
Luke memendam kesal pada Kiran yang kini tengah menyantap sarapannya, ia baru saja selesai mandi dan masih dengan handuk yang menggulung dirambutnya.
"Kau marah, bunny?" Lihat Kiran pada Luke disebelah.
"Tidak," Jawab Luke acuh memainkan remot televisinya.
"Iya kan, jujur saja pasti kau marah, aku tahu! Sungguh aku tadi tidak bohong aku tidak tahu, aku tidak mengerti hal-hal semacam itu, kau maki saja aku jika menurutmu aku menyebalkan, tadi kau bertanya apakah disekolah aku tidak diajarkan tentang system reproduksi, hey bunny-- aku tahu, tapi tapi tadi sungguh membuatku terkejut, tidak pernah dalam pelajaranku mengatakan prosesnya akan mengejutkan seperti itu, lagi pula kau tahu--"
"Hemm..."
"Selolahku itu merupakan sekolah bantuan, tempatnya sangat plosok dipedalaman sekali, guru SD, SMP hingga SMA sama semua, anak didiknya juga bisa dihitung dengan jari, jika hujan kami bahkan tidak bisa bersekolah karena jarak tempuhnya sulit, sungai akan meluap jembatan akses kesekolah tenggelam, itu pun aku sangat bersyukur masih bisa memakan bangku sekolah. "
"Jika kau mau kau bisa melanjutkan pendidikanmu."
"Boleh?" Kiran antusias.
"Belajar bahasa lokal dulu, akan sulit jika kau hanya menggunakan bahasa inggris berantakanmu itu."
Kiran mengangguk, "Kau mengizinkannya bunny, kenapa?"
"Kenapa? untuk belajar tidak ada pertanyaan mengapa? Aku seusiamu juga masih belajar, tidak hanya untukmu saja, suatu saat mungkin jika anak-anakmu bertanya kau bisa membantu mereka."
"Aaaa... bunny, thanks..." Kiran bersyukur sekali, suaminya sangat pengertian.
...***...
Di sisa liburnya hari ini Luke ingin mengajak Kiran berjalan-jalan disana, memasuki musim disana membuat mereka harus berpakaian sedikit tebal agar perjalanannya aman dan nyaman.
Ini salah satu hal yang harus membuat Kiran beradaptasi yaitu musim yang berbeda, sebuah coat berwarna coklat muda ia kenakan didalam dress selutut yang ia kenakan. Dan Luke seperti biasa memakai sebuah sweater turtle neck dan sebuah jaket kulit.
Luke mengajak Kiran berkencan ia menyebut iti pada Kiran, sebab mereka memang belum pernah menjalani proses itu. Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Plaza Mayor yang merupakan sebuah alun-alun dipusat kota negara itu.
__ADS_1
Di lantai dasar tempat itu merupakan pusat bisnis dan cafee, di lantak 2 dan 3 merupakan hunian seperti appartemen.
Bagi Luke ini merupakan hal yang langka mungkin jika orang-orang yang mengenalnya tahu dia sedang pergi berkencan dia akan ditertawakan.
"Bunny aku mau berfoto..."
Luke dengan senang hati melakukannya, dengan pasrah mengikuti Kiran berpindah-pindah posisi, hingga dimenit kesekian Luke sudah sebal. Kiran pun tertawa. "Terimkasih suamiku," Ambil Kiran ponselnya kemudian.
Mereka berkeliling lagi berpegangan tangan memutari kawasan itu, sesekali mampir melihat beberapa barang, "Bunny, bajunya cantik, boleh aku membelinya?"
"Kau fikir aku bekerja sekarang untuk siapa? Belilah apa yang kau mau."
Kiran melebarkan tawa, memempel pada lengan sang suami, "Aku kan hanya bertanya,ayo temani aku memilih."
Kadang terlintas dibenak Kiran, ia pun bisa lebih cantik dan seksi melebihi Dayana, apakah sekarang ia bisa melakukan semua itu atas fasilitas yang Luke berikan.
Tapi bukankah kata Luke dia ingin aku menjadi diriku sendiri saja, ah ya menjadi diriku sendiri tapi dalam versi lebih baik, mengimbangi dia agar aku terlihat layak menjadi pasangannya.
"Kenapa memilih dress? Kau lebih suka pakai kaus jika aku perhatikan."
Kiran yang sudah memegangi beberapa dress menatap pada Luke, "Kau tidak suka?"
"Kapan aku bilang tidak suka? Itu lebih bagus."
"Hemm... aku memilih 3 ini, duduklah aku akan mencobanya..." Kiran segera berlalu keruangan ganti, segeran menutup pintunya kemudian.
"Aku mau masuk!" Luke seketika mendorong pintu untuk masuk juga.
"Bunny--"
"Kenapa? Aku mau mencoba pakaian juga," Perlihatkan Luke sebuah kemeja kemudian mendorong Kiran masuk kedalam.
__ADS_1
Kiran menjadi risih Luke ikut-ikutan kedalam, "Hemm coba pakaianmu dulu, aku nanti saja."
"Kenapa? Ayo bersama." Luke menyerai ia tahu Kiran sedang takut jika terjadi sesuatu.
"Aku masih waras untuk berbuat hal gila disini."
"Hemmm...." Kiran berdehem ia segera berbalik badan dan melepas dressnya untuk mencoba dress barunya, membiarkan Luke yang juga menghadap ke arah lain memakai pakaiannya.
"BUNNY!!" Pekik Kiran menahan mulutnya seketika, sang suami malah mendekat dan menempel dibahu mulusnya dan memeluk perutnya
"Kenapa? Aku hanya melihatmu?"
"Kenapa memelukku?"
"Masalahnya dimana memeluk istri sendiri?" Ia semakin bersikap aneh, bukan hanya memeluk namun juga sudah menempelkan wajahnya pada tengkuk Kiran.
"Bunny-- kau tidak waras!" ujar Kiran saat Luke mulai merayapi tubuh Kiran menyentuh dimana-mana, dan memainkan bibirnya dileher. Kiran meremang, sialnya ia terbawa suasana sedikit menggelijang menikmati desiran-desiran
"PULAAAANG KIRAAN!" Pekik Luke kemudian ditelinga Kiran saat kepalanya mulai miring dan menikmati.
"SIALAN!" umpat Kiran tertawa merasa malu sendiri, Luke seketika keluar dari sana, benar-benar seperti balas dendam, saat ia tahu Kiran mulai bisa menikmati.
Kiran mulai membayar belanjaam mereka, rasanya ia begitu shock kenapa begitu mahal pakaian disini, ia menggrutu sendiri sembari membayar disana. "Dia nggak salah hitung ya bunny?"
"Kau bisa periksa lagi strucknya."
"Sama-- bunny..."
"Jadi mau bagaimana sayang?"
"Dikampungku sudah dapat sekarung plus bonus dengan uang semahal ini."
__ADS_1
Luke menarik nafasnya kemudian, "Ya sudah minta orang dikampungmu berjualan disini."