
“Terimakasih makan malamnya tante.” Ucap Kiran pada Mama dari Arga yang menyambutnya sangat baik, Arga membawanya datang kerumah untuk mampir dan sekarang Kiran akan berpamitan.
Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu memegang pada lengan Kiran,”Sering-sering main kesini, tante suka dikunjungi.”
“I-iya tante lain kali ya… Eh mau kemana?” Tanya Kiran pada Arga yang sudah siap turun menghantarkan Kiran.
“Kamu mau kemana? Kembali ke hotel kan?”
“E-enggak, aku akan tinggal di kontrakan tadi baru saja ada yang kasih tahu kosan nyaman terus juga lumayan ramah dikantong.”
Arga terkesiap, “Luke tidak mengatakan apapun hanya bilang dia sudah mendapatkan apprtemen dari pamannya.”
“Ya, dia sudah mendapatkannya dan aku juga mendapatkan kontrakan baruku, ya sudah mau ke kantor kan? Aku juga sedang menunggu seorang teman dia yang kasih tahu kontrakan itu.”
"Tinggal bersama temanmu, itu terdengar lebih bagus,” Sahut Arga ia merasa ini lebih baik dari pada Kiran bersama Luke yang selalu berperan seperti penjaganya. “Apakah tidak sebaiknya aku tahu? Ayo aku akan hantarkan kesana.” Arga melihat pada Arlojinya ia sedang tidak terburu-buru.
“Iya Kiran Arga benar, biar dia yang menghantarkan, “ Timpali ibu Arga.
Kiran bingung saat ini dia sebenarnya sedang berbohong, sedang malam berbasa-basi dengan siapapun, malas kembali ke hotel dan rasanya ingin menjauh dari semua orang-orag yang ada hubungannya dnegan Luke.
“Yaudah deh…” Kiran pun kemudian menyetujui, membuat Arga antusias segera berpamitan pada sang mama untuk pergii, di duduk Kiran kemudian yang juga berpamitan.
Di perjalanan menuju entah kemana Kiran sedang mencari akal akan berhenti dimana, sesekali merenung masih tentang Luke, teringat jelas bagaimana lelaki itu tidur memeluknya, entah dia sengaja atau tidak namun Luke menjadikannya seperi guling. Sikap manjanya saat sakit, cerewet dan menyebalkan selalu.
Kecupan hingga ciumannya yang mengejutkan, apakah aku baginya, seekor hamster peliharaan? Bukan, dia benar menganggapku seekor kucing, mendadak gemas lalu dia akan mengabaikanku begitu saja.
“Pembayaran kontrak pertama sudah bisa diterima, temui ibu Elmira besok.”
Kiran terperangah dia yang tidak paham bahkan kontrak kerja pun hanya dia baca bagian depannya saja, “Gajian?”
“Ya hasil kerja kamu.”
“Hanya bekerja setengah hari kemarin lalu sudah mendapatkan gaji? Saya hanya berfoto lalu berakting semudah itu.” Kiran seperti tidak percaya.
__ADS_1
“Mudah? Berkali-kali mengulang dan ditegur kamu anggap mudah.”
“Ya hanya ditegur sebab aku salah dan tidak bisa, jika bekerja di warung sembako, teguran lebih parah berkali-kali lipat,Kiran jangan lelet, jangan bengong, cepat! Jangan salah, jangan marah,buruan angkat ini, buruan susun barang, Kiran angkat karung beras ini, Kiran kau memecahi sebutir telur uyuh, gajimu di potong atau mengganti sepuluh butirnya sebagai denda kelalaian, kejam sekali bukan?”
Arga tertawa, tadi dia lihat Kiran seperti banyak masalah dan kini ia berbicara selepas itu seakan lupa masalahnya, “Aku lebih suka Aury sasikirana yang seperti ini.” Arga mengulas senyumannya.
“Lalu yang biasa kau lihat seperti apa?”
“Entahlah, aku tidak suka melihatmu menangis seperti tadi, oh ya! Malam besok Fabian temanku dan Luke membuat sebuah acara perayaan anniversary, jika kau bersedia temani aku ketempatnya.”
Kiran melihat wajah lelaki itu, “Kau mengajakku Ga?”
“Why? Kenapa kau sangat heran?”
“Ti-tidak—“
“Ayolah, mungkin kau bisa melihat kondisi diluar seperti apa, bagaimana orang lain bergaul, berteman, kau bisa melihat bagaimana circle diluar dari kehidupanmu yang biasa, tidak perlu harus menjadi orang lain, tetaplah menjadi Kiran yang biasa hanya saja kau perlu tahu diluar seperti apa, apa lagi sekarang cepat atau lambat wajahmu dan tampilanmu dibeberapa iklan akan membuatmu dikenal orang.”
Kiran mengerti itu, ia juga ingin melihat itu, hidup lebih maju dan lebih baik lagi, “Baiklah…aku ikut.”
“Ja-jangan kita bisa berangkat dari kantor, mungkin aku besok bekerja sampai sore bukan?”
“Baiklah…”
“Ehmm…eh Aku turun didepan sana ya, itu gang kecil disana, kos-kosannya jauh lagu masuk kedalam mobil nggak bisa masuk.”
“Didepan sana?” Arga tidak yakin,
“Ya di gang itu.”
“Aku hantarkan sampai kedalam.”
“ARGA! Jangan aku nggak enak sama temanku itu, nanti nggak suka ada laki-laki datang.”
__ADS_1
“Hemm, baiklah…” Mobil Arga pun berhenti disebuah gang gelap, ia akan menurunkan Kiran seperti permintaanya disana. Persekian detik mobil berhenti dan Kiran melambaikan tangan mengucapkan terimakasih kepada Arga segera turun dari mobil.
Arga seakan tidak tega meninggalkan Kiran sendirian disana, ia pun membuka lagi pintunya, “Hati-hati, kabari saat sudah sampai.”
Kiran tersenyum, kemudian melambaikan tangan dan berpura-pura pergi masuk kedalam gang. Membuat Arga kemudian segera pergi saat tidak lagi melihat Kiran ada disana.
...*** ...
Luke terburu-buru kembali ke hotel, Arga tidak mengangkat panggilannya dan Kiran pun demikian. Luke berfikir buruk kepada Arga apa yang sedang ia lakukan bersama Kiran, dia membawanya kerumah ornag tuanya? tapi Ini sudah malam pasti dia sudah membuat Kiran pulang.
Namun Luke terkesiap saat tidak mendapatkan Kiran disana disana, Ia merasa seperti kehilangan sesuatu, merasakan bagian dirinya yang terlepas, Luke sadar dia selalu memperlakukan Kiran tidak baik, Kiran kini berhasil membuat dia dan Dayana bertemu apakkah benar ucapan selamat tinggalnya juga akan membuat dia pergi dan menganggap ini sudah selesai.
“Angkat…little cat angkat!” Luke menjatuhkan dirinya disofa ia memijat dahinya frustasi, “Angkat panggilanku atau aku akan paksa kau pulang!” Kecam Luke ia masih terus selalu memaksakan dirinya.
Kiran tidak ada arah akan kemana saat ini, dia pun sudah turun keluar dari gang tadi lalu berjalan ke halted an duduk disana, sendirian tanpa siapapun yang ada, ia tahu ponselnya sedari tadi bordering dan dia tahu pasti itu sipemaksa.
Dengan malas ia pun mengeluarkan ponselnya dari tas, Kiran tersenyum melihat nama dilayar itu, ‘My bunny…’ Begitu manis bukan panggilan untuknya seperti harapanku kepadanya yang terlalu manis walau selalu getir yang selalu aku dapatkan.
“Ya Hallo?” Kiran mengangkat panggilan itu setelah ia fikir dia bisa bersikap acuh.
Luke menarik nafas saat akhirnya panggila itu diangkat, “Kau dimana… kenapa tidak pulang? Kau tidak lihat ini pukul berapa?”
“Pulang?”
“Aku akan menjemputmu kau dimana?” Paksa Luke lagi lelaki itu sudah berdiri mengambil kunci mobilnya. “Jangan membuatku khawatir katakan kau dimana atau aku akan mencarimu sendiri.”
Kiran tersenyum,beberapa bulir beningnya jatuh dipipi segera ia matikan panggilan itu dan segera mematikan ponselnya juga, sesaat Kiran menyandar disana, menguatkan sendiri dirinya dan bangkit segera sebelum Luke datang mencari tempat dimana dia terakhir mengaktifkan ponselnya.
“Kenapa kau suka sekali memaksaku, apakah jika aku punya uang banyak aku juga boleh memaksamu, balaslah perasaanku….lihat aku, anggap aku seperti dia bukan peliharaanmu yang selalu kau paksa dan mengikuti maumu.”
__ADS_1