SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
Super Possessive


__ADS_3

Kiran mendadak diam atas perlakuan Luke tersebut, ia menggerutu dalam hati tanpa ingin menegur sikap Luke tersebut ia takut mendapatkan jawaban yang sudah ia perhitungkan akan menyakiti hati, Kiran memilih menyantap makanannya saja.


Beberapa saat hening, tiba-tiba Kiran yang memilih tetap diam menoleh pada ponselnya yang berdering diatas meja tepat didepan Luke duduk.


Luke ikut melirik pada benda pipih itu sama halnya dengan Kiran, sebuah nama Arga muncul disana dan Luke membaca separuh pesan yang muncul pada pop up ponsel itu.


‘Kiran sudah bangun? Aku lewat hotel mau pergi ke kantor cepat tidak, mampir sebentar ditempat makan favoriteku, dekat kantor.’


…..


Kiran segera bangkit hendak mengambil ponselnya, mata Luke mendadak menatapnya dan dengan satu gerakkan mengambil ponsel Kiran.


“Bukan siapa-siapa hanya pemberitahuan provider seluler.” Kata Luke.


Kiran menatap lelaki itu tidak yakin, “Ya sudah berikan ponselnya, untuk apa di ambil?”


“Pagi ini kita lihat appartemen, paman memberikan tempat yang bagus, tidak perlu menunggu Arga.”


Kiran berkerut dahi, “Tapi siang ini Arga juga ngajakin kita buat lihat appartemen loh, gimana sih katanya minta tolong Arga kenapa sekarang sama paman?”


“Arga sudah tahu aku sudah menghubunginya tadi, itu tempat yang sama digedung yang dia rekomendasikan juga.”


“Oh!” Kiran mengangguk melihat pada ponselnya lagi, “Berikan ponselku Bunny, aku ada perlu.”


“Perlu apa?” Tatap lelaki itu masih terus melahap makanannya


“Bunny, ada apa denganmu? Sini berikan ponselku!!” Pekik Kiran meninggi.


“Kenapa kau jadi membentakku! Hanya karena ponsel, nih…ambil milikmu!”


Luke segera bangkit menggeser ponsel itu kuat hingga bergerak jauh sampai ke ujung meja, lalu ia pergi begitu saja dengan sikapnya yang tidak bisa dimengerti namun ia sudah menghapus pesan dari Arga dengan sekali sentuhan tangan.

__ADS_1


Kiran menarik nafasnya jengah, melihat pada lelaki yang itu, seperti ini sikapnya selalu saja marah dan bersikap tidak jelas, Kiran tidak mengindahkan lagi Luke yang pergi duduk disofa segera Kiran mengambil ponselnya dan memeriksa pemberitahuan apa yang masuk. Beberapa kali Kiran keluar dan masuk dimenu ponselnya namun ia tidak menemukan apapun.


Lantas Kiran pun melihat Luke disana dari jauh menerka-nerka sesuatu pada lelaki itu, “Apakah dia menghapus sesuatu?”


Hemmm entahlah…


Tidak lama ponsel Kiran bordering lagi namun bukan pesan melainkan panggilan, ternyata Arga tidak menyerah setelah tidak dibalas ia pun menghubungi Kiran.


“Arga? Hi Ga…Hallo?”


“Aku lewat hotel mau berangkat bareng?”


Kiran melirik pada Luke katanya tadi akan mengajak melihat Appartement artinya Kiran tidak boleh berangkat dengan Arga.


“Hemmm aku mau ngecek appartemen sebentar sebelum ke Kantor, lain kali deh Ga, makasih ya…”


"Oke, sampai bertemu di kantor."


Telinga itu berada ditempat yang jauh namun ia memang layak disebut kelinci bisa memutar telinganya 270 derajat mendengar apa saja dengan jelas walau jauh. Kiran segera mematikan panggilannya membuat Luke berbalik lagi melihat ke tempatnya semula.


Beberapa saat kemudian mereka sudah bersiap untuk pergi keluar melihat appartemen yang akan mereka tempati, di lobby Luke memelankan langkahnya saat ponselnya berdering, seseorang yang ia perintah mengawasi rumah Dayana menghubungi, Luke yang menggandeng Kiran seketika melepaskan tangannya.


“Sebentar, sepertinya ada kabar tentang Dayana, pergilah tunggu di mobil.” Luke memberikan kunci mobil kepada Kiran sementara dia segera pergi ke tempat lain.


Kiran mengangguk mengerti dan melihat wajah lelaki itu tampaknya sangat serius mendapati panggilan itu, Kiran mengulas senyuman seperti apapun sikap lelaki itu padanya dia selalu berharap semua yang terbaik untuk Luke. Dan berharap semua yang ia harapkan akan segera tercapai.


Baru saja Kiran duduk dimobil dari jauh ia lihat lelaki itu sudah berlari, berjalan terburu-buru menuju mobilnya seperti ada sesuatu hal yang akan ia kejar, sedetik kemudian ia masuk kedalam mobil, “Dayana sudah ada dirumah itu, kita tunda lihat appartemennya aku harus memeriksanya sekarang.”


Kiran melihat pada lelaki itu ia tampak begitu sibuk dan tidak sabar untuk kesana, “Bunny pergilah, tentang appartement kita bisa fikirkan lain kali, aku juga harus bekerja sebaiknya aku pergi naik taksi saja.”


“Aku akan hantarkan sampai ke kantor, setelah itu segera pergi.” Luke mulai mengemudikan mobil.

__ADS_1


Kiran mengiyakan tanpa menjawab, sebentar lagi Dayana dan Luke akan bertemu, Kiran melengkungkan senyumannya, berangsur dia mungkin akan dilupakan tapi ya memang ini seharunya, semua berjalan kembali pada tempat yang semestinya.


Keadaan dimobil mendadak hening, Luke yang tidak sabar akan sampai ditempat Dayana, sementara Kiran sedang berfikir apakah sebaiknya dia tidak perlu tinggal lagi bersama Luke, agar tidak perlu ada hati yang terus ia jaga dan hatinya yang terus terluka.


“Bunny?” Kiran menoleh pada Luke yang serius mengemudi.


“Hemmm kau ingin sesuatu?”


….


Kiran diam sejenak menimbang-nimbang kembali ucapannya, ”Apa tidak sebaiknya aku tinggal sendiri ditempat lain, jika Dayana ada, aku takut akan terjadi kesalahpahaman nanti, apa yang akan kau jelaskan tentangku?”


Tatapan Luke seketika serius melihat pada Kiran, “Tinggal sendiri? Bukankah aku sudah katakan jika dia ada aku akan menjelaskan semua dengannya tentangmu? Kesalahpahaman apa yang kau maksud?”


“Ti—tidak, entahlah Bunny, aku rasa aku ingin tinggal sendiri.”


“Kau sudah muak mengurusiku?”


“Bunny, bu-bukan seperti itu, tidak sedikitpun aku berfikir seperti itu, bukan seperti itu aku hanya tidak mau Dayana berikir buruk tentang kita.”


“Jangan beralasan, atau apa agar kau bisa bebas pergi dengan Arga? Kau fikir itu pantas? Kau tidak takut terjadi lagi kejadian seperti kemarin.”


“Bunny? Kenapa kau jadi membawa-bawa Arga!”


“Kenapa katamu? Sekarang kau terlihat sangat-sangat senang sekali dia membantumu, dia ada didekatmu…” Lelaki itu terus menggerutu dengan tangannya yang terus mengemudi.


“Kau salah paham, kau terlalu—“


“Terlalu apa? Melebih-lebihkan! Aku tidak akan mengatakan jika tidak melihat yang sebenarnya!”


Kiran kehabisan kata-kata ia menarik nafasnya, “Kau kelewatan Bunny! Kau sudah jauh berfikir tentang hal yang tidak ada.”

__ADS_1


“DIAMM!” Bentak Luke menujuk wajah Kiran ia kini sudah semakin tersulut bahkan mengemudianya pun sudah tidak lagi fokus.


Mendadak Kiran terkesiap dan diam, matanya seketika berkaca-kaca, Kiran merasakan begitu sakit hati dibentak dan juga diperlakukan Luke seperti ini.


__ADS_2