Single Daddy System

Single Daddy System
Bab 13. Bersenang-Senang Bersama Bayiku


__ADS_3

Tercium aroma wewangian khas pria, juga aroma khas minyak telon sang bayi yang terhirup nikmat.


Pagi ini, Arya terlihat rapih dalam berpakaian, mengenakan setelan kasual yang kerap ia gunakan semasa hidupnya dulu.


Lucas pun serupa. Meski mengenakan setelan pakaian bayi lengkap dengan aksesorisnya, warna dari setelan pakaian itu seragam dengan pakaian Arya.


"Kamu udah siap Lucas?" tanya Arya, berdiri dibalik pintu sambil menggendong Lucas.


Arya menggunakan sebuah alat gendongan berbahan lembut dan tebal, serta nyaman untuk sang bayi. Lucas nampak riang meski punggungnya menempel tepat di dada Arya, terduduk menghadap ke depan dengan tubuh yang terbelenggu kain gendongan.


...[Host. Aku sengaja memberikan dua tiket. Bayi seusia Lucas pasti takkan diwajibkan untuk membeli tiket. Maka carilah seseorang yang bersedia menemanimu jalan-jalan]...


"Hmm ... siapa yah?" Arya sejenak termenung, selagi tangannya memegang gagang pintu. "Coba tanya ke Alexa, siapa tau dia butuh refreshing," ucapnya, lalu membuka pintu kamar.


Hanya lima langkah Arya berjalan, ia sudah tiba tepat di depan pintu kamar Alexa.


(*tok tok tok*)


Berharap Alexa segera keluar, Arya terus menerus mengetukkan pintunya. "Belum bangun apa belum pulang dari semalem?" tanya Arya.


Dalam sekali dengusan Arya lansung berpikiran, bahwa kamar itu sedang tidak berpenghuni.


...[Kau mencari orang yang tidak ada. Dia sudah tiga hari tak nampak mengunjungi kamarnya]...


"Alexa? Situ kok bisa tau?" tanya Arya.


*Sistem mendengus*


...[Aku memiliki kemampuan monitoring, semacam CCTV tak berwujud. Siapapun yang berlalu-lalang di depan kamarmu, berada dalam jangkauan pandanganku]...


"Ooohh ...." Arya memahami dalam-dalam maksud dari pengakuan sistem. "Yaudah deh. Maaf yah Lucas, Tante Alexa gak bisa nemenin kita lagi," ungkapnya pada sang bayi, lalu berjalan menuju pintu lift.


Selepas tiba di lantai satu, Arya lansung berjalan menuju lobby apartemen.


Pemandangan seorang pria tampan berkharisma yang berjalan bersama seorang bayi itu, spontan menjadi pusat perhatian seluruh orang yang mengunjungi lobby.


"Duhh ganteng banget ... anaknya juga lucu." Salah seorang gadis pengunjung lobby menyanjung dengan berbisik, menolehkan wajah kagumnya ke arah Arya.


"Iyaa ... istrinya pasti orang sibuk kayak kita. Mau deh punya suami kayak dia," sambung salah seorang gadis pengunjung lobby lainnya, berdiri di depan meja resepsionis seraya menengok ke arah Arya.


Bisikan demi bisikan pun terus terucap dari seluruh kaum hawa yang menyaksikan Arya berjalan melewati mereka.


"Belom apa-apa, udah jadi bahan omongan aja," batin Arya, terus berjalan mempercepat langkah kakinya menuju pintu lobby, menghindari segala perbincangan yang berpusat padanya.


Sesaat kemudian, Arya kedapatan menumpangi sebuah mobil yang ia sewa melalui aplikasi transportasi online. Selama dalam perjalanan, ia terus menyaksikan betapa riangnya Lucas memainkan sebuah mini robot Gandam, meski tubuh mungil bayi tersebut berada dalam belenggu kain gendongan.


"Umur berapa anaknya Mas?" tanya sang supir taxol, sesekali melirik Arya dari cermin dashboard mobil.


"Setengah tahun berjalan Pak," jawab Arya tersenyum.


"Lohh ... baru setengah tahun udah ngerti mainan robot? Saya kira umurnya dua tahun," balas sang supir.


Arya terkekeh-kekeh. "Engga Pak. Mungkin pertumbuhannya terlalu cepat untuk bayi seusianya," jelas Arya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadi tujuh puluh lima ribu aja mas."


Sang supir akhirnya berhasil membawa Arya tiba di sekitaran lingkungan area wahana bermain, yang sangat terkenal bagi seluruh kalangan itu.


"Ini Pak." Arya menyodorkan selembar uang berwarna merah muda pada sang supir. "Kembaliannya untuk bapak aja," pintanya.

__ADS_1


"Wahh ... terimakasih banyak Mas. Semoga Mas dan dede bayinya sehat selalu, dimudahkan rejekinya dan selalu berada dalam lindungan Tuhan," harap sang supir tersenyum-senyum.


"Aaminn ... terimakasih ya pak," balas Arya sambil beranjak turun dari mobil, lalu menutup pintu mobil.


(*bep*)


...[Host. Misi utama kali ini adalah bersenang-senang dengan bayimu. Jangan sampai membuat Lucas merasa bersedih dalam hal apapun]...


"Iyaa."


Arya lansung menoleh kearah gerbang pintu masuk wahana terbesar se-provinsi DKI Jakarta tersebut. Dilihatnya berbagai macam wahana-wahana yang sangat besar, bahkan ada wahana berbentuk rel kereta yang menjulang tinggi hingga mencapai langit.


"Waahh ... rame banget kayaknya," ucap Arya, mendapati begitu banyaknya pengunjung memadati setiap area wahana.


...[Host. Aku mendeteksi ada bahaya yang sedang mengintaimu juga bayimu]...


Tanpa pikir panjang, Arya lansung berjalan menuju ruang loket pintu masuk. "Ha? Siapa? Yang mana orangnya?" tanya Arya, spontan melirik tajam ke setiap orang yang berlalu lalang.


...[Bukan di depanmu, tapi di belakang. Jangan panik, aku akan terus mengawasi pergerakan mereka]...


Arya mendengus. "Oke deh," balasnya.


"Maaf mas, boleh tunjukkin tiketnya?" pinta sang gadis penjaga loket, menyaksikan Arya sedari tadi termenung saat berdiri di depan konter loket.


"Oh iya. Maaf kak." Arya segera melepaskan tas punggungnya, meraih sesuatu dalam tas tersebut. "Anak saya masih umur enam bulan kak," ucapnya, seraya menyerahkan dua tiket.


"Berarti tidak dihitung yah mas, kecuali bayinya sudah berumur dua tahun keatas," jelas sang gadis penjaga loket, lalu kembali menyerahkan selembar tiket pada Arya.


"Ooh gitu yah." Arya sekejap mengangguk-angguk, sebenarnya ia sudah memahami peraturan itu.


...[Padahal sudah kukatakan padamu sebelumnya]...


"Cuma basa-basi aja," balas Arya dalam hatinya.


"Iyah kak, saya paham," balas Arya.


"Okey mas. Silahkan masuk dan selamat bersenang-senang!" sambut sang gadis penjaga loket dengan tersenyum ceria.


"Terimakasih kasih kak." Arya pun turut tersenyum mengangguk, begitu juga dengan Lucas yang nampak ceria menatap wajah sang gadis penjaga loket.


Tanpa pikir panjang, Arya lansung bergegas menuju bangunan yang diarahkan, dan sesaat kemudian ia pun akhirnya terdaftar sebagai member tahunan wahana luas dan megah tersebut.


"Wahh ... biaya membernya murah juga. Gratis masuk kapan aja sampai setahun pula," ungkap Arya, menatap pada keterangan tertulis dalam kartu membernya.


...[Maka dari itu, simpan kartunya baik-baik]...


"Iyaaa." Arya lansung berjalan menuju area wahana bermain. "Lucas udah gak sabar yah? Yuk kita naik komidi putar," ucapnya, menyaksikan sang bayi tersenyum riang penuh antusias.


Nampak dari kejauhan, dua orang pria sedang bersembunyi seraya mengintai pergerakan Arya.


...[Host, sepertinya mereka memang berniat membuntutimu]...


"Siapa sih?!" Arya menjadi kesal dan sontak menoleh ke arah belakang, akan tetapi tak mendapati orang-orang yang terlihat mencurigakan baginya. "Mana orangnya?! Biar gua kasih pelajaran!" gertak Arya.


...[Sudah host, jalan saja. Biar aku yang mengawasi pergerakan mereka]...


Mendengar perkataan sistem, Arya spontan mendengus. "Yaudah. Kalo udah deket kasih tau gua," balasnya, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju wahana bermain.


Sebuah wahana komidi putar pun menjadi tujuan pertama Arya, nampak sang bayi merasa terpukau dengan wahana yang sedang berputar-putar itu.


Lucas pun sontak menunjuk, menggoyang-goyangkan seluruh tubuhnya yang berkeinginan mencoba wahana tersebut.

__ADS_1


"Iya iyaa, papa paham kok. Kamu mau naik itu kan? Yuk, let's go!" Arya menuruti keinginan sang bayi, berjalan melangkahkan kaki mendekati komidi putar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kali ini, raut kegembiraan terpancar jelas dari dua wajah ayah dan anak, yang sedang menaiki wahana komidi putar. Arya terlihat bersenang-senang bersama Lucas, selagi mereka dibawa berputar-putar oleh mesin penggerak wahana tersebut secara perlahan.


"Jadi gini yah rasanya naik komidi putar. Seru juga," batin Arya.


...[Ya. Karena kau belum pernah menaikinya sama sekali. Jika terlalu sering, kau akan merasa bosan]...


Arya semakin tersenyum. "Tapi kalo naiknya sama Lucas, kayaknya gua gak bakal pernah bosen," balasnya dalam hati.


...[Tentu saja. Inilah yang disebut momen keluarga. Kemanapun kau pergi, apabila bersamamu bayimu tentu akan terasa menyenangkan. Begitu juga dengan bayimu, momen ini akan selalu ia kenang selama-lamanya]...


Tanpa disadari Arya, meski sedang tersenyum, ia sempat meneteskan air mata.


Ikatan keluarga yang terjadi diantara mereka, benar-benar terikat erat. Arya mulai terbiasa hidup bersama seorang bayi kecil nan mungil, bahkan hal apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan bayi tersebut.


Lucas tertawa riang, merasa senang saat menaiki wahana komidi putar bersama sang ayah. Momen itu akan menjadi kenangan terindah untuknya, yang akan menceritakan bagaimana pengalamannya menghabiskan waktu bersama Arya, dewasa nanti.


Setelah puas menaiki wahana komidi putar, Arya lansung bergega membawa Lucas menuju wahana lainnya. "Enaknya naik apa lagi yah?" tanyanya.


...[Apa saja, asal jangan kereta yang terlihat ekstrim itu. Jangan membuat bayimu merasa takut karenanya]...


Arya spontan menoleh ke arah wahana rollercoaster. "Iya juga sih. Kalo gua sendiri mah bisa aja. Mungkin lain kali bisa naik wahana itu kalo Lucas udah besar," balasnya.


"Pwapwa!" Lucas sontak menunjuk ke arah wahana kora-kora, wahana yang berbentuk sebuah kapal besar yang bergerak melayang secara horizontal, dengan kecepatan pergerakan yang cukup memacu adrenalin.


"Kamu mau naik itu Lucas?" tanya Arya.


...[Jangan! Itu juga bahaya untuk mentalnya!]...


Arya sekejap memahami larangan sistem. "Tapi gak sekarang yah Lucas. Nanti kalau kamu udah besar, kita kesini lagi terus naik itu yah," bujuknya.


Lucas hanya termenung, tetapi ia tak sedikitpun menampakkan raut wajah murung, sepertinya memahami maksud dari bujukan Arya.


Tak perlu berlama-lama, Arya lansung berjalan seraya melihat satu persatu wahana besar, yang sangat-sangat tak direkomendasikan untuk bayi seusia Lucas.


"Yahh ... semuanya terlalu bahaya untuk Lucas. Dari tadi jalan-jalan mulu tapi gak ada yang bisa dinaikin," keluh Arya.


...[Tidak apa-apa. Masih banyak wahana lain yang cukup aman untuk Lucas]...


"Iya juga sih."


Perhatian Arya seketika terpusat ke arah plang sebuah wahana. "Zig zag? Wahana apa tuh? Kayaknya seru," batinnya.


...[Ya. Itu adalah wahana sejenis mobil mini yang bisa kau kendarai secara bebas di dalamnya. Itu termasuk aman untuk Lucas]...


Tanpa pikir panjang, Arya lansung berjalan menghampiri wahana tersebut. "Oke, let's go!" serunya.


...[Host! Berhati-hatilah! Mereka sudah berada di dekatmu!]...


"Sial!"


Langkah kaki Arya seketika terhenti, jauh sebelum ia tiba di depan teras wahana. Kesenangan dalam hatinya sekejap pudar saat mendengar laporan sistem, tentang keberadaan dua orang pria yang terus menerus mengintainya.


...[Aku punya strategi. Sebaiknya kau pancing mereka di tempat sepi. Biar aku yang akan memberikan hukuman pada mereka]...


"Siap." Arya spontan berputar haluan, berjalan menuju setapak jalan taman yang terletak disamping wahana Zig-zag.


"Siapa aja yang udah berani mengganggu kebahagiaan gua dan Lucas, bakal gua kasih pelajaran seberat-beratnya," batin Arya, dengan kedua tangan yang terkepal erat.

__ADS_1


~Tbc


__ADS_2