
Kiran disisi lain mendengar jelas ucapan Luke kepada Arga di panggilan itu, seketika ia mengulas senyuman merasakan perih yang lolos begitu saja masuk kedalam hatinya.
“Dan ucapan itu memang benar, hanya aku saja yang terlalu receh sebegitu cepat dan tidak tahu malunya hati ini jatuh pada hati yang sudah berkali-kali diperjelas tidak jatuh kepadaku.”
Tanamkan di fikiranmu didasar hatimu ucapannya barusan Kiran, agar bisa jadi pengingatmu jika saat-saat tertentu diri ini sulit dikendalikan.
Kiran mulai membenahi dan merapikan barang-barang milik Luke disana, memunguti semua pakaian kotor yang tergeletak sebab semalam tidak sempat membereskannnya, Kiran membiarkan Luke yang masih di ranjang sibuk dengan ponselnya, ia terus menyibukkan diri dengan pekerjaan yang memang harusnya ia kerjakan. Mulai memesan sarapan untuk Luke dan akan memasukan pakain kotor Luke kantung Laundry.
“Pagi!” Sapa Luke yang sudah turun dari ranjang tanpa Kiran sadari.
“Pagi, Arga mau datang?” Sahut Kiran sembari melipat selimutnya sendiri di sofa, “Bagimana yang kau rasakan hari ini, Bunny? Kiran mendekat menyentuh dahi Luke dengan punggung tangannya, “Panasmu sudah turun.”
“Hemm.., aku sudah mengatakannya, aku akan segera pulih.”
“Ya tapi hari ini sepertinya kau lebih baik istirahat dulu jangan terlalu memaksakan diri keluar, kau belum terlalu pulih, aku sudah memesan sarapan untukmu, Bunny.”
“Aku— tahu…kucing.... ” Dekatkan Luke wajahnya mengejek Kiran.
Luke mengulas senyuman mengingat bagaimana semalam Kiran tidur dilengannya, ia terpejam cantik dengan tenang dan beberapa kali memeluknya, Luke tidak akan membahasanya nanti Kiran jadi malu dan tidak nyaman sendiri.
“Mandi air hangat ya…”
“Mandîin…” Luke menggoda Kiran segera berlalu masuk kekamar mandi kemudian.
Hanya dibercandai seperti itu saja jantung Kiran seakan ingin lepas dari penyanggahnya, lagi-lagi kenyataan menyadarkan dia untuk tidak boleh terlalu terbawa perasaan dan harus bersikap biasa saja.
“Handuk bersihnya sudah habis,Bunny! Pakailah handuk yang aku pakai semalam saja, baru aku gunakan untuk mengelap wajah kok!” ujar kiran dengan sedikit memeki.
“Hemmm…” Sahut Luke kemudian.
__ADS_1
Tidak terlalu lama makanan mereka pun datang, pakaian kotor juga sudah dibawa, Kiran mengucapkan terimakasih lalu menutup kembali pintu, seketika Luke keluar disana dengan handuk memeperlihatkan tubuh atletisnya yang sedikit basah itu.
“Bunny! Kenapa tidak memakai pakaian dikamar mandi sih!” Kiran mengalihkan wajahnya, wanita mana yang tidak takjub melihat tubuh atletìsnya itu
“Aku lupa membawa baju.”
“Berhenti disana aku akan mengambilkannya, tetap disana! Paham!”
Kiran segera bergegas menuju travel bag Luke mengambilkan pakaian lelaki itu, seketika ia terkesiap saat melihat Luke mempunya piyama bermotif balloon-baloon dan hati lalu menoleh kepada Luke.
“Kenapa? Apa yang kau temukan di koper milikku?”
“Piyama balloon-baloon? Ini punyamu, Bunny?” Tatap Kiran tidak percaya lelaki semanly Luke mau memakai pakaian seperti ini.
“Pemberian Dayana, dia sangat pintar menjahit dan mendesain pakaian, bagaimana mungkin aku tidak memakainya.”
“Mana pakaianku?” Luke tidak mengindahkan ucapan Kiran tentang Dayana itu.
“Eh— Iya ini! Kaus atau kemeja?” Pilih kembali Kiran pakaian Luke disana.
“Terserah!”
Kiran pun segera mengambilkan Kaus dan bawahaan celana santai untuk Luke dan bangkit memberikannya, “Pakailah segera, lalu kita makan.” Kiran berlalu ke sisi lain kemudian.
“Little cat, coba lihat dimataku! Aku merasa seperti ada yang mengganjal.”
“Mengganjal? Coba aku lihat!” Kiran pun mundur lagi, lalu berdiri dihadapan Luke berjinjit menyentuh lembut kelopak mata Luke, sialnya Luke terdiam saat mereka saling berhadapan dan dengan jarak yang sangat dekat.
Luke menatap wajah cantik Kiran lamat-lamat, saat padahal Kiran sedang memeriksa matanya, wajah yang cantik natural padahal tidak memakai apapun bahkan baru bangun tidur, hidung mancung sempurna, bibir mungil terlihat menggemaskan.
__ADS_1
“Apa yang kau rasakan?” Tanya kiran
“HA? I—itu sebuah benda yang masuk kedalam, ah sudahlah mungkin nanti hilang sendiri.” Luke segera mendorong Kiran pelan, memintanya menjauh dan segera masuk kedalam kamar mandi.
Kiran memutar bola matanya jengah, “Apaan sih! Nggak jelas sekali!”
Membiarkan Luke masuk kedalam kamarmandi Kiran pun kesisi lain melihat kembali pahânya yang semalam tersiram air panas, paha mulùsnya memerah masih menciptakan rasa perih dan sedikit panas jika disentuh. Sakitan mana ini dengan hati yang berharap pada sesuatu yang lebih? Kiran pun tersenyum, mentertawakan dirinya sendiri.
“Lihat apa?”
Segera Kiran menurunkan celanânya, mendapati Luke sudah keluar masih memakai kausnya sambil berjalan.
“Em…tidak ada…”
“Bohong!”
“Bohong?” Kiran berkerut dahi, “Kenapa jadi memaksa.”
Luke segera berjalan mendekat pada Kiran menatap penuh selidik pada gadis itu, “Pahâmu sakit bukan? Karena air panas yang aku tumpahkan”
“Hal biasa.”
“Tidak biasa! Bagi sebagian wanita tubuh adalah assèt mereka, ditas ku ada salap luka dan penghilang memar.” Luke segera mengambilnya, beberapa detik kemudian ia berjalan mendekat pada Kiran. “Olesi ini, sedikit berbau tapi sangat ampuh.”
“Tidak perlu, nanti akan pulih sendiri.”
“Keras kepala!” Segera Luke manarik Kiran dan membuatnya jatuh ke tempat tidur, Luke pun kemudian berjongkok dibawahnya ia membuka salap luka itu, “Naikan sedikit celannamu…”
“Aku bisa lakukan sendiri! Menyingkirlah!” Rampas Kiran salap itu dan kemudian pergi kekamar mandi. Kiran berusaha agar tidak tenggelam semakin jauh, sebisa mungkin menghindari kontak-kontak langsung seperti ini. Dia tidak ada apa-apanya dan tidak mungkin bisa bersaing dengan Dayana.
__ADS_1