
Setelah menyuap satpam itu dengan imbalan yang besar Luke dan Arga pun dihantarkn dikediaman mewah yang di sinyalir adalah tempat tinggal Luan Anthony. Kata satpam itu tidak ada yang tahu kehidupan lelaki tua itu apa lagi istri dan wanita-wanita simpanannya, lelaki itu sangat menutup dan tidak pernah memperlihatkan itu ke lingkungannya.
Luke dan Arga memarkirikan mobil tepat digerbang besar rumah berlantai dua itu, mereka memandangi dan menelisik dari jauh keadaan disana, tampak sepi sekali seperti tidak berpenghuni, mungkinkah ada Dayana disana.
“Kau yakin satpam itu jujur?” tanya Arga.
“Entahlah tapi mana mungkin saja benar,” Jawab Luke ia segera turun dari mobil ingin melihat lebih dekat.
Disusul Arga kemudian mereka pun keluar dari mobil ingin mencari informasi lebih jelas lagi saat mereka lihat disana ada seorang pekerja yang sedang menyapu halaman, Luke memberanikan diri mengayunkan langkahnya ke gerbang besar disana lalu menanyakaan seseorang bernama Dayana apakah adalah salah satu penghuni disana.
Wanita tua yang sedang menyapu halaman itu terperangan, ia menatap Luke serius, “Nyonya Day? Ya dia tinggal disini, ada apa ya?"
“Day? Dayana maksud anda?” pastikan Luke lagi.
“He’emm Nyonya Day orang Spanish kan ya? Matanya biru?”
Luke berdebar ia akhirnya mendapatkan Dayana disana, “Ya benar itu dia, apalah dia ada didalam?” Luke begitu antusiasnya.
“Ndak ada orang Mister, semuanya lagi pergi keluar kota...maaf...ya...”
Merasakan sedikit kecewa namun setidaknya benar Dayana tinggal disana, “Apakah dia seorang istri dan satu-satunya? Dia ada anak atau hamil? Lelaki bernama Luan Anthonya memperlakukannya dengan baik?” Luke begitu penasaran ingin mengetahui kondisinya dan aakah Dayan baik-baik saja atau tidak.
“Anda berdua siapa sih?” Tatap wanita itu curiga.
“Tolong jawab pertanyaan saya,” Luke memaksa.
“Ndak bisa itu privacy majikan saya, sudah ya saya mau masuk nanti saya dipecat lagi berbicara dengan orang asing.” Wanita itu berlalu.
__ADS_1
“Mbak tunggu!” Arga memekik saat wanita tua itu pergi, “Tunggu dulu!”
“Hus…hus pergi! Pergi nanti saya panggil pihak keamanan bilang maling mau!” Ancam wanita tua itu dari jauh menunjuk dengan sapu yang dipegangnya.
“Sudah, Ayo pergi, ini lebih dari cukup.” Luke pun tidak ingin terlalu gegabah takut akan membuat sebuah masalah dan malah membuat Dayana dibawa pergi jauh lagi, mereka pun segera pergi dari sana.
...***...
Sore hari yang gelap dan rintik-rintik hujan baru saja turun, Kirab berlari-lari menutupu kepalanya, Ia baru saja menghantarkan Ibu dan Ine kesebuah terminal bus untuk ibu tirinya itu pulang ke salah satu daerah di Jawa tengah, sementara Bumi sudah melakukan penyebrangan laut dua jam sebelumnya menuju kampung halaman mereka.
Tidak ingin menunda lama-lama akan membuat besar biaya dan Bima juga sudah mengembalikan uang milik Yuda kepada rekan Yuda yang ada disebuah parkiran tempat hiburan malam.
Kiran hanya perlu memikirkan dirinya saja saat ini, dia akan pergi ke toko sembako dimana kemarin ia bekerja, meminta gaji terakhirnya untuk kemudian dia mengambil sebuah kamar kos-kosan untuk tinggal lalu mencari pekerjaan lain.
Membawa tas ransel berisi barang-barangnya dari rumah kontrakan gadis itu berlari-lari kecil menutupi kepalanya mencari sebuah angkutan untuk pergi ketempat tujuannya.
Entahlah…
Momen apa lagi yang akan membuat mereka bertemu, haruskah dia mendatangi laki-laki itu bertanya dan basi-basi membahas perkembangan pencarian hari ini? Atau tidakkah dia biasa saja jalani saja hidup semestinya seperti yang Luke minta, hiduplah lebih baik.
Kiran memasukan kembali ponselnya kedalam saku, mungkin lebih baik dia memukirkan dirinya dulu, mengambil gaji lalu mencari kos-kosan segera, agar dia tidak tidur dijalanan malam ini.
Helaan nafas Kiran mengudara kini ia merasakan lega, terlepas dari sang bapak dan orang-orang yang ia sayang sudah tidak akan menjadi ancaman lagi.
Terserah tentang bapak, mungkin melupakannya adalah cara terbaik menghindari dosa.
...***...
__ADS_1
Selepas menghantarkan Arga kembali ke kantornya Luke pun pergi menuju kontrakan keluarga Kiran disebuah gang yang tidak bisa dimasukin mobil itu, ia tidak tahu pasti yang mana rumah kontrakan gadis itu tapi pasti dia bisa bertanya-tanya disana.
Beberapa jam perjalanan dan memasuki sedikit kawasan pemukiman penduduk Luke pun sampai, ia pun segera memarkirkan mobil miliknya disebuah lapangan kecil untuk berjalan kaki mencari rumah tersebut.
Kehadiran Luke disana sontak saja membuat orang-orang setempat menyorot padanya, lelaki bule dengan wajah tampan dan sangat asing mereka lihat, beberapa orang yang dilewatinya tampak menyapa dan memberikan senyuman, Luke pun menggunakan kesempatan itu mungkin bisa bertanya dimana kediaman Kiran.
“Maaf tahu dimana rumah Aury Sasikirana?” Luke ingat itu nama sikucing kecil.
“Wah dia bisa berbahasa kita, Aury sasikirana? Anak Yuda disana rumahnya.” Tunjuk orang-orang itu.
“Eh sudah pindah tadi siang,” ucap salah seorang lagi.
Luke tahu mereka akan pindah tapi apakah secepat itu, mengacuhkan orang-orang disana Luke segera pergi ketempat yang dimaksud, mungkin saja gadis kucing itu masih ada disana dan masih mengangkat-angkat barang mereka.
Sesampainya Luke dirumah sederhana itu ia langsung disambut dengan tulisan pada sebuah kertas, ‘Rumah ini disewakan’ Luke menarik nafasnya lelah merasakan kecewa, gadis itu sudah pergi, kemana dia? Luke mengusap wajahnya ia berusaha menghubungi lagi Kiran namun tetap saja tidak ada hasil.
Kau pergi begitu saja?
Luke menarik nafasnya berat memukul pelan tiang rumah itu, bukankah harusnya dia biasa saja bukan? lalu kenapa seperti merasakan ada yang hilang.
.
.
.
.
__ADS_1