SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
First Sweet.


__ADS_3

Luke tengah berkumpul dengan keluarga dari pihak pamannya itu, kehadiran dia sebagai saudari Juant sangat disambut baik oleh Tiana selaku istri. Luke merasa sedikit lega dia tidak sendirian disini, ia pun memiliki 2 adik sepupu perempuan yang keduanya sudah berumah tangga dan memiliki anak.


Tiba-tiba saja Luke dihubungi seseorang dari hotel tempatnya menginap, sebab menemukan seorang yang pingsan dan wajahnya mengalami beberapa lebam, salah seorang pihak hotel mengatakan ada yang pernah melihat gadis itu kemarin bersama penghuni kamar 101 membuat mereka segera menghubungi Luke yang memang masih stay disana untuk beberapa hari kedepan.


"Sorry?" ulangi Luke yang terperangah mendapati kabar itu.


Pihak hotel menjelaskan bahwa gadis itu ada ditengah-tengah taman hotel, di sana sedang hujan sepertinya gadis itu tadinya sedang bersembunyi disana, namun tidak tahu bagaimana seorang pengunjung hotel melihat gadis itu sudah tergeletak lemas begitu saja.


"Oke, saya akan kesana sekarang! jaga dia tolong!" Luke menjadi panik, ia akan bergegas menemui Kiran yang mana saat ini dikatakan gadis itu sudah ada di sebuah klinik tepat di seberang hotel.


"Ada apa Luke?"


"Entahlah paman, aku tidak sengaja bertemu seorang gadis tepat dihadapanku dia dikejar-kejar orang, dan tidak sengaja aku tahu dia mengalami hal yang sama dengan Dayana. dia pendatang disini keadaan ayahnya membuat dia dipaksa menjadi budak sexx dan gadis simpanan."


"Oh God!" Tiana dan Juant terkesiap, "Masih banyak seperti itu di kota ini, anak-anak mudah dari desar terjerumus dan jatuh."


"Aku pergi dulu paman!"


"Gunakan mobilku Luke! Ku rasa dari sini ke tempatmu menginap tidak jauh, kau tidak mungkin tersesat."


Luke ragu untuk mengemudi dijalanan yang jelas berbeda dengan negaranya namun ini adalah pilihan yang bagus dan lebih efisien. Segera Luke menerima kunci dari sang paman untuk bergegas kembali ke hotel.


"Take care Luke! jangan sampai terjebak masalah lain!" Peringatkan paman saat Luke siap pergi.


...***...


Di klinik Kiran sudah bangun, kepalanya masih terasa sakit, yang mana pagi-pagi buta dia sudah banyak muntah lalu sampai dirumah dipukuli sang bapak, ia ketiduran hingga kehujanan ditaman hotel.


Luke terlihat sedang bersama seorang perawat yang baru saja mengambil sample darah Kiran memeriksa keadaanya, lelaki itu tampak begitu khawatirnya pada Kiran.


"Om kau disini?" Panggil Kiran dengan suara pelannya.


Luke pun segera menoleh, "Suster dia bangun!" ucap Luke mendatangi Kiran ditempat pembaringannya, "Apa yang sudah terjadi?" dan seorang perawatpun datang memeriksa segera.


"Sebentar...." ucap perawat itu pergi.

__ADS_1


Kira menunduk pilu, "Sudah tahu jawabannya kan?"


"Ini sudah sangat berbahaya kita perlu lapor polisi."


"Lalu dia didalam penjara akan minta rekannya yang lain diluar penjara untuk mengaianyaku lebih parah?" Kiran menyengir kuda, "Ibu dan Ine dibawa bapak entah kemana, Bima adik ku juga entah menghilang kemana, Ibu! hiksss, "Ibu pasti disuruh kerja dipanti pijat lagi, Ine ada dijalanan bersama para pemulung tapi aku tidak tahu dimana! Aku harus apaaaa! Aku harus apa!"


Kiran menangis terseduh-seduh, sakit yang ia rasakan saat ini tidak ada apa-apanya dengan bathin yang diporak-porandakan bapakanya.


Luke diam sejenak menatap nanar Kiran, "Ayo temui bapak kamu!"


Kiran terperangah menatap pada wajah Luke, "Temui bapak? Mau apa?" Kiran sudah begitu lelah menjalani ini semua.


"Uang bukan? Tanyakan berapa yang dia mau."


Luke berucap begitu tenang, sungguh ia pun tidak tahu harus bagaimana, tidak ingin kejadian Dayana menimpa pada Kiran juga, dia gadis baik, masa depannya masih panjang.


Luke tidak kenal Kiran namun mungkin bisa menembus rasa bersalahnya pada Dayana yang tidak sempat ia selamatkan.


Netra Kinar berkaca-kaca kini ia ingat sesuatu hal, "Om?"


"Kau mendapatkan sebuah rencana?"


"Membelimu?" Luke tidak mengerti ini, apa maksdunya apakah dia pasrah begitu saja menyerahkan diri kepada dia, "Aku akan menolongmu tapi bukan ingin menjadikan milikku atau wanitaku."


"Ya aku tahu, itu hak mu! terserahmu usai membeliku dari dia! aku akan sangat berterimakasih jika kau ikhlas membiarkaku tetap hidup bebas lalu pergi dari lingkungan bapak."


"Selesaikan sekarang? Kau belum terlalu sehat!"


"Tidak masalah ini hanya sakit biasa, jangan lama-lama disini, hanya numpang bernafas saja ditagih pembayaran."


"Berhentilah hitung-hitungan kucing malang, jika aku membelimu maka artinya aku juga yang akan membayar semuanya."


Kiran mengulas senyuman, "Kau jahat! tapi ini lebih baik, jika kau benar membeliku dari bapak, kau bisa memerintahku apa saja, mungkin jadi pembantumu."


Luke menyengir kuda, "Kau sangat siap? Menyerahkan diri."

__ADS_1


Kiran memeluk dirinya seketika, "Bu-bukan perintah yang kau fikirkan."


Luke sungguh geli dia tertawa lebar, "Aku masih cukup waras...kekasihku cukup matang dan lebih pantas jadi teman ranjang bukan kucing kecil yang masih panggil mama tapi sudah teraniaya hidupnya, menyedihkab.. ."


Degh...


Luke yang bercanda membuat Kiran yang berhati lembut terenyuh, Hiksss.... "Aku benci hidupku!" Hiksss hikss...


Luke terperangah, "Hey little cat, aku hanya bercanda.... "


"Tapi ucapanmu benar Om... "


Hikssss hiksss....


Luke segera mendekat pada Kiran duduk dipembaringannya, menatap gadis itu lamat-lamat dan tertawa, "Ku fikir kau cukup pemberani, kenapa secengeng ini?" Luke mantap pada pipi Kiran yang ditampari bapaknya, "Dia menamparmu?"


Gadis itu pun mengangguk, "Hemm.... dia jahat, disering memukuli ibu juga..."


"Kau mau aku membalasnya?"


Kiran menggeleng, "Aku hanya perlu segera pergi...."


"Itu lebih baik, kita selesaikan semua malam nanti."


"Aku akan banyak berhutang padamu, Om jika kau berhasil membayarnya untukku, tidak masalah mintalah aku jadi pembantumu? atau mungkin bisa jadi tukang cuci pakaian, memasak atau menyetrika bajumu selama disini, walau itu tidak sebanding."


Luke menarik nafasnya berat, "Bantu aku mencari dia...."


Kiran merasa terharu, "Kau begitu mencintainya Om, baiklah aku akan membantumu mencari dia kekasihmu.... Deal?" Naikkan Kiran jemari kelingkingnya.


Luke tidak tertarik dia malah berfolus pada tang lain, risih melihat rambut Kiran yang begitu berantakan menutupi sebagian wajahnya yang memar.


"Suster berikan aku sebuah karet pengikat!"


"Karet? Itu ada dilaci sebelah pasien... "

__ADS_1


Luke pun segera bangkit dan mengambil benda dilaci itu segera ia menyisir cepat rambut Kiran dengan jemarinya lalu mencepol rambut panjang gadis itu, "Ini lebih baik mataku melihatnya."


Sontak saja Kiran terkesiap, bisa-bisanya lelaki itu terusik dan mau mengikat rambut berantakkannya.


__ADS_2