
Bercandaan Kiran benar-benar membuat Luke tersulut, hampir 1 jam Kiran tidak kembali, Luke benar marah, Kiran membuat Luke murka dan merusak rantai-rantai pada borgol itu melepaskan dirinya sendiri.
Kiran bahkan lupa dia sudah meninggalkan Luke dalam keadaan seperti itu, terdengar oleh Luke dari jauh tawaan Kiran didapur bersama bibi Eve.
Luke segera memakai pakaiannya, melihat luka-luka pada seluruh pergelangannya. Sungguh ini tidak bisa ditolelir, bercandaan Kiran terlalu melampaui batas.
Luke bergegas mengambil kunci mobil turun dari kamar, membuat Eve yang keluar dari dapur terkesiap.
"Luke? Kau akan kemana? diluar hujan."
"Keluar." Jawab Luke acuh.
Kiran yang sedang membuat cake pisang mendengar suasa sang suami segera meletakkan pekerjaannya, dan keluar dari dapur.
"Bunny mau kemana!" Pekik Kiran saat Luke sudah akan ke garasi.
Luke tidak menjawab segera menekan remot mobilnya dan masuk kedalam sana, Kiran terus berlari-lari.
"Bunny! Hey mau kemana?"
Suara deru mobil mengudara kuat, Luke segera menutup pintu mengacuhkan Kiran begitu saja, Kiran pun ingat kesalahannya ia tadi meninggalkan Luke dalam keadaan tidak baik dan berposisi mengikatnya.
Kiran berlari-lari kelur garasi mengejar Luke yang sudah memundurkan mobil bersiap pergi, lelaki itu benar-benar mengacuhkan istrinya, ia pun tidak peduli tangannya yang sakit.
"Kau mau kemana! Bunny, tunggu!"
Kiran terus berlari-lari, tidak peduli Luke bergerak cepat, "Bunny! BERHENTI!!!" Teriakan Kiran sembari berlari-lari membuatnya tersenggal-senggal dan membungkukkan tubuhnya.
Dengan gerakkan mundur yang cepat seketika Luke mengerem mendadak, membuat decitan kuat mengudara, nyatanya dia tidak tega melihat Kiran seperti itu.
Luke berhenti, menarik nafasnya berat menyandar pada tempat duduknya, menatap dengan kesal Kiran disana yang berangsur berjalan cepat menuju mobil, lalu membuka pintu.
"Kau akan kemana bunny?"
__ADS_1
"Keluar."
"Keluar kemana ini, kau tidak lihat cuacanya?"
Luke mengacuhkan Kiran, enggan juga melihat Wajahnya itu, Luk benar-benar merasa telak sekali.
"Hujan air atau badai salju sekalipun itu diluar, aku akan menemui temanku didalam ruangan."
"Aku ikut!" Kiran segera masuk kedalam mobil Luke dan segera menutup pintunya.
Luke padahal tidak tahu akan kemana, ia melajukan saja mobilnya pergi, Luke mengemudi dengan tidak santai benar-benar melaju kencang.
Beberapa kali Kiran menoleh pada pada wajah yang kesal itu sebab ia nyaris miring-miring dan terhantukkan kepalanya ke jendela.
"Bunny-- kau marah?"
"..."
"Bunny?"
Seketika Kiran melihat pergelangan tangan Luke yang memar kemerahan, berbentuk garis tebal diarea nadi tangannya.
"Kau terluka, bunny a-aku... "
"AKU APA? Kau lupa bukan sudah berbuat apa pada suamimu? Kau sengaja mengerjainya? Itu lucu bagimu? Lelucon? Kau tertawa!"
Kiran menarik nafasnya berat, "Bunny-- sungguh tadi aku berniat hanya akan meninggalkanmu 10 menit saja, tapi saat sudah didapur aku terlena dengan pekerjaan dan perbincanganku dengan bibi Eve, aku sungguh lupa."
"Ya lupakan saja kau punya suami, lupakan!" Pekik Luke.
Kira menyadari kesalahannya ia memilih diam saja, "Maafkan aku bunny--" Kiran tidak tahu haru berkata apa selain diam, biarkan Luke dengan emosinya, Kiran tidak ingin menyanggahnya takut Luke semakin meledak-ledak.
Ia pun tidak tahu akan kemana mobil Luke melaju pergi, Luke terus saja mengemudi ugal-ugalan.
__ADS_1
"Jika tertabrak dan aku mati, kau mungkin akan puas... sudah sangat kesal denganku."
Luke segera memelankan laju mobilnya, masih dengan air muka yang marah, Kiran sengaja terus melihat ke arah Luke, agar dia paham Kiran menyesali kelalaiannya itu.
30 menit berselang, jangan tanyakan Kiran mereka ada dimana, sedari tadi Kiran hanya bisa pasrah, saat kemudian Kiran sedikit menegakkan tubuhnya ia pun lihat mereka ada disebuah bukit yang tinggi dan didepan mereka tepat dibawah sana adalah laut.
"Bunny?"
Luke masih tidak berucap apapun dia memberhentikan mobilnya tepat diatas batuan dengan view indah laut dijauh sana. Luke merendahkan sandaran kursinya memilih menyandar denga kakinya ia naikan ke dashboard.
Kiran tidak ingin menegur, membiarkan Luke dengan dirinya sendiri, ia tatapi rintik hujan yang akan turun lain, pemandangan laut biru yang tenang dihadapan mereka yang jauh itu. Dia yang membuat Luke kesal maka dia harus membuatnya membaik lagi.
Kiran melepas seat beltnya, ikut menurunkan sandaran kursi, dia bukan mau menyandar namun agar bisa bergerak ke tempat Luke.
Dengan percaya dirinya Kiran bangkit dan menaiki tubuh Luke, berpangku menghadapnya," Jangan tolak aku!" Posisi dominan seperti ini sudah jelas Luke tidak bisa berkutik.
"Apa yang kau lakukan!"
"Duduki suamiku? Kenapa?" Kiran melingkarkan kedua tangannya dileher Luke, menatap wajah Luke lamat-lamat, "Aku minta maaf... "
"Turun!" Paksa Luke berusaha mengangkat punggung Kiran.
Namun Kiran malah menggodanya, merobek stocking panjang yang ia kenakan, membuka pakaian Luke yang ia kenakan disebalik dressnya, lalu menurunkan segitiga tipisnya dengan sedikit bangkit.
"Laut, jurang, mobil, tempat yang bagus..."
"Menyingkir! Kau jangan gila... "
"Kau yang mengajariku kenapa!"
"Turun, aku--" Luke menggantungkan kalimatnya.
"Kau kenapa?"
__ADS_1
"Persetan dengan apapun, aku.... mau...." Luke sudah menahan sedari siang akhirnya meledak, segera ia dorong sedikit Kiran melepaskan celananya.