SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
Jangan memancing.


__ADS_3

Luke mendekati meja makan tempat dimana Kiran menunggunya, dia tidak tahu kenapa merasa tidak selera, begitu rindu sarapan pagi. buatan Dora ibunya.


"Bubur?" Tatap Luke tidak nafsu.


"Ya aku memintanya, makanlah buburnya. Ini baik untuk masa pemulihan." Sodor Kiran kemudian.


Luke berangsur duduk, "Aku rindu sarapan pagi buatan ibuku." Wajah Luke memperlihatkan kerinduan, membuat Kiran merasa sedih.


"Hemm apa yang biasa ibumu buat? aku akam mencarinya atau mungkin akan belajar membuatnya untukmu."


"Belajar membuatnya?" Luke tertawa, "Hemm aku tidak yakin apakah rasanya akan sama."


"Tidak ada salahnya mencoba bukan?"


Luke mencibir ragu, "Ya mungkin lain kali."


"Makanlah ini dulu! Sini akan menyuapimu." Kiran berpindah tempat duduk tepat disebelah Luke, segera menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Luke. "Aaaaaaak..."


"Hemmm... jangan banyak-banyak!"Luke merasa geli merasakan sesuatu yang lembek dan basah masuk kedalam mulutnya ia pun mengunyah perlahan mencoba menikmatinya.


Wajah cantik Kiran mentap dia lama menunghunya menelan habis, "Kau seperti Ine adikku Bunny, makan saya ribet!"


"Sudah kenyang..."


"Jangan macam-macam, bunny!" Tangan Kiran segera bergerak kepada perut Luke, "Aku akan mencubitmu jika kau tidak menghabiskannya!"


Luke kembali menggelengkan kepalanya, "Akan muntah jika dipaksa."


Jika dia sudah berkata seperti itu Kiran pun tidak bisa berkata apapun, takut dia muntah lagi, "Ya sudah 1 kali lagi, setelah itu makan lah potongan buah dan minuman hangatnya." Sodorkan Kiran sendok buburnya lagi dengan menurut Luke pun membuka mulutnya.


"Kau seperti ibuku... "


"Hemm? ibumu?"


"Kenapa?"


"Tidak ada! Arga sudah dibawah aku akan menjemputnya naik."


Kiran segera bangkit, "Duduklah! Aku yang akan menjemputnya."


Luke pun menurut ia membiarkan Kiran yang menjemput, sesungguhnya ia juga masih sedik malas banyak bergerak setelah demam semalam. Kiran pun segera turun untuk menjemput Arga dibawah.


Kiran sudah mulai terbiasa dan bisa menggunakan semua fasilitas yang ada, dengan santainy dia turun ya walaupun masih ada sedikit ketakutan saat berada didalam elevator takut terjebak lagi.


Dilobby hotel Kiran melambaikan tangan pada pria tampan asli Indonesia itu, ia pernah bertemu Arga dimalam itu.


"Arga!"


"Kiran, ayo naik!"

__ADS_1


"Dia sakit apa?" Keduanya pun bersamaan masuk kedalam elevator.


"Kehujanan, mungkin juga mabuk iklim disin, ya beberapa hari ini sepertinya dia kurang istirahat juga."


"Sekarang bagaimana?"


"Sudah mendingan tuh lagi sarapan."


Arga dan Kiran terus berbincang, Arga merupakan sosok yang asik untuk diajar berbicara, sesekali kedunya tertawa. Hingga sampailah dikamar tempat dimana Luke berada.


Luke menoleh saat keduanya masuk, Arga tampak tertawa disana atas kepolosan Kiran.


"Hi kau sakit sir? bagaimana hari ini?"


"Hemm entahlah, mungkin lebih baik." Arga berangsur duduk sebelum dipersilahkan.


"Bun--"Kiran menahan diri untuk memanggil Luke dengan panggilan aneh itu sebab ada Arga takut Luke akan merasa malu. "Om, habiskan minuman hangatmu!"


"Habiskan Om!" Arga tertawa, "Kau bisa sakit juga Man!"


"Berisik dia cocok jadi nenek-nenek!" umpat Luke pada Kiran yang sedang menikmati sarapannya. di meja lain.


Arga pun tertawa, "Oh ya! Katamu kau butuh bantuanku lagi, apa?"


"Carikan appartemen untuk dia! Aku juga, sementara sampai Dayana kembali aku bisa tinggal bersama kucing kecil itu!" Lirik Luke Kiran seraya meraih kotak rokoknya dimeja.


"Tidak untukku untukmu saja, aku bisa tinggal di kos-kosan!"


"Tidak mungkin hemm...!" Sahut Kiran tidak jelas sambil mengunyah, "Kan ada surat perjanjian."


"Iya cari aman saja dulu! lihat perkembangan kedepan bagaimana."


"Ya ide bagus," Arga menyetujui.


"Pak Tua! Rokokmu!" Pekik Kiran pada Luke.


"Lihatlah berisik sekali dia!"


Kiran menatap Luke serius, sebal sekali mengingat bagaimana semalam dia sakit dan sekarang sudah seolah benar pulih. Ia tidak mungkin bersikap terlalu posesif ada Arga disana, Kiran mengalihkan wajahnya memperlihatkan ketidak sukaanya lalu berucap pelan sekali. "Terserah... "


Mendapati tatapan marah Kiran, Luke pun berdehem segera mematikan rokoknya. Menarik nafasnya berat mulai meminum minuman hangatnya dan memakan potongan buahnya.


"Baiklah aku akan segera perintahkan temanku mencarikanny nanti. Hemmm...Aury Sasikirana bagaimana? Apa kau mau bekerja menjadi talent ditempatku? ada pemotretan product skincare remaja sore hari ini, aku rasa cocok untukmu."


"Ha aku? jadi seperti foto model seperti itu?A-aku mana bisa, lagi pula aku tidak secantik model-model yang--"


"Coba little cat! Tidak ada salahnya mencoba!" Potong Luke.


"Kamu ada di arahkan disana, jika mau nanti sore datanglah ke kantorku, kau harus menandatangani kontrak, atau aku yanh akan menjemputmu lagi."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa mengantarkannya!"


"Serius?" Kiran menatap tidak percaya pada Arga, sungguh kah ini jalan untuk hidup barunya, "Terimkasih--"


"Arga, panggil aku Arga, jangam Om!" Arga tertawa kemudian


Kiran pun menganggukkan kepalanya lagi. "Terimakasih Om Arga!"


Luke ditempat mencibir Kiran yang terharu atas tawaran Arga itu, "Jangan lupa bagianku jika lau sukses."


Kiran berkaca-kaca mengusap ujung netranya, bagianmu apa? kau sudah mengambil hatiku bódoh! sekarang biarkan ini menjadi cara menepiskanmu.


"Ah baiklah, aku ada meeting sebentar lagi, berikan aku kontakmu, Kiran!" lihat Arga pada gadis cantik yang nyaris hampir menangis itu.


Kiran pun mendekat meraih ponsel Arga untuk memasukan kontaknya, "Terimakasih Ga... " ucap Kira tulus, sedikit menganggukkan kepalanya hormat.


"Ya, baiklah aku harus kembali sekarang!"Arga pun bangkit dari sofa, Luke pun kemudian bangkit menghantarkan Arga untuk keluar.


...***...


Selepas menghantarkan Arga, Luke segera naik didalam kamar sana Kiran akhirnya menangis, tidakkah ini sebuah tawaran yang sangat bagus? Mana pernah dalam hidupnya ia pernah mendapatkan kesempatan seperti ini.


Luke membuka pintu dan masum seketika Kiran menoleh, ia pun bangkit dari tempat duduknya dan berhambur haru memeluk Luke seketika dipintu.


Luke terlonjak mendapatkan pelukan Kiran yang masih menangis itu, "terimkasih banyak bunny!" Dekap Kiran erat menghidu dalam-dalam aroma maskulin lelaki ini, sungguh tidak bisa ia tahan lagi untuk tidak memeluknya.


"Hemm... kau gadis hebat, kau bahkan mencintai ibu tirimu kau pantas mendapatkan ini."


Kiran yang lebih pendek dari Luke menatap wajah tampan Luke lekat-lekat, "Aku bahagia bertemu denganmu Bunny!"


Cup


Dengan tidak tahu malu dan tak terkontrolanya Kiran berjinjit dan mengecup dahi Luke, Oh shît apa ini?


Jangan memancingku, aku takut aku tidak bisa menghentikkannya.


"Aku tidak punya apapun yang bisa ku balas, tenanglah itu hanya kecupan, aku yang terlalu bahagia bukan berniat metebut Dayana..." Tatap Kiran netra Luke membuat Luke seakan terhipnotis olehnya.


Segera Luke mendorong Kiran kedinding secepat kilat menempelkan bibirnya pada bibir Kiran. seakan reflek dan tidak tahan lagi Luke pun memagutnya lembut.


"BUNN--


.


.


.


.

__ADS_1


.


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2