SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
Bab : 49


__ADS_3

"Apa yang mau dijelasin? Sudah buang saja."


"Di buang? Kau tidak menghargai sekali, kau tidak lihat kemarin acara buka kado dirumah ibu, apapun yang orang hadiahi ibuku akan simpan manfaatkan, kau punya masalah apa dengan Juless, mau membuang ini? Coba aku buka kenapa terlihat menggemaskan."


Sungguh Kiran tidak tahu itu apa, dia pun antusias sekali membuka benda itu dari pembungkusnya, "Wow, karet elastis, aku tidak mengerti ini apa? Sungguh aku tidak pernah melihat ini, oh? Tapi seperti plastik es lilin hanya saja bawahnya ya seperti cetakan agar-agar? Kau tahu es lilin?"


Luke menelan ludah Kiran malah menjadikannya main-mainan, "Entahlah, sayang itu bukan mainan."


"Ya aku tidak bodoh, untuk apa Juless memberikanmu mainan? Kau sudah tua dan belum punya anak, lantas ini apa?"


"Ya kau tidak bodoh, kau sangat pintar, karena itu ayo sayang buang, kita tidak perlu itu..." Luke hendak merampas benda yang Kiran mainkan itu


"Ini apa bunny! Apa kataku!" Kiran pun mengelak.


"Berikan... " Luke berusaha mengambilnya.


"TIDAK!"


Segera Luke menarik sang istri, membuatnya mendekat, "Itu alat pengaman pria, kau yakin butuh yang berduri?"


"APA?" Kiran segera menjatuhkannya, "Itu?"


"Ya, kau tidak tahu?"


Kiran dengan wajah polosnya menggeleng, "Aku pernah dengar tapi tidak pernah lihat ini. Itu berduri-duri tidakkah itu penyiksaa? Kenapa itu dibuat dan kenapa dikatakan sebagai alat pelindung, itu tidak melindungi, kau tahu bunny malam itu teman ayahku menyentuh dengan jarinya saja rasanya sangat sakit, bagaimana benda asing seperti itu akan masuk-- buang bunny!"


"Jangan bahas hari itu aku tidak suka, ini bukan alat pelindung yang sebenarnya, ini hanya aksesories tambahan, yang asli pelindung bukan seperti ini, ah-- sudahlah jangan bahas!"


Kiran bergidik ngeri, kenapa fikirannya jadi kemana-mana. Mendadak dia takut dan meremang sendiri. Memilih melihat pada jalanan kota, mengamati setiap penjuru dan suasana indah disana.


...***...


Tidak terlalu lama mereka pun tiba disebuah hunian mewah milik Luke, berdesain Modern classik berlantai tiga, sebuah pagar menjulang tinggi sebuah kolam berenang terlihat di lantai 2 rumah itu, ini lebih sejenis ke hunian mewah biasa bukan seperti Rodriguez house yang nyaris seperti hunian istana.


Seorang laki-laki tua membukakan pintu, rumah itu sudah hampir dua bulan dibiarkan kosong, dan hanya ada lelaki tua itu dan istrinya yang menjaga sekaligus bekerja disana.


"Rumahmu, bunny?"


"Rumah Kiran... " Luke mengulas senyuman, mimpi apa dia pulang kerumah membawa serta seorang istri, Luke membawa tangan Kiran melangkah turun. Kiran menatap takjub kesekeliling, mana pernah dia berangan-angan akan menjadi seorang istri dari pria mapan dan hidup kaya raya seperti ini.

__ADS_1


Tuan Jaime penjaga rumah menghampiri Luke, mengatakan ada sebuah sofa datang dari sebuah toko furniture dia sudah meletakkannya didalam kamarnya.


"Kenapa bunny?" Tanya Kiran pada Luke yang berbincang.


"Hadiah More sudah sampai, ayo masuk! Mrs.Luxurious...." Luke mempersilahkan Kiran, diiringi tawa.


"Seperti itu orang Spanish memperlakulan seorang wanita? Aku merasa aneh saat supir tadi menyambutku begitu berlebihan, dia memintaku melepaskan jaketku, aku bilang aku bisa."


Luke seketika tertawa, "Disini terbiasa seperti itu, usahakan menolak dengan sopan jika kau tidak suka."


Benar apa yang Luke katakan dia tidak perlu barang apapun lagi, sebab rumanya sudah berisi penuh furniture mahal terbaiknya, Kiran menatap takjub pada rumah yang lumayan besat ini. Benar-benar tertata rapi dan tampaknya terurus sekali.


sebuah lampu kristal besar terpasang indah di langit-langit rumah, mezzanine dengan tiang-tiang klasiknya, tangga marmer yang menawan.


"Jika ini dikampungku, ibu dan nenek pasti sudah memasang pagar besi dan berduri disekelilingnya, takut maling menyasari tempat ini dan aku fikir maling pun bisa masuk namun bingung akan keluar, begitu banyak pintu disini."


Luke tertawa, "Ayo naik, kamar kita diatas."


Kiran melangkahkan kakinya menaiki tangga mengukuti Luke, "Ada berapa kamar bunny? Kau tahu sedari kecil aku menginginkan punya kamar sendiri, betapa lucu entah menyedihkannya nasibku, waktu SD aku tidur dengan Bima, SMP tidur bersama nenek dikamarnya yang beraroma minyak pijat dan asap obat nyamuk bakar, SMA aku tidur bersama ibu di kamar gelap 3 meter jaraknya bersebelahan dengan kandang-kandang ayam diluar sana, aku bosan mereka lapar berisik, makan berisik, bangun berisik, kawin pun berisik."


Luke tertawa antara lucu dan kasihan, "Lalu kau ingin kamar sendiri?"


Luke memeluk Kiran dari belakang lalu mengecup pipinya, "Selamat datang dikamar barumu... " Luke membukakan pintu kamarnya.


Sebuah kamar besar yang terbilang tidak jauh beda dengam hotel yang mereka tempati hanya saja ini lebih berkonsep maskulin dan simple, seperti karakter Luke.


Sebuah ranjang berukuran superdeluxe televisi besar menempel dididing, dan walkin closet yang menyatu dengan dinding membuat semua rapi seperti tidak ada barang.


"Jika kau tidak menyukainya kita bisa merubah konsepnya..."


"Bu-bunny itu apa? Semuanya serba hitam dan abu-abu kenapa ada warna merah disana, itu ranjang? tempat duduk? Kenapa konsepnya seperti seluncuran anak TK? atau jalur tanjakan?"


"Apa?" Luke berbalik badan melihat kearah ruangan bersantainya, seketika ia menggaruk dahinya, ini pasti hadiah dari Morean yang dimaksud.


Kiran segera melangkah kesana segera ia menaikinya dan berseluncur disana, "Ahh, apaan? Nggak asik banget, dibilang seluncuran lalu lekukan satunya lagi buat apa? aneh sekali."


"Mereka terus memperolokku! Sialan."umpat Luke


"Apa? kau bilang apa? Nah ini apa lagi, kenapa ada sebuah borgol? borgol atau kalung anjing? mungkin ini untuk yang suka melihara hewan, dia bisa bersantai terus anjing atau kucingnya terikat disini." Kiran berjongkok menyentuh borgol-borgol itu.

__ADS_1


Luke mendesah lelah, sepolos inikah istrinya, "Kau yakin tidak mengerti?"


"Ha? Maksdunya?"


"Kau pernah menonton sebuah film erotìs?"


"Film apa itu?" Kiran berkerut dahi bangkit dari sana.


"Sebuah film yang.... itu... oh shįt! Baiklah, aku bingung menjelaskannya."


"Ya jelaskaan saja! Aku tidak paham, bunny! Di kampungku itu lebih terpencil beda seperti tempat tinggal ibu sekarang, televisi seperti barang berharga sebab takut bayar listrik mahal, apa katamu tadi film erotís? Apa itu seperti film Suzana mang bokir dan kunti penjual sate? Hantu-hantu seperti itu?"


Luke semakin berkerut dahi, "Sudahlah jangan dibahas aku semakin tidak mengerti, ayo mandi..." Ajak Luke, Kiran kembali ke tempat semula menjatuhkan diri mereka diranjang empuk itu.


"Katanya mau mandi?"


"Luruskan badan sejenak, setelah itu kita madi berdua...."Luke bertelungkup menempelkan dirinya pada Kiran, memaikan rambutnya, benar-benar meluruskan pinggangnya.


Akhirnya perjalanannya berakhir dan ini dia akhir dan hasilnya, seorang istri teman hidup, wanita yang akan melahirkan anak-anaknya, sebenarnya dia pergi untuk Dayana atau menjemput jodohnya.


Luke menatap pada Kiran yang diam melihat pada langit-langit kamar, membelai lembut wajahnya, "Jauh sekali aku menjemputmu..." Di fikir-fikir sangat lelah perjalanannya, namun terbayarkan dengan ini semua, "Ayo mandi... "bisil Luke pelan sekali mengecup pada telinga membuat Kiran meremang.


"Tidur sebentar boleh?"


"Ditidurì mau?"


"Bunny kalimatmu, tidak senonoh!"


Luke tertawa, segera bangkit dari ranjang, "Ayo mandi dulu, setelah itu kita istirahat...."


.


.


.


(Hadiah Morean)


__ADS_1


__ADS_2