
“Uweeeekkkkkk!”
Luke memuntahkan obat yang Kiran paksakan masuk kedalam mulutnya, Ia sudah mengatakan berkali-kali pada Kiran ia tidak bisa minum obat atau minum apapun yang aneh-aneh saat sakit.
“Bunny Argh—“
Setelah tadi tersiram air jahe yang masih sampai sekerang membuat perih kini lelaki itu menumpah muntahnya pada pakaian Kiran.
“Aku tidak sanggup,” Luke meringis matanya sulit dibuka, “Biarkan aku tidur, aku akan sembuh dengan sendiri.”
Kiran terperangah melihat pada tubuhnya yang nyaris kotor semua, ia menarik nafasnya berat mau tidak mau harus menuruti lelaki itu, membiarkan dia tidur, “Terilihat sangat kuat tapi saat sakit kau aneh lain dari yang lain, bagaimana bisa sembuh jika tidak mengkonsumsi obat atau apapun.”
“Pijati kepalaku lagi…”
“Ha?” Kiran terperangah Luke meminta di pijat lagi, ya... tadi Kiran lihat lelaki itu begitu nyaman sekali dipijat, “Aku ganti pakaian dulu.” Kiran segera beranjak membersihkan diri, menjauh dari Luke, bibirnya terus menggerutu sakitnya manja sekali minta di pijati terus.
"Little cat--"
Kiran memutuskan untuk mandi saja sebab ia benar sudah sangat kotor, sesaat ia yang sedang sabunan mendengar suara memanggil.
Kiran pun berusaha menangkap suara itu dengan jelas. “Bunny? Apa lagi sih!”
“Diiingiiiin….lama sekali mandinya!”
“IYAAA INI SUDAH SIAP!” Kiran memekik, menarik nafasnya lelah, meletakan segera sabunnya, “Apakah memang seperti ini? Saat sakit? Jarang sekali sakit katanya tapi saat sakit menyebalkan seperti ini, aku juga bisa ikutan sakit jika seperti ini, Bunny!”
“LITTE CAAAT! APA YANG KAU LAKUKAN!”
“Oh Tuhan! IYAAAA INI SEDANG PAKAI BAJU!”
Kiran menjadi terburu-buru memakai pakaiannya, segera mengancing dan tidak lagi mengurusi rambutnya untuk disisir atau memakai memoles wajahnya dengan bedak, Ia segera bergegas lari keluar dari kamar mandi.
“Ponselku bunyi,” ucap Luke dengan wajah lemahnya.
__ADS_1
Kiran segera mengambil ponsel milik Luke dimeja dan ia lihat panggilannuya disana, “Arga…dia menghubungimu, mau ku hubungi kembali.”
Luke menggeleng, “Pijati kepalaku.”
“Kau seperti induk ayam akan bertelur, berisik sekali saat sakit, tadi katamu mau tidur, nggak mau dipaksa minum apapun, tapi tidak tidur juga…”
“Hanya memijati kepalaku kau merasa keberatan? Baiklah aku tidak lagi meminta.” Luke pun berbalik badan, sungguh ia memang seperti ini saat sakit, sulit tidur dan sulit minum obat, segalanya terasa menyusahkan saat tubuhnya sakit hingga kepalanya juga.
“Tidak seperti itu Bunny! Kau salah mengerti, iya ini aku akan memijatimu.”
“Tidak perlu, berikan ponselku aku akan minta Arga mencarikan tukang pijat dari tempat terapis terbaik.”
“Kau marah Bunny?” Kiran mendekati Luke diranjang, Luke segera beringsut menjauh.
“Minta ponselku!”
“Aku akan memijatimu, ada aku untuk apa orang lain,” Kiran berangsur duduk menyentuh kepala Luke.
“Jangan lakukan jika keberatan dan terpaksa!” Ketusnya dengans uaranya yang sedikit menghilang itu.
“Kenapa harus terpaksa, kau selalu ada untukku dan akupun akan melakukan hal yang sama.” Kiran mengusap lembut lagi dahi lelaku itu memijatnya dengan sangat hati-hati, “Aku hanya tidak tahu seperti apa saat kau sakit, tapi jika seperti ini aku sudah sedikit tahu seperti apa kau, Bunny.”
Luke memejam ia bergeser kebelakang menarik bantalnya memilih paha Kiran sebagai bantalannya, Kiran pun terkesiap mendapi Luke yang emniduri bantalnya namun ia tidak lagi mau berkomentar, tidak ingin Luke merajuk lagi.
Benar-benar Kiran tidak mengerti kenapa bisa ia dikeadaan seperti ini, lihatlah 15 menit berlalu, lelaki itu tidur dengan pulasnya hawa panas dari kepalanya seakan menjalar pada paha Kiran.
Ia merasa iba juga kasihan pada Luke, Kiran pun membiarkan Luke seperti ini. Sesaat Kiran menyandar pada headboard ranjang merenggangkan pingganganya yang sakit berposisi seperti ini tanpa menghentikan pijatannya.
Beberapa jam kemudian Kiran pun ikut tertidur juga dengan keadaan duduk menyandar dan kepala Luke masih dipahanya, ini sudah menjelang pagi Luke tida lagi terjaga walau Kiran tidak lagi memijatinya. Keduanya benar-benar terlelap dengan pulasnya.
...***...
Tepat pukul 6 pagi Kiran terjaga, sebuah alarm dari ponselnya membangunkan dia, betapa terkejutnya Kiran saat ini ia sedang memeluk yang tertidur, menjadikan lengan Luke sebagi bantalnya.
__ADS_1
Sontak saja Kiran terkesiap, semalam posisinya tidak seperti itu, ia ingat dia duduk dan Luke yang menjadikan dia bantal.
Dengan hati-hati dan pelan sekali tanpa membangunkan Luke, Kiran pun segera turun dari ranjangnya, Luke menggeliat disana, gerakkan Kiran turun membangunkan dia.
Oh Tuhannn apa yang aku lakulan!
Luke tertawa ditempat tidur, pasti Kiran shock bisa tidur seperti itu.
Luke memutar balik dua jam lalu. Saat ia terbangun untuk buang air kecil dan meminta Kiran bergeser, Kiran menjatuhkan dirinya diranjang dan saat Luke kembali lagi ke ranjang Kiran malah naik ke lengannya dan memeluk dia, Luke membiarkan saja itu terjadi, kasihan Kiran dia sudah sangat lelah mengurusi dia malam tadi saat sedang tinggi-tingginya deman yang ia alami.
Luke melihat Kiran ke kamar mandi, ia yang masih tertawa meraba ponselnya diranjang ia segera menghubungi Arga yang semalam menghubunginya.
“Halo Gha? Sorry malam tadi aku sakit.”
“Oh ya? Bagaimana keadamu sekarang? Aku akan datang sebentar lagi, ada yang akan ingin aku bicarakan.”
“Tentang?”
“Kali ini bukan Dayana tapi Kiran, aku akan mengajaknya bekerja sama, sebuah product menawariku project besar, gadis itu mungkin cocok jadi model iklannya, dia seusia yang aku harapkan.”
“Hemmm..datanglah…”
“Bunny, kau sudah bangun?”
“Kalian bersama?” Arga terkesiap.
“Jangan berfikir apapun dia hanya gadis kecil dan aku sudah akan menikah, aku hanya menganggap dia keponakan, datanglah segera aku juga ingin meminta bantuanmu.” Jelas Luke segera mematikan panggilannya.
.
.
__ADS_1
...Berikan Like, vote, bunga, comment...