-nya Angel. Mas sendiri pasti udah kenal duluan kan sama Angel?" tambahnya.
__ADS_1
Arya lansung meletakkan seluruh berkas ke atas meja, segera membalas jabatan tangan rekan kerja Angela tersebut. "Arya Pratama, financial Advisor perusahaan ini. Senang berkenalan dengan kamu ... dan." Arya spontak melirik ke arah Angela. "Senang bisa ketemu kamu lagi Angela," ungkapnya, mengalihkan pertanyaan Winda.
Perhatian Angela mendadak terpusat pada dua tangan yang saling berjabatan itu. "Ini kita dateng kesini mau kerjasama atau mau bersaing ngerebutin Mas Ar—"
Mulut Angela yang tengah berbicara pun sontak dibungkam oleh tangan Winda.
"Ehehe ... maaf Mas, maaf." ungkap Winda tersenyum ke arah Arya, lalu spontan mendekatkan wajahnya ke wajah Angela. "Jangan malu-maluin iiih! Kamu tuh atasan aku, masa harus aku terus yang negur kamu ...." bisiknya, menahan geram.
Angela lantas menggangguk, memahami perkataan yang dibisikkan Winda.
"Ehem. Kalian kelihatannya udah saling deket," sambung Arya, menyaksikan tingkah laku dua gadis itu.
"Ahaha, iya Mas. Kita sebenarnya masih saudara sepupu," balas Winda.
Arya mengangguk-angguk. "Hmm, pantesan ... yaudah, bisa kita lanjutin lagi?" pintanya.
"Baik Mas. Berkas-berkasnya aku periksa dulu yah," kata Winda, sebelum meraih berkas-berkas di atas meja.
Sepertinya kedatangan Winda dan Angela adalah untuk merealisasikan program kerja sama dari kedua perusahaan, dimana dalam berkas-berkas tersebut berisikan sebuah proposal pengajuan, untuk pembuatan iklan produk asuransi yang akan dipromosikan oleh perusahaan Arya.
"Yahh ... saya juga kaget aja kenapa tiba-tiba saya diikutsertakan di sini. Kamu pasti tau kan kenapa?" tanya Arya, selepas Winda memulai percakapan.
Winda pun tersenyum cerah. "Tau dong Mas. Kan Mas Arya sendiri yang udah dipilih jadi bintang iklannya, hehe," balasnya, mengedipkan sebelah mata genit ke arah Arya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di halaman belakang rumah, Lucas nampak berlarian mengejar Gabriel, sembari mengacungkan sebuah miniatur superhero.
"Uuuu!!" kata sang bayi dengan wajah serius.
"Hahaha! Aku adalah penjahat sejati! Tuan Muda takkan bisa mengala—"
Tiba-tiba, Gabriel tersandung.
(*Brugh)
Gabriel lantas tersungkur ke atas tanah, akibat berlarian sambil menoleh ke arah belakang, tanpa memperhatikan sebuah batu kecil yang berhasil menyandung sebelah kakinya.
Lucas segera memanfaatkan hal itu untuk bergegas menghampiri Gabriel. "Uuuu!! Abliill! Uuu'uuu!!" seru sang bayi, tak jelas mengatakan apa.
"Ahaha, baik Tuan Muda. Hamba mengaku kalah." Meski tak merasakan nyeri apapun, Gabriel tak dapat mengelak saat mendapati Lucas perlahan menduduki perutnya. "Ini adalah pelajaran penting Tuan Muda. Kesombongan hanya akan membawa kita pada kehancuran, sebaiknya tetap bersikap rendah hati pada siapapun, sebelum merasakan akibatnya," nasihat Gabriel.
Wajah imut sang bayi menatap kebingungan, sambil terus menusuk-nusuk pipi Gabriel dengan ujung mainan miniatur superhero-nya itu.
Sebelumnya, awan sedari tadi nampak menggelap, lalu seketika turun-lah rintik-rintik hujan yang menerjang seluruh tanah ibukota.
Gabriel dengan sigap bangkit seraya meraih ketiak Lucas. "Tuan Muda! Ayo kita masuk kedalam!" serunya, berlari terbirit-birit membawa Lucas menuju pintu belakang rumah.
__ADS_1
~Tbc