
"Wahh saya gak nyangka sekali dek Gabriel mau main kesini."
Ibunda Aulia menjadi senang dengan kedatangan Gabriel serta Lucas yang bertamu ke rumahnya.
"Jangan dipikirkan Nyonya. Saya hanya ingin menjalin hubungan antar tetangga saja," balas Gabriel dengan logat formal.
Sang bunda terkejut mendengar gaya bahasa komunikasi yang diterapkan Gabriel. "Wow, kamu formal sekali ngomongnya. Saya jadi kebawa masa muda, ehehe," puji sang bunda terkekeh-kekeh.
Suara perbincangan mereka pun terdengar sampai kamar Aulia, hal itu lantas membuatnya spontan beranjak turun dari atas ranjang.
"Bayi unyuuu!" Aulia berlari terbirit-birit menuju anak tangga. Di pertengahan anak tangga pun ia sontak berhenti, tercengang menyaksikan kehadiran Lucas dalam pangkuan Gabriel.
Meski pandangan Gabriel menatap fokus pada sang bunda, ia mampu menyadari keberadaan Aulia. "Tuan Muda. Kau ingin bermain dengannya bukan?" batinnya.
"Aahh dek Gabriel mau minum apa?" tanya sang bunda.
"Apa saja Nyonya, dengan senang hati akan saya terima," balas Gabriel.
Sang bunda sekejap bangkit dari sofa, bergegas melangkahkan kakinya menuju ruang dapur. Aulia yang menyadari hal itu pun kembali beranjak menuju lantai dua, berusaha menyembunyikan keberadaannya dari perhatian sang bunda.
"Nona. Sekaranglah waktunya," batin Gabriel.
Aulia sempat mengintip, menyaksikan sang bunda telah beranjak ke dalam ruang dapur. "Aku harus culik bayi itu sekarang!" pikirnya, lalu bergegas menuruni anak tangga.
Gabriel spontan berdiri mengangkat ketiak Lucas, segera menjulurkan tubuh sang bayi ke arah Aulia. "Ohh tidaaak ... lihatlah betapa senangnya gadis ini melihat Lucas. Bagaikan pertemuan anak dan ibu yang telah terpisah bertahun-tahun," batinnya, melihat Aulia hampir tiba dihadapannya.
Aulia pun lansung meraih ketiak Lucas, menggendong tubuh sang bayi untuk kembali bergegas menuju anak tangga.
"Tuan Muda ... selamat bersenang-senang. Hamba akan menjemput Anda satu jam dari sekarang," ungkap Gabriel dalam hati, menyaksikan Aulia terbirit-birit membawa Lucas menaiki anak tangga.
Aulia spontan memasuki kamar, menutup pintu, lalu terduduk bersandar pada pintu kamar. "Akhirnyaa ... aku ... kangen banget tau ... sama kamu," ungkapnya, diselingi nafas yang tersengal-sengal.
Lucas menatap heran, seketika meraba-raba wajah Aulia dengan tangan mungilnya. "Oooo?" ucap sang bayi, tak jelas mengatakan apa.
"Kamuu." Aulia pun tersenyum, tak dapat lagi menahan gemas yang semakin candu, spontak memeluk tubuh Lucas yang berada dalam pangkuan. "Kamu kok unyu banget siiihh! Disini aja yah sama Tante. Tante kesepian kalau gak ada kamuu," pintanya, lalu dibalas sang bayi dengan tertawa riang.
__ADS_1
Kasih sayang itu murni bentuknya, tak terduga datangnya, dan tulus nampak wujudnya. Aulia begitu bahagia ketika Lucas ada bersamanya, meresapi keharuan karena bisa terus leluasa bercengkrama dengan sang bayi.
Merasa ada yang kurang, Aulia lansung bergegas membawa Lucas naik ke atas ranjang. "Kamu udah makaan?" tanyanya, selepas mendudukkan sang bayi.
Lucas melirik-lirik kanan kiri, berusaha mengenali ruangan yang sangat-sangat berbeda dari kamar Arya itu.
Aulia kemudian berjalan menuju meja yang terletak di samping pintu, meraih sebungkus biskuit yang sepertinya aman dikonsumsi untuk balita.
"Ini Tante ada kue lohh ...." Selepas menduduki sisi ranjang, Aulia lansung membuka bungkus biskuit, mengeluarkan selempeng kue susu bundar tersebut lalu memberikannya pada Lucas. "Niihh buat kamu," ucapnya.
Lucas sempat menatap penuh penasaran, sebelum akhirnya meraih selempeng biskuit itu dari tangan Aulia.
Perhatian Aulia lantas tertuju pada gigi-gigi mungil Lucas. "Ihh kamu giginya masih keciiill ...bisa gak makannya sayang?" tanyanya, khawatir dengan sang bayi.
Lucas terus mendongak menatap wajah Aulia yang nampak cemas, tetapi sang bayi perlahan mengul*m biskuit tersebut, membuktikan kecemasan Aulia tak benar berlaku baginya.
Kebiasaan sang bayi agar dapat mengunyah tekstur biskuit yang keras, adalah melumuri permukaan biskuit itu dengan liurnya.
Lucas terlebih dahulu menjilat-jilat selempeng biskuit yang ia genggam, membuat tekstur biskuit tersebut menjadi lunak agar dapat dicerna olehnya.
"Uuccchhh gemesssin! Enak kan sayang kuenyaa?" tanya Aulia.
Perhatian Lucas tak teralihkan, tetap melirik fokus pada sepotong biskuit yang ia genggam.
Aulia lantas termenung. "Susu! Aku harus kasih dia susu. Tunggu sampai Mamah keluar dari dapur dulu, baru aku kesana deh," batinnya.
Jika diperhatikan baik-baik, perubahan mental Aulia nampak membaik saat bertemu Lucas. Kehadiran sang bayi sepertinya mampu memulihkan tingkat kesadaran gadis itu, kembali berpikiran rasional seperti manusia normal pada umumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak disangka-sangka, Gabriel justru luput dengan janjinya untuk mengambil Lucas, kerena terlalu sibuk berbincang-bincang dengan Ibunda Aulia.
Percakapan mereka dimulai dari sang bunda yang berkeluh kesah tentang nasib putrinya, pasca ditinggal mati oleh mantan kekasih sang putri, Arya Pamungkas.
"Saya sampai lupa nama cowok itu. Aulia pun sampai sekarang bener-bener belum bisa terima kematiannya. Kadang anak saya itu suka ketawa-ketawa sendiri, terus tiba-tiba nangis, teriak-teriakan gak jelas, yang paling parah dulu dia sering banget benturin kepalanya ke tembok," keluh sang bunda, pandangan murung yang melirik ke arah bawah.
__ADS_1
Gabriel mendengus. "Jangan bersedih Nyonya. Saya yakin putri Anda akan segera membaik, kembali menjalani hidup layaknya gadis normal seusianya. Alangkah baiknya untuk tidak terlalu ketat dalam mengawasi pergerakan Nona Aulia. Sebab, saya sudah menemukan obat paling ampuh untuk putri Anda," anjur Gabriel, bak psikolog ternama.
Sang bunda lansung membalas tatapan Gabriel. "S—s—serius dek Gabriel? Kamu tau obat yang paling ampuh untuk nyembuhin anak saya?!" tanyanya dengan terbelalak.
"Tentu Nyonya. Jika Nyonya ingin tahu apa obatnya, berjanjilah untuk terus mempercayai perkataan saya. Sebab apabila Nona Aulia semakin candu dengan obat tersebut, maka itu jadi lebih baik untuk kesembuhannya," terang Gabriel meyakinkan.
Sang bunda lantas melirik cemas ke arah bawah, dengan bola mata yang terus bergeser-geser kiri kanan, menjadi khawatir dengan anjuran Gabriel.
"Tapi, kalau emang kamu tau apa obatnya, apa kamu bisa menjamin kalau obat itu gak berbahaya? Bagaimana dosisnya? Apa udah sesuai anjuran dokter? Soalnya ... Aulia udah sering saya bawa terapi sana sini, tapi tetep gak ada perubahan. Udah banyak obat-obat yang dianjurkan setiap dokter, tapi gak ada satupun obat yang ampuh untuk Aulia."
Sang bunda semakin terhanyut dalam kebimbangan, mencari-cari kepastian dari Gabriel agar dapat menenangkan hati dan pikirannya.
"Hmm ... sepertinya Nyonya ini telah salah memahami maksudku." Gabriel sekejap merenung, seketika perhatiannya tertuju pada Aulia yang berjalan mengendap-endap menuruni anak tangga. "Ahh! Nyonya tak perlu khawatir. Sebenarnya Nona Aulia hampir sembuh. Lihatlah, sekarang dia mencoba berjalan mengendap-endap mengelabui kita. Bukankah hal itu menandakan bila ia sedang menggunakan akalnya untuk berfikir?" jelas Gabriel, seraya menunjuk ke arah Aulia.
Mendapati Gabriel menunjuk ke arahnya, Aulia pun mati langkah. Sang bunda spontan menyoroti wajah Aulia, sedari tadi tak menyadari bila gadis itu benar-benar berusaha menghindari perhatiannya.
"Aulia. Kamu mau kemana?" tanya sang bunda.
Tubuh Aulia sekejap gemetaran." Akuuu ... akuuu ...." Mulutnya terasa berat menjawab pertanyaan sang bunda.
"Jawab saja dengan jujur Nona Aulia. Bilang kalau kau ingin membuatkan susu untuk Lucas," batin Gabriel, sepertinya mencoba mempengaruhi pikiran Aulia.
Tiba-tiba Aulia berjalan begitu saja menuju ruang dapur, tak menghiraukan pertanyaan sang bunda yang terus menanti jawaban darinya.
Gabriel mendengus dalam. "Nyonya, sepertinya Nona Aulia ingin membuat sesuatu untuk keponakanku," ucapnya.
"Ha?" Sang bunda lansung menoleh pada Gabriel, sekilas pandangannya melirik pada paha pria tersebut. "Loh, Lucas kemanaa?" tanyanya curiga.
"Keponakanku sudah diambil Nona Aulia, Nyonya. Lucas kini berada dalam kamarnya," jawab Gabriel.
Jawaban itu lansung membuat sang bunda sontak bangkit. "Kaan! Udah saya bilangin jangan suka gangguin anaknya dek Arya maaasiih aja bandel!" gumammya, berjalan terburu-buru menuju ruang dapur.
Gabriel turut berdiri. "Gawat! Sepertinya aku harus meluncurkan rencana B!" pikirnya, lalu berjalan menyusul kepergian sang bunda.
Rencana Gabriel untuk melonggarkan pengawasan sang bunda terhadap Aulia nampaknya gagal. Beruntung ia telah menyiapkan rencana cadangan, untuk membuktikan bahwa Lucas adalah satu-satunya penyembuh bagi kemalangan mental gadis itu.
__ADS_1
~Tbc