
3 bulan kemudian.
Howeeekkkkkkkk
Howeekkkkkkkkk
"Sudahlah nak, kau sudah membuat ibumu muntah hingga lemas," Luke menemani Kiran di kamar mandi.
Kiran sedang mengandung dengan usia kehamilan 7 minggu, ia benar-benar merasakan morning sickness yang parah saat di pagi hari.
Kiran melemas, ia tidak bisa lagi berkata-kata masih terus mengucurkan tangannya dan mencuci mulut diwastafle.
"Pegang aku bunny, aku tidak kuat lagi berjalan."
"Mau di infus saja? Aku akan hubungi dokter yang menangamimu."
"Tidak perlu, aku mau tidur saja."
Luke bukan hanya memegangi namun segera mengangkat tubuh kecil yang semakin kecil itu, Kiran mengalami penurunan berat badan hingga 5 kilogram saat ini. Bersyukur janin yang dikandungnya terus tumbuh dan berkembang dengan baik.
"Selimut bunny-- itu pakaianmu, segeralah berangkat bekerja, aku baik-baik saja."
"Bibi Eve izin pergi ke kerabatnya, aku tidak akan bekerja 2 hari ini sampai dia kembali, mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian dalam keadaan seperti ini."
"Aku oke bunny, biasanya setelah jam 12 siang kau kan tahu tiba-tiba saja aku sehat."
"Jangan banyak bicara, berbaringlah! Atau kau mau berbaring disofa sambil melihat televisi?"
Si tubuh yang melemas dan sudah meringkuk itu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak berselera melakukan apapun."
"Aku akan turun mengambilkan bubur dan susumu."
"Bunny--aku tidak sakit! Kenpa sih bibi Eve selalu memberiku bubur, aku semakin ingin muntah tapi aku tidak bisa menolak makanannya, sudah susah payah orang tua itu membuat dan memperhatikanku."
"Ya aku mengerti, apa yang kau inginkan?" Luke yang sudah akan turun mendadak tidak jadi dan kembali mendekat pada sang istri, "Semalam kau meminta apa, aku tidak ingat karena sudah sangat mengantuk."
"Hemm... aku ingin masakan nenekku, aku ingin kue-kue dan jajan pasar saat aku kecil."
__ADS_1
"Itu aku kan sudah mengusahakannya kan? ibu dan nenekmu takut sekali perjalanan jauh, takut melakukan penerbangan, bahkan Bima sudah memaksanya."
Netra Kiran berkaca-kaca, "Aku tau bunny, tapi aku tidak tahu rasanya lidahku ingin sekali memakan makanan yang ada dipasar-pasar itu, seperti getuk, serabi, nagasari, lupis, kue lumpur, gemblong, ongol-ongol nah satu lagi cenil..."
Luke berkerut dahi, "Oh Tuhan, nama-namanya sangat asing sayang, aku akan mencarinya dimana? Apakah tidak bisa minta ibumu mengirimnya."
"Itu makan basah, susah untuk dikirim akan bsai dijalan, Howekkk--" Kiran mendadak ingin muntah lagi, "Argh.... nak mama capek..."
Luke mendekat lagi pada istrinya itu berjongkok dibawah ranjang, "Kau sudah mengeluarkan semua yang kau makan semalam sampai tadi pagi, tidak bisakah menahannya? Kenapa obat penahan muntah yang diberikan tidak bisa menahannya?"
"Entahlah bunny, tapi aku membayangkan jika memakan-makan itu mungkin aku tidak akan muntah, aku rindu itu ah... air liur ku menetes membayangkan memakannya."
Luke menatap Kiran lirih dengan tangannya mengusap-usap perut datar istrinya itu, "Tidak bisakah kau ingin makanan negara ayahmu saja nak? Ayah harus apa?"
"Maaf bunny aku menyusahkan padahal aku yang bilang akan memaksa menyukai makanmu, tapi kali ini--"
"Aku tahu, keinginan orang hamil memang sulit ditebak," Luke segera bangkit mengambil ponselnya, "Aku akan minta mama kesini atau mungkin Sarla dan Summy, mereka suka memasak mungkin saja bisa membuatnya..."
"Bunny--"
"Tidak merepotkan, mereka lebih sering merepotkanku dulu." Luke segera menghubungi sang ibu.
"Hallo ma-- Kiran mengidami jajanan pasar dinegaranya, aku tidak tahu akan mencarinya dimana, dia tidak berhenti-henti muntah memakan, bubur, roti, kentang... mungkin jika memakan yang dia inginkan dia tidak akan muntah."
"Ya Tuhan kasihan sekali dia, mama akan kesana sekarang, apa yang dia mau, tanyakan padanya apa nama makanan itu, agar mama bisa cari di internet apa saja bahannya."
Luke memperbesar suara panggilan itu, agar Kiran mendengar dan menyahut sendiri, namun Kiran sudah pasrah dia hanya merespon dengam gerakan kepala.
"Luke, bagaimana?"
"Kiran tidur ma, namanya itu Ogol-ogol, getuk." Luke menggaruk dahinya, "Sayang ayo bicaralah..."
"Bukan ogol-ogol, ongol-ongol dan getuk bunyy--"
"Ibu dengar itu?"
"Baiklah iyaa iya, yasudah ibu akan cari tahu cara membuatnya dulu."
__ADS_1
Luke mematikan panggilan ibunya, ia akan segera menghubungi Juless dan Morean, memerintah mereka untuk membantunya juga.
"Katakan apa namanya sayang, aku akan menulisnya dan tidak bertanya-tanya lagi," Berdiri Luke menulis makanan-makanan yang Kiran mau itu."
"Argrr... getuk, serabi, nagasari, lupis, kue lumpur, gemblong, ongol-ongol cenil, bakwan, kemplang, klepon..."
"Kenapa semakin banyak? Kau menambahnya lagi!"
Kiran yang sudah lemas masih saja bisa tertawa, "Aku reflek saja tapi sungguh aku menginginkan semua itu."
"Aku akan segera menghubungi mereka, tidurlah... "
...***...
Di kediaman Rodriguez House, Morean baru saja akan berangkat ke kantor, ia sedang menyempatkan diri bermain dengan baby Mirabelle, dengan Sarla yang tampak sedang menyiapkan sarapan.
"Apa?" Panggilan Luke dan permintaanya membuatlu Morean terkesiap.
"Puluhan tahun kita bersama dan jarang sekali aku meminta bantuaanmu."
Morean tertawa, "Omong kosong Luke sialan, jarang meminta bantuanku katamu? kau bahkan menyuruhku seolah aku adalah anak buahmu! Apa yang kau mau kali ini!"
"Makanan, itu bukan hal yang sulit."
"Aku bukan asisten bibi Dora, kenapa kau meminta makanan kepadaku."
Luke pun menceritakan keluhannya panjang lebar dan tanpa skip, membuat Morean sukes terperanga, "Oh sial ada-ada saja istrimu!"
"Kau tahu permintaan orang hamil harus dikabulkan, bukan? Aku hanya memintamu mencari atau membuatkan 2 menu, yaitu Serabi dan kemplang."
"WHAT?? Kem-kemvlang? itu makanan atau alat pemukul? Serabi terbuat dari bàbí?"
"Aku tidak tahu, kau cari tahu saja minta tolong istrimu, aku akan minta bantuan Juless juga."
Luke mematikan panggilannya segera menghubungi Juless yang berada di appartment, menceritakan hal yang sama dengan yang ia ceritakan pada More. Juless marah-marah namun ia juga kasihan dan mau menurutinya sebab dia tahu bagaimana rasanya menghadapi orang hamil.
"Apa yang dia mau?"
__ADS_1
"Kue Lumpur dan lupis itu saja."
"LUMPUR?" Uhukk Juless tersedak, "Istrimu mengalami sindrom induk gajah, tidak ada kah yang lebih waras dari itu!" Juless tersulut, dia sedang makan mendadak meletakkan sendoknya merasakan sakitnya tersedak mendapati permintaan aneh Luke.