
Hawa segar di pagi itu membuat Arya nampak bersemangat. Sejak terbangun dari tidur, kini ia bergegas membersihkan diri di dalam kamar mandi.
Sementara Lucas terlihat mengunyah-ngunyah bubur khusus balita, terduduk diatas kursi bersama Gabriel yang fokus menyuapinya.
"Pelan-pelan Tuan Muda. Hamba tau Anda baru memiliki beberapa gigi kecil, tapi nikmatilah sarapan pagi ini dengan nyaman," ucap Gabriel, membuat Lucas spontan tersenyum riang menoleh padanya.
Di sekitar halaman rumah, sebuah robot android nampak antusias mengelola rerumputan, memasukkan potongan-potongan rumput ke dalam karung goni untuk kemudian dibuang ke tempat sampah.
Sedangkan di dalam garasi rumah yang nampak terbuka, sebuah robot android tengah disibukkan mencuci bersih mobil Arya sampai mengkilap.
Dan yang terakhir, sebuah robot android terlihat memegang alat penyedot debu, membersihkan lorong lantai dua dari ujung ke ujung hingga benar-benar bersih.
Sebelum Arya terbangun, Gabriel terlebih dahulu mengurus Lucas, memandikan, menggantikan pakaian, serta memberikan susu formula untuk bayi tersebut. Sistem humanoid itu nampaknya memiliki ketertarikan tersendiri, berinisiatif tinggi dalam merawat sang bayi.
"Uuuuu!!" ucap Lucas dengan tatapan serius namun tetap menggemaskan, mengacungkan robot mini gandamnya pada wajah Gabriel.
"Ahaha ... baik Tuan Muda, hamba mengaku kalah," balas Gabriel, mengangkat kedua tangan sambil tersenyum-senyum.
Begitu tentramnya suasana dalam rumah tersebut, memberikan ketenangan jiwa bagi setiap penghuninya.
Kecuali, Arya.
Selepas beranjak keluar dari kamar mandi, kini Arya nampak termenung menatap pada cermin, meski hanya berlapiskan sehelai kain handuk saja.
"Gua nyari kerjaan? Ada benarnya juga Gabriel. Sebab, fungsi utama seorang ayah adalah menafkahi keluarganya. Bukankah begitu, Ayah?" batin Arya, sekilas teringat akan sosok mendiang ayahnya.
Arya spontan menoleh pada setelan pakaian formal yang terletak di atas ranjang. Pakaian itu telah dipersiapkan Gabriel, akan digunakan Arya untuk melamar pekerjaan.
"Gabriel tau aja kalo gua suka warna biru." Arya segera mengenakan satu-persatu pakaian tersebut, yang terdiri dari sehelai kemeja biru cerah, celana bahan berwarna hitam, serta sebuah dasi berwarna biru dongker. "Mungkin kalau udah kerja, gua gak bakal nyusahin sistem terus. Atau ini emang cuma misi belaka? Toh logikanya kan gua selalu dapet uang dari misi, kenapa harus cari kerjaan? Ah ... ikutin ajalah," batinnya.
"Tuan. Hamba telah mempersiapkan berkas-berkas Anda di lemari, tersimpan dalam sebuah map berwarna cokelat," terang Gabriel, bertelepati dari lantai satu.
"Oke." Arya kembali menatap cermin. "Harus yah pakai dasi? Mana gua gak ngerti cara pakainya ..." keluhnya dalam hati.
*Gabriel mendengus*
"Tuan diam saja. Biar hamba yang mengenakannya."
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah dasi yang menggantung di leher Arya itu bergerak dengan sendirinya, membentuk sebuah ikatan simpul yang sesuai dengan standar penampilan karyawan perusahaan.
Arya yang menyadarinya pun terkagum-kagum. "Wahh ... hebat juga lu Gabriel. Belajar dari mana?" tanyanya.
"Hamba sudah terbiasa Tuan, sebab hamba selalu mengikuti acara-acara formal yang diadakan sistem pu—"
Ucapaan Gabriel mendadak terhenti, hal itu lantas membuat Arya menjadi heran.
"Bentar. Lu bilang sering ngikutin acara formal dari sistem pusat. Berarti ... kalian semua berpakaian seperti kita, manusia? Pakai pakaian formal kan?" tanya Arya, praktis hal tersebut membuat Gabriel sempat terdiam.
"Lupakan saja Tuan. Hamba hampir saja melanggar aturan, hamba mohon untuk tidak membahasnya lagi," pinta Gabriel.
"Oh, yaudah," balas Arya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebelum berpamitan, Arya menyempatkan diri bercengkrama dengan Lucas. "Kamu jangan kemana-mana yah nak ... disini aja, dan jangan sampai nyusahin Om Gabriel, oke?!" bujuknya, sekaligus mengecup kening sang bayi yang berada dalam gendongan.
Lucas lantas diberikan pada Gabriel, yang tengah berdiri di depan gerbang, menghadap pada mobil Arya yang telah dikeluarkan oleh robot android dari dalam garasi.
"Tuan, semoga lancar. Hamba hanya menyarankan untuk tetap rileks, jangan sampai gugup. Jawablah pertanyaan orang kantor yang sesuai dengan kondisi Anda. Jangan mencari perhatian, bersikaplah seperti orang bijak," nasihat Gabriel, seraya menggendong Lucas.
"Benar Tuan, sesuai instruksi hamba. Perusahaan itu sangat-sangat mencari karyawan yang potensial seperti Anda," jawab Gabriel.
"Oh, oke deh." Arya mengalihkan pandangan ke depan, terlebih dahulu menanti mesin mobilnya memanas.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, Aulia nampak terduduk di balkon rumah, sedari tadi memperhatikan Lucas, juga Gabriel serta Arya yang tak luput dari pandangannya.
"Mamah. Aku pengen cepet-cepet jadi mamah. Bayi itu memang calon anakku, bener-bener anak idamanku," renung Aulia.
Arya pun tak sengaja menoleh ke arah samping, diliriknya Aulia yang nampak termenung, terduduk memeluk kedua lutut di atas balkon rumah.
"Aulia kayaknya lagi gak baik-baik aja. Tapi dia beruntung punya orangtua yang baik." Lirikan Arya menatap serius, namun Aulia tak menyadari hal itu. "Andai aja dia tau ... siapa gua sebenarnya," batin Arya.
"Tuan, segeralah berangkat. Usahakan tiba disana lebih awal sebelum jadwal," tegur Gabriel, juga menyaksikan Arya termenung menoleh ke arah rumah seberang.
Dengan spontan Arya memasukkan gigi persneling, lalu memalingkan wajahnya kepada Gabriel. "Oke, titip Lucas yah," pintanya.
__ADS_1
"Siap Tuan," balas Gabriel.
Sebelum menginjak pedal gas, Arya menarik nafasnya dalam-dalam. "Gua yang dulunya mantan aktor, sekarang bakalan bekerja sebagai karyawan perusahaan. Sedangkan Aulia, sejak kematian gua nasib kehidupannya malah turun drastis ... apa yang mesti gua lakuin sekarang?" batinnya, lalu tancap gas meninggalkan rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aulia terus menerus melirik ke arah Lucas, dimana Gabriel turut menoleh ke arahnya.
"Sepertinya dia ingin bermain bersama Lucas," pikir Gabriel.
Tiba-tiba, Gabriel membalikkan tubuh Lucas, mengangkat ketiak bayi tersebut tinggi-tinggi seakan ingin menunjukkannya pada Aulia.
Lucas spontan menyorot wajah gadis itu, perlahan tersenyum lalu tertawa riang sembari menjulurkan tangan mungilnya ke arah Aulia.
"Maamaaa!" himbau sang bayi.
Aulia pun tersadar dari lamunan. Ia sekejap bangkit dan berdiri, juga turut mengulurkan tangannya ke arah Lucas. "Oohh bayi mungilku ... kamu kangen sama mamah yaah?" ucapnya.
Disaat yang sama, Ibunda dari Aulia pun turut menyaksikan kelakuan putrinya dari teras halaman rumah.
"Auliaaa! Jangan berdiri terus disitu, nanti kamu jatoooh!" omel sang bunda, yang nampak tengah menyirami tanaman.
Aulia spontan mendecih, raut wajahnya mendadak kesal mendengar omelan sang bunda. "Selaalu dan selalu, mamah gak pernah ngertiin aku. Padahal kan aku cuma mau ketemu sama bayi mungil itu." Ia berbalik lalu melenggang begitu saja memasuki ruangan. "Dasar nenek tua! Gimana mau punya cucu kalo anaknya diginiin terus!" gumam Aulia.
Lucas menjadi heran mendapati Aulia perlahan menyingkir dari pandangan, seketika sang bayi lansung menoleh pada wajah Gabriel.
"Tuan Muda, tenanglah. Sepertinya ada penghalang di antara kalian," bujuk Gabriel, mencoba menenangkan Lucas.
Gabriel pun turut berbalik, akhirnya berjalan memasuki gerbang rumah. Sementara Ibunda dari Aulia terus memperhatikan Gabriel dari kejauhan, dari celah-celah pagar yang menampakkan wajah pemuda tersebut.
"Ganteng juga, ih. Siapanya dek Arya yah? Ahhh ... andai saja jiwa dan pikiran Aulia udah normal, aku pasti bakalan bingung mau jodohin dia sama dek Arya atau adek ganteng yang tadi," pikirnya tersenyum-senyum, bak melihat pangeran kerajaan.
Selagi sang bunda terus menerus membayangkan wajah Gabriel, Aulia justru nampak termenung, selagi terduduk di tengah-tengah ranjang dalam kamar tidurnya.
Sesekali gadis itu menggaruk-garuk kepala, juga kedapatan tertawa dengan sendirinya.
"Arya ... hahahaha ... Aryaaa ...." Aulia terus tertawa, diiringi air mata yang perlahan menetes, juga menandakan betapa kacaunya suasana dalam hatinya. "K—kenapaa ... kenapa kamu tega ninggalin aku ...." ucapnya, kini menangis sesenggukan.
__ADS_1
~Tbc