
Kiran mengendap-endap memasuki teras rumah kontrakan yang ditempati ibu tiri dan adiknya itu, suasana rumah tampak begitu sepi, pintu dan jedela tertutup halaman rumah pun tidak tampak Ine seperti biasa bermain diluar, sepertinya tidak ada orang dirumah.
“Apa ibu sudah pergi ke kantin? Mana Bima dan Ine?”
Tok tok tok
Kiran mencoba mengetuk berkali-kali sembari mengintip ke jendela, didalam suasana rumah pu nntampak gelap gulita seperti tidak ada orang, Kiran memutuskan masuk lewat pintu belakang yang mana pintu belakang bisa di buka hanya menggunakan colokan jari saja.
“DARI MANA KAMU!” Pekik suara parau itu dibelakang Kiran saat dia akan pergi ke pintu belakang.
Kiran tergagap mundur beberapa langkah kebelakang, “Da-dari— mana Ibu dan Ine? Kemana orang-orang dirumah?” Kiran tidak takut untuk menentang.
PRAKKKKKKK!!
Sebuah tamparan mendarat dipipi Kiran lalu tangannya segera di tarik oleh Yuda sang bapak, “Kamu jangan main-main sama saya, kamu berani lari dari sana! Kamu tahu kamu sudah mempermalukan bapak kamu!”
Kiran merasakan kesakitan tangannya yang ditarik Yuda dia menahan untuk tidak merengek, “Mana ibu dan Ine! BIMAAA KAMU DIMANA!” Kiran berteriak tidka peduli dengan kesakitannya.
PRAKKKKK!
Satu pipinya ditampar lagi, “Siapa mereka untuk kamu, terserah saya mau apakan mereka sekalipun aku bunuh dan buang ditempat yang bisa mengasilkan uang bukan urusan kamu anak sialan!”
“TOLONG!!”
“TOLONG! TOLONG TOLONG!” ulang Yuda tertawa atas Kiran yang berteriak meminta tolong, “Kamu fikir siapa yang berani menolong kamu! Bima? Mana adik kamu dia sudah angkat kaki!”
“NGGAK! BIMA NGGAK MUNGKIN NINGGALIN KAKAKNYA!” Teriak Kiran.
Yuda tertawa cekikikan, “Bima entah dimana tapi kamu pasti ingin tahu dimana Ine bukan?” Hahaha…
Yuda mengerluarkan ponselnya lalu memperlihatkan dilayar video adik tirinya Ine, tampak disana sebuah jalanan raya besar dan Ine diantara para pengemis sedang meminta-minta.
“INEEEE! INE! Bapak sakit jiwa, bapak tidak waras! Ine itu masih kecil apa yang bapak buat dengan dia, dimana hati bapak! Dimana fikiran bapak!”
__ADS_1
“Uang! Semua butuh uang, jika kamu menurut semua tidak akan pernah terjadi. Dan mau tahu dimana Ayuning? Mau tahu dimana ibu tiri sialaanmu itu?” Hahah…
“Dimana! Katakan! jangan sakiti ibu, jangan buat dia menderita, sudah cukup semua yang bapak buat sama ibu dan Ine, bapak itu harusnya nggak perlu dikasih umur panjang, hidupnya nggak berguna!”
PRAKKKKKKK….
Hantaman kuat lagi-lagi membuat Kinar hampir terhuyung, pipi mulusnya memerah, Yuda menjadi sangat murka ia pun membabi buta menjambaki Kinar, “Anak kurang ajar! Anak sialan! Sama seperti ibu kandungmu, mulut sampah perempuan tidak berguna, lihat saja ibu tirimu sialan itu tidak akan pernah pulang, dia tidka akan pernah kembali lagi!” Yuda membuat Kiran tersungkur jatuh namub gadis itu berusaha kuat untuk bangkit.
“Bapak sialan! Tidak berguna!” Kiran bangkit sekuat tenaga dan mendorong Yuda sekuat kuat, membuat Yuda nyaris terjatuh kemudian Kiran pun berlari kencang melepaskan diri dari Yuda.
“BERENGSEEKKKKK!”
Yuda menggeram kesal, ia pun mengejar Kiran tidak peduli para tetangga melihat semua yang terjadi disana.
Kiran terus berlari sekencang-kencangnya memasuki lorong-lorong kawasan pemukiman padat penduduk itu.
“Pak polisi!!!!!!!!”
Kiran berteriak kuat melihat seorang polisi lewat dihadapannya denga sepeda motor membuat Yuda yang berada di tempat yang jauh berhenti seketika dan berbelok arah, Yuda pun ketakutan ia mengumpat kesal Kiran, sungguh dia tidak akan melepaskan Kiran akan ia beri pelajaran anaknya itu.
“Ah tidak pak, saya tadi dikejar orang gila mungkin dia sudah tidak mengikuti saya lagi, terimakasih pak! Maaf menggangu! Kiran mengangguk hormat dan segera pergi dari sana.
...***...
Di tempat lain Luke baru saja tiba disebuah kediaman adik dari mendiang sang ayah yang sudah ia tidak temui mungkin sejak ayahnya meninggal kecelakaan belasan tahun silam. Sebuah showroom mobil kini menjadi tempat Luke datangi milik pamannya itu.
lelaki bernama Juant Lugos tersebut sudah memiliki keluarga disini dan anak-anaknya pun sudah besar semua, lelaki itu juga sudah berpindah kewarganegaraan mengikuti sang istri juga mendirikan usaha di Negara ini.
Luke memang terkenal pintar sedari dulu ia juga mampu menguasai beberapa bahasa dengan baik, keluarga Rodriguez memberikan pendidikan yang terbaik untuk Luke, wajar dia begitu patuh dan tunduk pada Morean sanden meskipun terkadang tidak diluar jalur pekerjaanya.
“Tidak pernah akan aku sangka kau akan sampai disini Luke!” Sambut Juant antusias keponakannya itu, “Aku bahkan tidak pernah pulang setelah kakaku meninggal sebab aku tidak tahu akan kemana lagi, bagaimana kabar Dora ibumu?” ucap pria bule berbadan besar dan sudah tampak tua itu
“Ibu akan menikah tapi tidak tahu…” Luke pun tertawa.
__ADS_1
“Oh ya? Selama ini ibumu sendiri? Kalian masih tinggal di Rodriguez House orang yang terlibat kecelakaan dengan mendiang ayahmu itu?”
“Tentu… Dora disana sebagai kepala asisten dan disanalah kehidupan kami.”
“Baiklah nanti ikutlah denganku, kau punya keluarga disini, bagaimana dengan ornag yang kau cari sudah kau temukan alamatnya?”
“Yeo sha cheng, itu nama pabriknya, aku belum mencoba mengunjungi tempat itu tapi mungkin hari ini akan kesana.”
“Yeo sha cheng itu pabrik apa? Aku tidak pernah dengar? OH YA! Kau tinggal dimana? Tinggallah dirumah paman, disana ada beberapa kendaraan yang mungkin bisa kau pakai sementara.”
“Itu nama pabriknya di Hongkong juga di Singapura tapi aku tidak tahu disini namanya apa, pemiliknya tidak bisa terlacak, banyak perbedaan data dari pencarianku di internet.”
“Ya, tentunya tidak semua data mudah ditemukan di , aku bisa membantumu mencarinya nanti.”
“Terimakasih paman ku rasa aku akan cari sendiri, pekerjaanmu banyak! Aku ada beberapa rekan disini tapi belum ku temui, mereka dari Negara yang sama dengan kita.”
“Baiklah semoga berhasil Luxe, aku turut prihati yang terjadi dengan gadis itu, ada banyak yang seperti dia dinegara manapu, ayo kita temui istriku!”
...***...
Kiran yang babak belur tidak tahu akan kemana, dan ia pun tidak tahu dimana Bima adiknya saat ini, Bima tidak bisa dihubungi, Kiran dengan segenap rasa segan dan tidak enaknya pun mau tidak mau kembali ke hotel dimana Luke berada itu.
Kiran tidak naik keatas memilih menunggu Luke diluar taman hotel berjongkok memeluki lututnya bersembunyi disana, tubuh kecil membuat orang tidak sadar ia sedang ada disana memeluk lutut dan menangis namun ia melihat jelas siapa saja yang lewat disana.
Kiran tidak tahu bagaimana cara menghubungi Luke, kartu nama yang diberikan Luke jatuh dijalan saat ia berlari-lari tadi, ia akan menunggu berharap Luke akan datang lagi kesini namun jika Luke sudah pergi ketempat lain ya... dia harus pasrah mungkin menyerahkan diri pada sang bapak adalah pilihan terakhir, sebab adik dan ibu tirinya entah bagaimana saat ini, apa lagi Bima adiknya mungkin juga sedang dalam bahaya.
.
.
.
.
__ADS_1
Lapak sepi guys, klo like gak tembus 1000 males bgt mau up.