
Udara pagi yang dingin membuat Luke yang tidur tanpa pakaian dan selimut seketika terjaga, ia beringsut menarik selimut dan menempel ke sisi yang sudah biasa ia tahu akan memberikan ia rasa hangat, namun ia terkesiap sebelah sisinya yang biasa terisi kini kosong.
“Sayang!” Luke segera bangkit mengedarkan pandangannya, maraih kausnya yang ia lepas disana, tidak ada istrinya dikamat dan pintu balkon pun masih tertutup.
“Sayang kau dikamar mandi?”
Namun masih tidak ada tanda-tanda disana,segera Luke mebuka pintu dam memeriksa keadaan dikamar mandi dan balkon namun Kiran memang tidak ada.
“Kemana dia?”
Luke meraih ponselnya dan berusaha menghubungi Kiran, biasanya istrinya itu akan muntah-muntah dipagi hati, Luke merasa khawatir dia kenapa-kenapa. Semalaman mereka sudah makan yang dia mau di hotel sebab bertemu dengan seorang chef yang berasal dari negara istrinya itu, harusnya pagi ini dia akan mengeluarkan isi perutnya tapi ini belum ada dia dengar Kiran muntah.
Atau jangan-jangan dia sudah muntah-muntah diluar saat ini. Luke bergegas tutun Kiran tidak bisa dihubungi membuat kekhawatiran Lluke membumbung tinggi.
Luke sedikit kesal sebab sudah di jelaskan berkali-kali jangan pergi kemanapun sendiri, ini bukan tempat yang aman untuk dia sebagi orang asing yang tidak bisa berbahasa setempat.
Luke turun ke lobby dia bertanya disana, dan betapa terkejutnya dia mendapatkan perkataan receptionist bahwa istrinya penghuni kamar 112 yang di maksud terlihat keluar. Mereka tadi melihat Kiran disana menuju kearah belakang hotel.
“Apa yang kau lakukan? Kau kemana?” Luke khawatir sekali dan menerawang ke malam tadi apakah dia membuat kesalahan lalu membuat Kiran pergi, Luke tidak peduli dengan cuaca yang begitu dingin ia berlari-lari disana masih dengan celana pendek dan kausnya mencari Kiran, dia sedang mengandung, ini pagi hari dan dia akan selalu tidak baik-baik saja saat pagi.
__ADS_1
Langkah Luke membawanya terus berjalan dipertokoan hingga jalanan, ia beberapa kali bertanya-tanta dan memberikan photo sang istri kepada orang dijalanan, fikirnanya sudah kemana-mana, Luke mengusap wajahnya frustasi dengan nafas yang berat.
“Kiran apa yang kau lakukan, kau kenapa!” Kesal Luke terus berjalan bahkan ini sudah sampai ke area menara Eiffel.
Langkah kakinya sudah membawanya masuk ke taman area eiffel eberapa menit Luke sampai diarea Eiffel ia terperangah dan menghentikan langkahnya, ia lihat dari jauh seorang yang sudah sangat ia hafal gesturenya itu yang tidak lain adalah istrinya sedang berjalan disana, memakai sebuah sweater dengan celana kain menenteng sebuah tas belanjaan, sedang merapikan syalnya.
Dada Luke yang tadinya begitu sesak membayangkan entah kemana Kiran seketika merasa lega sekali, masih terus berdiri memperhatikan istrinya itu dari jauh membiarkan saja dia berjalan disana.
Kiran yang sudah menyadari Luke disana tampak tersenyum lebar dan segera berjalan cepat ke arah Luke.
“Sayaaang!” Panggil Kiran begitu sumringahnya melihat sang suami datang. Ekspresi Luke sangat dingin ia masih begitu kesal, hingga Kiran berlari-lari kecil.
Kiran tertawa, “Kau sudah bangun? Kenapa kesini? Lihat pakaianmu bunny ini dingin.”
Luke menepiskan tangan Kiran yang memegangnya, “Sudah puas membuat ornag panik?”
Kiran tidak takut dia semakin tertawa lalu mengambil kedua tangan Luke untuk ia genggam dan tiup-tiup hangat, “Udaranya dingin ayo masuk, maaf membuatmu khawatir, kau sangat pulas tidur aku tidak ingin mengganggu laki pula aku hanya berkeliling dekat sini.”
“Apa itu?” Lihat Luke pada kantung belanjaan yang Kiran bawa.
__ADS_1
“Ada deh, ayo kembali ke hotel.”
“Apa itu!” Paksa Luke lagi.
Kiran mengulas senyuman menatap pada wajah datar Luke, “Happy birthday suamiku,” Segera Kiran berjinjit lalu mengecup dahi Luke beberapa detik lalu melepaskan, “Kemarin … aku melihat sesorang nenek merajut pakaian disebuah toko yang kita lewati, ada sebuah kaus kaki bayi disana dan aku berkunjung kesana untuk melihat-lihat dan membeli, nenek itu baru saja buka lalu aku ingat kau berulang tahun lalu aku membeli sebuah sweater untukmu, dan belajar membuat sebuah logo huruf namaku disweatermu, aku tidak tahu akan memberikamu hadiah apa kau punya segalanya, sekali lagi selamat ulang tahun suamiku,” Senyuman tulus terbit dari bibir Kiran dengat tatapan sendunya menjelaskan ia begitu bersyukur sekali memiliki suaminya ini.
Luke menghangat dia saja lupa akan tanggal ulang tahunnya, “Ayo kembali…” Segera ia ambil tangan Kiran dan menggandengnya pergi, diperjalanan lelaki itu terus mengulum senyum sembari membawa tangan Kiran yang ia bawa dan terus kecupi.
“Kau sudah memberikanku sebuah kado yang nilainya tidak terhingga, mungkin sebuah miniatur ku didalam sana, itu sudah lebih dari apapun.”
Kiran menyandar pada lengan Luke, rasanya setiap hari adalah special, setiap hari adalah sesutau yang "menakjubkan dia jalanani dikehidpuannya saat ini, “Ti amo!”
“Anch'io ti amo...” Segera Luke mengecup pipi Kiran dan mengangkatnya, membuat Kiran harusnya malu malah kegirangan memeluk leher Luke membiarkan Luke membawanya dengan cara seperti itu.
__ADS_1