SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
Emosi.


__ADS_3

Kiran menghampiri Arga sebelum kembali, dari jauh Luke melihat pada mereka berdua kemudian mengalihkan wajahnya.


“Gha aku aku pulang sekarang ya?”


“Sekarang? Padahal aku mau ajak makan malam atas keberhasilan hari ini.”


“Dia sakit.” Tunjuk Kiran pada Luke dengan menileh padanya.


“Sakit lagi? Katakan padanya jangan terlalu banyak fikiran, baiklah hati-hati aku juga akan menyelasaikan beberapa pekerjaan lagi,” Arga mengangkat tangannya mengusyaratkan sesuatu pada Luke dijauh sana menjelaskan bahwa dia tidka bisa menghantarkan kebawah ada banyak pekerjaan yang akan ia kerjakan.


Luke pun menyahuti dengan anggukan menjelaskan ia mengerti itu.


“Hati-hati Kiran…” ucap Arga pada Kiran lagi, “Besok aku jemput pukul 10, sekalian lihat appartement yang diminta Luke, aku baru mendapatkannya.”


 


Kiran mengiyakan seraya tersenyum kemudian  melambai kepada Arga dan pergi dari sana, Luke sudah keluar lebih dulu dari ruangan itu, Kiran lihat sikapnya sangat Moodian ia menjadi uring-uringan tanpa sebab, apa mungkin karena dia sakit.


“Bunny tunggu!” Kiran mengejar cepat langkah Luke yang sudah didepan siap masuk kedalam sebuah elevator.


“Bukan kau saja yang sibuk dan punya urusan aku juga.”


Kiran terperangah, “Maksudnya?” Tatap Kiran pada Luke saat keduanya masuk kedalam elevator itu, “Jika kau sibuk kenapa kesini, siapa yang minta Bunny?”


“Kenapa? Sudah ada Arga aku tidak dibutuhkan lagi?”


Kiran mengehembuskan nafasnya, “Kau kenapa sih, bawaanya marah terus! Aku ada salah? Jangan sering marah-marah bunny tidak baik untuk kesehatanmu, bagaimana jika kita pergi keluar? Kesebuah tempat makan dekat dengan sebuah pantai buatan? Disana tempatnya sangat bagus, mungkin bisa merileksan fikiranmu yang sedang kalut.”


“Aku mau pulang, mau tidur…”


Kiran satu langkah mendekat lalu menghadapkan wajahnya pada Luke, “Aku tidak tahu apa yang kau alami, apa yang mebuatmu kesal, tapi kau harus tahu aku benci kau seperti itu…kau menakutkaku, mungkin kau tidak mau membagi padaku apa yang kau alami tapi biarkan aku membawamu ketempat yang mungkin bisa menengkanmu dan membuat kau lupa  sejenak dengan hal yang membuatmu marah dan kesal seperti ini, kau sudah banyak melawati hal bunny, aku sudah berjanji dia yang menyelamatkanku aku akan melakukan apapun untuk dia asalakan dia bahagia.”

__ADS_1


“Aku tidak suka berbasa-basi…” Ketus Luke keduanya pun keluar dari elevator, segala ucapan dari dalam hati Kiran tidak ada artinya apapun untuk Luke.


Kiran mencelus. Tidakkah sedikit saja kau ingin melihatku Bunny? Apa yang harus aku basa-basikan demi Tuhan aku tidak tahu apa kebahagiaanku? Yang aku rasakan saat ini aku selalu bahagia didekatmu, setidaknya saat hatiku tidak terbalas hutangku terbayarkan telah dengan melihatmu selalu bahagia. Sebuah senyuman tipis yang mengaliri rasa perih terbit dibibir Kiran ia terus berjalan cepat berusaha mengimbangi Luke.


Luke berpapasan dengan beberapa orang lelaki yang akan masuk ke elevator mereka sedang memuji Kiran disana dengan bahasa inggris, Luke berhenti dan berbalik pada Kiran, “Tidak bisakah jalan lebih cepat, kau sengaja memperlambat langkahmu?”


Kiran lagi-lagi terperangah lelalki itu selalu saja marah tanpa sebab, “Langkahmu yang terlalu cepat Bunny, bukan aku yang sengaja memperlama.”


 


Tidak mengindahkan ucapan Kiran, Luke segera mengambil tanga gadis itu dan menggandenganya kemudian, membawanya dengan langkah yang cepat dan eratan tangan yang kuat, “Lain kali bawa pakaian ganti atau sweater, bagaimana bisa kau keluar seperti ini piyama tidur terbuka seperti ini.”


Kiran berkerut dahi, “Aku tadi akan mengganti pakaian tapi kau akan meninggalkanku.”


Tidak lagi merespon ucapan Kiran ia pun terus berjalan menuju tempat mobilnya berada, tanpa sedikitpun mau melepaskan pegangannya pada Kiran saat ia sadar setip yang mereka lewati pasti menoleh padanya.


Segera Luke membukakkan pintu untuk Kiran dan memintanya segera masuk, ia pin masuk kemudian dari sisi lainnya, sesaat Luke membuka ponselnya sembari menghidupkan mesin mobil. Kiran ditempatnya hanya diam saja enggan berbicara atau menegurnya takut-takut salah kata dan di semprot lagi,


Kiran menoleh padanya, “Kau bertanya bunny?”


“Bukan kau tapi Arga!”


“Arga?”


Luke mendengkus kesal mengalihkan wajahnya dari Kiran, “Dimana tempatnya? Arahkan kepadaku.”


“Arga mau ikut? Dia menghubungimu?” Yakinkan Kiran lagi sebab ia lihat Luke memainkan ponselnya barusana.


Tatapan tajam Luke segera memancarkan kemarahan pada Kiran, “Kenapa kau pergi tanpa izin? Apa kau tidak bisa menghubungiku malah menulis disebuah kertas? Kau bahkan menandantangani sesuatu tanpa sepengetahuanku? Kau ingin sekali membayar semuanya?”


Kiran semakin dibuat terheran-heran oleh lelaki ini, “ Bunny? Kau sakit? Apa yang mencederai isi kepalamu kenapa kau berbicara selalu saja menyakitiku! Tidak bisakah kau berbicara dengan baik dan normal, setiap hal yang kau lontarkan pernah kah kau sadar kau menamparku!” Kiran mulai kesal, wajahnya yang tadi biasa saja berubah berkaca-kaca.

__ADS_1


Luke terdiam sesaat kemudian ia pukul pelan streing mobil menjatuhkan kepalanya disana, sementara Kiran nyaris hampir menangis mendapati sikap Luke seperti ini.


Beberapa menit suasana didalam mobil disergap keheningan. Luke berkutat pada dirinya yang aneh dan Kiran menahan sakit terus dihardiki lelaki itu.


Aku kenapa?


“Maaf…kepalaku sakit.”


Kiran tidak mengindahkan dia mengalihkan wajahnya kesisi kiri jendela tempat ia duduk, seperti Ini sakitnya dia mau pergi sulit, bertahan semakin sakit, walau Luke tidak pernah membahas uang namun Kiran merasa itu semua membuatnya terikat.


Luke melirik pada Kiran yang diam itu, kemudian ia menyandarkan dirinya ditempat duduknya itu, “Kepalaku sakit…” ulangnya lagi dan kini kiran melihat pada Luke yang menyandar, Kiran memastikan lagi dengan menatapnya.


“Sakit lagi?” Tatap gadis itu khawatir.


Luke pun mengangguk dengan ekspresi sedih, segera Kiran melepaskan tasnya dan meminta Luke mendekat pada bahunya, "Mendekatlah..."Luke pasrah begitu saja menjatuhkan kepalanya dipundak Kiran lalu gadis itupun memijat lembut kepala Luke.


Seperti ada yang teredam saat Luke menyandar dan mendapatkan sentuhan lembut tangan Kiran itu dan aroma manis dari dia yang seakan bisa menenagkan segala hal, Luke membiarkan dirinya disana sesaat tidak mengeluarkan satu patah katapun.


“Kau dari rumah pamanmu bunny?”


“Hemm… “


“Maaf aku tidak menghubungimu, aku takut kau terganggu.”


Luke tidak mengindahkan ucapan kepadanya itu, “Dimana tempat yang kau katakan tadi, kita kesana sekarang, ganti pakaianmu jika tidak ada pakai kausku di jok belakang," Ambil Luke tangan Kiran kemudian membawa pada pahanya, "Pegang aku gerakkan tanganmu Jika kau lihat aku mengantuk."


Aku tidak mengerti denganmu... entah apa yang kau alami seharian ini bunny.


 


 

__ADS_1


__ADS_2