
"Hi Luke kau sudah kembali," Sapa bibi Eve sang penjaga rumah, "Ibumu tadi datang dia membawa banyak makan untuk menantunya tapi setelah menunggu kalian tidak kembali setelah satu jam dia pulang."
"Mom?"
"Ya ampun bunny kasihan sekali."
"Dia tidak menghubungiku?" Sanggah Luke.
"Tidak masalah, Ny.Dora senang kalian berkencan dia memaklumi itu, lihatlah banyak sekali makan sehat ia bawa, ini pisang di bawa dari kebun belakang Rodriguez House."
"Aku merasa tidak sekali, bunny!"
"Tidak masalah, ibuku mengerti kau bisa mengirimkannya pesan untuk permintaan maaf, ayo kita naik."
"Naiklah duluan aku masih mau didapur bersama bibi Eve," Usap Kiran lengan Eve, ia ingin membantu Eve memasak.
"Baiklah aku akan naik, jangan lama-lama dibawah." Luke bergegas naik membawa kantung-kantung belanjaan Kiran. Sementara Kiran ingin belajar memasak didapur.
"Senang mengenalmu Kiran, akhirnya Luke menikah juga, kau tahu rumah ini bahkan hanya ia gunakan untuk tidur malam saja, selebihnya tidak pernah, segeralah berikan Dora cucu agar dia pensiun dan mengurusi cucunya saja."
"Doakan aku bibi, bibi akan memasak apa?"
"Kau ingin memakan apa? Lihatlah ada banyak pisang, terlalu matang, aku bingung akan mengolahnya menjadi apa, jika dibiarkan ini akan busuk dan terbuang sia-sia."
Kiran berfikir sejenak, "Aha, bibi memasak makan yang berat, aku akan membuat kudapan pencuci mulut, bagaimana?"
"Boleh, gantilah pakaianmu dulu."
"Oke, aku naik dulu ya...."
Kiran bergegas pergi ke lantai 2 rumahnya, berlari-lari kecil kesana, kembali lagi ia berbicara sendiri, "Besar amat ni rumah, di kos-kosin bagus juga kali ya." Kiran tertawa geli sendiri.
"Bunny... oh bunny... " Panggil Kiran mengedarkan pandangannya kesekitar mencari sang suami, "Kau dimana bunny?"
"Ehehmm... dibalkon," Sahut Luke yang hanya terdengar suaranya saja itu.
Kiran melepaskan coatnya dan menggantunya segera berjalan menuju Luke yang ada dibalkon kamar mereka.
"Kau ngapain?"
Udara mulai sangat dingin, hujan sedikit angin baru saja terjadi, diperkirakan akan turun es sebentar lagi.
"Sudah masuk musim salju."
__ADS_1
Kiran menempel dibelakang punggung Luke, "Hujan bunny, untung sudah sampai rumah, ya."
Luke membawa Kiran kedapan melingkarkan kedua tangannya memeluk Kiran, "Aku akan mulai bekerja besok, tetaplah dirumah dan jangan pergi-pergi sendiri."
"Aku baru akan merencanakan itu, jika kau bekerja mungkin bisa berjalan-jalan sendiri."
"No, aku tidak akan mengizinkannya, banyak tindak kejahatan disini apa lagi jika melihat warga pendatang yang bisa dimanfaatkan, tetaplah dirumah, jangan memaksa ikut Eve."
Kiran tertawa seketika, "Aku baru saja akan menanyakan itu, jika bersama bibi Eve boleh tidak? Dan kau suda lebih dulu melarangnya, apa otak kita tersambung ya..."
"Kau tidak tahu, bahkan kau berbicara dalam hati pun aku mendengarnya."
"Omong kosong! Ah, baiklah aku akan turun membantu bibi Eve memasak."
"Sekarang?"
"Tidak, nanti musim banjir! Sudah ah, ayo...kau harus masuk juga, udaranya sangat dingin." Tarik Kiran, Luke masuk kedalam.
"Hemm, kau tidak perlu turun. Aku rasa bibi Eve akan kesulitan jika kau disana." Luke menyeringai lebar mempunya maksud lain.
"Maksudmu? Aku akan menyusahkan, bibi Eve?"
"Mungkin, selagi aku dirumah kau diatas saja temani aku..." Lirik Luke ke sofa merah yang sangat menggoda itu.
"Aku ingin mengajarkanmu cara penggunaan sofa merah pemberian Morean ini."
Seketika Kiran antusias, "Oh ya? Kau akan mengajariku, bagaimana coba perlihatkan..."
Luke mendekat pada sofa itu, menjongkokkam dirinya disana mengambil kunci-kunci dari borgol, "Kau mau mencobanya?" Lihat Luke wajah Kiran yang memperhatikannya.
"Pastilah, ini adalah hadiah, kita harus memanfaatkannya."
"Berbaring disini." Perintah Luke kemudian.
"Berbaring?" Tatap Kiran serius.
"Ya kepalamu disini dan luruskan kamimu."
"Coba kau dulu, biar aku mengerti! Coba kau yang berbaring mentutorialkan seperti divideo-video itu, sambil menjelaskan."
Luke pun berdehem, "Baiklah aku yang akan berbaring, bagian yang tinggi ini untuk kepala," Luke menjatuhkan dirinya, "Cekungan ini akan membuat tubuh melekuk, lalu bagian ini untuk kaki kau bisa meletakkan diatas atau dibawah." Luke terus menjelaskan.
"Itu borgol-borgolnya, apakah bisa berfungsi"
__ADS_1
"Entahlah aku belum mencobanya."
"Sini aku coba pasangkan, " Dalam diam Kiran mencerna ini sofa gunanya buat apa, Luke mengatakan seperti adegan di film erótis, apakah film erótis itu film ah, seketika terbayangkan oleh Kiran adegan-adegan yang Luke lakukan, dia mau memperkòsaku! mengikatku disini. "Aku pasang kepadamu bunny, coba ya..."
"Iya, coba pasang yang dikaki dulu."
Kiran segera berjongkok memasakan borgol-borgol di kaki Luke, "Bisa bunny, sini coba tangannya..." Kiran segera bangkit, memasangkan pada tangan-tangan Luke, "Wah semua borgolnya berfungsi..."
"Kau mau coba?" Luke mengerlingkan matanya menggoda, "Sudah bisa mencerna apa gunanya ini?"
Kiran tersenyum mendekat pada sang suami, "Hemmmm tentu...bagaimana jika aku yang melakukannya kau tetap disitu saja," Kiran mendekat pada dada Luke, mengusapnya menggoda lalu mengecup rahang suaminya itu.
"Ide bagus, lakukan...."
Kiran berencana akan membalikkan semua perlakuan Luke kepadanya, oh menyentuh telinganya, memainkan bibir dilehernya, sungguh Kiran merekam semua hal itu.
Kiran setengah membungkuk, mulai menaikan satu kakinya pada tubuh Luke seperti adegan-adegan erótis lainnya, kemudian mengujami wajah Luke dengan kecupan-kecupannya, beralih ketelinga beberapa saat, semenit kemudian keleher Luke.
Luke meremang, "Kau membuatku Gilaaa, little cat! Jika seperti ini kau bukan little cat, tapi Nàughty cat! Alias kucing nakal!"
Satu tangan Kiran mulai merayapi dada Luke, satu persatu membuka kancing pakaiannya, memasukan tangannya ke perut kotak-kotak Luke.
"Little cat! Stop--"
Dengan gerakkan cepat Kiran menarik lepas ikat pinggang Luke.
"Oh shìt! Sayang!" Luke terus memekik kegirangan atas kegilaan istrinya, Kiran merayapi hingga kedadanya.
"Kau siap bunny?" Kiran lalu berdiri mentap lekat wajah Luke, jemari lentiknya menyentuh bibir Luke.
"I want more!" Luke meremang.
Kiran kembali tersenyum menyambar bibir Luke, ia lumatî lalu memainkan jemarinya menjalari dada perut lalu turun kebawah sana menarik celana Luke dan membuka semuanya.
"So sexy... bunny...." Kiran bergidik ngeri mengucapkan itu melihat pada bagian bawah Luke.
"C'mons sayang...buka..." Lihat Luke Kiran yang masih berpakaian.
"Hemm tunggu aku, membuka disana....." Kiran menyentuh lagi perut rata Luke, lalu berbisik ditelinga suaminya, "Tunggu...suamiku...kau akan dapatkan yang kau mau--"
Segera Kiran pergi dari sana, dia meraih pakaian Luke yang tergeletak lalu memakainya menutupi dress seksinya untuk segera turun kebawah membantu bibi Eve.
Kiran tertawa ditangga, "Biarkan lalat-lalat menikmatimu, bunny ...aku ikhlas jika... berbagi dengan lalat..."
__ADS_1