
Di sebuah studio Kiran sedang melakukan sesi pemotratannya disana, suara-suara arahan tampak terdengar jelas begitu juga tepuk tangan atas penampilannya yang semakin baik, “Wow Keren Aury! Menakjubkan ! Sudah mirip model professional!” Puji tim disana.
Kiran mengembangkan senyuman ia masih tampak malu-malu diluar sana.
Ditempat lain Arga baru saja tiba, lelaki itu bertanya para rekannya apakah Kiran masuk, dan ia sedikit lega mendapat bahwa Kiran ada disana, saat ia fikir mungkin Kiran akan menghilang dan pergi entah kemana.
Arga muncul dipintu yang sedikit tamaram disana, melihat keadaan Kiran dan ia lihat gadis itu tampak sehat dan baik-baik saja, artinya semalam dia berada ditempat yang aman.
Arga tersenyum pada Kiran lalu mengcungkan jempo untuknya sebagai ucapan rasa bangga apapun yang dia alami dia tetap semangat menjalani hidupnya.
Kiran pun melihat Arga disana, ia tersenyum tipis membalas Arga, lalu Arga pun segera pergi dari sana membiarkan Kiran fokus dengan pekerjaannya.
Di perjalanan menuju keruangannya Arga mendapatkan panggilan dari Lulu, seorang yang sempat bertukar kontak dengannya yang tidak lain adalah asisten atau mungkin pekerja dirumah Dayana.
“Hallo?”
Sahut Arga kemudian, tidak ada basa-basi, Lulu berucap dengan jelas maksud dan tujuannya menghubungi Arga adalah untuk meminta bantuan agar gadis bernama Kiran bisa datang kerumahnya membantunya bertemu dengan Luke disana sebab Luan Anthony baru berangkat ke luar kota melakukan perjalanan bisnis.
Dayana tidak bisa sembarang keluar dia akan diikuti dan dijaga sangat ketat namun jika diruma ia bisa leluasa dan bahkan bebas dari penjagaan.
“Hallo Argha apakah kau mendengarku?” ulangi Lulu saat Arga diam sedang berfikir, sebab Luke tidak ada menghubunginya.
“Luke tidak ada memberitahukan apapun, apakah dia tahu?”
“Aku memastikan dulu apakah kalian bisa membantu atau tidak, tentang Luke akan menjadi urusan Nonya Daya.”
“Baiklah, setengah jam lagi aku akan mengabarimu.”
Arga mematikan panggilannya, ia fikir sudah selesai dia dan Kiran tidak lagi perlu terlibat namun ia fikir itu salah sebelum Luke dan Dayana kembali ke Madrid dia dan Kiran masih akan terlibat.
__ADS_1
...*** ...
“Sudah selesai? Sudah menemui Elmira perihal gaji?” Tanya Arga saat Kiran masuk keruangannya.
Kiran mengangguk, “Sudah, terimakasih banyak Ga, ini begitu banyak aku seperti mimpi, maukah kau makan siang denganku, aku akan mentraktirmu.”
Arga seketika tertawa, “Kau ingin mentraktirku?”
“Ya, apapun yang kau mau aku akan mentraktirmu.”
“Hemmm ohya?” Arga pun bangkit dari tempat duduknya, “Aku yang akan mentraktirmu hari ini, pakailah uangmu untuk sewa rumah sungguhan bukan mengerjaiku dan minta turun dijalan.”
Kiran terkesiap, “Ha?”
“Its oke, aku juga pernah mengalami dikeadaan seperti itu, kadang seseorang butuh waktu untuk sendiri dan merenung, apapun masalahmu i proud of you girl, kau tetap masih datang pagi-pagi untuk bekerja, dan hanya 1 kesalahanmu, harusnya kau mengabari orang lain yang mungkin mengkhawatirkanmu. Luke mencarimu dia menkhawatirkan keadaanmu.”
“Ya aku tahu, tidak masalah selama dia masih ada disini artinya dia dan kita masih tetap terhubung dan akan saling menkhawatirkan, aku sudah mengirim pesan kepadanya kau baik-baik saja dan saat ini ada seseorang yang sedang membutuhkan bantuanmu.”
“Bantuanku?”
“Hemmm ya, asisten Daya meminta bantuamu untuk datang kerumahnya sebagai petugas salon dan Luke akan ikut bersama sebagai orang dari salon juga, Daya mengtakan pada Luan Anthony dia terkesan pada pelayanan Salon kemarin dan dia meminta izin memanggil lagi, Luan Anthony sedang berada diluar kota, Daya tidak akan terlalu diawasi jika dirumah namun jika keluar dia akan diikuti.”
Kiran diam yang ia ingin hindari malah terus-terusan menjadi sesuatu yang selalu terhubung.
Kiran ini belum selesai sebelum dia benar-benar pergi dari negara ini...
"Kapan perginya?"
Arga menyambut pundak Kiran, "Kita makan siang dulu, si pekerja keras butuh asupan gizi."
__ADS_1
Kiran tidak mengindahkan ucapan itu, ia pasrah menurut ajakan Arga untuk makan siang, sedari tadi dia belum juga mengaktifkan ponselnya dan benar-benar membuat Luke masih uring-uringan.
Tanpa mereka ketahui ternyata Luke datang ke kantor, Kiran dan Arga yang sudah akan turun berselisihan dengan Luke yang baru keluar dari Elevator.
Ketiganya berhenti didepan pintu Elvator yang terbuka, Luke menatap terkesiap pada Kiran dan Arga.
"Hi man, kau sudah disini?" Sapa Arga duluan me memecah keheningan.
Tatapan Luke menegas pada Kiran, segera ia ambil tangan Kiran, "Beri aku waktu, ada yang akan aku bicarakan dengan Kiran."
"Jangan paksa Luke...."Sanggah Arga mengambil alih tangan Kiran membuat Luke terperangah.
"Aku tidak melakukan apapun hanya ingin berbicara saja," Lihat Luke wajah takut Kiran.
"Kiran mungkin punya masalah dan aku tidak tahu apa itu, aku harap kita mengerti untuk tidak membuatnya semakin tertekan."
"Aku tidak melakukan apapun--" Luke memelas.
"Membicarakan apa? Jangan lama-lama aku ingin makan sebelum pergi menemui Dayana dan membantunya."
Arga pun melepaskan tangan Kiran mendapati gadis itu memberikan kesempatan untuk Luke, "Baiklah, aku tunggu di mobil." Arga segera masuk kedalam elevator meninggalkan keduanya.
Luke dengan tidak peduli keadaan menggandeng Kiran, ia mempererat pegangan tidak ingin Kiran lagi atau pergi sebelum sampai diujung ruangan dimana sebuah rooftop berada.
"Aku belum ada tidur... " Lelaki itu berucap pelan sekali menjelaskan betapa frustasinya dia.
Kiran tidak mengindahkan, terus berjalan mengikuti kemana lelaki ini akan membawanya.
__ADS_1