
"Maaf mas. Ini anak siapa? Gak mungkin anaknya mas," kata seorang petugas keamanan mall, curiga melihat Arya menggendong seorang bayi yang hanya dibaluti sehelai handuk kecil.
Arya mencoba tenang. "Loh, udah jelas-jelas ini anak saya pak," tegasnya.
Sang petugas menatap serius pada sang bayi. "Gak mungkin. Kalo emang anak mas, kenapa cuma pakai handuk do—"
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba mulut sang petugas berhenti berbicara.
...[Host, cepat jalan. Aku sudah mengendalikan pikirannya]...
"O—oke." Arya lansung bergegas, meninggalkan sang petugas yang mendadak mematung.
"Kayaknya harus beli pakaian buat nih bayi dulu dah," batin Arya.
...[Ya. Kau benar host. Sebaiknya lansung pakaikan satu setel pakaian yang cocok untuk bayimu]...
"Oke." Arya semakin mempercepat langkah kakinya menuju ke sebuah toko serba ada, demi menghindari kecurigaan dari seluruh pengunjung mall tersebut.
Deretan rak-rak khusus perlengkapan bayi pun menjadi tujuan utama Arya. Ia segera berjalan membawa sang bayi menuju rak pakaian khusus balita.
"Hmm ... warna biru bagus gak yah?" Arya sedikit membungkuk, menatap detail pada setelan pakaian khusus balita yang tergantung dalam rak. "Ahh! Yang mana ajalah!" ucapnya, sambil meraih setelan pakaian balita serba biru.
Arya kemudian bergegas menuju kasir, mendapati seorang gadis kasir menatap heran kearahnya.
"Bayinya kenapa pakai handuk doang mas?" tanya sang gadis kasir.
Arya terkekeh-kekeh. "Justru saya kesini mau beliin baju buat bayi saya," jawabnya percaya diri.
"Loh. Emangnya dirumah gak ada ba—"
Sang gadis kasir tiba-tiba terdiam, seakan-akan jiwa pikirannya telah dikuasai oleh sesuatu.
...[Host, dudukan bayimu diatas meja kasir. Aku akan mengendalikan gadis ini untuk mengenakan pakaian itu pada bayimu]...
"B—baiklah." Arya lansung menuruti perintah sistem, mendudukkan sang bayi diatas meja kasir.
Sang gadis kasir kemudian meraih setelan pakaian yang digenggam Arya, lalu memindai label harganya pada mesin kasir.
"Hebat sekali kamu bisa nguasain mental seseorang. Udah kayak Daddy Buldozer aja," batin Arya, seraya menyaksikan bagaimana sang gadis kasir mengenakan setelan pakaian khusus balita pada sang bayi.
...[Itu hal yang biasa bagiku host. Jika dalam keadaan darurat, aku akan melakukan apapun demi membantu melancarkan misi host]...
"Selesai," ucap sang gadis kasir dengan pandangan kosong, membuat Arya lansung meraih ketiak sang bayi.
"Makasih yah mbak," ungkap Arya, lalu bergegas membawa kembali sang bayi ke tempat deretan rak khusus balita, bersama sebuah troli yang ia dorong menuju tempat tersebut.
...[Baiklah host, silahkan penuhi kebutuhan bayimu selanjutnya. Lihatlah pada kertas daftar belanjaan yang harus kau beli]...
Selagi menggendong tubuh sang bayi, Arya tetap mencoba menengok pada selembar kertas yang tergenggam disebelah tangannya. "Okee. Sekarang yang harus gua beli ... popok, susu formula, minyak telon, botol susu, bubur bayi ...." Arya sekejap terbelalak, terkejut mendapati banyaknya daftar barang yang harus ia beli. "Buset! Banyak amat!" keluhnya.
...[Jangan mengeluh, host! Semakin sering kau mengeluh, kau akan semakin membuang banyak waktu misimu]...
"Oke oke. Gua harus beli popok dulu berarti." Arya kemudian berjalan menuju sebuah rak, yang menyimpan berbagai macam jenis diaper khusus balita. "Hmm ... kira-kira ukurannya berapa yah??" tanyanya.
...[S terlalu sempit. L cukup pas. Aku sarankan ambil ukuran XL]...
__ADS_1
Arya lansung meraih sebungkus diaper berukuran XL, lalu memasukkannya kedalam troli. "Ambil tiga bungkus lagi deh. Takut gak cukup," ucapnya, sambil meraih dua bungkus diaper lainnya.
...[Hmm ... pemikiran yang bagus, host]...
Sang bayi sedari tadi hanya terdiam tenang, sepertinya merasa nyaman selama berada dalam gendongan Arya.
Tak lama berselang, Arya kemudian berjalan mendorong trolinya menuju sebuah rak yang menyimpan berbagai macam jenis susu formula khusus balita.
"Sistem ... bukankah bayi seumuran dia harus minum ASI?" tanya Arya, menatap sang bayi yang tertawa riang padanya.
...[Memang benar. Tapi, apa kau bisa mengeluarkan ASI?]...
"Ya enggaklah! Mana ada cowok yang bisa ngeluarin ASI! Kalau emang bisa, namanya bukan ASI, tapi ASA," jawab Arya, menampik pertanyaan yang diberikan sistem.
...[Baguslah kalau kau mengerti. Sekarang siapa yang mau memberikan ASI untuk bayimu? Apakah ada yang bersedia? Apakah kamu sudah beristri?]...
Arya spontan mendengus. "Iya iyaaa ... yaudah kasih susu formula aja," balasnya dengan pasrah.
...[Ingat. Pahami betul mana susu formula yang cocok untuk bayi berusia enam bulan]...
Mendengar perkataan sistem, Arya lansung menoleh pada wajah sang bayi. "Jadi umurnya enam bulan kah?" tanyanya.
...[Tentu. Sengaja kami percepat usianya menjadi enam bulan. Sebab kau masih terlalu amatir menjadi seorang pengasuh, menimbulkan kekhawatiran bila kami memberikan seorang bayi yang baru lahir pada pemuda sepertimu]...
Arya kembali mendengus. "Oke, gue udah paham sekarang. Berarti susu formula yang cocok itu yang ini." Ia seketika meraih sekotak susu formula, lalu memasukkannya kedalam troli. "Tambah dua lagi. Gak bakal basi kan?" tanyanya, seraya meraih dua kotak susu formula lainnya.
...[Tidak akan. Asal kau pandai menyimpannya dengan baik]...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Popok udah, susu udah, botol susu udah, minyak telon udah, selusin pakaian bayi udah, bubur bayi udah, yang lainnya t*tek bengek udah semua. Akhirnya selesai juga," batin Arya seraya menghela nafasnya.
...[Belum host. Kau lupa membeli kebutuhanmu]...
Arya sontak terbelalak. "Astagaaa ... Kebutuhan buat diri sendiri aja sampai lupa. Mana antriannya bentar lagi," keluhnya dalam hati.
...[Percuma host, waktunya hampir habis. Kau takkan sempat membeli kebutuhanmu. Lagipula uang yang kuberikan hanya cukup untuk membayar seluruh kebutuhan bayimu]...
Mendengar perkataan sistem, Arya menjadi naik darah. "Haa?! Bukannya elu sendiri yang nyuruh gua buat ngutamain kebutuhannya?! Kenapa lu kesannya kayak nyalahin gua?!" protesnya dengan suara keras, mengejutkan seluruh pengunjung yang sedang mengantri.
Salah seorang ibu-ibu paruh baya yang mengantri didepan Arya, lansung menoleh kearahnya. "Mas kenapa?! Marah-marah sama siapaa?!" tanyanya dengan raut wajah heran.
Arya dengan ketampanannya sontak membuang muka. "Gapapa Bu," jawabnya singkat, membuat sang ibu melirik-lirik penuh heran padanya.
...[Host, bukan maksudku menyinggung perasaanmu]...
"Terus?!" tanya Arya dalam hati.
...[Aku mengerti kekecewaanmu yang tidak sempat memikirkan kebutuhanmu sendiri. Tetapi, selamat! Kau sudah menyelesaikan misi level A ini dengan baik!]...
Arya menarik nafasnya dalam-dalam, lalu nafas itu ia keluarkan secara perlahan. "Ya," balasnya singkat dalam hati.
Raut wajah Arya mendadak masam, membuat sang bayi menatap cemberut padanya.
"Kenapa sedih boy?" tanya Arya.
__ADS_1
Sang bayi, tiba-tiba menangis. Sepertinya bayi tersebut memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan Arya.
Arya berusaha menenangkan sang bayi, segala cara ia lakukan agar bayi tersebut kembali ceria.
"Tuh liat tuh, mbak kasirnya aja senyam-senyum, masak kamu nangis sih boy," sindir Arya pada sang bayi, sesaat setelah ia berhasil membawa trolinya tiba didepan meja kasir.
Sang bayi seketika menatap kearah sang gadis kasir, tetapi dengan secepat mungkin memalingkan wajahnya kembali kearah Arya, seakan merasa ketakutan dengan tatapan sang gadis kasir tersebut.
Arya mendapati sang bayi semakin menangis histeris. "Boy udah boy. Cup cup cup." Ia mengusap-usap punggung sang bayi dengan perlahan. "Liat mbak-mbak cantik kok nangis sih boy," ucapnya, sambil meletakkan seluruh barang belanjaan keatas meja kasir.
Sang bayi akhirnya sedikit melunak, lalu seketika tertidur pulas dengan kepala yang bersandar di sebelah pundak Arya.
"Anaknya mas?" tanya sang gadis kasir, seraya memindai satu-persatu barang belanjaan Arya pada mesin pemindai.
"Iya. Kenapa mbak?" jawab Arya, yang kembali melemparkan pertanyaan.
"Gapapa mas. Emang istri mas kemana?" jawab sang gadis kasir, juga kembali melemparkan pertanyaan.
Arya sejenak terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan yang sangat-sangat mematikan itu.
...[Bilang saja kau ibunya]...
"Bodoh! Ibu itu perempuan! Gua laki-laki, calon bapak-bapak!" tolak Arya dalam hati.
"Mass?"
"Ibunya udah pergi duluan," jawab Arya spontan.
Raut wajah sang gadis kasir mendadak sedih, selepas mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Arya. "Maaf yah mas. Aku udah lancang nanya," ungkapnya.
"Gapapa." Arya kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar seluruh barang belanjaan.
"Semuanya jadi tujuh ratus lima puluh lima ribu rupiah mas," ucap sang gadis kasir.
"Ini mbak." Arya lansung menyodorkan seluruh uangnya.
Sang gadis nampak serius menghitung jumlah uang yang diberikan Arya. "Tujuh ratus, delapan ratus ... kelebihan mas," katanya.
"Gapapa, ambil aja sisanya," balas Arya, menolak sisa uang yang disodorkan sang gadis kasir.
...[Host. Kau yakin? Bukankah sisanya bisa untuk membeli kebutuhanmu?]...
Arya sontak termenung. "Mulai sekarang, aku sadar kalau kebutuhan bayi ini jauh lebih penting dari kebutuhanku. Uang kau berikan gak pantas untuk kupakai sepersenpun. Aku masih bisa cari pekerjaan buat mencukupi kebutuhanku sendiri," batin Arya, seraya meraih sekantung belanjaannya, lalu bergegas melangkahkan kakinya keluar dari toserba tersebut.
...[Host! Jawaban yang sangat bagus! Selamat! Kau telah menyelesaikan misi level A dengan sangat-sangat baik!]...
...[Reward untukmu: Satu lusin setelan pakaian dan pakaian d*lam, satu set perlengkapan mandi, uang tunai senilai lima ratus ribu rupiah, serta satu unit smartphone. Semuanya sudah kuletakkan di dalam kamar apartemenmu]...
Langkah Arya sontak terhenti. "Seriuss?!" tanyanya, dengan sedikit senyuman yang hampir menyungging.
...[Ya, host!]...
"Yess!" Arya lansung berjalan mempercepat langkah kakinya menuju pintu lift, membawa rasa senang atas reward yang telah diberikan sistem untuknya. "Terimakasih!" ungkapnya dalam hati.
~Tbc
__ADS_1