
Seketika Kiran sadar apakah cupid sudah memanah padanya tapi sama sekali tidak pada lawannya, selalu saat sadar dia malu akan sikapnya sendiri kemudian seulas senyuman memaklumi diri terbit dari bibirnya.
"Maaf--" Kiran kembali menyandar dan sedikit menunduk, "Sudah 15 menit, belum ada tanda-tanda akan terbuka?" Alihkan Kiran keadaan mendadak canggung yang timbul.
Kerja, hidup lebih baik, jadi orang sukses percayalah mungkin semesta kirimkan dia agar hidupmu berubah lebih baik, bukan untuk jatuh hati pada hati yang tidak jatuh padamu.
Lucunya dia hanya menarik tanganmu untuk membantu menyebrangi jalanan tapi kau malah menggenggam tangannya erat dan seolah lupa melepaskan.
Luke kembali bangkit, ia pun mendadak salah tingkah setiap Kiran sedekat itu padanya, Ia berusaha menggerakkan kembali ponselnya dari atas dan kebawah mencari signal, seketika ponselnya berdering.
Keduanya begitu antusias, "Arga?" seru Luke.
Kiran pun ikut bangkit, "Angkat Bunny!"
"Kita butuh pihak hotel membukakan pintu bukan Arga," Luke mematikan panggilan Arga segera menghubungi pihak hotel selagi signal belum menghilang lagi.
Luke berbicara tegas pada pihak hotel, sontak saja membuat keadaan disana panik, sebab memang ada sedikit gangguan disana, hanya dalam hitungan menit tim maintenance datang dan membantu membuka secara manual dengan berbagaimacam alat. Semuanya terjadi sebab elevator itu sedang dalam masa percobaan setelah beberapa waktu mengalami perbaikan.
"Ahhhhh....." Kiran bernafas lega, merasakan betapa pengapnya didalam sana.
"Butuh oksigen tambahan?"
"Mungkin jika setengah jam lagi tidak terbuka bisa jadi."
"Aku masih bisa bertahan setidaknya 18 jam."
__ADS_1
"Ohya? Kau punya 4 paru-paru ganda atau cadangan oksigen dilambungmu?"
Luke tertawa, "Kau pintar bercanda."
"Mungkin aku akan lebih pintar darimu jika sedari lama makan sofa perkotaan."
"Haha...ya...ya kau pintar hanya saja mungkin didesamu yang sangat terpencil melewati hutan dan danau juga harus berjalan jongkok, melewati gua hingga jalanan tikus itu masih tahun 2001."
"Kau terlalu merendahkan desaku, tidak seburul itu Om!"
Keduanya pun berjalan beriringan dengan Luke menggandeng lengan Kiran, sekarang semua hal membuat Kiran berfikir, ini perlakuan seorang yang mengayomi 'kan? bodohnya terkadang yang diayomi terbawa perasaan merasa memilki.
...***...
Menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, memasuki kawasan pada penduduk yang sulit dilalui mobil akhirnya mereka pun tiba dikontrakan dimana keluarga tiri Kiran itu tinggal.
"Kau tidak mengajakku turun little cat?"
"Nggak usah! tugasmu sudah selesai yang seperti ini aku bisa sendiri."
"Salam untuk ayahmu..." Luke tertawa.
"Jangan! mengirim salam padanya sama seperti mengirimkan sinyal langsung keneraka, daaa aku akan turun, akan aku salami kepada ibu dan kedua adikku seseorang baik menyelamatkan keluarga kami malam tadi, eh iyaa Sandalnya bagus lebih bagus dari sandal hotel yang kubawa..." Kiran mengangkat kakinya melambaikan tangannya dan segera turun.
Di jendela mobil Luke mengulas senyuman melihat pada Kiran yang berlalu, "Jangan lupa katakan pada adikmu kembalika uangnya."
__ADS_1
"Hemmm....hati-hati..."
"Jangan rindu aku..." ucap Luke kemudian membuat Kiran berkerut dahi.
"Aku?" Tunjuknya pada dirinya sendiri, "Tidak akan!" Yah...tidak akan pernah, aku akan bilang sipemilik diri ini, sadar diri jangan lewati batasanmu, sakitmu akan terjadi jika kau mulai.
Luke pun berlalu pergi menyapa dengan sekali bunyi klakson segera pergi dari sana, "Aku Gha sudah jalan ketempatmu, apa yang kau dapat?"
"Hallo? sulit sekali kau dihubungi."
"Aku terjebak di lift sialan! tunggulah aku segera sampai."
"Aku di showroom pamanmu, pabrik garment yang kau cari mungkin sama dengan yang saat ini aku temukan didata."
"10 menit aku sampai..." Luke begitu tidak sabar segera ia meletakkan kembali ponselnya ke dashboard dan segera melajukan mobil dengan sangat kencang.
.
.
.
.
(Part bonus)
__ADS_1
Like, vote, comment hadiah (Wajib)