
“AAAaaaccheewwww!”
Berkali-kali Luke bersin disana, ia sudah berselimut diatas ranjang, Kiran memaksanya untuk tidur disana dengan kain kompresan didahinya dan selimut mentupi separuh tubuh laki-laki itu.
Kiran dengan kemampuan yang baru ia pelajari sudah bisa memesan apapun yang Luke butuhkan, segelas teh jahe baru saja tiba kekamar itu setelah tadi makan malam.
Dengan sigap ia pun segera meminta tolong lagi kepada seorang petugas hotel itu membelikan dia obat flu dan penurun panas, Kiran sudah pintar memerintah orang yang dengan memberikannya tips.
Serasa sangat sibuk sedari tadi ia tidak ada diamnya kini membawa gelas itu kepada Luke.
“Bunny kau benar-benar sakit, ya Tuhan badanmu panas sekali.” Ucapnya didekat Luke seraya meletakkan punggung tanganya disana.
“Hemmm ini akan segera reda, aku jarang sekali sakit ini mungkin sebab pertukaran cuaca iklim saja, apa digelas itu? Aku tidak bisa minum sembarang minuman.”
“Ini teh jahe dengan sedikit tambahan madu, bagus untuk yang influenza, bunny. Ayolah minum! Dulu di kampung ibu dan nenek sering memberikan aku ini jika aku saki.”
“Ini bukan di kampungmu.”
“Kenapa dengan dikampungku apa bedanya? Intinya kan sakitnya sama flu manusia juga. Apa kau fikir saat ini kau sedang Flu lain, flu kelinci? Atau flu kucing?”
“Aromanya tidak enak.” Luke terus menolak.
Kiran pun menenggaknya sedikit mencicipi, “Hemmmm…enak sedikit manis dan pedas dari jahe. Ayo bunny bangkitlah minum sedikit!” kiran berangsur duduk diranjang masih menyodirkan pada mulut Luke gelas dengan air jahe panas itu.
“Aku tidak sukaaaa… Aromanya tidak enak!”
“Bunny tolonglah! supaya kau segera pulih…”
“Aku tidak suka!” Luke terus mendorong gelas itu, “Singkirkan dariku!”
“Bunny ayolah!”
“Tidaak—“
“Auwwww!” Air jahe pun tumpah menyirami paha Kiran. Ia merasa seakan terbakar oleh cairan panas itu, segera Kiran turun reflek melompat-lompat meringis perih bercampur panas disebalik celana pendek tipisnya itu, “Panasss sekali….AAa…PANAAS!!”
Luke shock ia tidak sengaja membuat Kiran celaka, ia yang begitu lemas sekali karena tidak enak badan, segera melompat dari ranjang dan langsung berjalan kekamar mandi membasahi kompres didahinya dengan air dingin, ia segera berlari cepat dan menarik Kiran duduk diranjang.”
Maaf aku tidak sengaja—“ Kiran terhempas jatuh di ranjang oleh tarikan Luke, segera lelaki itu menempelkan kain dengan air dingin itu diatas paha Kiran tanpa ia buka celannya membiarkan celan tipis itu basah, “Maaf—“ ucapnya lagi menatap bersalah pada wajah Kiran, Luke tahu air itu begitu panas tadi ia sempat menyentuhnya.
Kiran menarik nafasnya berat, segera mengambil kompresan itu dari pahanya, tangan Luke begitu panas, bisa-bisanya dia memaksakan diri untuk turun dan berlari.
__ADS_1
“Menyingkirlah dan segeralah naik ke ranjang, kenapa kau menyesali sudah menumpahkannya?”
“Aku tidak bermasud.”
“Naik atau—“
“Atau apa?”
“Hemmm tidak ada cepatlah naik, kenapa sih kau susah sekali dibilangi, kau itu sakit, jika kau seperti ini Dayana mu pasti juga akan marah, jika aku tidak ada guna disini dank au tidak mau menurut lebih baik aku pergi saja, untuk apa juga disini kan?”
Luke kembali duduk, “Aku tidak bisa minum-minuman seperti itu kucing, nanti aku akan muntah dan semakin lama sembuh.”
“Ya sudah lakukan apapun sesukamu, tunggulah orang tadi membawakan obat, aku mau tidur.” Segera Kiran bangkit dari sana, masih sangat kesal susah payah memesan dari tempat yang jauh llau ia tumpahkan ke pahanya.
“Tidur dimana?”
“Di jalan!” Jawab Kiran kesal segera menjatuhkan dirinya di sofa, menarik selimut yang ia bawa sendiri.
Luke merenung, ini puncak dari beberapa waktu ini dia merasa tidak adanya istirahat menjajahi banyak tempat, memakan makanan yang ia tidak biasa ia makan, cuaca dan keadaan yang baru. Rasanya rindu pulang sudah lumayan lama dia berkelana. Ia harap bisa segera selesai dan membawa Dayan kembali.
Kembali?
“Little cat? Tidurlah disini.” Kiran tidak menyahut dia berakting tidur masih sebal sekali pada yang sakit dan tidak bisa di atur itu, “Little cat? …kau tidur?”
“Hemmm…jangan berisik aku mau tidur.”
“Kepalaku sakit.”
Kiran mencerna sesaat, “Sakit kepala?” ia pun bangkit duduk menoleh pada Luke di ranjang, “Apa tidka lebih baik kita kerumah sakit?”
Luke menggelengkan kepalanya, “Aku hanya perlu istirahat sebentar.”
Kiran segera bangkit mengehempaskan handuknya dan berjalan kea rah Luke lagi, “Ini nggak mau, itu nggak mau kau maunya apa, Bunny!” Tatapnya Luke sebal padahal dia benar sakit, “Bebaringlah, aku akan memijati kepalamu.”
Luke menuruti itu sunguh dia tidak bercanda sedang merasakan tidak nyaman pada kepala, hidung dan tubuhnya. Dengan santai Kiran duduk diujung ranjang dekat dengan kepala Luke atas bantal yang meringkukkan tubuhnya memeluk kedinginan padahal tubuhnya sahat panas.
Tangan Kiran berangsur mulai menyentuh pada kepala lelaki itu.“Maaf memegang kepalamu, di tempatku memegang kepala orang yang lebih tua adalah tidak sopan,” Luke memberikan deheman singkat saat tangan kecil itu pun mulai memijati kepalanya, memijati sangat lembut mulai dari dahi hingga ke puncak kepalanya.
Kiran menjambak-jambak kecil kepala Luke membiarkan lelaki itu memejam beristirahat.
Aku sedang memupuk perasaan yang tidak boleh tumbuh seharusnya, tatap Kiran wajah yang terpejam dengan damai itu, kini menjadi sesuatu yang tidka asing lagi melihat seorang pria tidur seperti ini.
__ADS_1
Setengah jam berlalu Kiran mulai menguap mengantuk namun ia belum menyudahi pijatannya, Luke tampak sangat menikmati dia yang tadi rasanya susah untuk memejam kini benar terpejam sebab mendapati kenyamanan pijatan itu.
Tiiiiittt...tong.....
Suara bel mengudara halus disana Kiran pun segera bangkit sepertinya itu adalah ornag yang ia mintai tolong untuk membeli obat tadi.
Seketika Luke yang terpejam membuka mata dan menarik tangan Kiran, “Mau kemana?”
“Ha? Itu obatnya sudah datang.”
Luke pun segera melepaskan tangan Kiran dan membiarkannya pergi namun kini ia terbangun lagi, melirik dari jauh Kiran diambang pintu membuka sebagian pintu, masih dengan celana pendeknya yang bsaha belum ia ganti. Tidak lama Kiran pun kembali kedalam setelah mengucapkan terimakasih.
“Ayo minum obat dulu Bunny, setelah itu tidur lagi.”
“Celanamu terlalu pendek, jangan keluar seperti itu.”
“Pendek?” Lihat Kiran pada celannya sendiri, “Apanya?” Tatap Kiran pada Luke, setelah beruap lelaki itu memejam, mungkin effect dari tubuhnya yang terlalu panas membuat dia meracau tidak jelas.
Bagaimana celana selutut dia bilang terlalu pendek dan kain kaus dibilang menerawang, apakah demam mendadak bisa membuat dia menerawang dalamaaan seseorang.
Kiran menelan ludahnya mengumpat dalam hati makhluk ini jika sakit, sangat aneh seperti ini.
.
.
.
.
.
VOTE,Like comment.
__ADS_1