SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
Promise


__ADS_3

"Sudah sampai," Tegur Arga pada Kiran yang menyandar malas disandaran kursi, menatap kosong pada jalanan malam yang masih ramai.


"Hemm...terimakasih Gha..."


"Selamat istirahat di kos-kosan baru."


Kiran mengulas senyuman, "Terimkasih, selamat beristirahat juga." Kiran pun segera turun dari mobil lalu melambaikan tangan mempersilahkan Arga pergi.


“Aku jemput besok berangkat ke kantor,” Arga tersenyum hingga ia pun mengakhiri percakapan mereka dengan sebuah klakson dan lelaki itu pergi dari sana.


Kiran mengangkat gaun yang ia kenakkan untuk berjalan masuk kekos-kosan, kebetulan ia mendapat tempat dilantai dia membuatnya harus bersusah payah naik menggunakan tangga untuk kesana.


Masih saja terngiang jelas, bagaimana ucapan Luke tadi, rasanya Kiran merasa bersalah sekali, harusnya ia tetap ada disaat lelaki itu lemah dan mungkin membutuhkan, Luke terlihat menyedihkan segala yang ia harapkan berakhir pada sebuah kesia-siaan, perjalanan panjangnya memberi kenyataan bahwa orang yang ia cari atas rasa bersalahnya adalah dia lebih bahagia dari yang Luke kira.


“Bunny…”


Rasanya rindu sekali, Kiran berhenti di tangga akan naik, ia ingat besok Luke akan berangkat, tidak akan ia lihat lagi wajah itu, lelaki itu malaikat penolong yang beberapa waktu ini mengisi harinya bahkan mencuri hatinya, “Bunny—“


Tidak menimbang Kiran pun melepas hell yang ia kenakkan ia akan ke hotel menemui lelaki itu, bagaimana pun Luke membuat dia seperti sekarang, berada di tempat yang baik, mempunyai pekerjaan yang baik dan kenal dengan orang-orang bak.


Marah atau kecewa anggaplah itu sebuah rasa normal sebab dia merasa dipermainkan harusnya memang dia sadari mereka memang tidak mungkin bisa bersatu begitu banyak perbedaan, begitu banyak jarak yang sulit menyatukan.


Kiran mencoba memberhentikan taksi-taksi disana, namun tidak ada satu pun yang berhenti, ia mencoba memesan namun sinyal dari ponselnya seakan melambat dan sulit sekali terhubung.


 “Pak tolong saya ke hotel di jalan—“


“Maaf mbak, saya sedang ada orderan ini.”


 Kiran terus berlari-lari tidak ingin menysali ini sebagai perpisahakan yang menyedihkan, Kiran ingin bertemu dia untuk yang terakhir kali menjadi perpisahkan yang mungkin memang akan berakhir namun bisa ia kenang dalam keadaan manis.


“Bunny… aku rindu kau…”


Kiran masih terus panik di pinggiran jalan menggigiti jemarinya, tidak satupun taksi yang mau membawnaya pergi sampailah dia melihat sebuah ojek online yang berhenti Kiran pun berlari mengejar orang itu, “PAAAAAAKKKK! TOLONG HANTARKAN SAYA, SAYA BAYAR 1O KALI LIPAT!” Kiran segera naik, memaksakan dirinya segera memegang pakaian tukang ojekyang bingung itu.


“Hantarkan kemana mbak.”


“Aduh pak saya nggak bisa berfikir apa nama hotelnya, sudah cepetan jalan aja…”  Tidak lagi Kiran pedulikan kakinya yang entah menginjak benda tajam apa, tepat ditelapak kakinya itu seperti menancap pecahan kaca. Kiran terus memekik membuat telinga tukang ojek itu sakit saat ia mengarahkan.

__ADS_1


“Kanan mbak?”


“Kiri Pak!”


“Lurus?”


“KIRIIII! PAK!” Teriak Kiran lagi. Membuat yukang ojek itu lagi-lagi menutup telinganya.


“Yang depan itu mbak?”


“Iyaaa…iyaaa…”


 Hingga tidak begitu lama mereka pun tiba disebuah hotel tempat Luke tinggal selama ini, Kiran segera mengeluarkan uangnya yang dia sendiri tidak tahu berapa banyak segera memberikan pada tukang ojek itu, tidak lagi menghiraukan tukang ojek itu yang terus memanggilnya sebab memberikan terlalu banyak.


Kiran dengan menenteng hell dan tas pestatanya segera berlari masuk, didepan pintu masuk ia diberhentikan oleh satpam.


“PAK PLEASE SAYA TINGGAL DI KAMAR 330 JANGAN HENTIKAN SAYA MASUK!”


“Mana bukti anda menginap tidak bisa sembarangan masuk!” Lihat satpam itu Kiran yang melepas hellsnya itu.


Beberapa saat dihalangi masuk hingga akhirnya ia pun lolos sebab memang sebagian receptionist mengenalnya ia pun berlari segera ke lift tidak ingin menunda-nunda waktunya, Kiran tidak tahu apakah Luke ada disana atau mungkin berada di tempat sang paman sebagai malam terakhirnya disana.


Tidak peduli ia segera naik saja mencoba dengan yakin Luke mungkin ada disana.


Nafasnya tersenggal-senggal Kiran pun sampai dilantai di mana kamar Luke itu berada, lantai-lantai yang ia lewati sudah membekas bercak-bercak dari telapak kakinya yang luka itu, Kiran tidak menghiraukan lagi sakitnya apapun itu, ia segera menekan bel disana sebab tidka lagi memiliki akses masuk.


Ia merendahkan tubuhnya merasakan lelah sekali berlari-lari membuat Luke yang berada didalam tidak bisa melihat siapa yang diluar dari layar monitor yang ada disana, segera ia membuka saja mungkin seorang room service.


Cklak


Kiran pun bangkit seketika, “Bunny! ia pun berhambur memeluk lelaki yang terperangah itu, Kiran mendekap erat Luke yang sudah berganti pakaian santainya, Kiran menangis didada lelaki itu menumpahkan air mata kerinduannya membasahi kaus Luke.


Sontak saja Luke merasakan seperti sedang bermimpi ia yang Luke fikir tidak mungkin ia temui lagi kini datang dan dalam nyata ada didekapannya, “Lillte cat—“


“Jangan lepaskan aku…aku mau memelukmu, sepanjang malam…”


Kiran kembali bersikap seperti dulu ia bergelantungan ditubuh Luke membiarkan lelaki itu menggendonganya untuk masuk kedalam, disana terlihat Luke sedang memacking barangnya, sebuah travel bag besarnya sedang ia rapikan disana. Kiran pun semakin menangis melihat itu.

__ADS_1


Hikss hiksss…


Kiran semakin melingkarkan kedua tanganya dileher Luke, sungguh Luke pun sukses berkaca-kaca, menjatuhkan dirinya di sofa, tiba-tiba Luke lihat ada beberapa tetesan darah dari pintu hingga ke sofa ia melihat seketika pada kaki Kiran dan menyentuhnya.


“Kau berdarah…”


“Jangan lepaskan aku!” Kiran sudah seperti bayi enggan dilepaskan terus menghidu dalam-dalam aroma lelaki ini, membayangkan tidak akan pernah bertemu lagi.


Luke mengusap rambut Kiran, berbisik lembut ditelinganya, “Turun kita lihat kakimu setelah itu kau bisa memeluk lagi…”


“Enggak!”


“Promise, kau bisa memeluk setelah ini sampai kapanpun kau mau…”


“Setiap hari, setiap saat, setiap waktu…” Hikss Kiran sesegukan bibirnya bahkan kelu tiak snaggup langi berucap.


Luke ikut menitikkan air mata, “Kau bisa ajak Arga menemuiku nanti, kita akan bertemu disana…menurutlah kali ini, jadi little cat yang penurut sebelum aku pergi…”


Luke menurunkan Kiran perlahan, ke sofa tepat disebelahnya, wajah Kiran basah make-upnya luntur kemana-mana, segera Luke bangkit mengambil tissue dan obat merah yang ada di lacinya, segera merendahkan tubuhnya dihadapan Kiran.


“Apa yang terjadi, kaki mu menginjak kaca!” Luke segera melepaskan kaca kecil itu, “Sakit?”


Kiran menggeleng, “Hatiku sakit….”


Luke tidak mengindahkan ia terus membersihkan darah pada Luke Kiran lalu mengolesinya dengan obat merah dan tidak lupa sebauh plaster luka yang ada disana, “Capailah semua mimpimu, aku selalu mendukungmu dari jauh, bahagiakan semua keluargamu, orang-orang yang kau cintai…”


“Kau…” ujar Kiran tidak tahu malu lagi.


Luke pun bangkit membereskan tissue-tissue bekas darah Kiran, “Aku tidak bisa memperjuangakmu bersaing dengan Arga, dia baik dan juga memperlakukanmu dengan baik.”


“Kau jahat—“ Hikssss


Luke kembali lagi ke sofa, menduduki dirinya disebelah Kiran lalu membawa tubuh gadis itu menyandar padanya, Luke menempelkan bibirnya pada puncak kepala Kiran mengecupi rambutnya.


“Akan lebih jahat jika aku memaksakan keinginanku, mengambil masa depanmu, hidupmu, kau dari keluargamu, kau tahu berapa banyak perbedaan kita? Perbedaan mungkin bisa aku lewati tapi Arga mungkin akan mengejarmu.”


 

__ADS_1


__ADS_2