
Tawaan masih belum menyurut diruangan keluarga Rodriguez House itu, Luke tidak henti-hentinya menjadi bulan-bulanan disana bahkan setelah mereka akan berpamitan pulang.
Sungguh Kiran menjadi takut berucap dan berbicara sebab mereka seperti tidak percaya Luke sudah menikah, Luke bisa bersikap manis dan menikahi seseorang
"Kau buru-buru sekali, ayah belum bertemu denganmu, tunggulah dia keluar." Kata Morean
"Kiran butuh istirahat... " Luke berkilah, padahal istrinya sedang ada disisi lain bersama Summer, ibu Luke juga Sarla.
"Kau lihat dia sedang asik mengobrol disana." Timpali Juless, "Kami belum mendengar banyak ceritamu, bagaimana cara kau melamar dia? Kau memaksa dia? Mengancamnya?"
Luke tertawa, "Kalian lihat aku segila itu?"
"Bukan hanya lihat, seperti itulah Luxurious yang semua orang kenal, si licik yang penuh ancaman, berapa tahun perbedaan usia kalian pasti sangat jauh bukan?"
"Seperti kau dengan Sarla kurang lebih, panggilah istri-istri kalian jangan racuni Kiran, dia cepat sekali terbawa perasaan."
"Summy dan Sarla tidak akan mengotori fikirannya, tenanglah mungkin dia butuh orang lain beradaptasi, Summer dan Sarla bisa membantunya." Ujar Morean, "Kau ingin hadiah apa dariku?"
"Oh ya jangan lupa buka hadiah dariku, mungkin kau butuh itu... " Timpali Julless.
"Aku tidak yakin itu sebuah benda yang berguna," Tuding Luke melirik malas pada kotak hadiah Juless.
Haha, "Kau merendahkan hadiahku? Kali ini aku serius."
Tiba-tiba Morean melirik pada ponselnya, "Aku membeli beberapa furniture baru untuk kamar baru Mirabelle, apakah dirumahmu ada penjaga? Aku melihat sesuatu barang yang cocok untuk kalian, akan langsung aku kirimkan kesana."
"Barang apa? Furniture dirumah ku sudah cukup, aku kurang yakin jika melihat ekspresimu, sesuatu hal kotor ada dikepalamu."
"Kau selalu berfikir burul, terima saja, hadiah pernikahan untuk kalian, aku yakin yang ini kalian tidak punya."
"Hemm baiklah terimakasih," Luke melihat pada jam di tangannya, Rodriguez Sanden belum juga keluar, "Apakah ayahmu sakit?"
"Ya pagi tadi dia mengeluhkan sakit punggung, tunggulah sebentar, dia mengatakan ingin bertemu denganmu."
"Hey Luke!" Baru saja di bicarakan Rodriguez Sanden keluar dari kamarnya, ia tertatih-tatih dipegangi oleh perawatnya.
"Hey kau sehat?" Luke menyambut lelaki tua itu, lalu membantunya duduk.
"Aku bisa, terimakasih...mana istrimu?"
"Disana bersama ibuku dan yang lain, Kiraaan!" Panggil Luke kemudian.
__ADS_1
"Sudah-sudah, biarkan dia disana punggungku sakit sekali aku tidak bisa berlama-lama duduk, aku hanya ingin mengucapkan selamat untukmu, dan memberikan ini." Lelaki tua itu memberikan sebuah map dokumen, "Ini untukmu hadiah dariku, ucapan terimakasihku kau sudah menemani aku, More, Juless dan menangani semuanya dengan baik selama ini.
"Apa ini? Aku sudah mendapatkan banyak darimu, jangan berikan apapun lagi untukku."
"Bukan apa-apa, hanya sebuah lahan kosong. dikawasan Seville, kau bisa membangun sesuatu disana atau menjadikannya sebuah investasi, Juless juga mendapatkannya."
"Aku rasa aku tidak butuh ini, pembagian aset yang kau bagi sudah lebih cukup untukku."
"Ambillah, selagi aku hidup dan masih bisa membagi-baginya, semua anak mendapatkan yang sama, aku tidak pernah membedakanmu, nanti saat aku mati semuanya akan menjadi milik perusahaan dan beberapa panti dan yayasan yang ada dibawah foundation Rodriguez Sanden."
Luke tidak tahu lagi harus berkata apa, Rodriguez Sanden benar-benar memegang janjinya memperlakukan Luke seperti putranya sendiri, seperti perkataannya saat dulu ia mengangkat Luke kerumahnya dikematian ayah Luke juga anak laki-lakinya yaitu kakak Morean.
Kiran kemudian datang, lelaki tua itu meminta Kiran mendekat lalu memeluknya, "Berbahagialah, dia tangan kanan keluarga ini, kau pasti aman dah hidup bahagia bersama dia."
"Terimkasih kakek...." ucap Sarla kemudian.
...***...
Beberapa jam disana Luke dan Kiran segera berpamitan untuk pulang, sang ibu menghantarkan hingga sampai keluar, ia begitu gembiranya sudah punya menantu.
"LUKE!" Teriak seorang wanita yang baru turun dari mobil, melewati beberapa penjaga rumah.
Wanita itu seketika memeluk Luke sekilas lalu mencium pipi dan kanan Luke. "Apa kabarmu?"
Sontak saja Kiran terkesiap seorang wanita cantik, memakai pakaian sangat modis dan elegan berani memeluk dan mencium suaminya.
Luke langsung bisa tebak Kiran akan berfikir yang bukan-bukan, "Kabarku baik Alecia, kau ingin bertemu More? Oh iya kenalkan ini istriku Kiran. Kiran ini Alecia asisten Morean dia dan aku sering bekerja sama menangani urusan kantor."
Alecia terkesiap melihat Kiran dari atas hingga bawah ia tampak asing dan aneh melihat Kiran namun ia mengulurkan tangannya.
"Alecia... "
"Kiran..."
"Baiklah bibi Dora, Luke aku masuk dulu... "Alecia merapikan stelan coatnya segera masuk kedalam.
Luke dan Kiran pun segera berpamitan dengam ibu Luke, saat mobil sudah berhenti dan siap menghantarkan mereka.
Didalam mobil Kiran diam enggan berucap apapun, Luke pun merangkul pundak Istrinya, "Kau mungkin akan aneh, disini semua orang biasa seperti itu memeluk dan mencium, ku rasa di mana pun cara beramah-tamah seperti itu biasa."
"Biasa? Ya aku tahu aku aneh, tapi hanya pipi ke pipi, wanita tadi mencium... bibirnya mengecup pipimu."
__ADS_1
"Oh ya? Aku tidak merasakannya."
Kiran mendengkus kesal, "Terserah kau mengangngap ku kampungan, coba bayangkan Arga atau teman-temanmu yang lain mengecup ku seperti itu kau tidak risih? Kau membolehkan?"
"Kenapa harus mencium tidak cukup hanya bersalaman?"
"Nah, kau lihat...kau saya merasa tidak nyaman bukan?" Kiran mengalihkan wajahnya kesal.
Luke mengulas senyum saat dia sedang membara dia harus menjadi pesejuk, Luke dengan santainya mendekat pada pundak Kiran lalu mengecupnya.
"Maaf-- sebisa mungkin aku akan menghindari hal-hal seperti itu."
"Aku tahu itu mungkin kebiasaan dinegaramu tapi tidak seperti tadi lihat jika dia memakai lipstik yang luntur aku yakin itu sudah membekas dipipimu."
Kecupan Luke dari pundak naik ke leher, menghirup dalam-dalam aroma cologn di leher istrinya itu, "Aku minta maaf--" Satu tangan Luke mengusap pada paha Kiran, membuat Kiran gelisah namun menahanya karena marah.
Tangan Luke berpindah memeluk perut Kiran terus menempelkan wajahnya diceruknya itu, sungguh Kiran mencoba acuh terus mengalihkan wajahnya.
"Apa kado yang Juless berikan?" Kiran menglihkan kemarahannya, masih dalam pelukan erat Luke.
"Hem....Entahlah, kau bisa melihatnya, aku rasa sebuah benda tidak berguna aku tahu seperti apa otak mereka."
Kiran merogoh kedalam tasnya benda yang berbentuk kotak hadiah yang Luke letakkan disana, sebuah kotak berwarna silver berukuran kecil.
"Perhiasan mungkin, aku buka ya... "
Seketika Kiran terperangah, dan Luke mengumpati makian, "What thè fùck!" Segera ia lempar kotak itu ke bawah.
"Kenapa dibuang, apa ini? cetakkan agar-agar?"
Luke menahan tawa sembari memijat pelipisnya, sementara Kiran memunguti benda itu, "Kenapa kau membuangnya? Durian merah? Alien? Jelaskan bunny? Ini apa? aku tidak pernah lihat ini, ini mirip mainan Ine tapi bulat dan berlampu-lampu."
.
.
.
(Hadiah Juless)
__ADS_1