SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
Kuat.


__ADS_3

“Buka mulutnya!” Luke menyuapi Kiran mie cup instan, sedari tadi belum juga berhasil membuat Kiran berhenti menangis namun setidaknya kini ia lebih tenang tidak ada sesegukannya lagi.


Kiran menggeleng, “Aku nggak lapar... “


“Tadi kau mengangguk ya, aku katakan ingin makan ini.”


“Aku capek... bunny.” Wajah itu memerah dengan matanya yang mencipit terus menangis.


Luke meletakkan cup mie itu ke meja, menaikan kakinya ke sofa lalu mengambil kepala Kiran dan ia usapi, “Kapanpun kau rindu kau bisa main negaraku, hidupmu sudah sangat baik disini.”


“Kenapa bunny, kita harus bertemu, rasanya aku menyesalinya.”


“Lihat aku,” Tarik Luke dagu Kiran menghadap kepadanya, “Kau marah pada takdir?”


Kiran menggelengkan kepalanya, “Aku hanya merasa ini tidak adil.”


Luke mengulas senyuman ia juga merasa seperti itu tapi ia tidak ingin menjadi berlarut-larut, biarlah Kiran dan dia tetap dijalan mereka masing-masing.


Jalan Kiran sudah benar, ia tidak ingin mengambil Kiran dari keluarganya, orang yang saat ini mungkin mencintainya dan yang pasti ada sesuatu yang menghambat, keyakinan mereka, budaya hingga negara mereka yang berbeda perlu sikap dan sesuatu yang serius untuk menyatu.


Luke menempelkan dahi mereka memejamkan mata, ia berharap malam ini menjadi malam indah untuk untuk keduanya, mengaliri perasaan sebelum benar-benar berakhir dan melepaskan.


“Do you know, how much i love you?”


Kiran menggelengkan kepala tidak peduli itu. Seketia Luke mendekatkan bibirnya dan menempelkan pada bibir Kiran, satu tangan Luke menahan ditengkuk Kiran, mensesapi bibir gadisnya menghisapi lembut mengaliri setruman perasaan.


Sesaat Luke membuka mata, menjarakkan sedikit wajahnya, ia tatapi wajah cantik yang memejam itu lama-lamat. Ia sentuh pipi mulusnya, lalu ia tempelkan bibirnya lembut menyapu wajah Kiran.


Aku tidak tahu akankah aku bisa mencintai orang lain setelah ini? Segala perpisahan membuat Luke takut, terlebih rasanya ia akan sulit melupakan Kiran.

__ADS_1


“Pakai lagi anting yang aku berikan, maafkan aku berbohong padahal aku membeli itu untukku.”


“Bunny—“


Luke segera mengambil anting didalam dompetnya segera memasangkan pada Kiran, “Jika Arga meminta membukanya katakan ganti yang lebih mahal dan paling langka. Jika tidak maka jangan buka, ini satu-satunya dan hanya kau yang memilikinya.”


Hiksss...


“Sebulan...dua bulan... setelah itu kau akan melupakanku, tapi bagaimana denganku Bunny? Aku takut sendirian.”


Rasa aman dan nyaman sudah ia dapatkan dari sosok Luke, selalu bersama membuat semuanya terbisa. Namun dengan Arga sedikitpun belum ia dapatkan walau sering bersama.


“Baru beberapa hari, semua bisa karena terbiasa.” Ambil Luke tangan Kiran, bohong jika dia tidak sakit dan tidak menangis dalam hati.


“Pukul berapa kau akan berangkat?”


Hiksss...


Rasanya air matanya tidak bisa menahan selalu saja lolos jika mengingat Luke akan pergi, keadaan akan segera berubah dia kembali pada kehidupannya dan Kiran menjalani hal yang hatinya tidak bisa terima.


...***...


Malam ini menjadi malam yang sangat panjang untuk Luke dan Kiran, gadis itu menangis hingga tertidur, ia tidak melepaskan Luke sedikitpun.


Diatas ranjang yang besar itu Kiran meniduri Lengan Luke, dalam tidurnya ia pun sesegukan, barulah saat ia tidur nyenyak seorang Luke yang selalu kuat dan tegar dan anti sekali menangis, ia menangis kala ini, Luke menahannya agar tidak bersuara.


Ia kecupi wajah cantik Kiran, ia peluk tubuh kecil itu, sakitnya di tinggal Dayana lebih sakit saat saling cinta harus melepaskan Kiran.


Kau akan selalu bersinar tidak hanya di hidupmu tapi juga didalam hatiku, Luke mengecup rambut Kiran ia tahan lama. Sebelum akhirnya ia lepaskan, Luke akan bersiap-siap lalu bergegas pergi menuju kerumah sang paman untuk berpamitan dan mengembalikan mobilnya.

__ADS_1


Ia akan langsung ke bandara dari rumah sang paman. Tidak ingin menunggu Kiran bangun, Luke begitu tidak kuat melihat Kiran terus menangis dia samakin lemah melihat tangisan itu.


Selesai bersiap Luke kembali mendekat pada Kiran, lalu ia kecup dahinya, “Maaf— aku selalu membuatmu menangis, demi Tuhan aku tidak bermaksud, tapi aku percaya dia akan bisa menghapus air mata yang aku buat atau menggantinya dengan air mata kebahagiaan.


Luke mengulas senyuman mengusap lembut pipi Kiran dan segera ia pergi dari sana.


 


...***...


Menangis juga butuh tenaga itulah yang Kiran rasakan saat ini, saking lelahnya ia benar-benat tidak terbangun dan terbangun saat sudah terang, sinar matahari terlihat diruang tamaram kamar yang lampunya dimatikan itu.


“BUNNY!” Kiran seketika bangkit.


“BUNNY?” Kiran segera menyalahkan lampu, namun yang ia lihat adalah kosong segala barang-barang Luke yang semalam masih berserakan tidak lagi ada, Luke terus berteriak memanggil-manggil dan memeriksa hingga kekamar mandi disana sudah ia tidak temukan lagi barang Luke.


Segera Kiran meraih tas dan hellsnya ia akan turun, Kiran menghubungi Luke sembari berjalan keluar namun ponselnya tidak lagi aktif, segera Kiran berlari-lari ke receptionist menanyakan setatus reservasi Luke.


Kiran terperangah Luke sudah keluar dari tengah malam dan membayar selesai semua tagihannya. Lutut Kiran melemas Luke pergi diam-diam. Rasanya ia seperti kehilangan semangatnya untuk menjalani hari.


Ia seperti jehilangan arah dan tujuan, padahal Luke sudah mewanti-wanti agar ia bisa terus mencapai impiannya.


Kau mudah mengatakan, tapi aku sulit mejalaninya...


Kiran melangkahkan kakinya pasrah,  ia tidak tahu bagaimana akan memulai lagi kehidupannya, lelaki itu seperti pergi membawa semangatnya dan separuh raganya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2