SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
Hampir menemukan.


__ADS_3

Kiran berjalan beberapa meter setelah turun di gang untuk menuju rumahnya, berharap Yuda benar tidak akan pernah ia lihat lagi disana.


“Ibu…Ine?” Dari jauh Kiran terperangah didepan rumah kontrakan itu Ibu dan Ine sudah didepan rumah mereka mengeluarkan beberapa tas hingga kardus-kardus, Kiran tahu mereka memang akan pindahan segera ia pun berlari cepat kerumahnya itu.


“IBUUUUU? Sudah siap pindah semuanya?”


“Kirannn?” Ibu menatap haru pada Kiran, “Apa yang bapak lakukan? Dia bilang kamu sudah dibawa orang lain.”


“APA?” Bima didalam rumah terperangan ia segera turun, “Apa maksud ibu…”


“Sudah…sudah semuanya sudah selesai, kasihan Ine dengerin kita, tahu.”


“Kakak tahu? Yuda buat aku dipukuli warga, dia buat aku diteriakin maling motor! Lihat ini lihat luka semua, 28 jam aku ditahan. Lalu tiba-tiba ada yang lepasin tadi malam, sakit jiwa nggak! Lalu dia dan dengan gampangnya pulang kerumah kasih uang 10juta minta kita semua pergi jangan perlihatkan wajah lagi disini dia mau menikah lagi.”


“Sssst sudah, sudah semuanya sudah selesai, kita akan pindahan kemana?”


“Benar apa yang bapak kamu bilang, Nak?"


“Ssst sudah ibu nanti saja bahasnya, yang penting semuanya sudah baik-baik aja.”


Tatapan ibu masih sedih, “Ibu dan Ine mau pulang ke kampung tempat neneknya Ine, disana jauh lebih baik mudah-mudahan, menurut ibu kalian pulanglah ke kampung saja, disini tidak baik, yang terpenting kan kalian sudah lihat seperti apa bapak kalian itu.”


Bima dan Kiran saling berpandangan, “Aku fikir aku memang  akan pulang, disana mungkin bisa buka usaha perbakan motor atau apapun bantu paman, disini sulit, apa-apa mahal dan lingkungan disini keras, cari kerja tanpa bantuan orang dalam sulit.”


Ibu pun membenarkan, “Bima benar Kiran, pulanglah ke kampung. Hidup di kota besar itu sulit, walaupun kamu bilang sudah selesai tapi tidak akan ada yang tahu kedepan akan bagaimana, Yuda itu berbahaya.”

__ADS_1


Kiran diam sejenak ia sempat berfikir seperti itu namun, Luke sudah membuat surat perjanjian dan larangan yang tidak bisa dilanggar bapaknya itu lagi, Kiran yakin surat perjanjian itu sudah sangat cukup mencegah Yuda berbuat  hal yang bukan-bukan lagi.


“... Jika kamu mau pulang Bim pulanglah, kakak masih terikat oleh sesuatu hal, kakak nggak bisa langsung pulang begitu saja, setidaknya kakak harus membalas budi orang yang sudah membantu melepaskan kakak dari bapak.”


“Apa maksud kakak? Terikat apa?”


Kiran menatap Ibu dan Bima sedikit mengulas senyuman tipis yang membawa rasa perih ke dadanya, “Benar apa yang bapak bilang ke Ibu, dia sudah menjual kakak dans eorang lelaki membayar kakak darinya.”


“Apa Kiran? Ya Tuhan….” Ayuning menutup mulutnya ia begitu shock ternyata bukam hanya sebuah ucapan mengada-ngada Yuda.


“IBLIS, JANGAN SALAHKAN AKU JIKA BERTEMU DIA LAGI AKAN KU HABISI WAJAH SIALANNYA ITU!”


“Sudah Yud!” Kiran mencoba menenangkan,


“Dia teman kakak, jatuhnya mungkin bukan membeli tapi kakak berhutang, sebab itu kakak ingin bantu dia dulu disini mencari seseorang yang hilang dan mungkin kakak akan bekerja siapa tahu punya rezeki lebih dan bisa membayar uangannya.”


“Ya Tuhan baik sekali dia.” Ibu terharu.


“Kakak yakin dia orang baik? Teman yang mana kakak tidak punya teman disini?”


Kiran tertawa, “Ada seseorang, kalian tidak akan kenal, yang terpenting semua sudah baik-baik saja saat ini, oh ya dia juga berpesan uang dari bapak balikin aja nanti jadi beban atau tuntutan, ayo kita masuk dulu, kita bicara didalam, Inee…Ine baik-baik saja kan?”


Ine memberi anggukan, “Ine takut, Ine nggak mau lagi dijalan.”


Kiran mengulas senyuman, ”Iya kakak tahu, kakak janji Ine nggak akan dijalanan lagi ya…”

__ADS_1


...***...


Di tempat lain, Setelah dari sebuah gedung pemerintahan mencari data sebuah pabrik besar milik pengusaha asal Cina itu yang membeli Dayana itu, kini Luke dan Arga sudah berada di tempat yang dimungkinkan adalah tempat yang dimaksud.


Sebuah pabrik besar yang bergerak di bidang usaha Garment mereka datangi, terbilang cukup besar dengan jumlah karyawan ratusan.


Luke mencoba bertanya-tanya kepada satpam disana sebab di web atau situs internet pabrik tersebut tidak ada mencantumkan pemilik, lumayan sulut untuk mengorek informasi.


Satpam yang berjaga disana sangat takut untuk memberikan informasi namun setelah dipaksa dan sedikit di iming-imingi uang mereka pun buka mulut pemilik pabrik besar ini benar keluarganya asal Cina namun beberapa diantaranya adalah penduduk asli negara ini, mereka merupakan pengusaha bersaudara dan Luan Anthony benar adalah salah satu diantaranya.


“Luan Anthony tinggal di kawasan Elit itu, aduh apa lagi namanya lupa.”


Arga tertawa ini jelas bukan lupa tapi perlu mendapatkat kibasan uang lagi, “Motor aman? Mau pergi kerja naik mobil nggak? Hantarkan kesana jika mau dapat mobil.”


“Apa? Mobil? Ini teh benar?”


“2 MENIT!” Ucap Luke kemudian, dia menjadi ikut-ikutan ide Arga.


“Iya –iya saya izin pulang sakit perut dulu, tunggu sebentar ya…” ucap lelaki bernada lembut itu.


Luke sungguh tidak sabar ingin bertemu Dayana, melihat wajah cantiknya dan yang pasti Dayana akan sangat terkejut melihat dia datang mengejar sampai ke negara yang sangat jauh ini.


Tiba-tiba saja Luke mengingat Kiran, sedang apa gadis itu saat ini? Luke pun segera menghubunginya namun ponselnya tidak aktif, ia sedikit menerka-nerka.


sedang apa gadis itu saat ini? Apakah semuanya baik-baik saja?

__ADS_1


__ADS_2