Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 57. Situasi Yang Tak Terduga


__ADS_3

Meski telah rapih dan wangi, Arya nampak termenung seraya mengendarai mobil.


Di pagi itu, tentu ada hal yang sudah mengganjal dalam pikiran Arya, sedari tadi ia terus memikirkan tentang Aulia.


"Meskipun Aulia udah sadar ... tapi kalau dia tetep gak kenal siapa gua sebenarnya ... berarti gak ada peluang untuk kita balikan," pikir Arya.


Tiba-tiba ponsel berdering, Arya lansung menduga siapa yang tengah mencoba menghubunginya itu. "Loh, tumben Reina nelpon ...." ucapnya dalam hati, menatap layar ponsel yang telah diraihnya dari atas dashboard mobil.


Segera Arya menjawab panggilan tersebut, terlebih dahulu menghela nafas sebelum berkata, "Iya halo?"


"Halo Mas Arya, apa kabar?" tanya Reina melalui panggilan ponsel.


"Baiiik ... kamu sendiri gimana kabarnya?" jawab Arya, melemparkan pertanyaan.


"Syukurlah, aku baik-baik aja kok," balas Reina.


"Bagus." Pandangan mata Arya tertuju pada lampu lalulintas yang menyala merah, sekejap menghentikan laju mobil tepat di belakang garis zebra cross. "Kamu gak kerja?" tanyanya.


"Hmm, ini lagi siap-siap mau berangkat kok. Denger-denger kamu udah kerja, kerja dimana Mas Arya?" jawab Reina, balik bertanya.


Lampu lalulintas pun menyala hijau, Arya perlahan melajukan mobil seraya berkata, "Aku kerja di perusahaan asuransi. Ini lagi di jalan mau kesana."


"Oohh, semangat yah. Hati-hati di jalan," balas Reina.


"Iya, kamu juga."


"Maaf kalau aku ganggu Mas, aku juga mau berangkat. Aku matiin yah, byee."


Panggilan ponsel terputus begitu saja, Reina nampaknya merasa canggung untuk berkomunikasi dengan Arya.


Arya mendengus. "Gua dan Reina udah mulai biasa-biasa aja ...." Seketika ia mendapati Sarah mencoba menghubunginya melalui panggilan ponsel. "Sekarang, giliran Sarah," batin Arya, segera mengangkat panggilan.


"Halo sayang," sapa Sarah.


"Iya halo," balas Arya.


"Ihh, kok kamu cuek banget," keluh Sarah.


Arya berkata, "Cuek darimana? Kan aku udah jawab panggilan kamu."


"Tau ah! Hati-hati di jalan, bye!"


Lagi-lagi panggilan ponsel terputus, imbas dari kekesalan Sarah terhadap Arya.


Dengan menahan geram Arya meletakkan ponselnya ke atas dashboard. "Sabaar ... maklum cewek kalau lagi ada halangan suka begitu," pikirnya.


Sesaat kemudian, Arya berjalan tergesa-gesa memasuki pintu akses, usai memarkirkan mobil di area parkiran basemen gedung.


"Bang!" himbau salah seorang rekan kerja Arya, seorang pemuda berperawakan kurus yang nampak jauh lebih muda darinya.


Arya menengok ke belakang. "Woi Bagas, baru dateng lu?" tanyanya, menyaksikan sang rekan segera berjalan menghampiri.

__ADS_1


"Iya nih Bang. Semalem di grup rame bener, kira-kira lagi pada bahas apa?" tanya Bagas, sang rekan yang telah berjalan di samping Arya.


"Loh, emangnya lu gak merhatiin? Kan lagi pada bahas iklan promosi produk asuransi perusahaan kita," jawab Arya.


Bagas tersenyum-senyum. "Ohh gitu Bang. Ya maaf, soalnya gua semalem lagi asik maen game, hehe," balasnya.


Arya menggeleng-geleng. "Dasar lu. Seenggaknya dibaca biar gak ketinggalan info," tegurnya.


"Iyaa Bang sorry."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pagi Aryaaa!"


Dengan tersenyum manis Jessica menyapa, menyaksikan Arya sedang terduduk seraya mempersiapkan berkas-berkas kerja.


"Iya pagi ... nah gitu, karyawan teladan datengnya jam segini," balas Arya.


Jessica hanya mengangguk tanpa melepaskan senyum, seketika terduduk melakukan hal serupa yang telah dilakukan Arya.


Arya mendengus, terus melirik Jessica penuh heran dari balik sekat meja. "Nih cewek udah mulai berubah sifatnya. Tumben parfumnya wangi banget," batinnya, terhirup aroma wewangian Jessica yang berseliweran di hidung.


"Selamat pagi." Amanda seketika muncul dari balik pintu, bergegas menghampiri meja di sudut ruangan yang diperuntukkan untuk supervisor. "Arya kamu udah baca email dari saya belum?" tanyanya.


"Belum Bu," jawab Arya.


"Yaudah nanti kamu baca yah. Disitu ada rincian prosedur tentang jobdesk kamu sebelum ngisi acara event perusahaan. Jessica juga aku udah kirim, soalnya kalian berdua satu tim nantinya," jelas Amanda panjang lebar.


Amanda lantas tersenyum, sebelum akhirnya turut terduduk di meja kerjanya dengan mempersiapkan sebuah tas berisi laptop.


Bel digital pertanda dimulainya jam kerja pun berdentang, mengawali seluruh kegiatan karyawan dalam ruangan itu.


Selang beberapa jam, Arya kini terlihat sibuk menginput data nasabah. Dilihatnya informasi lengkap dari nasabah tersebut, termasuk alamat rumah yang nampak mencurigakan.


"Loh, ini mah Bu RT!" tebak Arya, menyimak foto profil seorang nasabah, wanita paruh baya yang rupanya sangat ia kenali.


"Bu! Saya boleh minta tolong review kerjaan saya?" himbau Jessica pada Amanda yang tengah sibuk mengamati layar laptop.


Amanda lantas terganggu dengan hal itu, nampaknya enggan bangkit dari kursinya hanya untuk menghampiri Jessica. "Duhh ... Arya kamu bisa bantu saya gak? Tolong review kerjaannya Jessica," pintanya.


"Siap Bu." Arya lansung beranjak menghampiri meja Jessica. "Mana coba gua liat ...." ucapnya, membuat Jessica lantas memundurkan kursi untuk memberikan ruang.


"Dihh kok jadi Arya sih! Terus kerjaan Bu Amanda apaan dong?!" gumam Jessica dalam hati, menyaksikan Arya mengamati layar komputernya.


"Hmm ... ini udah bener. Tinggal di cek ulang aja, takutnya ada data yang belum di input," anjur Arya, sekejap menegakkan badan usai membungkuk mengamati layar komputer Jessica.


"Okey siap Bos. Terimakasih," balas Jessica, segera merapatkan kursi menuju meja kerjanya.


Arya kembali menduduki kursinya, segera melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. "Padahal kerjaan Jessica udah bagus kok ...." batinnya.


Selama beberapa saat hingga menjelang jam istirahat, seluruh karyawan nampak tenang menyelesaikan tugas mereka masing-masing.

__ADS_1


Amanda sekejap bangkit dari kursi, selepas membereskan seluruh peralatan kerjanya. "Seperti biasa, abis jam istirahat kalian boleh santai-santai. Tapi inget, jangan berisik dan jangan pergunakan komputer perusahaan untuk hal-hal yang gak penting, mengerti?!" ucapnya bernada tinggi.


"Siap Buuu!" balas seluruh karyawan serempak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam istirahat telah tiba, Arya segera bergegas melangkahkan kakinya menuruni lantai dua.


Hingga saat menyaksikan pintu lift terbuka pun Arya tak sengaja mendapati kehadiran Marsha di dalamnya.


"Hai Arya, untung aja kamu belum turun," kata Marsha.


Seraya berjalan memasuki lift, Arya berkata, "Ini baru mau turun. Kamu gak keluar?"


Marsha menggeleng-geleng. "Enggak kok enggak. Aku justru kesini cuma mau datengin kamu aja," jawabnya, tetap berdiam menanti Arya berdiri disampingnya.


Pintu lift kembali menutup, Arya spontan menghela nafas ketika mengetahui mengapa Marsha beralasan seperti itu. "Kamu mau jalan bareng ke kantin?" tanyanya.


"Iyaa ... hehe," jawab Marsha tersenyum-senyum manis.


"Yaudah." Arya tetap memfokuskan pandangan ke depan, menyadari Marsha terus melirik-lirik kagum ke arahnya. "Emang aku ada yang aneh?" tanyanya kembali.


"Emm enggak kok! Kenapa nanyanya kayak gitu?" jawab Marsha, kembali menyodorkan pertanyaan.


Arya lantas menyungging senyum, lalu perlahan menoleh pada wajah Marsha. "Gapapa, aku cuma becanda aja," jawabnya.


Senyuman Arya justru meresap ke dalam hati Marsha, meledakkan rasa kagumnya, mendorong niatnya untuk segera mengungkapkan sesuatu.


"Arya." Marsha tiba-tiba menempel, merangkul pundak Arya dari samping. "Aku suka sama kam—"


Namun pintu lift seketika terbuka lebar. Belum sempat Marsha mengungkapkan perasaan, ia dan Arya lantas terkejut, tak sengaja menjadi pusat perhatian beberapa karyawan yang berniat masuk ke dalam lift.


"M—maaf!" Marsha spontan melepaskan rangkulan, menahan malu atas perbuatan yang dilakukannya itu. "Maaaaf!" ungkapnya sekali lagi, sontak berjalan keluar dari lift dengan tergesa-gesa melewati para karyawan.


"M—maaf Pak." Arya menunduk segan pada salah seorang petinggi perusahaan yang tak sengaja memergokinya, sekejap hal itu membuat ia segera menyingkir dalam lift. "Apess ... bakalan ditegur nih pasti. Lagian Marsha ada-ada aja kelakuannya. Kenapa gak ditahan aja nanti pas pulang kerja?" gumamnya dalam hati.


Sedangkan Marsha semakin menjauh meninggalkan pintu lobby, bergegas menghampiri rekan-rekannya yang telah menanti di warung kantin.


"Tuh dia Acha! Loh, kok gak sama Arya?!" tanya salah seorang rekan kerja, menyaksikan Marsha berjalan super cepat dari biasanya.


"Gak tau tuh," jawab salah seorang rekan lainnya.


"Eh, kalian pada tau gak?! Ternyata Arya itu duda loh!" sambung rekan kerja Marsha yang lain.


"Hah, serius lo?!" tanya salah seorang rekan penasaran.


"Iyaa gue serius!"


Kejadian memalukan itu masih terbayang-bayang dalam pikiran Marsha. Kini ia pun terpaksa pergi meninggalkan Arya, usai menjerumuskannya dalam situasi yang tak terduga di hadapan beberapa pejabat tinggi perusahaan.


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2