
“Bagaimana dengan little cat, Ga?” Luke menghubungi Arga. “Ponselnya tidak bisa dihubungi.”
“Hi Brother, Kiran sedang didalam dia sedikit sibuk, jika kau mau lihat situasi dan sudah sehat datanglah kesini.”
Luke segera mematikan panggilannya ia memang sudah berada dimobil siap untuk datang ke kantor Arga namun memeriksa keadaan dulu, tidak menunggu waktu lama Luke yang sudah hafal jalan menuju ke kantor Arga sebab sudah beberapa kali kesana segera melaju kencang ketempat itu.
Masih saja terngiang oleh Luke ketolôlannya pagi tadi, bersikap seperti itu kepada Kiran. Masih terasa jelas bibir mungil nan lembut itu ia paguti, aroma manis dari pakaiannya yang ia hidu, sial Luke merasa telah terasuki. Yang mana pagi-paginya beberapa jam gadis itu tidur memeluknya.
Entah bagaimana ia akan bersikap nanti, apakah berpura-pura tidak terjadi apapun adalah cara yang ampuh?
Di perjalanan Luke menghubungi seseorang yang ia minta untuk melihat keadaan rumah yang ditempati Dayana yang tidak lain adalah satpam yang saat itu membantunya menunjukkan alamat. Namun sampai hari ini belum ada tanda-tanda Dayana ada disana.
Sebenarnya apa yang tengah terjadi? Apakah dia berlibur dan menjalani kehidupan normal atau dia menjadi seorang yang seperti dulu dipaksa melayani dan mengikuti kemanapun orang itu membawanya.
...*** ...
15 menit berlalu mobil yang Luke kendarai akhirnya sampai digedung perkantoran dimana Arga berada, sebuah kantor Agency periklanan juga sekaligus production house. Membawa keraguan ia akan bersikap apa didepan Kiran nanti, Luke segera turun dari mobilnya.
Luke segera menghubungi Arga memintanya menjemput dia dibawa sana, Arga yang kebetulan sedang dibawa pun menghampir Luke dilobby perkantorannya tersebut.
“Man naik, aku tidak tahu apa yang sedang anak kucingmu itu lakukan tadi saat aku tinggal sedang berganti pakaian nanti aku dan dia juga ada disatu scene yang sama.” Mereka pun masuk ekdalam sebuah elevator.
“Oh ya? Suda melakukan kontrak kerja?”
“Sudah, tenang ini mungkin tahapan yang baik untuknya, kau dari tempat Dayana?”
“Hemm, dia belum juga kembali, jika dalam seminggu ini tidak ada kabar aku akan memaksa wanita tua pembantu dirumah itu untuk menjelaskannya.”
Arga pun tertawa, “Ide bagus, asalkan kau tidak mendapatkan masalah lalu dilaporkan ke polisi sudah menyerang dan meresahkan orang lain.”
Sebuah lantai dimana keadaan sedikit ramai dan sibuk sedang mereka datangi, sesi pemotretan dan beberapa proses pra produksi iklan seperti shooting iklan sedang dilakukan, netra Luke langsung menangkap satu sosok yang kini menjadi sorotan disana.
Seorang gadis cantik yang sedang membaca skrip dengan seorang yang mengarahkannya. Luke diam tidak bergeming dengan langkah kakinya yang berhenti, betapa cantiknya dia seakan aura yang terpendam itu semakin terlihat nyata.
__ADS_1
Dia si little cat? Gadis yang ia susahkan saat sakit dan satu-satunya saat ini disini yang paling dekat dan peduli dengannya.
Seperti permata yang baru ditemukan disebuah pulau yang hilang, Kiran tampak berkilau. Sempurna dari ujung kaki hingga kepala di tambah semua atribut dan barang mewah yang ia kenakkan. Rambut panjang berkilau indah, tubuh mulus tanpa sedikit pun noda, sempurna dengan dress hitam indah itu melekat ditubuhnya.
Kiran sedang melakukan perannya disana, ia kembali duduk dan menatap pada sorot kamera, seketika kiran melihat Luke dan Arga yang berada dipintu melihat kearahnya.
Seulas senyuman pun terbit dari bibir Kiran. Namun seketika ia dibawa pergi lagi, hendak mengganti pakaian yang senada dengan lawan perannya diiklan itu.
“Arga! Buruan!” Emira memanggil Arga untuk segera bersiap-siap dialah talen pria dalam iklan tersebut.
“Oke siap! Aku masuk dulu, duduklah Man ini tidak lama hanya setengah jam lagi,” Arga menepuk pundak Luke lalu meminta seseorang disana mempersilahkan Luke ketempat menunggu yang aman sebab dia adalah tamu dari Argadhana anak dari pemilik perusahaan pengiklanan itu.
Luke memberi respon anggukan, kemudian ia duduk disana menunggu Kiran dan Arga sembari mensesap kaleng dari softdrink yang disajikan menghalau rasa bosanya.
Beberapa menit menunggu akhirnya Kiran dan Arga siap, mereka akan melakukan shooting sebagai seorang pasangan.
Luke menyrot dari jauh keduanya disana, Arga tampak memberi arahan kepada Kiran, sebelum akhirnya semuanya siap dan tim mengambil posisinya masing-masing. Luke seketika terkesiap ini adalah iklan skin care kenapa harus ada ranjang.
Kiran disana yang memakai piyama sedang berselimut dan Arga ada disebelahnya berjarak sangat dekat menatap Kiran ditahan lama sampai akhirnya Arga menyentuh lembut wajah Kiran.
SHITT!!
Beberapa kali adegan mengalami pengulangan sebab Kiran yang begitu tampak canggung dan memperlihatkan wajah shocknya mendapati sentuhan tangan Arga, Luke merasakan panas sekali sungguh walaupun ini adalah sebuah adegan, ia benci ini, Arga menatap Kiran dengan damba ia menyantuh seperti dengan hati.
WHATT THE FÙCK
Apa ini direncanakan?
Hingga suara-suara teriakan terdengar disana Chemistry Kiran dan Arga sangat dapat, hasil yang didapatkan pun sangat memuaskan, Kiran kembali menjadi canggung ketempat duduknya dengan Arga yang kemudian melihat hasil yang didapatkan.
Mendapati Kiran sudah selesai shooting Luke pun segera mengirimkan pesan pada Kiran
“Aku demam lagi…”
__ADS_1
Kiran yang sedang beristirahat segera mengambil ponselnya dan membaca itu, segera ia berdiri dan mengedarkan pandangannya mencari dimana sipengirim pesan, Kiran mendapatkan Luke disebuah tempat dimana para tim creative duduk. Ia pun segera mengayunkan langkahnya mengahampiri Luke.
Luke menyandarkan dirinya disana, seolah mengacuhkan hingga Kiran pun tiba.
“Bunny! Dari mana saja? Kau sakit lagi? Gadis itu mendekat pada Luke lalu berusaha menyentuh dahi Luke dengan punggung tangannya.” Namun Luke menghindar.
“Aku mau pulang, mau istirahat.”
Kiran menghembuskan nafasnya menatap pada wajah lelaki itu yang murung, “Iya kita pulang sekarang, tunggu aku siap-siap.”
“Terserah, jika kau mau menunggu dan pulang dengan Arga juga tidak masalah.”
Kiran terdiam, harus banyak bersabar menghadapi keketusan bibir lelaki ini. Untuk apa dia kesini jika bukan untuk menjemputku, untuk apa aku bersama Arga bukankah kau yang berhak atasku saat ini?
“Kau sakit bunny, ayo kita pulang sekarang.”
Luke segera bangkit, ia mengacuhkan Kiran tanpa sebab, “Aku tunggu dibawah.”
Kiran menggelengkan kepalanya dan segera menarik Luke, “Turun bersama bunny, tungguhlah aku sebentar, jangan keras kepala.”
Sungguh selembut ini Kiran membuat Luke terkadang selalu merasa bersalah jika berucap kasar dan ketus. Dia pun berdehem merespon iya permintaan Kiran.
.
.
.
__ADS_1
.
(Adegan iklan Kiran dan Arga ada di Story IG @Trisrahmawati Video nggak bisa masuk NT)