SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
Bunny


__ADS_3

“Gimana ini, OM?” Kiran ketakutan, “Ini yang saya bayangkan kalau lihat tontonan di tv ada orang naik lift, 36 jam nggak kebuka, terus liftnya putus, huaaaa...”


Plak


“Diam kucing kau berisik!” Sentil Luke hidung mancung Kiran, “Tombol daruratnya mati.” Panik Luke kemudian atas ucapan Kiran membuat dia menjadi sedikit takut, “Sial, jaringan pun hilang.”


“Apa? Jadi kita terjebak?”


“Siapapun diluar tolong!” Luke terus berusaha menekan tombol.


“OM?”


“Tenanglah little cat! Entahlah mungkin sedang ada perbaikan.”


Kiran menggelengkan kepalanya, “Enggak! Om, aku nggak mau mati, Om! SIAPAPUN TOLONG LAH!!!”


“MATI, SIAPA YANG MAU MATI, TENANGLAH!”


Luke terus sibuk menekani tombol hingga berusaha membuka manual namun tidak ada hasil, “Siapapun tolong!” Arahkan Luke dirinya pada camera cctv.


Kiran bergidik ngeri sungguh ini membuatnya kapok untuk naik elevator lagi, “Bu...Kiran takut, hiksss...aku nggak mau mati...” Kiran bergeser pelan melirik Luke yang tampak panik.


Lelaki itu kemudian melihat pada Kiran, “Tidak akan mati selama masih ada oksigen dan kau tidak terjepit, jadi jangan takut!”


Kiran menggelengkan kepalanya, “Aku nggak mau naik ke kamarmu lagi, setelah ini aku bisa ikut ibu dan Ine dikontrakan baru.”


“Terserah tinggalah dimanapun asal kau aman tapi jangan katakan tidak lagi menggunakan lift, semua tempat menggunakan ini untuk mempersingkat waktu, ini hanya terjadi sesekali dan kau harus tau semua hal punya kekurangan atau kelebihan.”


“Hemm aku tahu...”


“Duduklah, mungkin sebentar lagi akan terbuka dan tim maintenance akan segera memperbaiki.”


Kiran menurut ia pun merapikan dressnya kemudian duduk melantai, sementara Luke masih terus berdiri mencari pertolongan, didalam sana begitu panas dan sedikit pengap, tidak ada celah mengintip atau lubang apapun.


Kiran yang tadinya takut mencoba tenang, rasanya tidak perlu ada hal yang ia risaukan lihatlah lelaki itu selalu mengupayakan yang terbaik.


“Kau pernah mengalami ini Om?”


“Pernah dulu, sudah aku katakan ini hanya sebuah hal biasa.”

__ADS_1


“Hemmm, duduklah jika kau yakin kita akan baik-baik saja.”


Luke berbalik badan menyalakan lampu dari ponselnya, “Santai sekali kau duduk, kita sedang terjebak bukan sedang bertapa atau menunggu antrean.”


“Lalu aku harusa apa? Tadi saat aku panik katamu tenang.”


“Hemm tapi kau terlalu tenang.” Segera Luke duduk didekat Kiran melantai disana, “Apa rencanamu setelah ini? Arga rekanku semalam menawarkan pekerjaan ikutlah dengannya.”


“Pekerjaa apa? A-aku tidak punya kemampuan apapun dan hanya lulusan SMA.”


“Jika dia menawari artinya dia akan menjaminmu, dia orang baik aku kenal dia, Arga pernah magang disalah satu kota di Madrid.”


“Kau dari Madrid Om? Aku sering dengar itu di tv ada nama club sepak bola, kau lahir disana? Orang tuamu asli sana? Bagaimana empat musim disana? Kau pernah kemana saja disana om? Aaaa aku ingin dengar ceritamu.”


Luke tertawa seketika, “Tidak sekalian kau bertanya bagaimana ibuku melahirkan, usia berapa pertama kali aku merangkak, kehilangan tali pusarku? Atau pintar ke toilet sendiri?”


Hahah, “Aku serius, jika kau mau menceritakannya aku siap mendengarnya Om.”


“Kau tahu siapa namaku?”


“Katamu itu tidak penting ‘kan?”


“Kau tidak ingin tahu?”


“Bunny?”


“Hemm...cocok buatmu bukan? ayo cerita lagi, siapa nama aslimu Om?”


Luke mengulurkan lengannya, memperlihatkan sebuah tulisan indah sangat kecil ada disana, Kiran pun segera membacanya.


“Lux- Luxurious? Ha? Nama itu namamu, kenapa kau menulis namu sendiri dibagian tubuhmu? Apa misimu? Apa ini antisipasi jika kau amnesia atau demensia?”


“Kau pintar sekali bicara little cat, tidak ada misi apapun, aku hanya suka saja.”


“Hemm, kau mentatto kekasihmu juga ditubuhmu?”


Luke menggeleng, “Tidak ada hanya ada namaku saja.”


Kiran tertawa lagi, “Uncle Luke... My Bunny, berapa usiamu, Om? Benarkah seusia ibuku?”

__ADS_1


“Mungkin....”


“Mungkin?” Tatap Kiran pada Luke, “Apakah gadis bernama Dayana itu seusiamu?”


Luke menarik nafasnya berat lalu tersenyum, “Tidak, dia dibawahku beberapa tahun.”


Sebuah senyuman terbit dari bibir Kiran, “Semoga segera bertemu dia, belikan aku tiket ke Madrid Om jika kalian menikah nanti, eh tidak kau cukup mengundangku saja, aku akan bekerja dan mengumpulkan uang untuk hadir diacaramu, My super bunny, aku akan belajar berbahasa inggris atau bahasa lainnya agar mudah nanti kemanapun.”


“Ide bagus...” Acak Luke rambut Kiran tertawa.


Kiran menelan ludahnya kadang ia merasa senang namun juga terkadang sedih berdekatan dengan lelaki ini, dia tidak mampu mengontrol itu semuanya mengalir begitu saja.


Sesaat hening Luke memainkan ponselnya lalu sekilas melirik pada Kiran yang diam menatap kosong pada lantai.


"Apa yang kau fikirkan? Apa lagi yang menggangumu?"


Kira pun menoleh, "Tidak ada, kapan kau akan memperkenalkan aku dengan temanmu itu Om? Benarkah dia mau memperkerjakanku? Ah tidak aku harus lihat Ibu dan Ine dulu, tentang pekerjaan aku fikirkan nanti."


"Hemm... lakukan yang terpenting dulu, aku juga akan sibuk hari ini, maaf tidak bisa menemanimu...."


"Maaf? Hahahah, kenapa minta maaf, kau sudah banyak membantu, tugasmu sudah selesai aku juga tidak mau terus-terusan menjadi bebanmu, hemmm.... bolehkan aku memelukmu om? Aaaarrrhh....aku nggak tahu bagaimana membalasmu, kau seperti ibuku dikampung sangat peka dan menyayngiku tapi saat ini aku nggak mau ganggu ibu, biar ibu bahagia dengan suami barunya."


Luke pun merentangkan tangannya kemudian, "Selagi aku masih ada didunia, kau bebas menangis atau memelukku...anggaplah aku mungkin seperti ibumu..." Luke mengendikkan bahunya kemudian.


Kiran pun tertawa segera merangkak dan memeluk Luke seketika membuat dia terlonjak kebelakang, "Bolehkah aku mengatakan im happy, aku senang sekali kau muncul di hidupku Bunny..." Kiran memeluk Leher Luke menangis juga tertawa disana, "Aku seperti mendapatkan penjaga, seorang teman, juga manusia menyebalkan terkadang...."


 


.


.


.


.


.


Lagi?

__ADS_1


Commen, vote, like hadiah😝


 


__ADS_2