
Kiran bergidik ngeri, seluruh tubuhnya meremang Luke berhasil melepas pelindung dua benda yang Kiran tutup. Tangannya bergerak lembut menjalari setiap lekuk tubuh Kiran dengan bibir mereka yang terus beradu.
Luke memperdalam ciumannya mengabsensi rongga-rongga, Kiran mulai menikmati setiap sentuhan. Perlahan bibir terlepas Luke lagi dan lagi melucuti leher jenjang Kiran dan turun kedadànya.
Lenguhan mulai terdengar saat sesuatu benda terasa disambar oleh Luke, ia merunduk menggigiti kecil sesuatu disana.
"Bunny--"
"Bersuaralah, tidak akan ada yang dengar..."
"Mau pipis...tidak tahan lagi..." Kiran melampirkan wajah polos nan menggemaskannya. Lagi-lagi membuat Luke menarik nafas.
"Oh Tuhan!" Luke menjambak Rambutny sendiri, "Ya pergilah, " Luke melepaskan Kiran, Kiran pun berlari-lari kecil menjauh. Luke sungguh frustasi, mendadak lagi-lagi semua terbuyarkan, dia benar-benar harus banyak bersabar menghadapi Kiran.
Alhasil Luke menyegerai mandinya, mungkin tidak bisa melakukan sekarang, Kiran butuh waktu dan mungkin sesuatu yang menjelaskan tatacara ke arah sana.
Kiran memperlambat buang airnya, ia sengaja sekali memperlambat, hingga ia lihat dari jauh Luke sudah mandi dan tidak terlalu lama segera keluar dari sana.
Kiran ber'yes senang melihat Luke yang pergi, akhirnya ia pun mandi, menikmati busa-busa melimpahnya, berlama-lama disana. Sesekali ia menatap dikaca, mengumpati Luke seperti drakula membuat lehernya merah-merah.
"Menyebalkan!"
...***...
Tidak lama Kiran segera keluar dari kamar memakai dua handuk menutupi tubuhnya, Luke masih sedang memilih-milih pakaian dan mengeluarkan beberapa barang dari kopernya.
"Belum pakai baju bunny!"
"Tolong pakaianku?" Luke merasa ingin dilayani ingin Kiran yang melayani.
Kiran menarik koper mereka, lalu membukanya untuk ia keluari semua barang-barang disana dan menyusunnya. "Pakai baju yang dikoper mau?"
"Terserah..." Luke sibuk menyemprotkan parfum ke tubuhnya semari disan.
Segera Kiran mengeluarkan pakaian-pakaian dari koper milik Luke, merapikan satu persatu, "Ini barang milikmu semua bunny--" Tiba-tiba Kiran menghentikan bongkar membongkarnya, ia menemukan lagi susunan piyama kenangan didalam sana. "Kau masih menyimpan ini, bunny?" ucapnya pelan. Kembali teringat jelas ucapan Luke saat membanggakan Dayana kala itu dan Dan ucapan Daya tentang Luke, menjadikan sosoknya sebagai nama brand.
Kiran meletakkan benda itu lagi, kemudian mengambil asal setelan pakaian untuk Luke, dan memberikannya. Ia pun bangkit dari sana.
__ADS_1
Kenapa dia tidak bisa mengahalau rasa kecemburuannya padahal itu hanya masa lalu, tapi sungguh Luke benar-benar memperjuangkan wanita itu dulu, bahkan kemarin Luke tidak melakukan itu untuknya malah membiarkan dia bersama Arga.
Kiran merasa iri sekali, ia pun mengambil pakaiannya dan memakainya ke sisi lain menjauhi Luke.
"Mau kemana?" Tanya Luke melihat Kiran yang tiba-tiba pergi.
Kiran tidak mengindahkan dan Luke lihat diatas kopernya ada susunan beberapa piyamanya pemberian Dayana itu. Luke langsung paham dan segera memakai pakaiannya langsung menyusul Kiran.
Kiran mengalihkan wajahnya sibuk memakai pakaian, Luke langsung memeluknya dari belakang.
"Piyama itu? Kau terganggu?"
"Tidak--"
"Bohong! Aku akan membuangnya, tunggu!"
"Menjauhlah aku mau memakai baju." Tepiskan Kiran Luke yang terus saja memeluknya.
"Aku tahu kau mengingat-ingat yang pernah terjadi."
"Tidak siapa bilang, aku hanya menyesalkan kenapa kau memperlakukan aku berbeda." Tanpa Kiran sadari bulir beningnya lolos begitu saja, "Kau tidak memperjuangkanku, kenapa seperti itu? Aku merasa jauh tidak berharga dari dia."
Luke tersenyum, lihatlah dia berdrama, "Tidak memperjuangkanmu, oh.... "Luke menjauh dan tertawa, "Hey aku tidak memperjuangkan dia!" Luke malah memperolok Kiran membuat Kiran semakin terseduh-seduh.
Hiksss hiksss....
"Lihatlah dia menangis tanpa mau sadar, hi aku menyerahkan seluruh hidupku mengikutimu, hey..
bagian tubuhku, kau bisa bicara katakan pada dia, aku melakukannya demi dia, bukan perkara cinta-cintaan saja namun hidup dan seluruh pandanganku, aku melangkah ke lain arah keluar dari yang selama ini aku jalani, bukan! Bukan karena dia."
Luke segera keluar dari kamar, kesal sekali dengan Kiran, sungguh Kiran mengungkit hal yang salah, mendadak keadaan menjadi dingin.
...***...
Di tinggalkan Luke keluar, otak Kiran pun bekerja, dia pun sadar akhirnya, kecemburuan menutup akal sehatnya kenapa dia seakan lupa apa yang Luke lakukan. Mendadak Luke jadi marah sungguhan karena kecemburuannya, Kiran segera bangkit dari tempatnya dan segera mengambil piyama itu untuk ia buang.
"Kau membuatku marah! aku benci piyama!"
__ADS_1
Tidak lama Luke kembali kekamar ia membawa sebuah nampan berisi segelas roti dan potongan roti. Dia lihat diujung kamar Kiran sedang meletakkan sampah ditepat sampah.
"Sarapanmu, belum ada nasi nanti aku minta Jaime dan istrinya membelikan beras untukmu." Luke menjatuhkan dirinya ke sofa, lalu menyalakan televisi, Luke masih bisa bersantai hari ini, lusa ia baru akan mulai bekerja.
Tidak menjawab ucapan Luke, Kiran yang sudah sadar diri mengayunkan langkahnya mendekat pada Luke, menjatuhkan dirinya dipangkuan Luke dengan kedua tangannya melingkar dileher Lukr.
"Maaf...."
Luke akan luluh jika sibayi kucingnya sudah seperti ini. Menempel pada wajahnya bersikap seperti anak kecil yang sedang ingin mencari perhatian, "Aku cemburu... aku membuang piyamanya... "
Luke tertawa, "Ya lakukan apapun asal kau nyaman."
"Hemmm...tidak perlu mencari nasi, aku akan makan apapun yang kalian makan, nanti jika rindu nasi aku akan memintanya, aku ingin terbiasa," Cup...
Kiran mulai berani mengecup bibir Luke duluan, memainkan rahangnya yang berbulu halus itu, kembali terus ia kecupi pipi kanan dan kiri lalu menempelkan hidung dan dahi mereka.
Sungguh sangat memancing, segera Luke mendorong Kiran hati-hati ke sofa lebar itu, "I want you, lebih dari ini... " Luke menaiki tubuh Kiran, dalam satu tarikan ia melepas dress yang Kiran gunakan.
Menjalari lehernya dengan kecupan, tangannya mengusap-usap lembut semua area sensitive Kiran, Kiran mulai meremang, ia bergerak gelisah, "Bunny--" desàhnya saat tubuhnya mendapati banyak sentuhan.
Ia merasakan banyak kupu-kupu berterbangan diperutnya, merasakan setruman-setruman yang menuntut sesuatu yang lebih untuk segera terjadi.
Luke segera melepaskan pakaiannya, ia mengukung Kiran kembali, mulai membelah si pemilik tubuh sudah memasrahkan diri. Namun seketika Kiran terbelalak saat melihat sesuatu benda yang asing baginya.
Sepolos itu fikirannya dibahkan baru tahu seperti apa bentuknya saat berèreksi, penyatuan pun terjadi. Sesuatu seperti Luke paksakan.
Aaaaaa.
"Sa-sakit bunny!" Kiran berucap jujur, ia merintih kesakitan.
"Sedikit..." Luke mendekati wajahnya pada pipi Kiran, berbisik lembut meminta Kiran menikmatinya saja, menjelaskan penuh cinta ini akan sakit diawal saja sisanya dia mungkin akan suka.
Tubuh atletis Luke bergerak naik turun, perlahan berhenti membiarkan Kiran menggigitnya ia benar-benar Kiran menangis, Luke terus menjalari lembut leher Kiran agar ia bisa terbiasa dan melupakan sakitnya. Bibirnya berulang-ulang dipagut hingga akhirnya Kiran mulai terbiasa dan merasakan gelombang rasa yang sungguh tidak pernah ia rasakan sebelumnya menyetrumi seluruh tubuh hingga tulang-tulangnya.
Beberapa menit kemudian Luke memberhentikan aksinya ia menahan sesuatu didalam sana, menempelkan wajahnya pada wajah Kiran.
"KAU MENGENCINGIKU, BUNNY?" Teriak Kiran, ucapan polos itu keluar dari bibir Kiran yang memang tidak mengerti sama sekali, ia mendorong Luke seketika, menghilangkan lagi-lagi suasana romantis harusnya terjadi diakhir pencapaiannya.
__ADS_1