
Hujan semakin turun dengan lebatnya sepertinya tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam beberapa saat ini, Kiran masih terus menatap pada hujan seraya menunggu apa benar yang dikatakan Luke bahwa dia benar bisa melacak tanpa perlu dikasih tahu hanya menggunakan ponsel yang terhubung.
“Oh ya? Apakah jika ponsel Dayana bisa dihubungi kau akan tahu dimana dia, Bunny?
Sungguh ingin sekali aku melihat wajah cantiknya itu, seperti apa dia orang yang kau cintai itu.” Peluk Kiran dirinya sembari tersenyum menatap pada langit gelap diderasnya hujan tepat didepan teras warung itu.
“Hey anak muda! Ini sudah malam, aku mau tutup warung, maaf aku tidak bisa memberikanmu tumpangan lama-lama, segeralah ambil ponselmu aku akan tutup warungku ini,” ujar nenek itu setengah berteriak.
“Ah iyaa…iya maaf.” Kiran pun segera mengambil ponselnya itu, ia pun mengucapkan terimakasih segera keluar dari warung itu.
Sepersekian detik Kiran keluar dari warung, pemilik warung segera menutup rolling door warung tersebut, mengudarakan bunyi yang kuat di tengah hujan deras.
Kiran akan menunggu Luke beberapa menit lagi diteras warung itu sebelum ia akan menerobos hujan ini dan segera pergi ke tempat yang sudah ia rencanakan sebuah kos-kosan tidak jauh dari sana.
“Ehem...bahkan setelah warung ini tutup kau benar masih menungguku, Little cat?” Suara itu begitu terdengar jelas, sesosok lelaki dengan celan jeans dan atasan jacket memegangi payung tampak berhenti di jarak beberapa meter menatap Kiran.
Kiran menoleh ke arah laki-laki itu dengan sedikit terkesiap Luke itu benar datang, “A-aku menunggumu? Kau percaya diri sekali, aku hanya menunggu hujan sedikit reda agar bisa menyebrang ke halte sebelah sana.”
JEDDDAAAAAAAAAAARRR…
“IBUUUU!” Kiran berlari lebih kedalam mendapati petir yang menggelegar itu, “ Membuat Luke tertawa seketika dan mengayunkan langkahnya mendekat pada Kiran disana.
“Bahkan langit pun marah kau berbohong,” Luke melipat payungnya masih mentertawakan Kiran, “Menyeramkan mana petir atau ayahmu?”
Kiran menggelengkan kepalanya, “Aku tidak suka keduanya, kau benar bisa melacakku, Bunny?”
JEDAAAAAAARRRRRRRR
“Bunnnnnny!!” Kiran kini memeluk Luke erat dengan sangat tidak tahu malunya, “Aku takut petir,” tempat itu mendadak sangat tidak nyaman saat petir mulai menjadi seperti saling bersahutan.
__ADS_1
"Ayo ke mobil disebelah sana!"
Segera Luke membuka payungnya memeluk Kiran dan membawanya berlari pergi dari sana, lelaki itu melindungi Kiran sangat baik bahkan payung itu tidak menutupinya hanya menutupi Kiran saja. Berada diseberang jalan besar mereka pun berlari segera menuju mobil. Luke segera menekan remotenya dan memasukan Kiran kedalam mobil.
Padahal ini dingin tapi kenapa aku merasa hangat? Kiran melihat Luke berlari-lari berputar didepan mobil lalu segera melipat payung meletakkanya di bawah jok mobil dan segera masuk.
Kiran segera menariki tissue disana segera mengusap pada wajah Luke yang basah, lelaki itu basah kuyup padahal mereka hanya sebentar menerobos hujan sungguh benar-benar hujannya begitu lebat.
Luke membiarkan Kiran mengusap wajahnya ia juga ikut mengeringkannya. “Sudahlah ini akan kering terkena pendingin mobil.”
“Nanti kau sakit Bunny, ibumu jauh.”
“Kau kan ada? Tidak mau bergantian membantu?”
Aku bunny? kau mau?
“Kos-kosan apa?”
“Kos-kosan? Sebuah tempat tinggal namun hanya terdiri dari kamar-kamar saja, harganya lebih murah dari pada menyewa sebuah rumah, itu cukup untukku sendiri.”
“Dayana masih berada diluar kota, aku belum berhasil menemukan dia, besok kita cari sebuah appartemen untuk tinggal, mungkin aku masih harus beberapa waktu lagi disini. Ku rasa hotel kurang tidak cocok untuk tinggal lama dan mungkin kau bisa meneruskan appartemen itu nanti setelah aku kembali.”
Kiran terkesiap, “Kita? Aku dan kau, Bunny?”
“Bukan! Aku dan tetesan air hujan, “Luke segera melajukan mobilnya pergi dari sana tidak mengindahkan pertanyaan Kiran.
Kiran memilih diam, mencerna ulang ucapan Luke yang akan mencari sebuah appartemen untuk mereka tinggal berdua, “Itu sebuah tempat yang tinggi kan Bunny? Kita tinggal berdua, didalam satu kamar, Bunny itu tidak boleh.”
Luke menoleh pada Kiran, “Satu kamar?” Dia pun seketika tertawa, “Katamu kau siap membantuku mengurusi pakaian, makanan?”
__ADS_1
“Kenapa kau tertawa, aku bertanya! Tentang itu yaa aku siap, tidak masalah aku akan membantumu selama kau masih disini.”
“Ada beberapa kamar disana, layaknya rumah kontrakan biasa yang kau tempati hanya saja posisinya diatas gedung, keamanannya lebih baik dan fasilitasnya lebih nyaman.”
“Oh ya? Hem.....akankah baik-baik saja jika Dayana tahu kita tinggal bersama?”
“Aku akan ceritakan semuanya tentangmu, menurutmu apa masalahnya?” Lihat Luke pada Kiran kemudian.
“Ehmm…”
Mungkin aku yang akan bermasalah dengan keadaan nanti….
Kiran merenung kembali, salahkah dia mengambil jalan ini, tidakkah ini akan semakin menenggelamkan dia semakin jauh.
Tapi aku berhutang banyak pada dia, bagaimana ini?
“Uhuk! Uhuk!” Luke mendadak batuk merasakan dingin dari pendingin udara dan pakaiannya yang basah.
Kiran yang termenung pun menoleh, “Kan kau sakit Bunny, kau sudah makan?”
“Kita langsung ke hotel sepertinya aku tidak kuat lanjut ketempat makan.” Luke menggigil, tidak ada istirahat, lalu makan pun tidak teratur ditambah terkena hujan menggigil seperti ini, ia yakin dia akan benar sakit sebentar lagi.
“Bunny, sepertinya kau akan demam.” Ambil Kiran tangan Luke sebelah Kiri, ia rasakan lelaki itu menggigil, “Kau gemetaran Bunny! Tidak bisakah berhenti.”
“Sudah akan sampai.”
Luke membiarkan Kiran menggenggam tangannya lalu meniup-niup memberikan rasa hangat menatap kasihan pada laki-laki ini.
Kali ini Luke terlihat benar kedinginan dan tidak baik-baik saja.“Maaf Bunny semua ini karenaku.”
__ADS_1