
Di kedian paman Luke, suasana haru sedikit terasa didepan rumah keluarga itu, sang paman siap menghantarkan Luke ke Bandara, Luke berterimakasih pada sang Paman dan istrinya mau membantu dia dan meminjakan mobil, dia juga meminta maaf tidak bisa tinggal disana seperti apa yang mereka minta.
“Aku menunggu undangan darimu Luke, aku pastikan aku akan pulang kesana jika kau menikah, semoga segera dipertemukan dengan jodoh yang lain yang lebih baik.”
Luke tertawa, “Jika aku tidak menikah kau tidak akan pulang?”
“Jangan seperti itu...ah baiklah ayo kita berangkat sekarang.”
“Aku pulang bibi, terimkasih masakanmu membuatku semakin rindu pulang, lain kali paksalah paman untuk pulang ke asalnya dia bahkan lupa bagaimana berbicara bahasa ibunya itu...”
“Ya kau benar itu, Luke. Baiklah hati-hati, sampaikan salamku pada ibumu.”
Luke segera masuk kedalam mobil sang paman yang akan mengemudikan mobilnya, lambaian tangan membuat Luke sedikit haru entah kapan lagi dia akan kesana.
TIIIIINNNNNNN........
TIIIIINNNNNNN.......
Suara klakson membuat paman, Luke dan Istrinya terkesiap, sebuah mobil seketika berbelok menutup jalan mereka.
“Arga?” ucap Lule terkrsiap.
“Si Arga temanmu itu?”
Arga lebih dulu turun membuat Luke juga turun kemudian, Arga segera masuk ke gerbang besar rumah yang sudah terbuka itu. Tatapan Arga menegas dengan nafas yang memburu.
Bruakkk...
__ADS_1
Seketika Arga mengahantam wajah Luke, paman dan Bibi Luke terkesiap, segera sang paman turun untuk melerai.
“Kau sakit jiwa?” Pekik Luke mengusap wajahnya.
“Kau yang sakit jiwa, kau pergi begitu saja? Kau tinggalkan dia bilang aku bisa membahagiakannya?”
Bruuakk....
Arga benar-benar tersulut, “Arga stop!” Teriak sang paman.
“Biarkan paman!” ujar Luke, “Lalu apa? Aku memaksa membawanya? Memaksakan diri harus bersama, lalu kau juga tidak mau kalah melepaskan dia. Kita bersaing lalu melukai dia? Aku kenal kau seperti apa, kau berbahaya! Kau bisa melakukan apa saja.”
“Tidak kali ini. ELMIRA!!” Teriak Arga kemudian.
Gadis bernama Elmira itu pun turun dari mobil membawa sebuah map coklat yang begitu rapi. “Ini beberapa dokumen keberangkatan dan passport milik Kiran.”
Luke terkesiap, “Milik Kiran?”
Luke seakan tidak percaya ucapan Arga dia ternyata tidak serius dengan Kiran, “Berengsekkkkkk! Paman pinjamkan aku lagi mobilmu.” Luke segera masuk kedalam mobil.
“Jika perlu nikahi saja! Kau bisa bebas membawanya!” Teriak Arga kemudian sejujurnya Arga hanya melihat Kiran seperti adik perempuannya yang meninggal 5 tahun lalu berusia sama persis dan postur tubuh pun sama, sebab itu kala itu ia membawanya kerumah agar sang ibu bertemu Kiran.
“Tolong reschedule keberangkatanku, Elmira!” Luke memberikan sebuah benda pipih seperti tablet kepada Elmira dari jendela mobil dan segera pergi dari sana.
Arga dan Elmira sang tangan kanan adalah bekas pasangan kekasih hampir seluruh model yang bekerja bersama Arga pasti akan dikencani lelaki itu. Namun Luke melihat kemarin Arga kepada Kiran berbeda, dia mau membantu Kiran mempromosikan sebagai model untuk sebuah project besar, memperlakukannya dengan baik bahkan membayar uang dengan jumlah besar itu, Luke menciut ia merasa kecil.
Arga dan Kiran mungkin lebih pantas, lelaki itu tidak pernah membuat Kiran kecewa, tidak pernah membuatnya sakit hati. Luke juga berfikir mungkin orang seplayer Arga sudah bertaubat saat bersama Kiran. Jika seperti ini mungkinkah Arga melepaskan Kiran. Lebih baik dia yang melepaskannya.
__ADS_1
Nyatanya Luke salah, Arga tidak bersungguh-sungguh hanya kesal sebab dia melihat Kiran sepertI dipermainkan saja.
...*** ...
Luke membuka ponselnya susah payah melihat alamat alamat yang diberikan Arga, shït ia mengumpat kesal, tempat itu sudah ia lewati, Luke pun harus berputar arah lagi, mengemudi semakin kencang dan akhirnya ia sampai disebuah kos-kosan berlantai dua. Ia melihat dari jauh nomor kamar yang Arga berikan dan sebuah tanda panah menunjukkan kamar itu ada diatas.
Namun yang ia dapati adalah Kiran tidak ada,m disana, tidak tahu apakah dia sudah berangkat atau tidak, tidak ada siapapun yang bisa Luke tanyai. Luke yang sengaja mematikan ponselnya kini ia aktifkan lagi dan segera menghubungi Kiran.
Lama sekali terhubung, Luke menjadi risau ia memukuli pelan stering mobil dan Akhirnya terhubung.
“Bunny?”
“Jangan tanyakan apapun, kau dimana?”
“Beli makan—“
Suara Kiran masih terdengar serak, Luke tahu ia belum makan semalaman, dan seketika Luke lihat Kiran ada diujung jalan dibawah terik matahari menteng sebuah bungkusan.
Luke menghembuskan nafasnya, ia lihat Kiran disana, gadis itu begitu berantakan lihatlah kanan dan kiri alas kaki yang ia kenakan berwarna beda, merah dan orange pakaian tidur yang ia kenakan juga terlihat kebesaran ditubuhnya.
“Bunny itu kau—“ Gadis itu sudah tidak menangis lagi padahal seketika ia berkaca-kaca melihat Luke disana.
Tidak menunggu Luke pun segera turun, mengayunkan langkahnya kearah Kiran yang terpatri ditempat shock melihat dia kembali.
Segera Luke berhambur memeluk Kiran, menenggelamkan tubuh mungil itu didadanya, "Maafkan aku...."
“Katakan aku tidak mimpi...” Kiran menjarakkan tubuhnya mencubit dirinya sendiri, “Jangan bilang aku sedang tidur.”
__ADS_1
Luke menggelengkan kepalanya, “Tidak, kau tidak bermimpi,” Peluk Luke lagi gadis itu. ”Aku menjemputmu, aku akan membawamu... menikahlah denganku...” Luke berucap dengan lirih, air matanya keluar dari pelupuk matanya dan menempeli pundak Kiran.