
“Ini tempat apa?” Luke memberhentikkan mobilnya disebuah danau lebih terlihat seperti sebuah laut yang ditimbun, berbatasan dengan batu-batu besar sebagai pembatas dan diseberang sana terlihat lampu-lampu indah perkotaan sangat indah menyenangkan mata.
“Aku tidak tahu Bunny, sebulan yang lalu aku pernah tersesat disini dan aku menjadi sering kesini saat menghindari pulang bertemu bapak, ayo turun! dibawah sana ada banyak batu-batu dan kita bisa duduk disana.”
Luke turun lebih dari mobil dosusul Kiran kemudian, lelaki itu mengedarkan pandangannya kesekitar, ini sebuah tempat yang baru dibangun mungkin untik sebuah kepentingan real estate atau semacamnya, angin disana bertiup sangat kencang menerbangkan apa saja yang ada ditepian batas air itu.
Kiran sudah melapisi piyama seksi yang ia kenakkan dengan kaus milik Luke didalam mobil namun ia masih merasa dingin, angin sangat kencang menyapu kulitnya, ia memeluk dirinya sendiri, “Jika kau tidak suka kita bisa pulang bunny, ku rasa angin disini terlalu kencang tidak baik untukmu yang kurang sehat.”
Luke mulai menyandarkan dirinya didepan mobil, ia memainkan pemantiknya dengan satu tangan bersembunyi didalam saku, “Tidak buruk, dimana penjual makanan katamu ada banyak penjual makanan disini?”
Kiran menggelengkan kepalanya, “Kau tidak akan bisa makan-makanan yang dijual dipinggiran danau ini, itu ada disebelah sana, aku tidak mau kau sakit dan muntah lagi. Nanti kita akan mampir ke restoran dekat hotel, aku tidak ingin ambil resiko sembarang memberikanmu makanan.”
“Lalu akan apa disini? Hanya berdiri-berdiri saja sampai masuk angin?”
Kiran tertawa pelan ia berjalan mendekat pada Luke, “Kan aku sudah katakan jika kau tidak suka kita bisa pulang, apakah kepalamu masih sakit?”
Luke mengendikkan bahunya. “15 menit memejam di parkiran membuatku lebih baik.”
“Ohya? Bukan karena pijatanku?”
Luke tertawa, “Kau sangat percaya diri.”
“Terserah,” Kiran tertawa dan ikut menyandar didepan mobil menatap [ada hamparan danau yang dibendung itu,”Dari pagi hingga sore kau ditempat pamanmu bukan? Bagimana dengan Dayana?”
“Masih belum ada kabar, jika dalam seminggu ini aku tidak juga mendapatkan kabar darinya, aku akan memaksa pekerja dirumahnya untuk membuka suara.”
__ADS_1
Kiran mengangguk mengerti, “Semoga sebelum seminggu kabar baik segera datang, kau bisa bertemu dia lalu segera membawanya pulang.” Sebuah senyuman tipis terbit dibibir Kiran sungguh ia tulus bahagia jika Luke bahagia walau ada sakit yang selalu menyambar dan munusuknya sakit.
“Kau suka aku pulang? Sebab sudah ada orang lain yang bisa membantumu?”
Kiran melihat sebal pada wajah Luke yang berbicara selalu tajam itu.“Aku senang atau tidak, kau akan tetap pulang,Bunny. Ini bukan tempatmu, kau hanya melakukan perjalanan dan pada akhirnya kau akan kembali ke asalmu, hidupmu keluargamu.” Kiran menoleh pada wajah Luke lelaki itu tidak merespon ucapannya ia sangat datar, “Aku akan sangat merindukanmu tapi sekarang segalanya tidaklah sulit kita tidak tahu kapan lagi bertemu menatap dalam nyata atau memegangmu seperti ini tapi kita bisa tetap berkomunikasi dan saling melihat lewat alat telekomunikasi.”
Sesuatu hal terlintas dibenak Luke, kenapa mendadak ia beharap masalahnya lama selesai.
“Hemm aku siang tadi membeli sesuatu dari tempat bibi, dia merupakan pengusaha diamond.” Luke merogoh saku-sakunya, “ Oh didalam mobil,” Segera ia masuk kedalam mobil dan mengambilnya dalam laci.
‘Diamond, berlian? Dia membelikan untukku?’ Sebuah senyuman tipis nyaris tidak terlihat terbit dibibir gadis itu membuat wajahnya berseri.
Segera Luke datang membawa kotak perhiasan kecil itu lalu membukanya, “Sepasang anting dengan batu langka dari bagian selatan Afrika, aku membelinya untuk Dayana, bagaimana menurutmu?”
Tubuh Kiran seperti tergoncang oleh sesuatu yang menghantamnya sangat kuat, dia terlalu berharap atau mungkin selalu percaya diri, Kiran mencoba tenang dan memperlihatkan senyumannya walau rasanya begitu sulit sekali. “Cantik bunny— “ Kiran tidak mau memegangnya. Itu bukan miliknya.
Kiran mengangguk, “Hemmm…sangat cantik cocok dengan dia yang pasti sangat cantik.
Luke memutar-mutar kotak perhiasan itu,”Tapi aku rasa Dayana tidak menyukai ini, dia tidak suka memakai sebuah anting.”
“Oh ya?”
Kau ingin menjelaskan padaku kau sangat mengenal baik dia, kau memamerkan kebahagiaan dan kedekatan kalian, bunny?
Hawa dingin disana bahkan sudah membuat Kiran mati rasa, terlalu kalah dan lebih didominasi dengan rasa sakit bercampur perih.
__ADS_1
“Mungkin lebih baik kau memakainya dari pada harus dikembalikan.”
Kiran menggerakkan tangannya, “Ti—tidak bunny, aku tidak biasa memakai perhiasan terlebih lagi barang mahal.”
“Pakailah demi aku.” Luke memaksanya, kini ia mengeluarkan anting itu untuk ia pasangkan pada Kiran, “Kau pernah memakai anting sebelumnya bukan?” Luke memaksakan diri memasangkan, saat ia lihat ada bekas bolongan anting ditelinga Kiran.
Kiran rasanya ingin menangis dan teriak sekencang-kencangnya, betapa jahat dan tidak punya hatinya dia, membeli untuk Dayana lalu ingat Dayana tidak akan suka maka aku berhak menerima sisanya.
Luke begitu antusias memakaikan anting itu pada telinga Kiran, wajahnya begitu dekat pada Kiran saat memasangkan, ‘Ia menancapkan sesuatu yang harusnya milik Dayana kepadaku tidakka dia tahu ini menusukku.’
“Aku ingin pulang, Bunny!” Kiran berucap setelah Luke selesai memasakan anting itu.
“Pulang? Kita baru sampai.”
Denyut hatinya seakan membuatnya kelu, “Aku ingin istirahat, ku rasa kau pun begitu.”
“20 menit lagi, aku ingin mengajakmu berjalan-jalan di batuan itu, setelah itu kita kembali, Ayo!” Bawa Luke tangan Kiran tanpa perlu mendapati jawaban dia menerima atau tidak.
Luke selalu mendominasi hanya dia yang seakan harus dituruti, sipemilik tubuh bahkan tidak ada hak lagi atas dirinya sendiri.
Luke menggandeng tangan Kiran berjalan ketepian, sungguh bagaikan sedang dirajam Kiran rasanya tidak sanggup lagi berucap, ia ingin sekali menangis saat ini.
Aku nyata kau genggam dan kau gandeng tidak pernah terlihat dimatamu namun dia yang masih semu dan entah dimata seakan nyata dipelupuk mata hingga hidupmu.
__ADS_1