Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 44. Mungkin


__ADS_3

"Aulia! Kamu mau ngapain?!" tanya sang bunda, terlanjur murka.


"Nyonya, sebaiknya tenang dulu. Nona Aulia tidak akan berbuat macam-macam," bujuk Gabriel.


Aulia semakin ketar-ketir dibuatnya, namun tetap membuka sebuah kotak susu khusus balita baru, yang ia bawa dari dalam kamar.


Perhatian sang bunda pun tertuju pada kotak susu tersebut. "Kamu dapet susu itu darimana?! Perasaan di rumah ini gak ada bayi!" ucapnya bernada tinggi.


Gabriel turut menyaksikan Aulia di belakang tubuh sang bunda, terus berusaha mengalihkan perhatian wanita paruh baya itu. "Nyonya. Alangkah baiknya Anda membiarkan putri Anda melakukan hal yang disukainya. Sebab hal itu telah mem—"


"Auliaaa! Kamu dengerin mamah gaaak?!!"


Perkataan Gabriel spontan terhenti saat sang bunda memaki penuh emosi, membuat Aulia lantas terkejut hingga menumpahkan seluruh bubuk susu yang dimasukannya ke dalam gelas.


Dengan keringat dingin yang mengucur deras, kedua tangan pun nampak bergetar-getar hebat, Aulia tetap mencoba memindahkan segelas bubuk susu yang ia genggam ke arah mesin dispenser.


"Susunya ... kebanyakan ...." batin Aulia, menekan tombol dispenser berwarna merah.


Meski menyadari takaran bubuk susunya berlebih, Aulia tetap berpegang pada keinginannya untuk menyajikan susu itu kepada Lucas.


Sang bunda pun naik pitam. "Auliaaa!! Kamu denger gaak?!!" bentaknya sekuat tenaga.


Bentakan itu terdengar sungguh menyakitkan, terngiang-ngiang merasuk ke dalam hati Aulia, membuatnya perlahan menoleh patah-patah ke arah sang bunda.


Aulia yang tengah memegang sendok, tak kuasa menahan air mata atas perlakuan itu. "M—m-mamaah ...." ucapnya sesenggukan.


"Nyonya ... jangan pernah menghardik Nona Aulia, itu sangat-sangat menyakiti perasaannya." Gabriel bahkan menjadi saksi betapa kasarnya perlakuan sang bunda terhadap Aulia.


Berderai air mata, Aulia kembali meluruskan pandangan, mencoba mengaduk-aduk segelas susu yang telah panas. Ia merasa trauma dengan bentakan itu, sekejap pedih dirasa hati membuatnya terpaksa menggigit bibir bawah.


"Aku cuma mau bikin susu buat Lucas Maah .... apa salahnya siih?" keluh Aulia, tanpa sedikitpun menoleh pada sang bunda.


Apa yang dikatakan dengan sungguh-sungguh itu membuat sang bunda terkejut, membungkam mulutnya dengan sebelah telapak tangan.


Sang bunda pun terbelalak, perlahan batinnya merasa bersalah karena telah menyakiti perasaan sang putri. "Auliaa ...." himbaunya, berjalan menjulurkan tangan menghampiri gadis itu.


Namun hati Aulia terlanjur sakit, dengan sengaja ia menghindar dari jangkauan sang bunda, lalu bergegas keluar dari ruang dapur.


Gabriel memberikan jalan, menyaksikan betapa tergesa-gesanya Aulia melangkah menuju anak tangga, seraya menggenggam segelas susu hangat yang terus berceceran ke atas lantai.


"Auliaaa!" Sang bunda segera bergegas mengejar Aulia, turut berjalan tergesa-gesa melewati Gabriel. "Auliaa! Mamah minta maaf!" ungkapnya.


Aulia tak menghiraukan himbauan sang bunda. Gadis itu tergesa-gesa menapaki anak tangga, begitu cepat sampai-sampai ia terpeleset, tepat saat tiba di lantai dua.


(Gubrak*)


Sang bunda yang telah menyusul pun lantas menjerit, menyaksikan Aulia jatuh pingsan bersimbah cairan susu hangat.


"Auliaaa!!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Oh yaudah. Ini gua lagi jalan pulang," ucap Arya, melalui panggilan ponsel.


Gabriel berkata, "Baik Tuan. Hati-hati di jalan," pintanya, lalu mendapati suara panggilan ponsel terputus.


"Auliaaa ... Mamaaah minta maaf naaak ..." ungkap sang bunda, menangis tersedu-sedu menyaksikan Aulia terbaring lemah di atas ranjang.


Selagi menggendong Lucas, Gabriel hanya memantau dari pintu kamar. "Sepertinya, kondisi psikologis Nona Aulia akan pulih, karena sempat terpeleset dan terjungkal kebelakang, sampai membuat kepalanya membentur lantai dengan sangat keras. Tuan Arya harus segera pasang badan," pikirnya seraya mendengus.


Apa yang dipikirkan Gabriel benar adanya. Aulia jatuh terpeleset akibat menginjak cairan susu yang berceceran, kepalanya pun membentur lantai hingga sekejap hilang kesadaran.


Beruntung Gabriel sempat memberikan pertolongan, membopong tubuh gadis itu ke atas ranjang, juga mengompres kepalanya dengan es batu yang dibaluti kain handuk.


Lucas pun nampak sedih, sedari tadi terus memperhatikan Aulia yang tak sadarkan diri, terbaring lemah di atas ranjang.


"Tuan Muda, tenanglah. Nona Aulia baik-baik saja. Kita akan pulang setelah Tuan Besar tiba," batin Gabriel, mengelus-elus punggung sang bayi.


"Auliaaa baaangun naak ... jangan bikin Mamah khawatir ...." Sang bunda semakin menangis sejadi-jadinya, merasa bersalah atas musibah yang dialami sang putri.


Gabriel ikut tersentuh dalam suasana itu, perlahan ia berjalan menghampiri sang bunda. "Nyonya ... jangan khawatir. Nona Aulia baik-baik saja, dan mungkin sebentar lagi akan segera sadar," ucapnya


Sang bunda lantas menoleh pada Gabriel, sekejap kegelisahan memudar saat mendengar perkataan pria tersebut. "B—beneraan dek Gabriel?? Apa perlu dibawa ke rumah sakit aja? Saya bener-bener takut deekk," ungkap wanita paruh baya itu.


Gabriel mendengus. "Tidak perlu Nyonya. Saya menjamin Nona Aulia baik-baik saja," balasnya.


Meski sebenarnya merasa ragu dengan pengakuan Gabriel, sang bunda tetap berharap putrinya dapat kembali sadar seperti semula. Ditatapnya wajah Aulia yang nampak pucat, membuatnya bertanya-tanya mengapa ia sampai tega membentak putri kesayangannya itu.


Dengan kemampuan sistem humanoid-nya, Gabriel mengakui bahwa ia telah menangani Aulia secara diam-diam, agar tak membuat masalah yang berkepanjangan. Kini Gabriel perlahan menyingkir, lalu kembali berdiri di dekat pintu kamar.


Sementara Arya telah melajukan mobilnya masuk kedalam gerbang komplek, begitu penasaran dengan apa yang terjadi di rumah keluarga Aulia.


"Aulia jatuh pingsan karena kepeleset. Gabriel juga gak bilang-bilang dulu kalau dia mau main ke rumah Aulia. Udah pasti ibu Aulia bakal marah kalau tau Aulia deket-deket lagi sama Lucas. Ada-ada si Gabriel," batinnya.


Tak berselang lama, Arya menepikan mobilnya di depan gerbang rumah, lalu bergegas keluar dari mobil menuju rumah Aulia.


Gabriel yang menanti di lantai dua pun menyadari hal itu. "Tuan Arya sudah datang. Saatnya aku berpamitan pada Nyonya ini, sebelum Nona Aulia benar-benar sadar," pikirnya.


Belum sempat Gabriel berjalan mendekat, sang bunda seketika bangkit dari sisi ranjang menghampirinya.


"Dek Gabriel, maaf kalau saya terlalu lancang. Dek Gabriel boleh pulang, biar saya sendiri yang mengurus Aulia. Ini udah jadi tanggung jawab saya sebagai orangtuanya," kata sang bunda.


"Oh, baiklah." Gabriel lantas berbalik, berjalan keluar melewati pintu kamar, lalu disusul oleh sang bunda.


Selepas menutup pintu kamar, sang bunda berkata, "Saya mau kabarin suami saya dulu. Bisa gak dia pulang malam ini, atau besok pagi. Karena, cuma papahnya Aulia aja yang bisa ngambil keputusan."


Gabriel memahami maksud perkataan sang bunda. "Oh, baiklah Nyonya. Semoga Nona Aulia lekas sembuh. Saya meminta maaf karena terlalu mencampuri urusan keluarga Nyonya," ungkapnya.


"Gapapa kok dek. Saya yang justru minta maaf, karena tadi sempat bersikap gak sopan di depan dek Gabriel," balas sang bunda, menuntun Gabriel berjalan menuju anak tangga.

__ADS_1


Setibanya di ruang tamu, sang bunda mendengar suara bel. "Loh, siapa yah?" tanyanya, lalu mengintip dari balik jendela.


"Saudara saya Nyonya," sambung Gabriel.


"Ohh ... dek Arya toh." Sang bunda bergegas membuka pintu rumah, mendapati Arya telah menanti di depan gerbang. "Tumben dia rapih banget, abis dari mana?" tanyanya.


Gabriel turut berjalan di belakang sang bunda, menyaksikan Lucas tiba-tiba tertidur dalam gendongannya.


"Sore Tantee. Maaf nih ganggu," ucap Arya, mendapati sang bunda bergegas membuka pintu gerbang.


"Ahh gapapa kok dek. Kamu sendiri tumben rapih banget hari ini. Abis dari mana?" tanya sang bunda.


"Sayaa ... abis melamar pekerjaan Tante," jawab Arya tersenyum.


Gabriel segera berjalan melewati pintu gerbang, lekas berdiri dan bergabung di belakang Arya.


"Owalaah ... terus gimana? Diterima gak?" tanya kembali sang bunda penasaran.


"Diterima Tante. Rezeki emang gak kemana-mana, kalau kita terus berusaha semampu kita," jawab kembali Arya percaya diri.


"Syukurlaahh ...." ungkap sang bunda melemparkan senyuman.


Arya lansung teringat akan Aulia. "Tante, tadi Gabriel bilang Aulia jatuh kepeleset. Apa bener Tante?" tanyanya.


Sang bunda lantas menggeleng-geleng. "G—gapapa kok Dek Arya, gak usah dipikirin. Aulia emang suka lari-larian sampai kepeleset," jawabnya meyakinkan.


"Ohh ... saya kira Aulia kenapa-kenapa Tante. Apa perlu saya anter ke rumah sakit sekarang?" Arya merasa khawatir, mengajukan diri memberi bantuan pada sang bunda.


"Ahh gak usah kok dek, gak usaahh ...." tolak sang bunda melambai-lambaikan kedua tangan, serta menggeleng-geleng menolak tawaran Arya.


"Tuan, sebaiknya dipercepat. Sebab Nona Aulia sebentar lagi akan sadar," pinta Gabriel dalam hati.


"Emangnya kenapa sih?! Kenapa kalau Aulia sadar?!" tanya Arya kesal.


"Tidak apa-apa Tuan. Hanya saja, ingatan Nona Aulia akan kembali pulih seperti semula, ia akan menyadari bahwa Anda adalah Arya Pamungkas," jelas Gabriel meyakinkan.


Arya lansung terbelalak, selagi saling membalas senyuman dengan sang bunda. "S—serius lu?!" tanyanya kembali, dalam hati.


"Ya, Tuan. Hamba hanya mengingatkan saja," jawab Gabriel.


Arya sekilas mencerna baik-baik maksud perkataan Gabriel, juga berencana untuk segera menyingkir dari rumah Aulia. "Yaudah Tante. Kalau begitu, saya pamit dulu yah," ucapnya.


Sang bunda pun mengangguk, dan berkata, "Iya dek Arya. Makasih yah udah mau mikirin kondisi Aulia, saya bener-bener seneng sama kebaikan kamu."


"Iyaa Tante, sama-sama."


Arya, beserta Gabriel dan Lucas, akhirnya berbalik meninggalkan rumah Aulia, berjalan bersama-sama untuk pulang menuju rumah mereka yang terletak di seberang.


"Kalau Aulia sampai tau siapa gua sebenarnya, dia pasti shock ... atau mungkin, kita bisa menjalin hubungan kayak dulu lagi ... mungkin ...." batin Arya.

__ADS_1


~Tbc


__ADS_2