
Selepas kembali dari tempat Arya, Angela kini nampak menunduk cemas, selagi terduduk dihadapan meja sang atasan.
"Jadi, jelaskan kenapa kamu bisa gagal," pinta sang atasan, setelah sebelumnya mendapati Angela datang tanpa membawa hasil yang memuaskan.
"S—semua ... gara-gara bocah kecil itu, bos," papar Angela, lalu termenung membayangkan sesuatu.
(Brak*)
Meja kerja pun sontak di gebrak sang atasan, merasa tak terima dengan pengakuan Angela. "Alasan! Gak masuk akal! Bocah kecil?! Siapa bocah kecil yang kamu maksud itu?!" tanya sang atasan penuh geram.
Angela pun menggigil dibuatnya. "B—bayinya ... mas Arya bos," jawabnya penuh panik.
Mata sang atasan yang sempat terbelalak, spontan berkedip lalu bertanya penuh heran. "Bayi? Target kita udah punya bayi?"
"I—iya bos."
Dalam sekejap pria paruh baya itu membuang muka, saling menggenggam kedua tangan dengan siku bertumpu meja.
Angela mengerling-ngerling cemas, tak tahu lagi apa yang harus dipikirkannya dalam kondisi itu.
Setelah menyambungkan segala hal dari pengakuan Angela, sang atasan pun spontan mendengus. "Yaudah, gini aja." Ia lekas bangkit dari kursinya, lalu berjalan membelakangi Angela. "Kalau emang menurut kamu anak itu jadi penghalang rencana kita ... culik dia!" perintah sang atasan.
Mendengar perintah itu, Angela spontan menoleh kebelakang. "T—tapi bos! Itu kan melanggar hukum!" tolaknya penuh cemas.
Bukannya sependapat dengan Angela, sang atasan justru tertawa terbahak-bahak. "Bodoh! Kita hanya menculik anaknya saja, biar Arya mau ikut kerjasama dengan kita," sindir sang atasan.
Angela sempat tercengang dengan perkataan sang atasan, akan tetapi ia mencoba untuk memberikan pendapatnya sekali lagi. "Tapi bos ... belum tentu target kita itu memenuhi harapan. Dia sempat mengaku gak bisa akting sama sekali. Untuk apa kita menculik anaknya?" sanggah Angela.
"Angelaaa Angelaaa ...." Sang atasan kembali berjalan menuju kursinya. "Kemampuan itu bisa diasah. Mana ada orang yang mengaku kalau dia punya bakat. Siapa yang tahu?" tambah sang atasan, lalu menduduki kursinya.
Angela tetap menghadap kebelakang, mencerna dalam-dalam apa yang dikatakan sang atasan. "Bener juga sih apa kata bos. Kalau kita gak menemukan emas di toko perhiasan, kita bisa menggalinya sendiri," batinnya.
"Angela, lihat kemana kamu," tegur sang atasan.
"M—maaf bos." Angela segera meluruskan pandangan ke arah sang atasan. "Bos. Apa gak ada cara lain? Aku masih bisa membujuk Mas Arya sekali lagi," pintanya.
"Tidak ada. Manajemen yang lain udah pada bergerak bikin film. Sedangkan kita? Belum ada pergerakan sama sekali." Sang atasan sempat menyeruput secangkir kopi yang ia genggam. "Ahh .... lihat kopi hitam ini. Udah berapa gelas saya minum kopi ini, kamu seharusnya udah tahu berapa banyak inspirasi dalam otak saya," ucap sang atasan.
Angela mengetuk-ngetukan jari pada meja sang atasan, memikirkan suatu hal yang mengganjal dalam pikiran. "Berarti, apa aku harus nyari orang untuk nyulik anak Mas Arya?" tanyanya.
"Gak perlu." Sang atasan spontan menunjuk pada Angela. "Kamu sendiri yang harus beraksi," jawab pria paruh baya itu dengan serius.
"Haa?!" Angela pun sontak terbelalak mendengar jawaban sang atasan. "S-s-saya bos?!"
__ADS_1
"Ya, kamu. Siapa lagi yang bisa ngelakuin hal itu kecuali kamu, Angela. Cepat pikirin bagaimana caranya kamu bisa menculik anaknya Arya. Jangan sampai kita kehilangan target untuk selamanya!" perintah sang atasan.
Angela yang melotot, lantas menelan ludah. Gadis tersebut tak menyangka dengan perkataan sang atasan, yang memerintahkannya untuk lansung terjun melaksanakan rencana jahat itu.
"T—tapi bos. Saya takut ketahuan atau ketang—"
(Brak*)
"Gak ada tapi-tapian! Kalau emang kamu gak bisa, saya bakal cari talent lain. Dan kamu siap-siap untuk saya rumahkan," ancam sang atasan.
Angela spontan mendengus, sepertinya mau tidak mau harus menerima perintah yang berat itu. "Baik bos." Angela berdiri dari kursi. "Saya siap ngejalanin perintah bos. Saya permisi dulu," ucapnya, lalu melenggang begitu saja meninggalkan ruangan sang atasan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam pun terasa suntuk bagi seluruh penghuni apartemen, tapi tidak dengan Arya dan Lucas.
"Pwapwaaa!" sorak Lucas dengan riang, menyaksikan sosok Arya dalam sebuah video sosmed.
"Horee ... Lucas hebat, bisa nebak wajah papah." Arya pun turut gembira, selagi tertidur sambil memegang ponsel, menghadapkan ponsel tersebut ke arah wajah Lucas yang tertidur di atas tubuhnya. "Lucas aja bisa nerka wajah gua dari video film ini. Gimana dengan orang lain yang ngeliat lansung?" tanyanya dalam hati.
...[Kalau Lucas, itu hal yang wajar. Dia sudah sangat mengenali wajahmu sebagai sosok ayahnya. Berbeda dengan orang lain, lansung menduga kalau kau adalah Arya Pamungkas]...
Mendengar jawaban sistem panjang lebar, Arya spontan mendengus. "Setelah ketemu Angela, jadi keinget gimana sosok gua dulu yang dikejar-kejar jadwal syuting. Riwayat panggilan gua aja isinya kalo gak kontak bibi Aleanna, pasti Angela. Dan kalau udah ketemu Angela, pasti susah buat nutup kuping karena kebawelannya," batin Arya.
"Ahh enggak enggak! Situ tau dari mana?" tanya Arya dengan dahi yang mengernyit.
...[Jangan bohong. Aku bisa membaca isi hatimu]...
Arya pun spontan mematikan layar ponsel, "Udah dibilangin gua gak minat lagi untuk kesitu," balas Arya.
*Sistem mendengus*
"Pwapwaaa ...." Lucas menjadi kebingungan, mendapati layar ponsel Arya menghitam.
...[Host, jangan matikan ponselmu. Itu mengganggu kesenangan Lucas]...
"Oh iyaa ...." Arya kembali menyalakan layar ponsel, memutar sebuah film yang pernah ia bintangi semasa menjadi aktor dulu. "Maaf yah Lucas, papah gak sengaja," ungkapnya.
...[Host, waktu sudah menunjukkan pukul setengah setengah sembilan. Lekas buatkan susu untuk Lucas, agar ia segera tertidur]...
"Iyaa." Arya perlahan bangkit seraya mengangkat tubuh Lucas, lalu terduduk meletakkan tubuh sang bayi tepat disampingnya. "Bentar yah Lucas, papah bikin susu dulu," ucapnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Meski hati merasa berat, tetapi Angela tetap melakukan perintah sang atasan.
Kini gadis tersebut tengah fokus mengendarai mobil, terlihat mengenakan setelan pakaian lateks yang sangat ketat, juga nampak sebuah topeng Balaclava yang terletak di dashboard mobil, sepertinya akan ia gunakan untuk beraksi.
"Maafkan aku mas Arya. Tapi aku benar-benar percaya kalau kamu itu Arya Pamungkas. Sebab hatiku gak pernah bohong," batin Angela, memacu laju mobilnya ke arah apartemen Arya.
Sesaat kemudian, Angela berhasil tiba di area parkiran lantai basemen apartemen. Dengan cepat ia mengisi ruang kosong, memarkirkan mobilnya, lalu mematikan mesin mobil.
Seketika rasa gelisah datang menghantui perasaan Angela. "Tapi, kalau sampai ketahuan, bukan cuma pekerjaanku aja yang hilang. Mas Arya juga pasti akan membenciku," batinnya menggigit bibir bawah.
Tiba-tiba ponsel berdering, Angela lansung meraih ponsel tersebut dari atas dashboard mobil. "Halo ... iyaa bos, aku baru sampai di parkiran."
Selagi berbicara melalui ponsel, pandangan mata Angela menatap kosong. Ia benar-benar berada dalam kondisi yang sulit, diharuskan mengambil sebuah pilihan yang sangat-sangat berat itu.
"Baik bos."
Percakapan pun berakhir. Angela segera menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskannya secara perlahan. "Walau pada akhirnya aku ketahuan, aku bakal minta maaf. Mungkin ini adalah pilihan yang berat, tapi tugas adalah tugas," batinnya, lalu bergegas turun dari mobil.
Suasana sekitar basemen parkiran tower Camelia nampak sepi, memudahkan Angela leluasa bergerak menuju pintu lift.
Tak lupa sebuah topeng Balaclava yang terus tergenggam dibalik punggung, membuat Angela sudah tak sabar ingin segera mengenakannya.
Setibanya di lantai 22, Angela lansung keluar dari pintu lift. Ia spontan bersembunyi dibalik tembok, mengintip suasana di sekitar lorong yang terhubung dengan kamar 102.
"Berhasil atau gagal, ini udah jadi pilihanku." Dengan santai Angela mengenakan topeng Balaclava, sebelum seseorang memergoki aksinya. "Andai saja kemarin aku bersikap baik sama anaknya Mas Arya, tentu gak akan jadi begini akhirnya," batin Angela.
Setelah memastikan dua kali, mendapati suasana lorong masih sepi, Angela lansung bergegas menghampiri kamar Arya.
Sementara di dalam kamar nomor 102, Lucas nampak tertidur pulas selepas Arya menimangnya.
"Giliran gua yang tidur." Arya lansung beranjak ke atas ranjang, menyusul untuk segera beristirahat. "Selamat malam dah sistem," ucapnya.
...[Sela—]...
"Sela? Maksudnya?" tanya Arya, sempat mendengar sistem menghentikan perkataan.
...[Host. Jangan tidur dulu]...
Mendengar perintah sistem, Arya sontak bangkit dan terduduk disamping Lucas. "Ada apa?" tanyanya kembali, dengan rasa curiga.
...[Sepertinya, ada yang sedang berniat jahat padamu]...
Arya lansung terbelalak.
__ADS_1
~Tbc