SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
Bab : 56


__ADS_3

Luke bergidik ngeri sungguh Kiran seperti orang yang sedang kerasukan, dia benar-benar menyerang Luke, justru Luke tidak tertarik jika seperti ini, Kiran sangat dominan dan agresif di sofa merah, membalik Luke bertelentang disana.


Bukan lenguhan surgawi yang terdengar melainkan pekikkan takut, wajah lelaki itu memancarkan ketakutan padahal pada posisi yang sempurna saling menyatu.


“AW…AW…AW…!” Luke berteriak, “Stop sayang, stop! Aku tidak suka seperti ini, kau tidak salah makan atau meminum sembarang obat?”


Kiran menjadi menciut ia berhenti segera menjatuhkan dirinya dilantai, malah menjadi sedih sesungguhnya semua sebab perkataan bibi Eve didapur, dia mengatakan Luke begitu mencintai Dayana entah apa yang istimewa dari wanita itu kata Eve. Apakah dia terlalu seksi, sempurna dan cantik bisa saja mereka pernah melakukan hubungan ranjang yang tidak terlupakan dimana Dayana adalah cinta pertama Luke.


“Aku tidak cantik ya bunny? Aku tidak seksi? Aku sering membuatmu kesal kan?”


Luke semakin berkerut dahi setelah menajadi seekor kucing liar dia kenapa memdadak menjadi kucing malang? Luke segera bangkit memakai celananya sungguh Kiran membuat saraf-saraf di otaknya seakan tidak berjalan semestinya.


“Kenapa? Ada apa lagi?”


“I AM NOT BEAUTIFUL


I'M NOT SÈXY, NOT ATTRACTIVE


NOT LIKE HER!”


Netra Luke membola, ia benar-benar terkesiap setelah tadi seperti setan jurang yang haus belaian sekarang dia berbahasa inggris dengan lantang dan lancar, apakah setan itu seorang wanita bule yang patah hati dan mati lompat ke jurang?


Luke menarik nafasnya berat segera merendahkan tubuh menarik Kiran, “Ayo mandi! Kita usir setanmu.”


 


“Apakah dia pernah membuatmu kesal dan marah bunny? Maafkan aku ya, aku tahu perbuatanku kemarin tidak baik.” Kiran berucap dengan nada lirih benar-benar dari dalam hatinya dia merasa bersalah.


“Ayo mandi,” Luke enggan merespon. “Kita berenang, siang nanti aku akan bekerja, ayo!” Bawa Luke tangan Kiran memberinya sebuah bathrobe untuk turun ke lantai dua dimana ada kolam berenang disana.


Luke menggandengi istrinya turun, melihat Eve sedang menyiapkan makanan disana.

__ADS_1


“Hey mau kemana kalian? Selamat pagi!”


“Selamat pag, apakah kolam berenang aman bibi Eve?”


“Tentu, walau tidak digunakan Jaime selalu membersikan dan mengganti airnya, kalian akan kesana? Mau aku bawakan sesuatu.”


“Tidak perlu bibi, aku akan menutup pintu.


“Baiklah, selamat bersenang-senang.”


 


...***...


Sebuah kolam berenang berukuran 12 meter kali 3 meter terbentang di balkon lantai dua belakang rumah itu, tembok berwall garden yang sangat rimbun tampak menyejukan mata, beberapa sisi air pancur tampak menyala dengan sofa bersantai di sebuah gazebo yang tertata rapi.


“Aku tidak bisa berenang…”


“Gandeng aku, tidak! Aku mau dipunggungmu.”


Kiran segera naik ke punggung Luke saat ia sudah perlahan-lahan masuk kepermukaan air lewat bagian yang dibuat bertepi seperti pantai. Air yang dingin dimusim dingin dan beberapa kali sudah menurunkan rintik salju kemarin membuat tubuh Kiran meremang terus memeluk tubuh hangat suaminya itu.


“Lepas bathrobe mu!” Luke berhenti, membuat Kiran yang lupa pun tertawa.


“Pakai dalamàn aja bunny? Aku juga tidak punya sebuah pakaian untuk berenang.”


“Ya, lain kali kita beli.” Luke membuka kausnya kemudian.


“Aku dikampung sering berenang eh salah bukan berenang, mandi ditepian sungai maksudnya. Lalu nenek selalu membawa kayu untuk menyuruhku pulang, coba saja nenek membiarkan itu mungkin aku sudah bisa berenang saat ini seperti teman-temanku.”


Luke mengulas tawa, mereka sudah masuk ke tiitk terdalam kolam yang setinggi dada orang dewasa, Kiran pun semakin memeluknya, “Angkat kakinya keatas, coba digerak-gerakkan, aku akan mengajarkanmu berenang.”

__ADS_1


“A-aku takut bunny…AAAAa….bunny jangan lepaskan aku!” Kiran berteriak Luke berputar arah membuat Kiran berhadapan dengannya lalu membuat dia melingkarkan tangannya lagi dileher Luke, “Jangan lepaskan aku!” Kesal Kiran mengusap wajahnya.


Luke tertawa, “Mana mungkin, hanya kau yang tega menjahatiku tapi aku tidak bisa…”


Kiran kembali merasa bersalah, menatap wajah tampan suaminya itu, “Kau masih marah?”


“Tidak.” Luke merengkuh pinggang Kiran didalam air melengkungkan senyumannya, “Apa yang membuatmu seperti tadi? It’s not you!”


Wajah Kiran lirih, “… selain karana aku merasa bersalah, aku juga merasa tidak pantas dan bukan yang baik untuk menjadi pasanganmu, apa lagi jika setiap orang yang mengenalmu lama menceritakan dia.”


“Itu lagi....lalu kau fikir aku pantas untukmu, ku fikir bersamamu adalah sebuah keberuntungan, menjadi cinta pertama, kekasih pertama dan banyak hal yang pertama untukmu…”


Kiran mengulas senyuman,”Kau tahu itu?”


“Hemm... akumenemukan sesuatu didalam tasmu..”


“My diary! Bunny! Kau membacanyaaa, kau menyebalkan.” Kiran merasa malu sekali.


“Kau bisa tidur semalaman disofa merah itu dengan tenang, sementara aku didalam kamar yang mengerjaimu tidak tenang, dan akhirnya aku tidak sengaja menemukan benda itu.”


‘Luka itu ayah torehkan lalu dia menambalnya dengan banyak kebahagiaan, menjadi lelaki kedua setelah pertama aku pernah sangat mencintai ayah, menjadi pertama yang membuat hatiku bergetar padahal dia hanya diam menatapku.


Menjadi yang pertama mengaliri rasa yang membuat darahku seperti berhenti mengalir dalam beberapa detik ketika ia mengecupku, padahal saat itu dia mengatakan tidak sedang menganggapku, menjadi yang pertama mebuat aku menangis, marah dan benci sebab kenapa hatiku tidak tersambuti.


Menjadi yang pertama menangisiku setelah akhirnya ia kembali dan memintaku dengan tulus, dia suamiku’ Tulis Kiran disana.


Kiran bersemu malu wajahnya memerah, “Bunny—“


Luke memeluk Kiran kemudian didalam air yang sangat dingin itu, menempelkan bibirnya pada telinga Kiran, “Tidak perlu iri pada masa laluku, semuanya tidak seperti apa yang ada dibayanganmu, hubunganku dan dia hanya masa remaja, cinta monyet biasa membuatku merasa dekat dan punya rasa bersalah, berbeda denganmu— sesuatu yang memang datang untuk menyambut masa depanku…” ucapan Luke lembut sekali, masih terus memeluk erat Kiran meyakini perkataanya itu.


Segera Kiran menangkup wajah Luke, mengusap rahang berbulu-bulu tipisnya, lalu menempelkan bibirnya memcium dalam-dalam suaminya, padahal air begitu dingin namun dia merasa sangat hangat.

__ADS_1


__ADS_2