Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 49. Rumit


__ADS_3

Menjelang pertengahan siang, Arya menghela nafas usai menyelesaikan pekerjaan sesuai target yang ditentukan perusahaan. "Kelar jugaa ...." batinnya, seraya menggeliat.


Dengan penuh penasaran Arya mengintip dari sekat meja, seketika menyaksikan Jessica terlihat kesulitan dalam bekerja. "Jess, masih banyak?" tanyanya.


"M—masiihh!!" jawab Jesicca bernada keras penuh semangat, juga spontan mempercepat gerakan mengetik.


Arya mendengus. "Yaudaah, tinggalin aja dulu, kan bisa dilanjutin lagi nanti," anjurnya.


Baru saja perkataan Arya terucap, suara bel pertanda jam istirahat pun berdentang, sepertinya sudah menjadi standar kebiasaan unik perusahaan tersebut, membuat seluruh karyawan baru menjadi teringat-ingat masa sekolah mereka dulu.


"Arrgghh!!" Jessica mengerang kesal merasa terganggu dengan suara itu, namun ia tetap melanjutkan pekerjaannya dalam menginput data nasabah.


Arya hanya menggeleng-geleng melihat gadis itu, sekejap berdiri lalu berjalan menuju pintu ruangan. "Padahal ini waktu yang tepat buat dia minta nomor gua ... ah, biarin ajalah," batinnya.


"Siaal! Padahal kan gue pengen keliatan rajin di mata dia! Seenggaknya kasih pujian kek!" gumam Jessica, melirik kesal ke arah Arya.


***


Setibanya di kantin luar gedung, Arya mendapati begitu banyaknya para karyawan yang mengunjungi tempat itu.


"Aryaaa!" himbau Marsha, nampak terduduk bersama rekan-rekan kerja. "Aryaaa sinii!" himbaunya kembali, melambai bernada tinggi.


Pandangan Arya lansung terpusat ke arah gadis tersebut. "Ahh tuh dia cewek tadi pagi yang baik hati. Tapi, rame bener disanaa ...." pikirnya, perlahan berjalan menghampiri Marsha.


Marsha menyaksikan Arya berjalan menghampirinya, spontan hal itu menjadi perbincangan antara sesama rekan kerja.


"Siapa Cha? Cowok lu?" tanya salah seorang rekan Marsha.


"B—bukan! Cuma temen kok, ehehe ...." jawab Marsha tersenyum-senyum.


Arya perlahan menduduki bangku kayu panjang di sebelah Marsha. "Aku ikut gabung gapapa nih?" tanyanya, juga menyadari bahwa ia selalu menjadi sorotan ketiga rekan kerja Marsha.


"Gapapa kok! Siapa yang ngelarang?!" balas Marsha tegas.


"Eh, kenalin doong! Lo kalo dapet rezeki tuh bagi-bagi!" sambung salah seorang rekan Marsha.


Marsha menjadi kesal, dan berkata, "Apaan sih?! Kenalan ya tinggal kenalan."


Dalam hitungan sekejap, tiga jabatan tangan spontan terulur ke arah Arya, dari ketiga gadis yang tengah terduduk di seberangnya itu.


"Kenalin, aku Fitri"


"Aku Nadia!"


"Amel!"


Arya hanya tersenyum-senyum, menyaksikan betapa tingginya keinginan dari tiga gadis tersebut untuk memulai perkenalan dengannya.


"Saya Arya Pratama. Du—"


Marsha spontan menyumpal mulut Arya. "Ehehe ... namanya Arya, masih single kok," potongnya meyakinkan.


"Lah, kok lo yang jawab sih!" protes salah satu rekan kerja Marsha.


"Ho'oh! Terus itu ngapain coba tiba-tiba nutupin mulut orang sembarangan!" keluh salah seorang rekan kerja lainnya.


Tak lama kemudian terjadilah keributan antara Marsha dan rekan-rekan kerjanya, dimana mereka nampak terduduk menghadap meja panjang milik seorang ibu-ibu penjual bakso kantin. Hal itu jelas membuat sang penjual merasa terganggu karena ulah mereka.


"Udah udaah! Kalian ini gak malu apa, udah pada gede kok berantemnya kayak anak kecil," tegur sang penjual, reflek membuat Marsha dkk sejenak terdiam.


Tiba-tiba, Arya spontan berdiri. "Bu, saya pesen lima yah. Punya saya jangan pakai bawang goreng sama daun bawang," pintanya.

__ADS_1


"Ohh iya dek! Segera saya buatin, tunggu yah!" respon Sang penjual, mendadak tersenyum mendengar permintaan itu.


.


"Loh, kamu beli buat siapa? Kok banyak banget?" tanya Marsha.


Arya sekejap mendengus, perlahan terduduk dan berkata, "Buat kalian, biar gak pada berantem lagi."


Marsha lantas tercengang menoleh pada rekan di seberang, dimana rekan yang lain pun saling menoleh penuh heran dibuat Arya.


Salah seorang rekan Marsha spontan menoleh ke arah sang penjual. "Buu! Saya pedes yaah!" pinta salah seorang rekan kerja Marsha.


Rekan kerja lainnya pun turut berkata, "Saya juga Bu! Sambelnya banyakin!"


"Buu! Jangan pakai bihun!" pinta rekan kerja yang lain.


"Iyaa iyaaa!" balas sang penjual.


Hanya Marsha yang tetap termenung, masih terjebak dalam rasa ketidakpercayaan. "Baik banget Ya Tuhaann ...." batinnya.


"Kamu gak request?" tanya Arya.


Marsha spontan berkedip. "Buu! Saya samain yah sama mas ganteng baik hati iniii!" pintanya, sengaja memuji kebaikan Arya.


"Iyaaa," balas sang penjual.


"Kamu gak usah repot-repot. Kita bisa bayar sendiri kok," tegur Marsha, dibarengi seluruh rekan kerja yang nampak mengangguk-angguk.


Arya lansung tersenyum, dan berkata, "Ahh udah gapapaa. Anggep aja sebagai hadiah dari perkenalan kita semua."


Itu hanya taktik belaka, digunakan Arya demi mengakhiri keributan antar Masha dan kawan-kawan, juga menjaga ketentraman suasana di lingkungan sekitar kantin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di dalam rumah, kedua orang tua Sarah pun menyaksikan gadis itu berjalan tergesa-gesa menuju anak tangga.


"Loh, kok tumben kamu pulangnya cepet?" tanya seorang pria paruh baya, diduga sebagai ayah kandung Sarah.


Seorang wanita paruh baya pun turut berkata, "Loh, Bapak baru tau? Anak kita itu emang sering pulang jam segini. Mentang-mentang udah jadi bos di tempat kerjaannya."


Tak berselang lama, Sarah kembali turun dari anak tangga. Kini penampilannya telah berubah, nampak jauh lebih feminim dari penampilan sebelumnya.


Secara perlahan Sarah berjalan, seketika duduk bersimpuh di hadapan kedua orangtuanya.


"Akuuu ...."


Awalnya Sarah mengungkapkan pandangan tentang perjodohan yang tengah dialaminya itu, lalu dengan penuh kelembutan hati ia menolak perjodohan tersebut, menyisipkan perkataan yang disarankan oleh sang bawahan.


Mendengar penolakan Sarah, sang ayah pun naik pitam. "Tidak bisa! Mau taruh dimana muka Bapakmu ini, kalau mereka sampai tau kamu seenaknya aja ngomong kayak gitu," omelnya.


"Pak sabar paak ...." Sang bunda berusaha menenangkan pria paruh baya itu. "Ini tuh negara demokrasi, siapapun berhak menyuarakan pendapatnya. Selama ini yang kita tau Sarah keliatan diam aja, kayak seolah-olah dia terima dengan perjodohan kita. Mungkin anak ini lagi berusaha menghargai keputusan kita Pak," tambahnya meyakinkan.


Sang ayah spontan mendengus, masih terngiang-ngiang dalam pikiran tentang perkataan yang diutarakan Sarah padanya.


"Keluarga Baskoro itu udah baik sama saya, sementara Baskoro itu teman baik saya dari kecil. Emangnya kamu gak berpikir dengan ucapanmu tadi, persahabatan bapakmu ini bisa hancur karena kamu," ungkap sang ayah.


Sarah tetap bersikap tenang, nampak menunduk sopan, duduk bersimpuh meletakkan kedua telapak tangan di atas paha.


"Pak. Saya tau om Baskoro itu temen baiknya bapak, tapi saya sama Mas Rangga tuh gak pernah saling suka sejak pertemuan pertama kita. Dan, aku tetep menganggap Mas Rangga sebagai temen aku juga Pak, karena aku menghargai persahabatan Bapak sama Om Baskoro,"


Sang ayah spontan berdiri. "Wahh bahaya iki ...." Pria paruh baya itu lantas berjalan mondar-mandir di hadapan Sarah. "Kamu dirawat dari kecil penuh kasih sayang, saya selalu penuhi segala permintaan kamu. Tapi ... kamu malah seenaknya ngomong begitu ke saya. Pokoknya gak bisa, perjodohan kamu sama Rangga tetap harus dilakukan sampai kalian benar-benar menikah," tegasnya.

__ADS_1


Begitu rumit, perdebatan yang terjadi antara Sarah dan sang ayah, saling mengutarakan pendapat mereka dalam menanggapi perjodohan itu.


Sang ayah tetap bersikeras menjodohkan Sarah dengan putra dari sahabat baiknya, sebab hal itu sangat-sangat berpengaruh bagi harkat martabat keluarga mereka.


Sementara Sarah, kini kedua tangannya nampak bergetar, tak menyangka bila usahanya dalam sang ayah telah gagal. "Gimana ini ... kalau Bapak tetep kekeuh, belum tentu aku bisa hidup bahagia sama orang itu ...." pikirnya dalam kebuntuan.


Sang bunda hanya terdiam memegang keningnya, sedari tadi merasa heran menyaksikan perubahan sikap Sarah yang sedikit mengejutkannya.


Tak ingin keputusannya diganggu gugat, sang ayah spontan berjalan menuju anak tangga. "Pokoknya saya gak mau tau, kamu harus penuhi harapan keluarga ini. Kalau memang kamu masih menghargai siapa saya, jangan coba-coba ngomong kayak gitu lagi," tegasnya.


"Pak." Sarah perlahan bangkit, dibayang-bayangi rasa khawatir atas sikap sang ayah. "Pak tunggu Pak."


"Udah biarkan saja Sarah, nanti juga Bapak kamu itu tenang dengan sendirinya," sambung sang bunda.


Sarah menoleh pada sang bunda. "Tapi Bu ...." Perlahan menetes air matanya, juga seketika berjalan menghampiri wanita paruh baya itu. "Ibuuu, aku gak mau kaya gini terus. Aku jadi kepikiran tau Bu, kerjaan jadi aku keganggu," ungkapnya, terduduk memeluk manja tubuh sang bunda.


Seraya mengelus-elus rambut Sarah, sang bunda pun berkata, "Sudah sudah, cup cup cup. Ibu ngerti perasaan kamu, karena Ibu juga pernah ngalamin."


"Ibu dijodohin sama Bapak?" tanya Sarah penasaran, meski wajahnya nampak sembab.


"Enggak. Justru Bapak kamu yang nyelametin Ibu dari perjodohan, beliau itu dulu pahlawan Ibu," jawab sang bunda.


"Loh, kok bisa Bu?" Sarah menjadi penasaran dengan hal yang belum pernah ia ketahui itu.


"Ibu belum cerita toh? Oalaah ...."


Demi meneduhkan suasana, sang bunda pun perlahan bercerita tentang kejadian-kejadian di masa lalu, dimana wanita paruh baya itu turut mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami Sarah sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan, ini aku."


Gabriel bertelepati, selagi Arya terduduk menghadap layar komputer setelah kembali memasuki ruang kerja.


"Iya, kenapa Gabriel? Lucas gimana kabarnya? Udah makan belum dia?" tanya Arya dalam hati.


"Sudah Tuan. Lucas baik-baik saja dalam pengawasan hamba," jawab Gabriel.


Arya mendengus, seketika mengintip Jessica dari balik sekat meja. "Baguslah kalau gitu. Ada misi gak?" tanyanya, mendapati Jessica berusaha menahan rasa kantuk.


"Tuan ... misi level S kali ini sangatlah penting. Berdasarkan informasi dari sistem pusat, salah satu gadis dari kenalan Anda ada yang berniat untuk bunuh diri," terang Gabriel dalam hati.


Arya spontan berdiri. "Ha?! Siapa?!" tanyanya penuh heboh, justru memancing perhatian seluruh rekan kerja.


"Ha?! Siapa siapa?!" Jessica lantas terkejut atas tindakan Arya, berulang-ulang menoleh kanan kiri tanpa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. "Mana orangnya?! Kenapa tuh orang?!" tanya Jessica.


"Ehm. Arya, ada apa?" tegur Amanda.


"G—gapapa Bu." Dengan menahan rasa malu Arya kembali menduduki kursi. "Lu jangan bikin kaget gua ngapa! Siapa yang mau bunuh diri?!" tanyanya, menahan rasa gondok.


"M—maaf Tuan, hamba tidak bermaksud seperti itu. Begini Tuan, orang yang dimaksudkan adalah salah satu dari kenalan Anda, yang sekarang sedang menjalani perjodohan dari kedua orang tuanya," balas Gabriel menjelaskan.


Mendengar pengakuan itu pun Arya lansung terbelalak. "Sa—Sarah, atau Angelaa?! Dua-duanya sama-sama udah dijodohin kata sistem gua," tanyanya penuh curiga.


"Sarah, Tuan ... tapi, Anda tenang saja, tak perlu panik. Sebelum melewati jam dua belas malam ini, Anda harus menemui gadis itu. Hamba akan memberikan petunjuk kemana Sarah akan pergi malam ini. Temui dia, berbicaralah dengannya dari hati ke hati, sebab sistem pusat telah meramalkan bahwa esok hari adalah hari kematian gadis itu, apabila tak ada seorangpun yang mampu menenangkan kegelisahan hatinya saat ini," terang Gabriel.


Arya mendadak tercengang, bahkan jari-jarinya pun nampak enggan menyentuh tombol-tombol keyboard komputer.


Apa yang diterangkan Gabriel bak petir menyambar di siang hari, Arya sangat terkejut mendengar berita tentang penerawangan buruk yang akan terjadi dalam kehidupan Sarah, menggarisbawahi bila hidup gadis itu benar-benar akan berakhir.


~Tbc

__ADS_1


__ADS_2