
Menggunakan sebuah travel Kiran membawa Luke untuk pulang kekampungnya, harusnya ia akan menggunakan sebuah bus untuk bersantai namun demi keamana dan kenyaman Luke Kiran memilih sebuah trasportasi terbaik untuk pulang.
Rasanya Luke tidak percaya ia akan melakukan perjalanan seperti ini, begitu pun Kiran, masih begitu bingung dan rasanya ini seperti tidak nyata. Ternyata Arga ada dibalik ini semua.
“Masih jauh?” Sudah berjam-jam mereka didalam mobil dan ini entah pertanyaan Luke yang keberapa kali kepada Kiran.
“Sebentar lagi, kita tidak perlu kekampung nenek, kita kerumah ibu saja di kota, mereka semua ada disana termasuk Bima. Bima membantu ibu di warung makan yang ibu dan ayah sambungku jalani.” Kiran menggambil tangan Luke, “Bunny tanganmu basah... “
“Aku gugup, aku sendirian...”
“Tapi kau siap 'kan bunny? Aku sudah mengabari ibu dan ayah sambungku, dia orang baik sesampai disana mungkin kau, akan ia arah kan untuk melakukan beberapa hal, dan Bima yang akan menikahkan aku nanti menggantikan ayahku.”
Tidak pernah segugup ini Luke begitu gelisah, “Aku ikuti bagaimana yang terbaiknya, sebentar, ibuku menghubungi lagi...” ujar Luke.
Beberapa jam lalu Luke juga baru menghubungi sang ibu juga orang-orang terdekatnya disana, sontak saja semuanya terkesiap. Mereka bahkan berfikir Luke akan menikahi Dayana, namun Luke menjelaskan bukan.
Ibu dan orang-orang terdekat Luke shock, tidak terkecuali Morean dan Sarla, apa yang terjadi? Bagaimana bisa Luke malah berhubungan dan memantapkan hati menikahi gadis lokal disana, berbaur dengannya dan akan saling melengkapi perbedaan.
“Holla mamà... “
“¿Por qué tiene dificultades para atender llamadas? Déjame hablar con ella, qué tipo de persona terminó siendo tu elección." (Kenapa kau sulit sekali menjawab panggilan? Biarkan aku berbicara dengannya, orang seperti apa yang akhirnya menjadi pilihanmu?")
Luke kembali memperlihatkan Kiran setelah beberapa jam sebelumnya sudah memperlihatkan namun Kiran tertidur dimobil itu. Luke merangkul Kiran memperlihatkan pada sang ibu, membuat Kiran hanya bisa tersenyum saja.
"Bunny, aku tidak tahu bagaimana cara menyapa ibumu."
"Lambaikan tangan katan holla, aku sudah mengatakan padanya kau sedang belajar bahasa Spanish dan beberapa bahasa lain, tenanglah dia hanya ingin melihatmu saja, tidak untuk mengajak mengumpatiku."
Kiran pun tersenym melambaikan tangan menatap pada ibu Luke yang berkaca-kaca itu.
"Holla mam.... "
"Holla Kiran... "
__ADS_1
Ibu Luke mengusap bulir bening diujung netranya, dia shock atas semua keputusan Luke yang sudah lelaki itu jelaskan sebelumnya namun dia juga bahagia sekali, mungkin memang inilah jalan putranya itu.
"Vuelve pronto, mamá te está esperando, espero que todo salga bien." (Cepat kembali, ibu menunggu kalian, semoga semuanya lancar.")
Ibu Luke pun mematikan panggilannya, setelah tangisannya pecah disana.
...***...
Sesampainya ditempat tujuan sebuah hunian seperti komplek perumahan sederhan, sontak saja kedatangan Luke membuat kehebohan, namun Kiran sudah meminta pada keluarganya agar urusannya dipercepat, agar tidak menjadi tontonan orang-orang seperti ini.
Luke disambuti baik disana, keluarga Kiran tidak tahu tentang kasus Kiran yang dijual sang ayah, Kiran dan Bima menutup itu. Namun Kiran akhirnya memberi tahu Bima, bahwa orang yang menolongnya kala itu ada Luke calon suaminya ini.
"Bima, ibu, bapak, nenek... saya ingin menikahi Kiran, restui saya untuk menikahi dia."
Kiran sedikit menjelaskan bagaimana tradisi mereka dan hal-hal apa saja yang harus dilakukan Luke pum cepat mengerti itu.
"Kau siap nak? Seperti inilah kehidupan Kiran, ini ibunya, ayah sambungnya, nenek dan dia adiknya kami orang sederhana..."
"Saya sudah tahu semuanya nek, Kiran sudah menceritakannya... "
Luke memberi anggukan, ia segera bangkit dari sana untuk segera menyelesaikan semua mempersingkat waktu.
...***...
Dari sampai hingga malam hari Kiran tidak bertemu dengan Luke, ia sibuk dengan ibu juga meneknya mempersiapkan acara dirumah mereka.
Kini baru saja mereka bersantai setelah berjam-jam mendekor, Luke kembali pulang bersama bapak dan Bima, lelaki itu memakai sebuah sarung, melengkungkan senyumannya dengan wajah berseri.
"Bunny?" Sontak saja Kiran tertawa, sangat-sangat aneh dan menggelikan.
Bapak masuk kerumah mengucapkan salam sambil tersenyum, "Semunya sudah siap dan berjalan lancar, semoga besok tidak hujan dan berjalan lancar pula... "
"Syukurlah,..." Ibu mengharu biru, begitupun nenek Kiran.
__ADS_1
"Kiran! sudah kau lemparkan celàna dàlammu ke atas genteng, cepat lemparkan...agar tidak jadi hujan besok."
Luke sembari berjalan memegangi sarungnya berbisik, "Tradisi dikampungmu? celàna dalam di lempar ke atas genteng bisa menghentikan hujan? Tidak ada gunanya badan meteorologi klimatologi dan geofisika, lebih baik mereka berjualan celàna dalam jika seperti itu."
Ssssst.
"Suaramu bunny, tidak dikampungku, itu tradisi nenekku sendiri saja, menurutlah dari pada membuatnya berisik dan menggagalkanmu."
"Baiklah...." Lelaki bersarung itu pun berjalan susah payah menemani Kiran melmpar celàna dàlamnyà.
Bruak...
Kiran melompat tinggi melempar benda itu kesana, menghitung satu, dua, tiga...
"Awewww...Kiran kau menyeggolku!" Teriak Luke mengaduh bahkan menyebutkan nama Kiran dengan jelas.
Kiran pun tertawa, "Maaf... maaf bunny, sakit?"
"Mau lihat?"
"Enggggakkk!!!!!" Kiran pun berlari seketika membiarkan Luke berjalan pelan dengan wajah kesakitannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.